
"Liat dada loe!"
Mendengar ucapan Vino, pandangan Sifa langsung tertuju pada tubuh bagian depan yang sudah tercetak jelas bentuk kedua buah yang menggoda.
"VINO TUTUP MATA LOE!" seru Sifa.
"Telat!" ucap Vino santai kemudian berjalan menuju sofa dan duduk disana.
"VINO!"
"Bahkan loe udah jadi tontonan siswa satu sekolah Sifa, loe sengaja kan!"
"Maksud loe apa?"
"Loe sengaja mau pamerin tubuh loe, iya kan?" tanya Vino kesal mengingat Sifa yang menjadi tontonan orang banyak.
"Loe pikir gue perempuan apa Vino?" tanya Sifa yang sudah berdiri di depan Vino dengan tangan berkacak pinggang.
"Mau ngapain loe? loe mau ngegoda gue juga? hhmm?" kemudian Vino berdiri di hadapan Sifa "tapi sorry gue nggak nafsu sama loe! murah!" bisik Vino dan melangkah menuju pintu yang di ketuk dari luar. Setelah membuka pintu dan mengambil seragam Sifa yang diantar oleh kedua sahabatnya, Vino kembali ke tempat Sifa berdiri.
"Seragam loe!" Vino melempar seragam sifa tepat mengenai wajah Sifa.
"Cepat ganti dan keluar dari sini!"
Kemudian Vino pergi melangkahkan kakinya keluar dan menutup rapat ruangan itu.
"Sorry Fa, gue benci loe jadi pusat perhatian orang lain."
Air mata Sifa luruh setelah Vino pergi, ada rasa sesak di dadanya setelah mendengar ucapan Vino tadi.
"Tega loe Vin!"
...****************...
Di kantin saat ini masih heboh dengan kejadian di lapangan tadi, apa lagi saat Vino yang dengan terang-terangan membawa Sifa pergi. Banyak yang menggosipkan keduanya sudah jadian, ada yang mengira bahwa Sifa sengaja menggoda Vino, dan ada juga yang mengira mereka hanya Gimik.
Kejadian tadi juga membuat kedua sahabat Sifa yang berada di kantin masih bertanya-tanya ada apa dengan Sifa dan Vino.
"Kok bisa ya Nis?" tanya Meri yang sedang menikmati baksonya.
"Gue juga nggak tau Mer, gue ngerasa ada something antara keduanya," jawab Nisa.
"Iya, gue juga ngerasa begitu, hhaaaahhhh gue patah hati donk kalo sampe itu terjadi."
"Emang Vino pacar loe pakai patah hati segala?"
"Ikh kan idaman gue banget Nisa, ya walaupun bad boy sih itu anak, tapi makin nakal makin menggoda", ucap Meri yang membuat Nisa ingin membungkamnya.
__ADS_1
BBRRAAAKK
Suara gebrakan meja membuat kedua gadis itu terjingkat.
"Mana temen loe yang kegatelan itu?" tanya Nita yang datang dengan wajah emosi karena mendengar Vino yang membawa pergi Sifa dengan memeluk gadis itu.
"Siapa maksud loe? kita nggak punya temen yang gatel," ucap Nisa berdiri menghadapi Nita.
"Siapa lagi kalau bukan Sifa?"
"Jaga mulut loe ya, temen gue nggak kayak yang loe ucapin!" sewot Nisa membela Sifa.
" Itu Sifa Nis," ucap Meri melihat Sifa yang masuk ke kantin. Sifa melihat adanya Nita di sana sudah cukup paham apa yang akan terjadi.
"Ada ap......"
PLAK
"SIFA!" Teriak kedua temannya yang melihat pipi Sifa di tampar oleh Nita hingga badannya terhuyung kebelakang.
Sifa yang mendapat tamparan dari Nita hanya tersenyum sinis.
"Udah puas setelah loe nampar gue?" tanya Sifa yang sudah kembali berhadapan dengan Nita tanpa memperdulikan pipinya yang sakit.
"Pakai apa loe bisa buat Vino yang benci sama loe jadi bersikap manis kayak tadi? Atau jangan-jangan loe pakai tubuh loe buat ngegaet dia, iya?"
"Lalu apa kalo bukan murah?" tanya Nita lagi.
"Inget ya cewek murahan, jangan pernah loe berani ngerebut Vino dari gue!" ucap Nita dengan tangan menunjuk-nunjuk wajah Sifa.
"Cih...kalo loe berasa lebih dari gue, seharusnya loe nggak takut cowok loe bakal gue rebut," ucap Sifa dengan tampang meremehkan.
"Dan kalaupun gue mau, nggak perlu pakai tubuh gue karna cowok loe sendiri yang nantinya akan milih gue!" ucap Sifa dengan suara rendah dan pergi dari kantin.
"BRENGSEK" teriak Nita tidak terima.
"Percaya diri jadi cewek, jangan sampai cowok loe ninggalin loe karena kebodohan loe sendiri!" ucap Nisa kemudian pergi bersama Meri menyusul Sifa.
Ucapan Sifa tadi masih terdengar jelas di telinga Vino yang duduk tidak jauh dari sana.
"Sebenarnya ada hubungan apa sich loe sama Sifa Vin?" tanya Geri yang mulai curiga dengan Vino.
"Nanti loe bakal tau sendiri," jawab Vino santai.
"Sifa incaran gue bro."
"Nggak usah ngadi-ngadi loe," sewot Vino.
__ADS_1
"Widih....dengan sikap loe yang begini gue paham bro," ucap Geri meledek.
"Diem loe!"
"Udah nggak usah mengharapkan Sifa Ger, kalo nggak mau berhadapan sama macamnya," ledek Rian.
"Paham gue, jadinya Rivalku jantung hatiku?"
"Berisik loe!" sewot Vino kemudian berdiri meninggalkan kedua sahabatnya.
Sepulang sekolah Sifa memasuki unit apartemen berbarengan dengan Vino yang juga baru sampai. Tidak ada yang menyapa antara keduanya, masih ada perasaan sakit di hati Sifa yang membuat dia enggan untuk berucap. Sifa langsung berlenggang masuk ke kamar dan menguci pintu kamar, begitupun dengan Vino.
"hhuuuuhhff..."
" Lelah banget hari ini, otak gue juga rasanya minta di instal pabrik," ucap Sifa yang sudah menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Pipi gue masih berasa banget lagi, sial emang tuh lampir bisanya main keroyokan," gumam Sifa hingga tak terasa akhirnya dia tertidur.
Malam harinya Vino keluar kamar menuju dapur, sudah jam makan malam tetapi Sifa belum juga keluar dari kamar. Vino melirik meja makan yang masih kosong, Pemuda itu berpikir jika Sifa masih marah karena ucapannya tadi. Kemudian dia memilih untuk duduk di sofa menyalakan televisi.
Sifa yang baru saja mendapat pesan dari kedua sahabatnya tampak bersiap ingin pergi, Gadis itu mendapat kabar jika Aldi masuk rumah sakit akibat kecelakaan.
"Pantas aja loe hari ini nggak keliatan Al," gumam Sifa kemudian segera keluar dari kamar.
Didepan pintu kamar pandangannya beradu dengan mata Vino yang juga memandangnya. Sifa bingung apakah dia harus ijin atau pergi begitu saja. Apa lagi jika mengingat perkataan Vino tadi membuat dia ingin egois dan melupakan statusnya sebagai istri. Setelah berfikir akhirnya jiwa egoisnya yang menang, Sifa tidak peduli akan statusnya sebagai seorang istri, dia memilih pergi begitu saja tanpa pamit dan memperdulikan Vino, hingga sampai di depan pintu suara Vino membuat langkahnya terhenti.
"Berani pergi tanpa ijin suami?"
deg
Sifa memberanikan diri untuk berbalik menatap Vino yang sudah berada di belakangnya.
"Udah berani ngakuin gue sebagai istri loe?" tanya Sifa yang sudah berhadapan dengan Vino.
"Jangan pernah berani lupain status loe!"
"Cih, bukannya loe selama ini yang nggak menganggap gue istri loe? Kalo loe sadar akan status loe, loe nggak akan terus memiliki hubungan dengan wanita lain."
"kenapa? loe cemburu?" tanya Vino dengan menatap dalam mata Sifa.
"Buat apa gue cemburu sama loe? bahkan kalo gue mau gue bisa berpacaran dengan lelaki la....mmmmmmpppp"
Belum selesai Sifa berbicara Vino sudah membungkam bibir Sifa dengan bibirnya. Dia kembali ******* bibir Sifa dengan lembut yang mampu membuat kaki Sifa melemas, sadar akan itu Vino langsung memeluk tubuh Sifa. Vino menumpahkan segala emosinya dengan terus merenggut manisnya bibir Sifa yang menjadi candu, Sifa yang juga meluapkan segala emosinya membalas setiap belitan lidah Vino. Rasa kesal dan sakit hati yang ia rasakan karena pria yang sedang mencumbunya ini seakan terhempas sudah.
Jantung keduanya beradu dengan lincah saat Vino merapatkan lagi tubuh Sifa ke dekapannya hingga Sifa yang sudah merasa kehabisan oksigen berusaha untuk mengakhiri kegiatan mereka. Vino melepas ciumannya dan menatap Sifa yang sedang mengatur nafasnya.
"Jangan pernah berfikir memiliki hubungan dengan lelaki lain!"
__ADS_1