Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Nita bar-bar


__ADS_3

Sejak tadi Vino hanya terdiam menatap langit-langit ruangannya, bayangan Sifa yang mencium tangannya ketika pamit tadi cukup mampu menyentil sudut hati yang terdalam, Sifa bersikap layaknya seorang istri sedangkan dia belum mampu memberikan yang terbaik. Bayangan percekcokan semalam yang berujung tidur bersama juga melintas di pikirannya.


Gadis kecil yang sangat ia rindukan kembali, memberi kehangatan yang sejak lama pergi, hingga hati mulai terobati, keresahan dan kegelisahan yang selama ini ia rasakan perlahan menepi.


Dulu loe yang buat gue berubah dan sekarang loe juga yang membuat gue kembali Fa.


Gue bakal jujur sama loe siapa gue sebenernya.


Hingga dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Vino saat ini, diikuti dengan mamah yang berjalan di belakangnya.


"Pagi nak Vino! saya periksa dulu ya!" ucap dokter yang di jawab anggukan serta senyum tipis dari Vino.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya mamah yang sudah penasaran.


"Alhamdulillah sekali Bu, ini sungguh luar biasa perkembangannya sangat pesat, semua organ berjalan kembali dengan sempurna dan hasil operasi kemarin juga kian membaik."


"Kapan saya boleh pulang dok?" tanya Vino yang melirik perawat yang sudah mencabut infusnya.


"Besok pagi sepertinya sudah boleh pulang karena kondisi kian membaik, apa masih ada yang di keluhkan?" tanya dokter memastikan.


"Sudah nggak ada dok, saya sudah merasa sehat. Kalo boleh sore ini saya mau pulang dok!"


Dokter melihat catatan dari perawat dan hasil dari semua pemeriksaan yang menunjukkan sudah bagus, kemudian melihat sang mamah yang tersenyum membuat dokter terpaksa menyetujui.


"Ok hari ini boleh pulang, tetapi saya minta harus banyak-banyak beristirahat dulu di rumah, saya nanti infokan ke dokter Arman agar sebelum pulang untuk mengecek bekas operasi yang kemarin," ucap dokter menjelaskan.


"Baik dok," jawab Vino.


"Kalau begitu saya permisi dulu!"


"Makasih dok!" ucap mamah yang sangat senang dengan hasil pemeriksaan Vino.


Setelah dokter dan perawat keluar mamah menatap Vino yang tampak tersenyum, senyuman yang telah lama beliau rindukan hingga membuat hatinya menghangat.


Disekolah Sifa mendapat pengarahan untuk mengikuti olimpiade matematika yang akan di adakan dua hari lagi. Sifa mulai disibukkan dengan berbagai macam soal dan rumus yang harus ia kerjakan. Sifa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tidak bisa di anggap sepele mampu membuat lawan merasa terancam.


Bel istirahat berbunyi Sifa segera beranjak dari kursi perpustakaan dan melangkah menuju kelas untuk bergabung bersama kedua sahabatnya. Ketika berjalan melewati kelas IPA 3, Sifa bertemu dengan Aldi yang keluar dari kelas ingin menuju kantin bersama dengan temannya.


"Loe duluan aja Kis, gue bareng Sifa!

__ADS_1


"Bisa aja loe!" sahut temannya kemudian Aldi berjalan menyusul Sifa.


"Fa!"


"Iya Al."


"Habis persiapan buat besok ya?" tanya Aldi yang sudah berada di samping Sifa.


"Iya lagi di kasih makan banyak soal sama Pak Budi, sampe gumoh rasanya," jawaban Sifa membuat Aldi terkekeh dan mengusap ujung kepala Sifa.


"Sukses ya! aku ikut dampingi kamu besok bareng Pak Budi, semangat terus ya!"


"Makasih ya Al!" jawab Sifa dengan senyum manisnya yang mampu membuat hati Aldi semakin mencinta.


Sifa bertemu dengan kedua sahabatnya yang sudah menunggu di depan kelas, mereka berjalan bersama menuju kantin yang sudah mulai terisi banyak murid.


"Duduk sana aja Fa! " tunjuk Nisa ke arah bangku yang masih kosong.


"Mau ikut bareng Al?"


" Boleh! kalo gitu aku aja yang mesen makanannya, kamu mau apa?" tanya Aldi yang masih berdiri di hadapan Sifa.


"Aku mau bakso aja dech, campur ya Al jangan pakai seledri, minumnya es teh aja,"


"Kita samain aja Al, biar nggak ribet, makasih ya baik banget dach calon pacar orang!" seru Meri yang lupa akan status Sifa dan di jawab dengan acungan jempol serta lirikan mata ke arah Sifa.


"Nih mulut pengen gue kasih sambel!" celetuk Sifa pada Meri


"Kok di kasih sambel sekarang sich Fa, baksonya aja belum nyampe!" ucap Meri polos.


"Tau akh!" Sifa berjalan menuju bangku kosong dengan memutar bola matanya merasa jengah dengan Meri ketika loading nya mulai lambat. Namun di sambut dengan tawa Nisa yang diikuti oleh Meri.


Aldi datang dengan membawa pesanan mereka, dengan sigap Sifa segera membantu dan meletakkan mangkuk bakso satu persatu di atas meja mereka.


Aldi, Sifa dan kedua sahabatnya dengan lahap menikmati makan siang mereka sehingga tidak memperhatikan sekitar. Nita yang dari jauh baru saja datang segera berjalan menuju kursi Sifa.


BYUUUUURR


Semua yang ada disana tampak terkejut begitupun dengan Sifa yang merasakan dingin dan basah di kepalanya. Sifa segera menoleh mencari tau siapa gerangan yang membuat ulah padanya. Nita memasang senyum liciknya tetapi tak membuat Sifa terpancing emosi, sebisa mungkin Sifa bersikap tenang. Aldi yang melihat itu segera berdiri dan ingin membela Sifa tetapi di tahan oleh Sifa dengan tangan kanannya yang ia naikkan. Mereka menjadi perhatian semua murid yang ada di sana.

__ADS_1


"Apa maksud loe!"


"Masih nggak ngerti juga, apa loe pura-pura bego! gue udah ingetin loe berulang kali, jangan coba-coba deketin cowok gue! tapi loe nggak ada takutnya ya, dengan seenaknya loe datengin Vino ke rumah sakit!" bentak Nita.


"Sebelum loe bekoar harusnya loe tanya dulu sama cowok loe posisi gue di hati dia!"


"Diem loe! semua orang juga tau kalo gue itu ceweknya Vino, loe yang kegatelan ngejar-ngejar dia!"


Rian dan Geri yang sejak tadi memperhatikan di buat kesal dengan tingkah Nita yang bar-bar hingga Rian melakukan video call dengan Vino dan mengarahkan layar ponselnya ke arah Sifa yang sudah basah kuyup.


"Jaga mulut loe ya! cewek bar-bar yang ngaku pacarnya Vino Putra Baratajaya yang terhormat! Anda sesuka hati bilang saya kegatelan? terus anda apa? apa dengan sikap anda yang seperti ini belum menggambarkan sifat anda yang dominan? dan itu artinya apa? hhmmm?.......dan satu lagi, kalo loe ngerasa gue saingan loe, maka hati-hati posisi loe nggak aman say!" ucap Sifa setenang mungkin dengan senyum yang masih tersemat di wajahnya menutupi segala kekesalan di hatinya.


"Oh iya sampai lupa, ada minuman yang masih penuh nggak?" tanya Sifa ke murid yang ada di sana. Seorang siswi memberikan minuman ke Sifa yang berisi jus alpukat yang sangat menggoda. Sifa meminum sedikit jus tersebut kemudian kembali melihat ke arah Nita.


"Mmmmm agak pahit ya jusnya, pantas aja nggak diminum dari tadi, gue buang aja ya!"


BYUUUUURR


"Brengsek!!!"


"UPS sorry, tempat sampahnya kejauhan jadi yang dekat aja ya, makasih loh!" ucap Sifa segera meninggalkan kantin dan berlari menuju toilet.


Nita yang marah mulutnya terus mengumpat Sifa kemudian pergi dari sana, dengan rambut yang lengket dan menimbulkan noda di seragamnya. Kantin yang hening kemudian menjadi riuh kembali, Aldi dan kedua sahabat Sifa segera berlari menyusul.


Setelah mereka pergi, kemudian Rian menutup panggilan tersebut tetapi segera di cegah oleh Vino, Vino meminta kedua sahabatnya untuk membelikan baju seragam untuk Sifa dan memberikan Hoodie nya yang ada di basecamp karena dia tau Sifa pasti kedinginan saat ini.


Sifa yang sudah berada di toilet segera mencuci rambutnya agar tidak lengket karena es teh manis yang dituang di kepalanya tadi. Setelah dirasa sudah bersih gadis itu keluar dari toilet dengan pandangan iba dari kedua sahabatnya dan Aldi yang mulai penasaran tetapi mencoba untuk tidak bertanya.


"Fa kamu nggak apa-apa?" tanya Aldi khawatir kemudian ingin menggenggam tangan Sifa tetapi Sifa yang berpura-pura tidak tau segera menghindar.


"Seragam loe basah Fa," Nisa memperhatikan baju Sifa yang mulai mencetak dalaman gadis itu. Sifa yang mengerti segera menggeser badannya ke belakang Meri dan Nisa karena merasa risih dengan Aldi.


Rian dan Geri yang melihat Sifa di depan toilet segera berlari dan memberikan seragam baru untuknya.


"Pakai ini Fa!" ucap Rian.


"Ini seragam siapa?" tanya Sifa yang masih berada di belakang kedua temannya.


"Itu seragam baru, loe pasti tau siapa yang nyuruh gue dan Rian terus ini hoodienya pake, dia takut loe kedinginan!" ucapan Geri membuat Aldi memicingkan matanya melihat Hoodie yang jelas sering dipakai pemiliknya, karena yang ini merupakan Hoodie kesayangan Vino.

__ADS_1


"Oh... thanks ya," Sifa segera mengambil seragam serta Hoodie tersebut tetapi saat ingin masuk ke toilet suara Aldi menghentikan langkahnya.


" Pulang sekolah aku tunggu kamu untuk jelasin ke aku Fa!"


__ADS_2