Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Romeo and Juliet


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Vino dan Sifa terduduk di sofa, gadis itu meletakkan obat serta perlengkapan Vino di atas meja. Sifa melirik Vino yang memasang muka masam sejak turun dari motor tadi. Gadis itu menusuk-nusuk perut Vino agar mau bersuara tetapi gagal, Vino tetap dalam mode diam.


Sifa membuang nafas kasar kemudian beranjak menuju kamar tetapi dengan cepat Vino menariknya kembali.


"Apa lagi? cuekin gue tapi di tinggal ke kamar nggak mau!" sewot Sifa yang mulai tak nyaman dengan sikap Vino yang diam sejak tadi.


"Masih ngambek gara-gara gue nggak mau meluk? makanya jangan banyak modus!"


"Gue modus juga sama bini sendiri Fa!" celetuk Vino yang masih kesal.


"Iya tapi nggak harus di tempat umum juga Vino! bukannya loe sendiri yang nggak mau sampe orang tau hubungan kita?"


"Itukan dulu Fa, gue kemarin kan udah minta maaf, gue juga minta kesempatan sama loe, jadi gue minta bersikap selayaknya."


"Gue nggak mau di teror terus sama pacar loe! selesaikan dulu urusan loe berdua!" tegas Sifa kemudian masuk kamar.


Vino mengusap wajahnya kasar, sulit banget melunakkan hati loe Fa!


Malam harinya Sifa mengetuk pintu Vino mengajaknya makan malam karena sudah jadwalnya meminum obat. Vino keluar dengan wajah yang sudah segar, melihat Sifa melangkah kembali menuju dapur mempersiapkan semuanya.


Mereka berdua makan dengan khidmat, pandangan mata Vino sesekali menatap Sifa yang sangat lahap, hingga Sifa merasa risih dan menatapnya balik.


"Kenapa?"


"Abisin dulu makannya!" perintah Vino.


Setelah merapikan semua peralatan dapur dan membersihkannya Sifa segera masuk ke kamar, gadis itu melirik kamar Vino yang tertutup. "Katanya mau ngomong, nggak jadi kali ya! gue masuk aja dech."


Sifa menyiapkan semua keperluan sekolahnya serta mengambil beberapa buku yang harus ia pelajari besok. Memeriksa isi tas siapa tau ada barang yang tak perlu ia bawa hingga tangannya menemukan dompet miliknya, Sifa duduk di pinggir ranjang membuka dompet tersebut, di melihat tinggal beberapa lembar lagi yang berwarna merah.


" Tinggal segini uangnya, nggak nyampe akhir bulan donk apa gue kerja aja lagi ya! kalo pake duit mamah papah belum saatnya dech, gue belum berkontribusi kedalam perusahaannya. Biarin aja buat urusan sekolah."


Ketukan pintu membuyarkan pikirannya, gadis itu berjalan membuka pintu. Tampak Vino berdiri di depan pintu dan menarik tangan Sifa untuk masuk ke kamarnya.


"Eh mau ngapain Vin?"


"Tidur sini!"

__ADS_1


"Hhaaaahhh!" Sifa terkejut membuat mulutnya sedikit terbuka. Dengan gemas Vino mencium sekilas.


"Ikh, kumat cium-cium!" sengit Sifa.


"Pindah kamar, mulai malam ini loe tidur sama gue!"


"Peraturan dari mana kayak gitu, nggak akh gue balik kamar aja," Sifa berbalik ingin keluar kamar tetapi Vino menahannya.


"Mana ada suami istri pisah kamar!" Mendengar itu Sifa menaikan alisnya.


"Loe lupa aturan itu loe yang buat! selesaikan dulu urusan loe baru mulai semuanya."


"Fa, please gue janji bakal selesaikan semuanya urusan gue sama Nita!" ucap Vino dengan muka kalemnya yang membuat Sifa goyah.


"Gue capek ngeladenin cewek loe yang bar-bar Vin!" keluh Sifa.


"Sorry buat loe nggak nyaman!" Vino membawa Sifa duduk di pinggir ranjang, " Kita mulai semuanya dari awal ya!" lirih Vino.


"Gue takut Vin!" ucap Sifa dengan muka serius," gue belum siap sakit hati, bahkan gue belum pernah ngejalanin hubungan sebelumnya."


"Tapi kita udah menikah Fa, bukan pacaran atau cuma main-main, gue bakal berusaha buat kita! Maaf kalo sebelumnya gue sering nyakitin loe, tapi itu sengaja gue lakuin dan loe udah tau kan alasannya!" Vino menggenggam tangan Sifa


Sifa menitikkan air mata melihat ketulusan Vino, baru kali ini hatinya benar-benar tersentuh padahal Aldi yang sama tulusnya saja belum mampu mengetuk sisi hati yang terdalam. Vino mengusap air mata Sifa dan menyatukan kening mereka, nafas keduanya sangat terasa menyapu wajah hingga hidung pun mulai singgah Sifa memejamkan mata saat bibir Vino mulai menyambar, memberikan sentuhan halus tetapi mampu membuat nafas memburu. Sifa hanyut dengan sapuan lembut lidah yang menjelajah dalam, hingga mulut terbuka memberi akses sang pria untuk mulai memanjakan, belitan dan kecapan perlahan membuat Sifa mulai mengimbangi permainan, tangan Vino yang sejak tadi menggenggam mulai nakal berkeliaran, merapatkan jarak yang masih berceleh. Begitupun dengan Sifa, tangannya mulai singgah di pundak Vino, Vino mendorong perlahan tubuh Sifa hingga terjerembab di ranjang, hingga Vino leluasa mengakses benda kenyal yang sejak tadi membuatnya gemas.


Tangan yang mulai bergerak lembut menyingkap baju Sifa kini telah memberi sentuhan manja di area perut mulus yang mampu menaikan hasrat. Sifa yang membuka mata kian mengembalikan kembali kewarasannya, hingga tangannya menghentikan jemari Vino yang meresahkan.


Sifa membuang muka dengan nafas tersengal ketika Vino melepas ciumannya, jantung keduanya ikut berperan yang membuat getarannya terasa beradu karena posisi yang tak berjarak.


"Fa.." lirih Vino menatap mata sayu Sifa membuat sang gadis mulai menatapnya, gejolak hasrat sangat ketara di mata Vino membuat Sifa sedikit resah.


"Boleh lagi?"


"Gue takut loe minta lebih Vin!"


"Sedikit aja dan janji nggak akan lebih," ucap Vino dengan tatapan mata berkabut dan suara serak menahan sesuatu. Wajah Sifa sudah bersemu merah sejak tadi, tak munafik jika Sifa menikmati, tapi untuk lebih Sifa belum ingin.


"Tapi tangannya jangan merusuh, loe buat gue takut Vin," lirih Sifa, tetapi tanpa menjawab Vino sudah mulai menyatukan kembali benda kenyal yang membuat candu.

__ADS_1


"Fa!" bisik Vino yang saat ini memeluk tubuh Sifa di dalam selimut hangat. Wajah Sifa sudah masuk ke dada Vino karena aktifitas tadi membuat gadis itu malu.


"Hey, sini liat aku!" Sifa tercengang mendengar Vino mengganti gue menjadi aku.


Gadis itu memberanikan diri mengangkat kepalanya melihat wajah tampan Vino dengan rambut acak-acakan yang pastinya akan membuat semua cewek berteriak.


Vino tersenyum dan mengecup kening Sifa, mata mereka terkunci.


"Sayang!"


deg


"Vin, loe jangan buat gue masuk rumah sakit setelah ini!"


"Kenapa?" Vino mengernyitkan dahinya menatap heran.


"Jantung gue mulai nggak terkondisikan!"


Mendengar itu Vino dibuat ngakak dan mengacak lembut rambut Sifa.


"Emang salah kalo aku manggil sayang?"


"Belum terbiasa aja, masak tom n Jerry bisa berubah menjadi Romeo and Juliet secepat ini!"


"Kalo emang bisa kenapa nggak?" tanya Vino dengan senyum tampan yang nggak akan di temukan selain dengan Sifa.


"Kenapa nggak jadi Mickey n Minnie mouse dulu?"


"Kok malah nego?" ledek Vino yang semakin gemas dengan Sifa.


"Aku nggak mau berawal romantis tetapi berakhir tragis, aku pengen kayak putri salju dan pangeran berkuda putih."


"Tapi kamu harus mati dulu gara-gara makan apel beracun!" ucap Vin kemudian mencubit gemas hidung Sifa.


"Ikh sakit!" keluh Sifa mengusap hidungnya " lagian kan nanti kamu dateng nolong aku, kasih ciuman di kening dan kita hidup bahagia."


"Ya kalo aku datang, kalo nggak gimana?"

__ADS_1


"Ikh kamu mah nggak niat," sengit Sifa dengan wajah cemberut dan membuat Vino tertawa.


__ADS_2