Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Gegayaan


__ADS_3

Disaat hati masih dengan rasa yang sama tetapi harus berlari sekencang mungkin untuk menyisih agar tak terlihat.


Aldi sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyentuh Sifa lebih dari yang ia lakukan tadi, walaupun di dalam hatinya ingin sekali memeluk gadis itu. Dia tau Sifa sedang tidak baik-baik saja, kabar yang heboh pagi ini di group sekolah sudah pasti membuat Sifa syok atau bahkan sakit hati.


Tetapi Aldi sadar, dia tidak ada peran penting di sini, dia hanya tidak ingin Sifa terus mendengarkan ocehan para siswi yang tidak bisa menjaga lisannya.


"Nggak usah di dengerin!" ucap Aldi saat air mata Sifa mulai menetes.


"Kenapa loe masih peduli sama gue? loe nggak takut Marta tau loe lagi sama gue disini?"


"Nggak ada hubungannya sama dia, gue cuma nggak mau loe terlalu ke makan sama omongan mulut busuk itu!"


Sifa tersenyum getir, dia mendongakkan wajahnya menatap Aldi yang sejak tadi diam memperhatikan.


"Sejak kapan Aldi berbicara kasar? dan makasih loe masih peduli sama gue, tapi loe nggak perlu ngasihanin gue Al."


"Gue selalu peduli sama loe dulu, kemarin, sekarang, dan yang akan datang! loe tetap sahabat gue Fa!"


"Tapi gue udah nggak kenal siapa loe Al! loe bukan Aldi yang dulu, mending sekarang loe balik, gue nggak mau Marta liat loe sama gue disini, buat posisi gue semakin sulit. Udah cukup ada Nita yang terus recokin hidup gue, gue nggak mau nambah orang lagi dan selamat loe berhasil buat gue amazing banget liat perubahan loe sekarang!" setelah berucap sepeti itu Sifa segera membuang muka.


"Sorry kalo kelakuan gue buat loe kecewa Fa," lirih Aldi. Aldi mendekat ke arah Sifa namun reflek Sifa mundur tanpa memandang Aldi.


"Gue masih tetap dengan rasa yang sama walaupun Marta terus berusaha buat gue lupa. Tapi kalo dengan cara itu gue bisa nyembuhin luka, kenapa nggak?" Aldi menatap dalam Sifa.


"Dan satu lagi kalo ngerasa nggak kuat, gue siap jadi tempat loe pulang!"


Aldi pergi dari hadapan Sifa, membuat Sifa mengerti apa alasan Aldi berubah seperti sekarang.


"Loe akan menyesal kalo loe masih ngelakuin hal buruk itu Al! dan tempat gue pulang bukan loe, tapi tempat dimana hati gue nyaman!"


Melihat kedatangan Sifa yang mulai memasuki kelas, membuat kedua sahabatnya segera menarik tangan Sifa lalu mendudukkannya di kursi samping Nisa. Mereka saat ini sedang pada fase kekepoan tinggi tentang kabar yang bisa merusak keharmonisan rumah tangga sahabatnya.


"Itu semua benar Fa?" Nisa membuka pertanyaan setelah hampir lima menit mereka ragu untuk bertanya.


"Vino semalem nggak pulang," lirih Sifa, hatinya begitu sedih jika mengingat Vino tak kunjung datang semalam.


"Berarti kabar itu bener Fa?" tanya Meri yang tak percaya dengan apa yang ada, kedua sahabatnya segera memeluk Sifa, mereka tau bagaimana hati Sifa sekarang.


Mata Sifa yang tersirat penuh kekecewaan dan kesedihan membuat mereka paham jika Sifa benar-benar sudah mencinta.


"Gue belum tau pasti, sampai sekarang aja nomornya belum aktif dan mereka nggak ada yang datang ke sekolah juga," ucap Sifa dengan mata yang sudah berembun.

__ADS_1


"Loe jangan sedih Fa, berdoa aja itu semua nggak benar ya, gue harap cuma hoax."


"Iya bener banget kata Nisa Fa, loe harus ektra sabar ya, jangan langsung loe telen mentah-mentah itu kabar, mudah-mudahan nanti Vino pulang." Meri dan Nisa kembali mengeratkan pelukannya kepada Sifa.


Raga ini terasa lelah untuk banyak bicara, berusaha menerima pelajaran dengan baik walaupun hati sedikit terusik. Kembali ke mode serius demi masa depan yang mulus.


Vino mulai terusik saat mentari benar-benar sudah meninggi, matanya terbuka dengan kepala yang berat. Vino mengedarkan pandangannya, menemukan Rian yang masih tidur di sampingnya.


"Kok gue bisa disini sich," Vino bangkit dari tidurnya.


"Aaaaarrrggghhh.....," teriak Vino saat merasakan kepalanya yang sakit.


Rian yang mendengar teriakan Vino segera bangun dan duduk memperhatikan, "Loe kenapa?"


"Sakit banget pala gue," ucap Vino sambil memegang kepalanya, "minum apa sich gue semalem?"


"Mana gue tau, loe di cekokin apa sama si Nita!"


"Nita?"


Vino mengingat-ingat kembali kejadian semalam saat dia minum banyak memang ada Nita di sampingnya, tetapi setelah itu dia tidak mengingat kembali kejadian selanjutnya.


"Terus kenapa loe bawa gue kesini?"


Vino berdecih mendengar penuturan Rian, kemudian melihat penampilannya yang berantakan bahkan kemejanya saja hanya menempel di badan tanpa di kaitkan dan celana juga dalam keadaan terbuka.


"Loe pada mau merkosa gue?" ketus Vino yang membuat Rian melongo.


"Najis gue sama loe, kayak perawa.n di dunia ini udah musnah aja."


"Terus ini ngapa penampilan gue kayak gini SE.tan?"


"Tanya sama si Nita loe di apain semalem, makanya kalo nggak kuat minum banyak jangan gegayaan pake ngabisin tiga botol segala! mau di perkosa tuh singa betina nggak tau kan loe?"


deg


"Gila! loe jangan ngarang men!"


"Bodo amat!" Rian meninggalkan Vino kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Vino termenung mencerna kata-kata Rian, dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan angka dua.

__ADS_1


"Ck, bolos ini ceritanya." Tetapi sesaat kemudian Vino terdiam dengan hati yang bergemuruh, bibirnya seakan kelu dan jantungnya mulai jedag jedug.


"Sifa!"


Vino segera merapikan kemejanya kemudian mengancingkan kembali celana yang ia kenakan, kini ia berlari keluar kamar mencari kunci mobilnya dan segera pergi meninggalkan apartemen Rian.


"Eh kam.pret loe mau kemana?" teriak Geri saat dia keluar kamar dan melihat Vino yang berlari keluar.


"Tuh anak mau kemana kali buru-buru begitu, udah sehat emang otaknya!" Geri menuju kamar Rian dengan Rian yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ngapa?"


"Itu si Vino ngibrit kenapa?" tanya Geri heran kemudian rebehan lagi di kasur Rian.


"Tau, inget bini kali makanya dia langsung pulang."


"Andai aja kita semalem nggak berhasil nemuin dia, udah ada perang di antara mereka," ucap Geri yang tidak membayangkan nasib sahabatnya jika mereka gagal menemukan.


"Paling si Nita nangis-nangis bilang kalo si Vino udah perkosa, terus Sifa minta pisah, lanjut dia nikah berdua! drama banget si Nita!"


Vino melajukan mobilnya menuju apartemen, janjinya pulang jam 1 ternyata tak dapat ia tepati. Dia membayangkan Sifa yang akan marah dan berujung pertengkaran.


SHIIITT


"Maaf sayang, aku salah," Vino mengusap kasar wajahnya dan menambah kecepatan agar cepat sampai ke apartemennya.


"Fa loe pulang bareng gue nggak?" tanya Nisa yang khawatir pada Sifa yang sejak tadi hanya diam jika tidak di tanya, bahkan bekal makanannya saja yang menghabiskan kedua sahabatnya.


"Gue bawa motor kalian tenang aja, ya udah gue balik ya, keburu hujan!" pamit Sifa kemudian pergi meninggalkan sekolah yang sejak pagi membuatnya tambah pikiran.


Sifa membuka pintu dengan perasaan yang gamang, jelas Vino belum pulang, karena di area parkir tadi dia tidak melihat adanya mobil Vino di sana.


Hatinya kecewa, Sifa menengadahkan wajahnya berharap air matanya tak kembali runtuh, ia dalam masa benar-benar di rundung kesedihan.


"Begini rasanya laki nggak pulang, pantes aja kalo di sinetron yang ada ikan terbangnya itu istri-istri pada nangis sedih banget, ternyata emang sesedih ini."


Sifa menyandarkan tubuhnya di sofa, hati yang lelah membuat tubuhpun ikut lemah, matanya terpejam hingga tak sadar raganya masuk ke alam mimpi.


Vino berlari menuju unit apartemennya setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Sifa, apapun yang akan istrinya lakukan dia akan terima.


Vino terdiam saat melihat Sifa tertidur di sofa dengan seragam putih abu-abu yang masih melekat di tubuh, serta sepatu yang masih terpasang di kakinya.

__ADS_1


"Sayang....."


__ADS_2