
" kok isinya kebaya pengantin?"
Meri dan Nisa yang mendengar itu seketika beranjak dari tempat duduknya mendekati Aldi yang sedang mengeluarkan kebaya dari dalam paperbag yang Sifa bawa tadi.
"ini punya siapa?" tanya Aldi memicingkan mata ke arah Sifa. Sifa berusaha untuk tetap tenang menghadapi mereka walaupun tadi dia sempat terkejut saat Aldi mempertanyakan isi dari paperbag tersebut.
"ikh bagus banget Fa" puji Nisa saat melihat jelas kebaya milik Sifa.
" waaahhhhhh auto pengen nikah liatnya Fa, gila ke body pas banget sexy lagi apa lagi kalo yang pakai gue"
Bug
"aauuuwwww" keluh Meri saat bantal sofa mendarat ke kepalanya karena timpukan dari Sifa.
" pede gileeee" ledek Sifa dengan menjulurkan lidahnya pada Meri.
" secara body gue nggak ada duanya ya kan"
"udah jelas diantara kita bertiga si Sifa paling indah di pandang" ucap Nisa membuat Sifa risih karena ada Aldi di sana.
"ehhemmmm"
" punya kamu?" tanya Aldi lagi.
" oh i...itu punya temen nenek sengaja dititipin ke aku" ucap Sifa berkelit tapi Aldi seakan melihat kebohongan di mata Sifa, bahkan Sifa berbicara tanpa berani melihat wajah Aldi.
"oh....punya temen nenek kamu, aku pikir kamu yang mau pakai"
uhuuuk uhuuuk
Melihat Sifa terbatuk Aldi segera memberikan minum untuk Sifa yang langsung di sambar gadis itu dan diteguknya hingga tandas. Kedua temannya mendelik melihat Sifa menghabiskan satu gelas jus jeruk di tangannya.
"Fa are you oke?" tanya Nisa.
"Fa loe keselek apa haus?" tanya Meri dengan muka polosnya.
Sifa yang sadar akan itu langsung meletakkan gelas di meja dan melirik Aldi dengan senyum yang di paksakan.
"Fa...."
" iya Al, kenapa?"
"nggak ada yang kamu tutupi dari aku kan?" tanya Aldi dengan tatapan yang dalam pada Sifa.
" nggak ada Al, lagian masak kebaya itu punya aku, ya nggak lah kita kan masih sekolah"
" iya Al, loe mah yang nggak-nggak aja dech" ucap Meri meledek.
" tau loe Al, mana mungkin ini punya Sifa kita kan masih bocah Al, masih sekolah juga terkecuali kalo dah nggak tahan mau nikah ya silahkan" lanjut Nisa memasukkan kembali kebaya kedalam paperbag.
Sifa menatap Aldi kemudian menganggukkan kepala agar Aldi percaya jika yang dia pikirkan tidaklah benar dan di jawab dengan senyuman oleh Aldi. Melihat senyum Aldi Sifa merasa lega, setidaknya kecurigaan Aldi tidak berbuntut panjang, akan repot jika ada yang mengetahui pernikahan dirinya.
Setelah kepulangan Aldi dan juga kedua sahabatnya Sifa segera melangkah menuju kamar tidak lupa dengan baju pengantin yang membuat sedikit masalah tadi ia bawa masuk. Tapi pada saat Sifa menaiki undakan tangga suara nenek menghentikan langkahnya.
" jaga jarak dengan lelaki itu Fa"
__ADS_1
"ucapan itu peringatan atau sebagai pengingat" batin Sifa.
Sifa segera berbalik menatap nenek yang sudah berdiri di bawah tangga.
"iya nek" ucap Sifa dengan memamerkan senyum. Mengiyakan ucapan nenek adalah solusi terbaik menurut Sifa, dia sudah lelah dan tidak ingin berdebat.
"ya sudah kamu bersih-bersih dan segera istirahat nak" ucap Nenek dengan hati lega melihat Sifa sekarang lebih menurut dan bisa di arahkan. Lagi-lagi niat nenek baik, beliau tidak ingin cucunya tersandung masalah akibat kecerobohannya mengingat status Sifa sebentar lagi akan menjadi istri orang bukan single seperti yang di ketahui temannya.
Setelah memasuki kamar Sifa merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, semua yang dia lalui hari ini dan kedepannya tidak mudah bagi Sifa. Apalagi mengingat Vino yang jauh dari kata suami idaman menurut Sifa, batin Sifa menjerit tidak terima dengan kenyataan ini, tapi kenyataan memaksa menerima semuanya.
" mamah papah kalo boleh milih Sifa ingin bersama kalian, Sifa lelah mah Pah" gumam Sifa dengan mata terpejam dan tertidur.
******
" Vin gue pikir loe nggak jadi kesini" ucap Rian yang keluar dari kamar menuju sofa ruang tamu.
" temen loe kemarin yang gue suruh cari tau seseorang infonya valid g?"
" iya lah Vin, dah banyak yang minta tolong sama dia, bahkan ada juga yang berani bayar sampai milyaran"
"hhhmmm"
"kenapa?"
" nggak ada....."
"loe udah ketemu sama orangnya?"
"belum"
"jangan bohong loe sama gue, loe lupa kalau gue yang tau semua tentang Vino Putra Baratajaya sampe ke ukuran daleman loe juga gue tau"
" kenapa nggak di lupain aja sich"
" nggak semudah itu, cinta sama benci udah jadi satu"
"loe nggak bakal merasa tenang kalo hati loe belum bisa berdamai dengan masa lalu, nggak usah loe cari tau lagi, dan nggak usah loe cari keberadaannya lagi. Balik kayak Vino yang gue kenal, gue kangen sama loe bro" ucap Rian tulus.
"loe nggak ngerti perasaan gue...."
"gue cuma ngerti kalo sebenernya hati loe cuma ada dia, tapi logika loe menolak adanya dia dan kebencian itu buat loe jadi bed boy sampai sekarang, gue yakin dia udah lupa sama loe jadi nggak perlu loe nyakitin diri loe dengan keluar dari sifat asli loe, kasian nyokap loe bro" ucap Rian dengan menepuk pundak Vino kemudian melangkah menuju kulkas untuk mengambil minum.
"loe nggak bakal nyangka kalo loe tau siapa orangnya" ucapan Vino membuat Rian yang sedang membuka kulkas segera menoleh.
"siapa?"
" belum saatnya "
" ok "
Keesokkan harinya Sifa terbangun dengan pakaiannya yang digunakan sejak kemarin, dia bahkan melewatkan makan malam dan tidak mendengar ketukan pintu semalam.
" pules banget gue"
kruuuk kruuuk
__ADS_1
"ugh sampe demo cacing di dalem perut gue, bentar ya kita mandi dulu biar seger masak iya masih bau mulut udah bergerilya di meja makan" gumam Sifa sambil mengelus perutnya.
Setelah bersih dan rapi dengan pakaian rumahannya Sifa segera menuruni tangga menuju meja makan. Disana sudah ada nenek yang sedang membaca majalah dengan berbagai macam makanan di hadapannya.
" nenek!" seru Sifa.
cup
" dasar anak nakal, dibangunin sama nenek dari semalam nggak ada jawaban, sampai melawatkan makan malam kan, kalo sakit lagi gimana?"
"Sifa nggak dengar nek, mungkin terlalu lelah sampai nyenyak banget tidurnya, ayo makan nek Sifa udah laper cacing di perut Sifa dah mau perang rasanya"
" makanya jangan banyak tidur"
Sifa segera menyendok nasi, cumi, ayam kecap dan sayur capcay kedalam piringnya. Semua yang ada dihadapannya adalah makanan kesukaan Sifa, Bi Tum selalu memasak berbagai makanan kesukaan Sifa setiap dia pulang kerumah.
" jangan over makannya Fa, nanti kebaya kamu nggak muat" ucap nenek melirik piring Sifa yang penuh.
" biarin aja"
"Fa....."
" iya nek, nenek tenang aja ya nggak akan buat aku melar kok aku semalam kan nggak makan nek"
" ya sudah cepat habiskan"
Siang ini nenek di sibukkan dengan acara pernikahan cucunya yang akan di gelar esok hari, nenek mengemasi beberapa baju yang akan di bawa sore ini menuju vila keluarga Baratajaya yang ada di puncak.
Setelah beres persiapan milik nenek beliau segera pergi kekamar Sifa, Sifa tampak santai dia sedang duduk di kursi belajar dengan kaki di atas meja dan tangan yang memegang buku.
" Sifa, ya Allah nak bukannya beres-beres malah santai-santai disini" ucap nenek melirik kaki Sifa.
Sifa segera menurunkan kakinya dan meletakkan buku di atas meja.
"Sifa lagi belajar nek bentar lagi Sifa mau ikut olimpiade"
" itu nanti di pikir setelah kamu menikah, sekarang cepat kemasi barang-barang kamu yang akan di bawa sore ini"
" iya nek " ucap Sifa melangkah menuju lemari dan mengeluarkan kopernya.
"jangan lupa kebaya kamu Fa"
" iya nenek sayang"
" kamu nggak lagi halangan kan Fa?" tanya nenek ragu. Mendengar pertanyaan itu Sifa mengkerut kan dahinya.
" emang ada hubungannya nek pergi sama halangan?"
" kamu kan besok menikah Fa"
" ya terus kenapa nenek?" tanya Sifa sambil memasukkan pakaian yang akan di bawa kedalam koper.
"ya kalo kamu lagi halangan kasian Vino donk Fa"
" kasian Vino gimana, yang halangan Sifa yang sakit perut Sifa terus Vino kasiannya dimana nek?"
__ADS_1
" ya kasian dia harus menahan malam pertamanya sama kamu" jawab nenek mencoba untuk menjelaskan.
" malam pertama?"