Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Khawatir


__ADS_3

Rian melajukan mobilnya menuju rumah Nita, Geri yang sejak tadi mengumpat sambil memijat pelipisnya kembali fokus memperhatikan jalanan. Rian dan Geri benar-benar mengkhawatirkan nasib Vino, mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Vino yang nantinya berujung fatal pada rumah tangganya.


"Cepet Ian, jangan sampai kita kalah gesit sama singa betina itu!"


"Gue udah ngebut, tapi keselamatan juga nomor 1," ketus Rian.


"Gue nggak kebayang kalo Nita sampe ngelakuin sesuatu sama si Vino, bakal jadi kayak apa nantinya rumah tangga mereka."


"Yang penting sekarang kita segera kesana dan membawa Vino pulang!" ucap Rian dengan sorot mata tajam.


Sesampainya di kediaman Nita, keduanya segera turun dari mobil kemudian mereka masuk kedalam pagar menuju pintu utama.


"Pelan-pelan takut dia tau kalo kita datang, ini orang udah pasti di dalem, liat aja mobilnya udah terparkir di garasi," bisik Rian.


"Pintunya nggak di kunci!" Geri membuka pintu besar rumah Nita dan mengendap masuk kedalam.


Mereka sempat bingung harus mencari kemana pasalnya di rumah Nita banyak sekali kamar.


"Itu orang kamarnya dimana sich? ini pintu kamar sama semua bentuknya!" kesal Geri yang sejak tadi celingukan melihat situasi dan kondisi dirumah tersebut serta menelisik kamar tempat Nita membawa Vino.


"Ayo kita naik aja, biasanya kamar anak cewek di atas!" ucap Rian yang segera mendapatkan tatapan tajam dari Geri.


"Udah sering loe ya masuk ke kamar cewek?"


"Nggak usah kebanyakan ba.cot dah, loe tau gue!" sewot Rian "lagian cepetan jalan keburu si Vino di per.ko.sa sama si Nita!"


"Hih......ngeri, tapi mau donk!"


"Bodo amat!" Rian segera menaiki anak tangga tetapi baru sampai di undakan ke dua bajunya ditarik oleh Geri hingga langkahnya mundur kebelakang.


"Apa lagi sich?"


"Gue curiga mereka ada di kamar itu!" tunjuk Geri pada kamar yang pintunya tidak tertutup rapat.


"Coba aja kita cek kesana!"


Keduanya melangkah menuju kamar tersebut dengan langkah pelan tanpa mengundang curiga. Saat Rian dan Geri sudah di depan kamar mereka di buat tak menyangka dengan kelakuan Nita.


"Aaakkkkkkkhhhhh..." Nita menjerit saat dia memastikan siapa gerangan yang mencekal tangannya.

__ADS_1


"Kalian!"


"Kenapa? dasar cewek nggak tau malu! otak loe dimana? mau ngelakuin apa loe sama Vino? loe mau buat si Vino seakan memper.ko.sa loe padahal loe sendiri yang kegatelan!" bentak Rian yang sudah begitu emosi saat melihat Nita yang benar-benar ingin membuat Vino bertekuk lutut padanya.


Beruntung mereka tidak terlambat, sedikit saja terlambat sudah di pastikan besok akan ramai berita keduanya yang tidur bersama. Apa lagi setelah Rian lihat ada sebuah kamera di sudut meja rias.


"Bawa Vino ke luar Ger!" titah Rian yang terus menatap tajam Nita.


"Jangan bawa Vino, dia milik gue!" bentak Nita.


"Ngimpi aja loe! dasar cewek murahan!"


Rian menoleh ke arah Geri yang sejak tadi tidak ada pergerakan, Geri malah menatap lapar tubuh Nita yang hanya memakai dala.man, membuat siapa saja tergiur ingin menyerang.


"Otak loe normalin dulu be.go! modelan begini loe doyan, kalo mau setelah Vino masuk ke mobil baru abisin tuh anak! gue pikir dia pasti udah nggak pw lagi. Ayo cepetan bawa Vino masuk mobil, malah cengo disini!" oceh Rian.


Nita yang mengerti arah pandang Geri kemudian mengambil handuk dan menutupi tubuhnya.


"Kali ini aja gue mohon biarin Vino sama gue!" lirih Nita.


"Dan loe akan buat hubungan Vino dan Sifa ancur kan? nggak usah ngehayal loe, loe kalo udah gatel gue siap nyariin musuh buat garuk punya loe! tapi jangan sahabat gue!" jawab Rian dengan nada rendah tetapi begitu mematikan bagi yang mendengarnya.


"Kita bawa dia kemana?"


"Kita bawa dia pulang ke bini nya!" jawab Rian.


"Udah hampir jam 4 pagi, masak iya kita bawa dia pulang kesana?"


"Kasian Sifa kalo nyariin!"


"Kasian lagi kalo dia liat lakinya pulang dengan kondisi berantakan begini!" tegas Geri. Sejenak Rian memikirkan ucapan Geri yang tidak sepenuhnya salah, apa lagi setelah dia melirik kembali penampilan Vino yang cukup memprihatinkan.


"Oke biar dia ikut ke apartemen gue!"


"Gue juga ikut, gue mau tidur di tempat loe aja lah, ngeri gue di nyap-nyap emak gue pulang pagi."


Akhirnya mereka memutuskan untuk segera menuju apartemen milik Rian, sesampainya disana mereka segera merebahkan tubuh mereka yang begitu lelah.


"Kebanyakan dosa loe Vin, berat banget badan loe!" kesal Geri yang sedang mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Capek gue, loe mau tidur mana? kamar sebelah kosong noh!" ucap Rian yang sudah tidur di samping Vino.


"Dikamar tamu aja lah, gue kan tamu!"


"Bodo amat, gue ngantuk!" celetuk Rian.


Sejak pagi Sifa sudah berkutat di dapur, hatinya begitu kecewa mendapati ranjangnya yang kosong ketika ia kembali membuka mata, terlepas dari itu Sifa tetap beraktivitas karena hari ini juga dia harus berangkat ke sekolah.


Sejak semalam dia menghubungi Vino dan masih tidak ada jawaban, hingga pagi tadi nomornya justru tidak bisa di hubungi.


Bukan curiga, tetapi lebih kerasa khawatir akan keselamatannya, takut terjadi apa-apa pada suaminya, tetapi setelah nomor yang ia hubungi tak kunjung ada jawaban membuat perasaan Sifa campur aduk, sedih, kecewa, marah, takut, khawatir, dan rindu semua jadi satu.


Setelah menyajikan makanan yang ia masak di atas meja, Sifa segera menyiapkan bekal untuk ia makan di sekolah. Karena terlalu memikirkan Vino membuat nafsu makannya terganggu, dia berharap akan mampu melupakan jika dia sudah berada di sekolah dan bisa makan dengan lahap.


Sifa berangkat dengan mengendarai motor maticnya, sepanjang jalan hanya ada bayangan wajah Vino yang terus berseliweran di otaknya.


"Kayaknya emang gue udah tahap bucin akut kalo begini!"


"Loe kemana Vin, jangan sampai hal yang gue takutin terjadi," gimana Sifa setelah sampai di parkiran sekolah.


Mata Sifa melirik tempat parkiran yang biasa Vino pakai tetapi kosong, tidak ada juga mobil ke dua sahabat Vino. Sifa menarik nafas dalam mencoba untuk terus bersabar, dia berjalan terus menelusuri setiap lorong sekolah.


Sifa berusaha untuk tetap tenang, tetapi ketenangannya kembali terusik saat telinganya menangkap suara-suara ex lambe turah yang membuat hatinya bergemuruh serta nafasnya mulai memburu.


"Iya, jangan-jangan mereka balikan ya,"


"Tau dari mana loe?"


"Gue lihat sendiri, kalo loe nggak percaya liat aja di group sekolah, di sana ada foto Vino yang lagi berduaan di club' sama si Nita semalem."


"Gila loe, si doi kayaknya mabok gitu ya?"


"Wah....mana Nita nya sexy banget lagi ya?"


"Acara apa sich semalem?"


"Katanya sich ulang tahun anak SMA sebelah."


Langkah Sifa yang sempat terhenti karena mendengar suara-suara sumbang dari beberapa murid seketika terseret saat ada tangan yang mencekalnya membawa Sifa hingga menuju taman belakang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2