
Malam ini Sifa dan nenek sudah sampai di vila tempat berlangsungnya acara, nenek yang sibuk dengan persiapan pernikahannya besok membuat Sifa memisahkan diri dan masuk ke kamar yang sudah di siapkan untuknya.
Langkahnya mengayun menuju pintu balkon dan membuka pintu tersebut, pemandangan malam yang indah dengan lampu taman yang berkilauan membuat nyaman di hati Sifa. Sayangnya pada malam hari tak terlihat hamparan kebun teh disana.
" ugh dinginnya" keluh Sifa merasakan dinginnya angin yang menerpa tubuh. Tangan Sifa mulai mendekap tubuhnya dan merapatkan lagi selendang yang turun dari bahu putihnya.
brugh
Sifa begitu terkejut saat jaket tebal terlempar di depan dadanya dan suara bariton dari lelaki yang dia kenal menyambangi telinga Sifa.
"pakai!"
"ini punya loe?"
"pakai aja nggak usah banyak nanya" ucap Vino kemudian duduk di kursi balkon kamarnya.
Sifa segera memakai jaket yang Vino berikan walaupun kesal dengan orangnya tapi otaknya tetap berpikir realistis, dia tidak membawa jaket dari rumah jadi sangat berguna sekali untuknya.
Mata Sifa melirik keberadaan Vino, lelaki itu dengan santainya mengisap rokok di jari tangannya. Sifa yang melihat itu hanya menggelengkan kepala.
"nggak mungkin gue mau nyerahin tubuh gue sama lelaki macam begini" ucap Sifa ketika mengingat ucapan nenek di rumah tadi.
Keesokkan paginya Vino tampak gagah dengan balutan jas berwarna gading serasi dengan kebaya yang Sifa pakai, di kepalanya bertengger peci dengan warna yang sama. Vino berdiri di depan cermin menatap penampilannya ada rasa ngilu di hatinya mengingat sebentar lagi dia akan meminang seorang gadis di hadapan Tuhan yang disaksikan semua keluarga dan para saksi.
"Vin" panggil papah ketika memasuki kamar anaknya.
" gagah sekali anak papah, papah bangga sama kamu nak putra kecil papah sekarang akan menjadi seorang suami" ucap papah dengan tangan memegang bahu Vino.
"kamu anak baik nak, papah tau itu ntah apa yang membuat kamu menjadi seperti sekarang ini, tapi pesan papah jadilah suami yang mampu membimbing istri mu ke surga Nya nak, jangan pernah membuat istrimu menangis apa lagi berkata kasar dan bermain tangan. Jadilah suami yang berwibawa bukan suami yang pecundang, setelah ini kamu memiliki tanggungjawab yang besar, papah tau ini nggak mudah untuk Vino apa lagi di usia yang seperti ini. Tapi papah percaya sama kamu, jadilah contoh yang baik untuk anak dan istrimu kelak. Papah memutuskan ini semua karna papah dan mamah sayang sama kamu" ucap papah kemudian memeluk Vino dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Mamah yang sejak tadi berdiri di ambang pintu menangis melihat suaminya yang memberi wejangan kepada putra kesayangannya.
Vino yang melihat mamah nya berdiri disana segera meminta mamah untuk mendekat.
"anak mamah....." ucap mamah memeluk Vino.
__ADS_1
Di kamar sebelah Sifa yang duduk menghadap cermin sedang menikmati sapuan make up oleh tangan mua yang bertugas meriasnya hari ini. Tubuhnya sudah berbalut kebaya pilihan Vino, tampak pas dan nyaman dipakainya. Sejak tadi para mua terus memuji Sifa saat mereka melihat Sifa mengenakan kebaya tersebut. Riasan wajah nya menambah kecantikan seorang Asifa Amelia Atmaja.
" sudah ya kak" ucap salah satu dari perias tersebut.
" coba di liat ada yang kurang nggak kak?" ucap karyawan yang merias rambut Sifa.
Sifa menatap cermin begitu terkesimanya dia menatap pantulan dirinya sendiri.
" ini saya mbak?"
" iya lah kak masak tetangga" ledek perias sambil cengengesan.
" kok cantik banget ya mbak?"
" emang kakak sebelum di rias juga sudah cantik, riasan ini buat pemanis aja biar tambah cantik, calon suami kakak pasti pangling liatnya"
" akh mbaknya bisa aja"
Semua tamu undangan dan penghulu sudah hadir di ruangan luas bernuansa putih dengan bunga mawar putih yang mengelilingi setiap sudut ruangan. Saat ini Vino sudah duduk di depan penghulu yang sedang mengarahkan proses ijab kabul yang akan di gelar. Sebagai wali nikah dari pihak perempuan, Bapak kepala sekolah pun mendapat arahan dari pak penghulu agar proses ijab kabul berjalan lancar.
Mata Vino terus menatap calon istrinya yang berjalan mendekat kearah kursi kosong di samping nya. Sampai senggolan di lengan Vino membuatnya tersadar jika Sifa sudah berada di dekatnya.
"nanti lagi Vin liatnya kalo sudah sah" ledek papah membuat Vino segera menundukkan kepalanya.
" nak vino sudah siap?"
" sudah pak"
Sifa yang telah duduk di samping Vino merasakan degup jantungnya yang tak beraturan, ada rasa tak percaya di hati jika lelaki yang berada di sampingnya ini akan menjadi imam nya di dunia dan akhirat. Sifa menundukkan kepalanya dan mencoba setenang mungkin.
"saya terima nikah dan kawinnya Sifa Amelia Atmaja binti almarhum Hendri Atmaja dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"
"bagaimana para saksi"
"SAH"
__ADS_1
Air mata Sifa menetes kala mendengar Vino mengucap ijab kabul dengan menyebut nama sang Papah yang mungkin menyaksikannya di surga. Kini statusnya telah menjadi seorang istri dari Vino Putra Baratajaya yang notabene bed boy dan musuhnya beberapa Minggu ini.
"silahkan di cium tangan suaminya nak Sifa" ucap pak penghulu membuat Sifa mengangkat kepalanya.Dengan ragu tangan Sifa terulur untuk mencium tangan Vino yang sejak tadi menatapnya.
Dapat vino rasakan air mata Sifa membasahi telapak tangannya, kemudian tangan kiri Vino menyentuh Pucak kepala Sifa dengan doa yang terucap di hati Vino.
cup
Sifa menegang kala bibir Vino mendarat di keningnya begitu dalam dengan kedua tangan Vino yang berada di pipi Sifa. Ada getaran di hati keduanya yang membuat degup jantung mereka seakan ingin berlari keluar.
Doa dari keluarga dan para tamu tiada henti, Sifa dibuat begitu lelah berdiri menyalami setiap tamu yang datang, kini ia memperhatikan kakinya yang terasa perih karena high heel yang begitu tinggi.
"buka aja kalo nggak kuat" ucap Vino dengan pandangan mengarah ke depan. Melihat itu Sifa segera memalingkan wajahnya dengan muka cemberut.
"sayang kalo capek duduk aja" ucap sang mamah yang mendekati menantunya dan mengerti kegelisahan Sifa.
" nggak enak masih banyak tamu mah"
" biar nanti mamah yang bilang, mamah berdiri di samping kamu"
" duduklah!" ucap Vino memerintah.
Kemudian Sifa memutuskan untuk duduk dan membiarkan sang mamah yang angkat bicara jika di tanya oleh tamu yang ingin menyalami Sifa.
Sore harinya setelah serangkaian acara yang katanya para orang tua sederhana tetapi begitu melelahkan untuk Sifa dan Vino, kini mereka sedang berada dikamar untuk istirahat. Kamar yang sudah di persiapkan untuk mereka berdua dengan ranjang yang sudah di hias begitu banyak bunga mawar di atasnya. Rasa canggung jelas nampak di wajah Sifa, gadis itu memutuskan untuk duduk di depan cermin membuka segala aksesoris di tubuhnya.
Vino yang cuek segera duduk bersandar di sofa dengan memejamkan matanya merasakan tubuh yang begitu lelah dan kaki yang pegal karena terlalu lama berdiri.
Setelah membersihkan makeup dan menanggalkan aksesoris nya Sifa segera berjalan menuju koper dan mengambil handuk serta baju gantinya kemudian memasuki kamar mandi.
Vino melirik pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat kemudian dia membuang nafas kasar, melihat tubuh Sifa yang berbalut kebaya sejak acara di mulai sebenarnya membuat Vino begitu terkesima tetapi ada rasa kesal di hatinya karena Sifa begitu sexy dan benar saja banyak para tamu yang mengatakan seperti itu. Sampai indahnya kebaya yang Sifa gunakan kalah indah dengan pesona dari wajah dan tubuh Sifa yang begitu terlihat nyata.
Vino yang mengingat akan itu melirik kebawah
SHIIITT
__ADS_1