
"Putra!"
"Sifa!"
"Fa, aku bisa jelasin!" ucap Vino yang masih tampak terkejut melihat Sifa dengan air mata yang membuat Kelu di hatinya.
Sifa menggelengkan kepala kemudian mundur dan pergi dari sana, Vino yang ingin mengejar tiba-tiba sang mamah datang dan menghampiri.
"Vin...!"
"Mah, mamah pulang dulu ya, Vino mau ngomong sama Sifa dulu, ini obat Vino bawa besok Vino sama Sifa kerumah mamah!"
"Tapi Vin, ada apa sebenarnya kok kamu buru-buru begini!"
"Vino nggak bisa jelaskan sekarang mah, Vino harus cepat kejar Sifa!" tanpa menunggu jawaban dari mamah Vino segera berlari menahan sakit di kepala karena adanya guncangan di tubuhnya.
Sifa terus berlari dengan membawa hati yang perih, luka lama karena kebencian kini mulai menganga, dia tidak menyangka jika Vino adalah Putra.
Sifa berlari tak tentu arah, dia belum siap menemui suaminya, ada hati yang harus ia tata kembali. Hingga langkahnya terhenti di ujung lorong yang sepi, tubuhnya bergetar terduduk di kursi tunggu.
Vino yang terus mengejar Sifa mencari keberadaan istrinya yang sudah tak terlihat, hingga matanya menatap gadis yang menggunakan Hoodie miliknya tengah terduduk sendiri di ujung lorong tak berpenghuni.
Langkah kaki Vino terus mendekat, Isak tangis Sifa pun semakin terdengar, ke piluan sangat terasa hingga menyentuh hati Vino yang ikut terluka. Pemuda itu berdiri di belakang Sifa, menyentuh kepala istrinya dan membelai rambut yang tampak sedikit berantakan.
"Apa rasa benci itu masih tersisa?"
"Kenapa loe nggak jujur sama gue dari awal?" tanya Sifa balik dengan menahan Isak tangisnya tanpa mau membalikkan badannya.
"Apa kalo dari awal loe tau, loe bakal respect sama gue? bagaimana kalo loe semakin membenci gue? karena yang gue tau loe sangat-sangat membenci gue!"
"Secetek itu pikiran loe? apa sejahat itu gue di mata loe? masa lalu emang buat gue kesel, marah, kecawa bahkan benci sama loe, tapi bukan berarti gue memendam rasa benci itu sampai sekarang Vino!"
Ucapan Sifa membuat Vino terhenyak, dia tak mampu menjawab pertanyaan Sifa yang membuat dirinya tersadar akan kesalahannya.
"Gue nyari loe bahkan gue nunggu loe buat jelasin tentang Oki yang tiba-tiba sama sekali nggak ada kabar, loe emang jahat Putra! loe udah menyembunyikan semua nya dari gue sampe gue menganggap loe yang paling salah!"
"Andai loe jujur dari awal, nggak akan ada kesalahpahaman kayak gini!"
"Gue cuma turutin maunya Oki Fa, dia nitipin loe ke gue dan itu alasan dia ngenalin loe sama gue, dia sayang sama loe karena loe satu-satunya sahabat perempuan yang dia punya, tetapi karena penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya membuat dia memilih menjauh secara perlahan agar loe nggak ngerasa kehilangan, dia minta gue buat gantiin posisinya tapi ternyata rencananya nggak sesuai kenyataan, loe malah membenci gue Fa, loe anggap gue cowok jahat, cowok nakal yang buat hubungan kalian merenggang." Sifa menoleh kearah Vino dia menatap mata sendu suaminya.
__ADS_1
"Dan loe tau? kata-kata loe udah merubah hidup gue Fa! gue berubah sesuai dengan apa yang loe ucapin waktu itu! semenjak Oki meninggal gue semakin nggak punya teman karena sikap gue yang berubah, cuma Rian yang bertahan saat itu. Gue mulai berubah jadi bad boy sekolah, bahkan karena itu membuat dampak buruk buat keluarga."
"Kenapa harus loe yang Oki percaya? dan kenapa karena ucapan anak kecil bisa membuat hidup loe berubah?" tanya Sifa disela-sela tangisnya.
"Loe siap dengar alasannya apa?" tanya Vino yang sudah berhadapan dengan Sifa. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan.
"Karena dari awal gue udah suka sama loe Fa, dan Oki tau itu, sebelum Oki ngenalin loe ke gue, gue udah sering liat kalian bersama, dan dari situ gue mulai suka sama loe!"
deg
Tubuh Sifa menegang saat mendengar alasan Vino, sungguh dia tidak tau harus bagaimana bersikap. Hatinya merasa bersalah akan kesalahan pahaman yang telah terjadi bertahun-tahun.
"Sekarang loe udah ngerti kan adanya gue diantara kalian? Sekarang gue tanya sama loe, apa hati loe masih membenci Putra?"
Tanpa menjawab pertanyaan Vino, gadis itu langsung masuk kepelukan suaminya, tangisnya semakin pecah, Vino yang merasakan sesak dihatinya segera membalas pelukan Sifa dengan erat. Sifa menumpahkan segala rasa di pelukan Vino, begitupun dengan Vino, dia ingin semua rasa yang menyiksa segera hilang.
Vino merenggangkan pelukannya menatap mata Sifa yang sembab, pemuda itu mencium kening Sifa dalam, Sifa yang awalnya terkejut kemudian merasa tenang saat dia merasakan ada kasih sayang di sana.
"Sekarang pulang yuk!" Vino menghapus air mata Sifa dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Hmmm..."
"Loe tau nggak kenapa disini sepi?" tanya Vino mengedarkan pandangannya.
"Sebelah loe kamar mayit Fa!"
deg
Sifa menengok ke kamar yang gelap dan sunyi dengan pintu yang tertutup rapat, benar saja ada tulisan kamar mayit di atas pintu. Dan di sebelahnya lagi adalah ruangan otopsi. Otaknya langsung bekerja dengan jantung yang berdebar, Sifa membalikkan badannya menghadap ke arah Vino, tetapi tak menemukan pria itu.
"Vin....."
"Vino!"
"Sifa!" seru Vino yang sudah berlari menjauh.
"Vino tungguin gue! gue takut!" seru Sifa yang langsung ngacir meninggalkan tempat tersebut.
Vino yang melihat Sifa berlari kencang di buat tertawa terbahak, mata sembabnya kini berubah menjadi ketakutan.
__ADS_1
"Vino," rengek Sifa, yang membuat Vino tidak tega kemudian menghentikan langkahnya.
"Vino loe ngapa ninggalin gue sich, gue takut tau," sewot Sifa kemudian Vino merangkul pundak Sifa dan berjalan beriringan menuju parkiran.
Sampai di parkiran Sifa tampak celingukan mencari keberadaan mamah yang tak terlihat.
"Kenapa, hhmm?
"Mamah mana?"
"Mamah pulang!" jawab Vino yang sudah duduk diatas motor Sifa.
"Loh kok pulang? terus ini loe mau kemana?"
"Ya mau pulang lah Fa, ayo....."
"Pulang? emang udah boleh pulang?" tanpa menjawab pertanyaan Sifa, Vino segera menarik tangan Sifa kemudian menyuruhnya naik ke motor.
"Tapi emang loe bisa Vin? gue aja dech ya yang bawa, ragu gue sama loe."
"Cih....udah ayo naik, loe nyepelein gue?" Vino berdecih.
"Vin bahaya kalo loe maksain, loe baru keluar dari rumah sakit ya Vin! udah gue aja yang bawa," Sifa segera menarik lengan Vino kemudian duduk dan menyalakan motornya.
"Ayo! katanya mau pulang!" seru Sifa, terpaksa Vino menuruti permintaan istrinya.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam hingga Vino yang memberanikan diri memeluk Sifa dan membuat motornya sempat oleng karena Sifa yang terkejut. Vino tersenyum tipis merasakan jantung Sifa yang begitu terasa bahkan getarannya membuat Vino ingin tertawa.
Vino sengaja mengeratkan pelukannya, hingga Sifa yang sudah tidak tahan menepikan motornya di pinggir jalan. Gadis itu membuka helm lalu melepas tangan Vino yang masih memeluk erat perutnya. Sifa segera turun dan berkacak pinggang.
"Kok berhenti?" tanya Vino.
"Pindah depan!" perintah Sifa dengan wajah cemberut.
Vino tersenyum meremehkan kemudian bergeser ke depan, mereka melanjutkan lagi perjalanannya. Tangan Vino terulur memposisikan kaca spion agar pas dengan tubuh Sifa, dengan sekali tarikan Vino mampu membuat Sifa menempel di punggung Vino.
"Vino!"
"Pegangan Fa, gue nggak mau loe jatuh!" seru Vino yang sudah memegang tangan Sifa.
__ADS_1
Tidak seperti yang lain akan berujung manis, Sifa justru mencubit perut Vino yang membuatnya meringis.
"Auwwhhh sssssshhhh.....sakit Fa!" seru Vino.