
"Kalian......."
Sifa segera berdiri menyambut kedua sahabatnya begitupun dengan Vino yang juga menyambut kedua sahabatnya.
"Turut berduka cita ya Fa, kenapa nggak ngabarin sich, tau gitu kan dari kemarin udah sampe sini!"
"Iya, kita berdua kalo nggak mereka yang ngasih tau bahkan nggak tau loh, maaf ya baru bisa nemuin hari ini, pasti sedih banget ya?"
"Nggak apa-apa, lagian juga kemarin nggak sempat megang hape sampe sekarang juga belum ngecek hape, gue udah lebih baik kok, kalian kesini naik apa?"
"Kita kebetulan bawa mobil, ya walaupun agak lama tapi lumayanlah bisa sambil jalan-jalan, nanti kalo balik bareng kita-kita aja ya!"
"Iya...."
Malam harinya Sifa dan keluarga pamit kembali ke Jakarta, papah sudah menitipkan semua pekerja kepada suami mbok Darmi, dari pekerja di ladang hingga pabrik serta para karyawan nenek yang menjalankan beberapa usaha beliau. Setiap akhir pekan papah yang akan mengecek semuanya, ini di lakukan selama Sifa dan Vino masih sekolah, setelah lulus nanti Vino wajib belajar menjalankan usaha yang sekarang di miliki istrinya.
Ada rasa sedih saat harus meninggalkan rumah nenek, Sifa berkali-kali meneteskan air mata dengan dada yang begitu sesak hingga berulang kali Vino mencoba kembali menguatkan, memeluknya dan membisikkan kata-kata agar Sifa lebih tenang.
Perjalanan darat membuat mereka sedikit kelelahan karna terlalu lama di jalan, sehingga membuat Sifa dan kedua sahabatnya tertidur di mobil. Sedangkan Rian dan Geri menyetir bergantian.
Vino yang duduk di belakang tampak memeluk Sifa dengan begitu sayang dia mengusap punggung Sifa hingga benar-benar nyenyak.
"Loe udah tau kabar si Marta Vin?" tanya Rian saat memastikan para cewek sudah benar-benar terlelap.
"Gue sibuk sama istri gue, mana sempet mikirin orang lain! emang kenapa dia?"
"Marta hamil."
Vino mengangkat sebelah alisnya, "anaknya Aldi?"
"Kok loe tau?" sahut Geri.
Vino tersenyum sinis " Nggak bisa main cantik tuh orang! Sifa juga kalo tau kabar ini nggak bakal kaget."
"Wah parah... jangan-jangan loe pada tau tempat mereka bikinnya!" celetuk Rian.
Vino tak menanggapi, dia hanya memandang dalam wajah Sifa dan mencium keningnya, dia bersyukur dulu bisa menjaga dirinya hingga tak terjerumus oleh rayuan para wanita.
Tepat jam delapan pagi mereka sampai di ibu kota, Vino langsung meminta Rian membawanya ke apartemen terlebih dulu, kemudian mengantar kedua sahabat Sifa.
__ADS_1
"Akhirnya sampai, kaki aku pegel by..." keluh Sifa saat sudah sampai di apartemennya. Mendengar itu Vino tersenyum tipis kemudian duduk di samping Sifa dan mengangkat kedua kakinya hingga bertumpu di kaki Vino.
"Eh kamu mau ngapain by?"
"Mau mijitin istri aku yang kecapekan!"
Hati Sifa menghangat mendengarnya, "makasih ya by!"
"Hari ini kita nggak usah kemana-mana ya, besok kan udah sekolah, jadwal juga sibuk banget karena lusa udah ujian, kita belajar sama-sama ya by. Mudah-mudahan kita lulus dengan nilai bagus.."
"Iya sayang."
Keesokkan harinya sekolah heboh dengan kabar kehamilan Marta dengan Aldi yang sekarang sudah menjadi mantan ketos. Sifa yang baru tiba di sekolah bersama dengan Vino pun sampai menghentikan langkahnya saat mendengar para murid membicarakan kabar tentang mereka.
"Ayo sayang!"
"Kabar itu bener by?"
"Katanya seperti itu, tapi aku juga nggak tau jelasnya bagaimana."
Sedangkan hari ini Marta dan Aldi sedang berada di ruangan kepala sekolah, pihak sekolah menyayangkan hal ini. Mereka juga tak menyangka jika Aldi akan berbuat sejauh ini. Apa lagi sampai ramai dan jelas mencoreng nama baik sekolah jika kabar ini akan bocor sampai luar.
Sifa dan Vino sempat melihat keduanya saat melewati ruang kepala sekolah, bahkan kedua orang tua mereka pun ikut hadir dengan raut wajah kecewa. Apa lagi sudah dapat di pastikan keduanya harus dengan tegas di keluarkan dari sekolah hari ini juga, sedangkan esok hari sudah mulai ujian.
Pihak sekolah memang tidak mentolerir hal seperti ini, tetap pada putusan yang sudah tertera di peraturan, keduanya harus di keluarkan.
Sifa menarik tangan Vino membuat langkah Vino terhenti, "Kenapa sayang?"
"Kamu lihat kan? bahkan Aldi dan Marta sudah tak boleh masuk sekolah hari ini juga," ucap Sifa.
"Terus kenapa? itu memang sudah peraturan sekolah mereka harus di keluarkan."
"Kamu nggak kasian? besok ujian loh Vin, toh perut Marta belum besar, bagaimana kalo itu aku dan aku yang di keluarkan dari sekolah?"
"Ya nggak mungkin dong sayang, papah nggak akan biarin kamu di keluarin juga! paling nanti kalo sudah mulai besar kamu di suruh homeschooling!"
"Maka dari itu Vin, apa bedanya dengan Marta, perutnya belum kelihatan kalo dia hamil, kenapa nggak di beri kesempatan, tinggal nunggu tiga hari aja, biarin mereka ikut ujian. Aku nggak tega Vin!"
Vino menarik nafas dalam, kalo sudah begini mau bagaimana lagi, istrinya terus merengek bahkan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Vino nggak mungkin tega, dia kemudian merogoh ponsel di kantongnya dan menelpon seseorang yang di perkirakan itu papah.
__ADS_1
Setelah menutup ponselnya Vino menatap Sifa yang sejak tadi masih memandangnya dengan penuh harap.
"Sekarang silahkan nyonya Vino membatalkan keputusan itu!" ucap Vino lembut dan langsung mendapat pelukan oleh Sifa, Sifa lupa jika dia ada di sekolah hingga tak bisa mengontrol sikapnya.
"Makasih by." Vino tersenyum membiarkan Sifa mengekspresikan dirinya.
"Sayang ini di lihatin yang lain loh!" ucap Vino setelah di rasa cukup, takut kalo Sifa akan bersikap lebih.
Tubuh Sifa kaku, sesaat kemudian dengan canggung dia melepas pelukan Vino. Matanya mengedar melihat para murid lain yang diam memperhatikan keduanya.
"By...."
"Udah biarin," Vino kemudian merangkul tubuh Sifa dan membawanya masuk kedalam ruang kepala sekolah.
Sebelumnya Vino mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Suasana di sana begitu menegangkan bagi Sifa, Aldi yang melihat kedatangan Sifa begitu malu dan menyesal dengan apa yang ia lakukan.
"Ada apa nak Vino?"
"Maaf sebelumnya pak, saya disini hanya ingin berbicara sebentar terkait keputusan sekolah yang ingin mengeluarkan Marta dan juga Aldi dari sekolah ini."
"Iya nak, memang mulai hari ini mereka resmi sudah kami keluarkan karena pihak sekolah tidak akan memberi kesempatan jika terjadi seperti ini."
"Tapi disini saya ingin menggunakan hak saya sebagai anak pemilik yayasan, saya meminta bapak dan pihak sekolah untuk memberikan waktu tiga hari untuk mereka, biarkan mereka selesaikan dulu ujian karena pelaksanaan juga tinggal besok. Dan setelah ini meraka pasti harus bertanggung jawab akan perbuatan mereka, akan sangat kasian jika mereka tidak memiliki ijazah sedangkan nantinya mereka harus berumah tangga dan menghidupi anaknya, apa lagi dari pihak laki-laki, dia memiliki tanggungjawab besar pada istri dan anaknya kelak."
Semua yang ada di sana tercengang mendengar ucapan Vino, apa lagi Marta, Aldi, dan kepala sekolah, mereka tak menyangka Vino sebijak ini. Sifa yang mendengar ucapan Vino tersenyum bangga dan semakin mengeratkan genggaman tangannya membuat Vino menoleh pada Sifa.
"Kamu terbaik!" bisik Sifa.
Bapak kepala sekolah akhirnya berpikir sejenak, dia membenarkan apa kata Vino, hanya ujian dan itu tak akan lama tetapi sangat bermanfaat untuk keduanya.
"Ya sudah saya akan memberikan kesempatan untuk kalian mengikuti ujian, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Dan jadikan semua ini pelajaran penting dalam hidup kalian, ada pasangan muda mudi yang jelas halal tapi mereka bisa menjaga, kenapa kalian yang belum terikat apa-apa justru malah menghasilkan."
Sifa menundukkan kepalanya saat mendengar ucapan kepala sekolah kemudian Vino pamit undur diri dari ruangan tersebut.
"Makasih atas kesempatan yang bapak berikan pada mereka, saya pamit dulu pak, permisi!"
"Makasih Vin," ucap Aldi pada saat Vino melintasinya dan di jawab senyuman serta tepukan di pundak dari Aldi.
"Makasih sama bini gue!"
__ADS_1