Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Mencium Sifa


__ADS_3

Sifa saat ini sedang berdiri di halte tidak jauh dari apartemen yang ia tinggali bersama dengan Vino, Sifa berdiri disana sambil menunggu pesanan ojek onlinenya.


"Mbak Sifa?" ucap driver berseragam hijau yang menghampiri Sifa.


"Eh iya Pak, dengan bapak Heru ya?" tanya Sifa sambil melirik ke plat motor driver tersebut.


"Iya betul mbak, silahkan."


Kemudian Sifa naik dan berangkat sekolah diantar oleh Abang ojol.


Jalanan pagi ini ramai lancar tidak membuat Sifa terlambat sampai ke sekolah, sesampainya di depan pagar sekolah Sifa segera turun dan memberi uang untuk bapak ojol tersebut.


"Ini kembaliannya mbak," ucap Abang ojek online menyodorkan uang kembalian kepada Sifa.


"Nggak usah pak, buat nambahin ibu di rumah beli beras ya pak," ucap Sifa ramah.


" Makasih banyak ya mbak, semoga berkah dan mbaknya di lancarkan rejeki serta segala urusannya," ucapnya dengan wajah yang sumringah, dan membuat hati Sifa menghangat.


" Aamiin....makasih doanya ya pak."


"Ternyata dengan ngasih sedikit menurut gue tapi itu sangat berpengaruh untuk orang lain, wajah nya nggak bisa di bohongi kalau beliau bersyukur banget," batin Sifa.


Sifa melanjutkan langkahnya melewati parkiran menuju kelas, disana Sifa sempat melirik Vino yang baru saja keluar dari mobilnya dengan Nita yang langsung bergelayut di lengannya dengan manja. Sifa pun melihat jelas Nita yang mencium pipi Vino saat mereka ingin berjalan menuju kelas.


" Kayak udah nggak ada wibawanya banget ini sekolah," gumam Sifa terus melangkah tanpa memperdulikan Vino dan Nita yang sudah berada tidak jauh di belakangnya.


"Fa......" panggil Meri yang berlari menghampiri.


" Tunggu Fa..." dengan kencang Meri berlari tapi ketika sudah dekat justru Meri menabrak Sifa dan membuat Sifa terdorong ke depan.


BRUGHH


"SIFA" seru Meri meringis melihat Sifa yang terjatuh dan begitu tidak percayanya dengan posisi Sifa saat ini.


Sifa yang masih memejamkan mata belum sadar dengan apa yang terjadi hingga suara riuh membuatnya membuka mata, begitu terkejutnya Sifa yang jatuh di atas tubuh seseorang dengan posisi bibir Sifa berada pada pipinya. Dengan jantung yang berpacu Sifa mencoba untuk bangkit dan melihat siapa orang yang berada di bawah tubuhnya dan mendapat bonus ciuman di pipi.


"Aldi "lirih Sifa.


Sifa segera bangun dari posisinya dan membantu Aldi untuk berdiri, dia melihat Aldi meringis menahan sakit di punggungnya.


"Sorry ya Al, gue ke dorong sama Meri," ucap Sifa tidak enak. Mata Sifa melihat sekeliling banyak orang yang menjadikan mereka tontonan gratis dan ketika Sifa melihat Meri yang berada di belakangnya justru mata Sifa bertemu dengan mata elang Vino yang menatap tajam kearahnya. Sifa tidak mengerti dengan arti tatapan itu tapi mata Vino memerah seperti menahan marah, Sifa yang sadar langsung melempar pandangan ke arah Meri.


"Meri loe udah bikin gue malu tau nggak, minta maaf loe sama Aldi"


"Eh iya Al....sorry ya, tapi bonus nya manis kan Al?" ledek Meri yang membuat pipi Sifa memerah menahan malu.

__ADS_1


" Manis banget Mer, kayaknya ntar malem gue nggak bisa tidur," ucap Aldi sambil melirik Sifa yang menunduk malu.


"Ciiyyeeeee udah lah di lanjut aja lama loe Fa, tinggal bilang iya juga."


" Berisik loe , ayo ke kelas!" kesal Sifa langsung menggeret Meri menuju kelasnya.


"Sorry ya Al," teriak Sifa ketika sudah menjauh. Aldi hanya tersenyum melihat punggung Sifa yang menjauh, dan melangkah kembali menuju ruang OSIS sesuai tujuannya tadi.


"Begini aja tiap pagi Fa, gue rela punggung gue patah sekalipun asal loe tiap pagi jatuh kepelukan gue, bakal semangat ini hari," gumam Aldi dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya dan itu dapat tertangkap oleh pandangan Vino yang sejak tadi masih berdiri di sana.


"Ayo sayang kita ke kelas, mau liat apa lagi coba tontonan gratisnya udah kelar," rengek Nita kemudian menarik tangan Vino dengan sayang.


Bel tanda jam pelajaran di mulai membuat semua murid dengan tertib memasuki kelas, tidak ada lagi yang berkeliaran di luar kelas kalau tidak mau terciduk oleh ketua OSIS dan guru piket hari ini.


"Fa kemarin gue ke rumah loe kok loe nya nggak ada di rumah, kata nenek loe di kost, gue paranin kesana tapi nggak ada juga, loe kemana Fa?" tanya Nisa pada Sifa yang sedang mengeluarkan buku dari dalam tasnya.


"Mau ngapain loe nyari gue?"


"gue perhatian kali fa sama loe, gue mau nganter tugas kemarin pas loe nggak masuk"


" Ugh so sweet nya...tapi kan malemnya gue udah WhatsApp loe."


"Iya tapi loe belum jawab pertanyaan gue, loe kemana kemarin?" tanya Nisa lagi sungguh membuat Sifa kesal jika terus memutar otak untuk berbohong pada sahabatnya.


"Gue.....gue kerumah mamah kemarin" ucap Sifa dengan senyum yang di paksakan.


"Iya ....bener loe apaan sich Nis, nanya mulu dah kayak tamu," celetuk Sifa.


" Fa katanya mau ajak kita ke rumah Tante Indah, ayolah Fa" seru Meri yang membuat Sifa jengah harus membahas yang berkaitan dengan Vino.


"Iya.."


"Selamat pagi semuanya......" seru bu guru yang sudah memasuki kelas.


"aman," batin Sifa.


"Pagi Bu guru......" jawab semua murid.


Pelajaranpun di mulai, Sifa sudah kembali ke mode serius dan tak dapat di ganggu.Berbeda dengan kelas Vino yang di isi dengan mata pelajaran olahraga, seluruh murid sudah berkumpul di lapangan dan melakukan pemanasan agar otot lentur dan terhindar dari cidera.


"Rangkap Vin" seru Rian melempar bola basket kearah Vino.


HAP


"Ayo...." seru Vino berlari menuju ring dan melambungkan bola ke atas ring dan ya.....masuk.

__ADS_1


Permainan itu berlanjut sampai jam pergantian pelajaran dan guru keluar dari kelas masing-masing dan membuat yang berada di dalam kelas kembali ramai.


Vino, Rian, dan Geri tengah terduduk di pinggir lapangan dengan keringat yang membasahi tubuh mereka.


"Vin, musuhku cantikku" ucap Geri menunjuk kearah Sifa yang berjalan dengan buku di dekapannya menuju ruang guru.


"cakep tu di jadiin judul novel" ledek Rian.


"Rivalku si gadis cantik."


"Nah itu lebih bagus tuh," celetuk Rian.


"Berisik kalian!" sewot Vino segera meninggalkan kedua sahabatnya menuju ruang ganti.


Tetapi ketika di jalan bayangan Sifa yang mencium pipi Aldi membuat rahangnya mengeras dan matanya kembali memerah.


Sifa segera kembali setelah meletakkan buku tugas temannya satu kelas di meja guru. Langkah Sifa terhenti ketika Vino yang ingin menuju ruang ganti dengan di ikuti kedua temannya yang menyusul di belakang menghadang jalan Sifa. Vino mencekal tangan Sifa dan menariknya menuju ruang ganti, kedua temannya yang melihat itu segera berlari mengikuti.


BRAK


"Ugh untung hidung gue nggak kena Ian," keluh Geri saat pintu ruang ganti di tutup kasar oleh Vino dari dalam.


"Eh si Vino mau ngapain Sifa ya?" tanya Rian.


"Nggak tau gue juga."


"Gila sich nich anak kalo berani kasarin Sifa, bisa masuk ruang BK dia," ucap Rian ada sedikit kekhawatiran di hatinya.


"Loe lupa siapa Vino?


"Tapi tetap aja kalo dia salah masak iya didiemin aja."


Didalam ruang ganti Sifa di dorong oleh Vino sampai tubuhnya terbentur dinding.


"Akh......sssttt." Sifa merintih menahan sakit di punggungnya.


"Keterlaluan!" umpat Sifa.


Tanpa mendengarkan umpatan Sifa, Vino langsung menyambar bibir Sifa dengan kasar, ******* dan mengigit bibir Sifa dengan gemas, ntah sadar atau tidak Vino begitu seperti orang kesetanan.


Sifa yang berusaha memberontak kalah tenaga dengan Vino yang terus mendorong tubuh Sifa sampai tidak ada jarak diantara mereka.


Akibat gigitan dari Vino membuat Sifa membuka mulutnya, dan memudahkan Vino menerobos masuk untuk memperdalam ciumannya bergerilya di rongga mulut Sifa dengan tangan Vino yang sudah berada di tengkuk Sifa semakin menekannya.


Air mata Sifa membasahi pipi Vino dan itu membuat Vino melepas ciumannya, terlihat jelas wajah Sifa yang memerah dengan air mata yang membasahi pipi Sifa dan bibir yang membengkak disertai luka kecil akibat gigitan Vino.

__ADS_1


PLAK


__ADS_2