Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Restui Kami


__ADS_3

Ditengah hamparan tanah yang luas dengan ratusan gundukan tanah berbatu nisan, seorang gadis meringkuk dengan tubuh bergetar. Hatinya sakit jiwanya seakan tercubit, hanya butuh menyendiri menenangkan hati untuk kembali bangkit.


Sudah berjam-jam gadis itu tertunduk sampai penjaga yang menegur tidak membuatnya meninggalkan tempat kedua orangtuanya di kubur.


Setelah merasa tenang, hatinya kembali kuat Sifa berusaha mengangkat kepala, sudah cukup baginya kesedihan hari ini, dia harus menghadapi kenyataan hidupnya kembali.


"Assalamualaikum Mah Pah, Sifa datang lagi."


"Maaf sejak tadi Sifa belum mengucapkan salam untuk kalian, Sifa merindukan mamah dan papah."


"Mah Pah ....kalian sudah tau kan jika Sifa sekarang memiliki suami?" ucapnya menahan air mata yang ingin tumpah kembali dan mencoba tersenyum.


"Dia pemuda tampan idaman wanita mah, dia pemuda kuat yang mampu melindungi Sifa Pah, menantu idaman semua orang tua."


"Dia yang akan menjaga Sifa sampai Sifa tua nanti, dia imam yang akan membimbing Sifa ke surga, dan dia yang kelak akan menjadi ayah dari anak-anak Sifa."


"Mah Pah maaf jika Sifa baru menceritakan tentang dia setelah Sifa menikah, restui kami ya pah agar pernikahan kami kelak bahagia"


"Dan semoga Sifa bisa seperti mamah, istri yang hebat yang sangat dicintai papah, ibu yang tangguh dan penyayang, istri sholehah penghangat keluarga."


Satu air mata yang lolos membasahi pipi langsung di hapus oleh Sifa, senyuman tak luntur dari wajah ayu gadis itu.


"Mah Pah Sifa pamit ya, hari sudah gelap nanti suami Sifa kasian mencari keberadaan Sifa yang belum pulang sejak tadi, mamah papah bahagia ya di sana, assalamualaikum."


Sifa mencium kedua batu nisan di hadapannya kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat terakhir kedua orangtuanya.


Sifa memutuskan untuk pulang menggunakan taksi, hatinya sudah tenang sekarang, dia sudah mampu menatap ke depan dan menjalani kembali perannya sebagai pelajar yang bersuami.


Tanpa sepengetahuan Sifa ada pemuda yang meneteskan air mata mendengar ucapan Sifa pada orangtuanya, hatinya teriris kala namanya di puji-puji nyatanya dia patut di benci. Vino yang ingin mendekati Sifa yang terduduk di antara dua batu nisan langkahnya terhenti saat mendengar begitu bangganya Sifa memiliki suami seperti dirinya. Walaupun Vino tau ada kepahitan di setiap kata yang terucap oleh Sifa.


*****


"Loe yakin Vin?"


"Iya....."


"Jadi selama ini dia ada di dekat kita, bahkan loe berantem sama dia pun loe nggak sadar?"


"Udah terlalu lama sejak terakhir gue ketemu sama dia Ian!"


"Terus loe udah berhasil menjadi seperti yang dia ucapkan dulu, apa loe puas? bahkan mungkin loe udah bikin dia tambah benci sama loe?"


"Hhmmm,"


"Terus mau sampai kapan loe begini?" tanya Rian menatap dalam Vino, dia tau jika ada rindu di mata Vino.


"Gue nggak tau bahkan hari ini gue udah nyakitin dia."


Mendengar ucapan Vino, Rian mengingat kejadian di sekolah tadi,apa lagi wajah sedih dan kacau Sifa begitu jelas terlihat.

__ADS_1


"Loe apain dia bro? tadi bibir dia sampe berdarah apa jangan-jangan loe..." Rian tidak habis pikir jika Vino benar-benar melecehkan Sifa.


"Iya...."


"Parah loe Vin, jangan jadi brengsek juga donk Vin, loe bahkan punya cewek tapi loe ngelakuin itu sama Sifa, ini bukan Vino yang gue kenal, loe udah kejauhan men!"


"Tapi gue nggak pernah pake hati sama mereka!"


"Iya gue tau, tapi nggak sembarangan loe cicip-cicip punya tetangga juga Vin, kalo Aldi tau gimana?" pertanyaan Rian membuat Vino kembali mengingat ketika Sifa jatuh ke pelukan Aldi dan mencium pipinya yang berujung dia yang tak mampu menahan emosi.


"Sifa milik gue Ian!" tegas Vino.


"Sejak kapan dia milik loe? bahkan dari du......"


"Sejak gue nikahin dia!"


DUARRR


"Fakta apa lagi ini?" batin Rian.


"Loe......"


"Iya gue udah nikahin dia."


"Hhaaaahhhh? loe jangan ngehalu bro, jangan karna di hati loe cuma....."


"Loe kira gue gila?" potong Vino.


"Terus loe ngabisin rokok selaci karna apa hah?!"


"Sifa belum pulang, gue udah cari dia dimana pun nggak ada..." ucap Vino dengan tatapan sendu.


"Loe udah tinggal berdua?" tanya Rian menyelidiki.


"Iya ...."


"Mana yang belum loe cari dari setiap tempat yang biasa Sifa kunjungi?"


"Sahabatnya...tapi tadi gue liat mereka nggak pulang bersama, gue liat kedua sahabatnya pulang tanpa Sifa."


"Ada lagi tempat lain?" tanya rian.


"Gue nggak tau, Sifa nggak punya siapa-siapa selain neneknya dan nggak mungkin dia pulang ke desa," jelas Vino lirih.


"Nggak ada siapa-siapa berarti orang tuanya udah meninggal, apa mungkin......" ucap Rian sambil melirik Vino.


"Pemakaman?" tebak Vino yang mendapat anggukan Rian.


Vino segera berlari mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan apartemen Rian menuju pemakaman besar di kota tersebut.

__ADS_1


*****


Sesampainya di depan pintu apartemen Sifa mencoba memantapkan hatinya, berusaha untuk kuat. Gadis itu menarik nafas sebelum memasukkan kartu akses dan membuka pintu.


Sifa tampak mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan, pintu kamar Vino dan dirinya sudah terbuka, Sifa yakin Vino sudah pulang sejak tadi.


Sifa meletakkan satu kantong kresek berisikan sayuran serta buah di atas meja dapur yang ia beli sebelum sampai apartemen. Kemudian Sifa memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Lima belas menit Sifa membersihkan diri, wajahnya saat ini sudah lebih segar, tampak dari pantulan cermin luka di bibirnya sudah mengering.


Sifa keluar dari kamar menuju dapur untuk memasak makan malam, dengan cekatan Sifa mempersiapkan semuanya, dari mulai menanak nasi kemudian memotong sayur dan bumbu-bumbu yang di butuhkan. Malam ini Sifa memasak sup iga serta cumi tepung dan goreng tahu tempe.


Tidak lupa Sifa menyiapkan buah yang dia sudah beli tadi sebagai pencuci mulut. Setelah semua sudah matang Sifa segera menghidangkan masakannya diatas meja serta nasi yang sudah dia masukkan ke mangkuk dan alat makan yang di tata untuknya dan Vino.


Sifa kembali mencuci alat masak yang ia gunakan tadi, membereskan sisa sayur dan memasukkan sayuran untuk besok ke dalam kulkas.


klik


Vino masuk dengan langkah gontai, harum wangi masakan menyapa indera penciumannya. Sifa yang menyadari kedatangan Vino segera berbalik menatap pemuda yang kini menjadi suaminya.


Sifa melihat wajah lelah Vino dengan penampilan yang berantakan, bau rokok pun sangat menyengat menusuk hidung. Vino masih berdiri menatap Sifa yang sudah terlihat lebih baik.


"Vin bersih-bersih dulu terus kita makan malam, gue udah masak jadi nggak perlu pesan makan lagi."


"Hhmmm" kemudian Vino segera masuk kekamar untuk membersihkan diri.


Sifa menunggu Vino dengan membaca buku pelajaran di sofa ruang tamu, menyiapkan materi yang akan di pelajari esok hari. Dan menghafal rumus fisika untuk ulangan esok hari.


Vino keluar dari kamar setelah menghabiskan waktu sepuluh menit membersihkan diri, tubuhnya sudah wangi tak seperti sejak masuk apartemen tadi.


Sifa yang menyadari itu segera beranjak menuju meja makan dan mengisi piring Vino dengan nasi sayur serta lauk yang ia masak tadi.


"Segini cukup nggak Vin nasinya?"


"Vukup"


"Ini di makan.." ucap Sifa kemudian dia mengisi piringnya sendiri.


Sejak tadi Vino hanya memperhatikan Sifa tanpa membuka suara, dia kira Sifa akan marah besar ternyata dia justru melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik, sesak yang Vino rasakan melihat Sifa begitu sabar menghadapinya.


Mereka makan dengan lahap tanpa ada yang bersuara hingga piring yang terisi makanan tadi habis tak bersisa. Sifa melirik piring Vino kemudian melihat wajah Vino yang hanya diam menunduk.


"Mau nambah lagi?" tanya sifa mencoba untuk memecah keheningan.


"Udah cukup!"


"Mau makan buah? biar aku kupas kulit jeruknya."


"Nggak!" ucap Vino segera bangkit dan melangkah menuju kamar tetapi sebelum tangannya membuka pintu kamar Vino menoleh ke arah Sifa.

__ADS_1


"Maaf!"


__ADS_2