
Saat ini Sifa dan Vino tercengang melihat isi dari kotak yang berada di atas meja kerja sang nenek, tangan Sifa terulur mengambil benda yang ada di dalam kotak tersebut. Senyumnya mengembang saat melihat begitu lucu barang yang ia pegang saat ini.
Vino mengusap lembut kepala Sifa, kemudian mengecupnya dengan sayang, walaupun dia belum paham apa maksud sang nenek tapi melihat apa yang Sifa pegang cukup membuat hatinya menghangat.
Rasanya ingin mengucap jika dia menginginkan tetapi tak mau membuat resah dan menjadi beban.
"Lucu ya by?" tanya Sifa dengan senyum mengembang.
"Iya sayang...."
Kemudian Sifa mengambil sepucuk surat yang terselip di bawah kotak itu. Sifa membukanya, kemudian beralih duduk di sisi ranjang milik nenek. Vino yang melihat pergerakan dari Sifa segera mendekati dan duduk di sampingnya.
Teruntuk cucuku,
Sifa Amalia Atmaja
Ketika kamu membaca surat ini mungkin nenek sudah tiada, maaf jika nenek tak pernah bercerita tentang penyakit yang selama ini nenek derita. Itu semata-mata karena nenek tak ingin membuat cucu nenek yang paling cantik ini kepikiran.
Bagaimana kabar pernikahan kalian?
Nenek harap kalian bahagia, maaf nak...ini alasan utama nenek menjodohkan kamu dengan cucu dari teman nenek, Vino. Nenek tau waktu itu akan datang, waktu dimana nenek tak bisa lagi memberi kasih sayang padamu, waktu dimana nenek tak bisa lagi melihat keseharianmu, waktu dimana nenek sudah sama sekali tak bisa menerima dan mendengar kabar darimu. Walaupun kita jauh. tetapi nenek mempunyai orang kepercayaan untuk terus menjaga cucu nakal nenek ini.
Semenjak kamu menikah, nenek lebih tenang nak, nenek tenang kamu sudah ada yang menjaga, menyayangi, serta melindungi.
Ikhlaskan nenek berkumpul kembali dengan mamah dan papah kamu disana. Jangan kamu larut dalam kesedihan dan membuat suamimu sedih nak....
Di dalam kotak itu, nenek sudah siapkan sepasang sepatu bayi untuk cicit nenek kelak. Pakaikanlah padanya, katakan dengannya jika eyang buyut menyayanginya dan sangat menantikan kehadirannya, tetapi karena waktu eyang buyut yang tak banyak hanya mampu menitipkan sepatu mungil ini untuknya.
Sifa....cucu nenek yang sangat nenek sayang, ada sebuah map di laci kerja nenek dan ambillah nak. Disana ada surat perusahaan dan beberapa hektar sawah yang nenek miliki, serta surat rumah kamu yang di kota dan surat rumah nenek yang di desa, semua atas nama kamu nak. Hanya ini yang bisa nenek berikan padamu, rawatlah untuk bekal kamu dan suamimu kelak, semoga ini bisa mencukupi kalian dan cicit- cicit nenek.
Jadilah istri yang berbakti pada suamimu, berikan dia hak dan laksanakan kewajibanmu dengan baik. Hiduplah bahagia dengan keluarga barumu...
Dan untuk Vino, nenek titip Sifa ya nak, bimbinglah dia menjadi istri yang baik. Sayangi Sifa dan jaga dia, nenek berharap besar padamu, jangan kamu sakiti hatinya. Jika dia salah maka tegurlah dengan baik, nenek percaya padamu karena kamu laki-laki yang bertanggung jawab.
Salam dari nenek di surga, kami telah bahagia disini...
__ADS_1
Sifa terisak di pelukan Vino, dia tidak menyangka nenek mempersiapkan semua ini jauh-jauh hari, bahkan dia kurang memperhatikan nenek selama ini.
Maafkan Sifa nek....
Sore harinya Sifa dan Vino telah duduk di pendopo dengan kelapa muda di hadapan mereka. Sifa menuruti keinginan Vino, bahkan disini pun dia sedikit lebih tenang. Sesekali matanya terpejam merasakan angin yang sejuk menerpa wajah ayunya.
"Lebih tenang?"
"Iya, makasih ya..."
cup
"Apapun itu buat kamu akan aku lakukan, kelak kamu ingin tinggal dimana? di kota apa di didesa?"
"Sepertinya di desa lebih tenang, tapi aku nurut suamiku mau bawa kemana."
"Untuk saat ini kita di kota dulu ya, mungkin jika anak-anak kita sudah besar nanti dan kita sudah menua, kita tinggal di desa berdua. Menghabiskan waktu bersama, aku moco Qur'an sarungan Kowe blanja dasteran"
"Kok endingnya kayak lagu, nanti aku joget toktok gimana...."
"Kamu ngeremehin aku?"
"Aku nggak percaya aja karena emang belum liat buktinya," sahut Vino.
"Berarti kamu belum kenal aku! cari aja toktok nya ciwik gemes, di sana bisa kamu liat sendiri."
Vino segera membuka aplikasi toktok dengan nama ciwik gemes, mulut Vino seketika terbuka setelah melihat beberapa Vidio yang menampilkan istrinya dengan beberapa lagu dan gerakan yang berbeda-beda. Apa lagi dengan jelas Sifa terlihat begitu luwes dengan memamerkan goyangan tubuhnya.
Muka Vino memerah melihat begitu banyak yang menonton dan komentar dari para followersnya, apalagi di sana dengan jelas banyak sekali para cowok-cowok yang memuji kecantikan Sifa.
"Kenapa?" Sifa penasaran dengan ekspresi Vino yang menunjukkan wajah datarnya.
Vino menoleh ke arah Sifa dan menarik hidung Sifa sampai gadis itu meringis kesakitan.
"Ikh kamu kenapa sich, kok malah narik hidung aku!" Sifa mengusap hidungnya yang memerah.
__ADS_1
"Stop ya buat Vidio kayak gini! aku nggak mau lagi kamu buat kayak gini, bikin gerah kaum Adam tau nggak!"
Sifa tak mengira jika Vino berpikiran sampai kesana, padahal saat buat Sifa hanya iseng-iseng aja dengan kedua sahabatnya, itu pun jarang tetapi memang banyak yang suka.
"Memangnya kenapa?" tanya Sifa dengan muka polos.
"Sayang! kamu saat ini sudah memiliki suami ya, bahkan aku nggak meridhoi jadi nggak usah buat-buat kayak gitu lagi oke! awas kalo sampai aku tau kamu buat Vidio dengan kedua teman kamu itu!"
"Galaknya suami aku!"celetuk Sifa.
"Biar istri aku nggak nakal!"
"Eh cucu-cucu nenek kenapa ini? mukanya kok pada di tekuk begitu?" tanya nenek Ningrum yang baru saja datang dengan piring ditangannya.
"Nggak ada apa-apa nek, lagi bercanda aja sama Vino. Nenek bawa apa?" Sifa tidak mungkin bercerita tentang perdebatannya dengan Vino, karena dia tidak ingin berbuntut panjang.
"Ini nenek bawakan kalian pisang goreng, masih anget manis lagi." Nenek meletakkan sepiring pisang goreng di depan Sifa dan Vino.
Vino tampak cuek tak menggubris, hatinya masih kesal dengan Sifa dan tak rela jika istrinya di pertontonkan banyak orang. Sifa yang melihat itu sengaja mengambil satu potong pisang dan ia suapkan ke mulut Vino. Vino yang melihat itu kemudian melirik Sifa yang sedang memasang wajah imutnya.
"Aaaa......"
Vino akhirnya memakannya kemudian mengusap lembut pucuk kepala Sifa, bagaimana dia bisa betah bersikap cuek dengan istrinya jika di hadapkan dengan wajah yang imut menggemaskan seperti ini.
"Romantisnya cucu nenek, ngomong-ngomong gimana nak, sudah ada kabar baik belum?"
Sifa yang tak mengerti kemudian melirik Vino, "Kita fokus ujian dulu nek, doakan saja nanti setelah urusan sekolah selesai bisa secepatnya kasih cucu buat nenek," sahut Vino kemudian melirik Sifa dengan senyum hangat.
Sifa yang baru mengerti kemudian menggenggam tangan nenek, "doakan segera dikasih rejeki ya nek," ucap Sifa dengan tulus.
"Tentu nak, nenek selalu mendoakan kalian, nenek sudah tidak sabar bisa menggendong cicit, pasti anak kalian nanti lucu-lucu."
Mendengar ucapan nenek Ningrum membuat Sifa teringat akan pemberian dari almarhum neneknya, Sifa memandang Vino yang sejak tadi memperhatikan.
"Udah siap jadi ayah by?"
__ADS_1