
Setelah membersihkan diri serta berganti pakaian dengan yang rapi kini Vino sudah duduk di samping Sifa. Pandangannya sejak tadi tidak terlepas dari wajah ayu istrinya. Rasa bersalah karena tidak menepati janji membuatnya terus menyesali. Beruntung nasib baik masih ada di diri, jika tidak mungkin akan semakin rumit, atau mungkin karena doa istri Sholehah yang membuat lebih terlindungi.
Vino mengusap lembut pipi pucat istrinya, lingkar mata yang menghitam membuat Vino tau jika Sifa kurang tidur semalam. Sesekali bibirnya mendarat di kening Sifa dengan sayang.
Ekor mata yang masih basah, mewakili semua jawaban tanpa terucap pertanyaan. Hati Vino terasa tercubit melihat Sifa dengan wajah lelah bercampur sendu. Tak ada niat untuk dia membangunkan istrinya, cukup diam di sampingnya dan menunggu hingga Sifa terjaga.
Bulu mata lentik itu bergerak seiring mata indah terbuka, Sifa merasa kenyamanan tidur hingga tak terasa malam sudah tiba. Dekapan hangat dan aroma tubuh pemuda yang ia rindukan membuat otaknya seketika bekerja.
Sifa pastikan dia tidak sedang bermimpi, suami yang ia tunggu sudah ada di sisi. Mata keduanya terkunci saat Sifa mencoba memastikan sendiri. Vino menyambut dengan senyuman, tangannya terulur merapikan rambut Sifa yang berantakan.
"Pules banget ya tidurnya sampe nggak tau ini jam berapa, emang segitu nyamannya di pelukan aku?" tanya Vino lembut kemudian mencium kening Sifa yang membuat gadis itu segera sadar dan beranjak menuju kamar.
Vino yang melihat pergerakan Sifa segera menahan lengan Sifa dan memintanya untuk duduk kembali. Vino menggenggam tangan Sifa kemudian menciumnya dengan lembut.
"Maafin aku istriku, aku nggak menepati janji, maaf jika karna aku membuatmu menunggu, maaf buat kamu nggak bisa tidur semalam dan maaf buat kamu kecewa. Aku nggak ada niat buat nggak pulang, tapi karena ada suatu insiden jadi buat aku tidur di tempat Rian," lirih Vino.
"Di tempat Rian atau Nita?" tanya Sifa tak kalah lembut.
Vino menengadah wajahnya menatap Sifa, dia bertanya-tanya kenapa istrinya bisa membahas Nita, apakah dia tau Nita ada disana semalam.
Sifa membuka group WhatsApp di sekolahnya yang tersimpan foto Vino yang sedang minum dengan Nita yang ada di sampingnya. Tangan Sifa terangkat menunjukkan layar ponselnya pada Vino.
Vino terkejut saat melihat gambar dirinya bersama dengan Nita, terlihat jelas keintiman keduanya bahkan tangan Nita yang memeluk erat lengan Vino sambil memegang gelas minuman yang akan ia berikan kepada Vino.
Vino meraih ponsel Sifa, dia membaca group chat tersebut yang membuat rahangnya mengeras. Matanya mulai memerah menahan amarah, jelas beberapa murid julid membully Sifa dengan kata-kata kasar, menganggap Sifa perebut cowok orang dan mengira dia kembali pada Nita karena memang Sifa hanyalah selingan.
__ADS_1
"Jangan percaya semua yang kamu lihat disana! aku nggak seperti itu, aku memang semalam mabuk, Nita terus mendekati dan memberikan minuman beralkohol itu sama aku," ucap Vino mencoba menjelaskan.
"Berarti benar kan salaman kamu sama dia?" Sifa segera beranjak dari sana kemudian berlari menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Tubuhnya bergetar di balik pintu yang terkunci, hatinya hancur dengan isak tangis yang begitu pilu. Vino yang mengerti kekecewaan Sifa berusaha untuk mengetuk pintu kamar Sifa dan meminta waktu untuk menjelaskan.
"Sayang buka pintunya! dengerin dulu penjelasan aku, semua nggak seperti yang kamu kira Fa!"
Sifa hanya diam tanpa minat untuk membuka, hatinya masih sakit tak ingin terusik. Perlahan langkahnya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rumit, satu kata yang Vino alami, duduk bersandar pintu kamar Sifa tanpa ingin beranjak. Vino sadar akan kesalahannya tetapi jika boleh memilih dia lebih baik di maki-maki oleh Sifa dari pada harus di diamkan begini.
Malam yang semakin larut tak membuat kedua pasutri itu memejamkan mata, di balik rasa marah ada rindu yang tak tertahan. Hingga air mata Sifa kembali menetes dengan pelukan erat pada guling yang sudah beberapa hari ini tak terpakai karena selalu ada Vino di sisi.
Mata Sifa terbuka saat sinar mentari mulai menyapa, matanya tambah bengkak dengan lingkar mata yang sudah memudar.
Brugh
Sifa melebarkan matanya saat membuka pintu kamar dan mendapati tubuh serta kepala Vino yang terjatuh tepat di kakinya.
"Vino!"
Vino terjaga dari tidurnya dan begitu terkejut sudah dalam posisi terjengkang di bawah Sifa, matanya melirik kaki Sifa kemudian memegang erat hingga membuat Sifa semakin menganga.
"Sayang maafin aku, aku nggak ngelakuin apa-apa sama Nita, aku juga nggak ada janjian atau apa sama dia, aku mohon maafin aku sayang!" ucap Vino yang masih dengan posisinya dengan terus memegang erat kaki Sifa.
__ADS_1
"Jangan kayak gini Vin, kamu nggak perlu lakuin ini semua, ayo bangun!" Sifa membantu Vino untuk bangun.
"Sayang maafin aku, aku nggak akan pergi malam lagi apa lagi sampai pergi ke tempat haram itu, aku janji yang!" lirih Vino dengan air mata yang sudah membasahi pipi pemuda itu.
Baru kali ini Sifa melihat Vino menangis sesedih ini, baru kali ini sifa melihat vino sekacau ini hingga tertidur di depan pintu kamarnya dengan penampilan yang tak kalah kacau.
Sifa menarik nafas dalam, sungguh dirinya tak tega, lantas tangannya menarik lengan Vino untuk segera masuk kekamar.
"Kamu lihat diri kamu, berantakan, kucel, jauh dari kata tampan, begini gimana nanti kalo sampai fans kamu liat?" ucap Sifa setelah membawa Vino untuk berdiri di depan cermin.
Vino melirik Sifa yang berada di sampingnya, beda jauh memang Sifa yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya lebih terlihat tambah imut, apa lagi dengan rambutnya yang ia jepit sedikit kebelakang menambah kecantikan parasnya yang membuat Vino malu melihat penampilannya sendiri.
"Tapi maafin aku!" pinta Vino mengiba.
"Nggak mau punya suami jelek begini!" ketus sifa yang membuat Vino semakin mendelik tak percaya.
"Ya udah kalo gitu tunggu aku mandi dulu, nanti kalo udah ganteng lagi, mau kan maafin aku?"
"Tergantung!"
"Kok tergantung?"
"Tergantung gantengnya kamu bisa buat hati aku luluh apa nggak," jawab Sifa santai.
"Kok gitu, ya udah aku siap-siap dulu, pokoknya tungguin aku, aku bakal berubah setampan mungkin buat kamu!" Vino segera beranjak menuju kamar mandi di kamarnya.
__ADS_1
Sella menatap datar Vino yang jalan dengan tergesa-gesa, Gadis itu melangkah keluar apartemen untuk segera berangkat setelah memastikan Vino sudah masuk kamar mandi.
"Aku maafin kamu Vin, tapi untuk saat ini aku ingin menjauh sejenak."