
Kini Sifa dan Vino turun menuju meja makan yang sudah sepi, mamah yang berada di dapur menoleh saat kedua pasang pasutri itu mendekat.
"Kalian baru bangun?" tanya Mamah.
"Iya mah," Jawab Vino kemudian duduk di samping Sifa.
"Anak mamah wajahnya cerah banget?"
Wajah Vino memang begitu berseri, secerah langit hari ini, bagaikan habis memenangkan lotre, senyum di wajahnya pun tidak luntur sejak tadi. Semua karena Sifa, kegiatan yang mampu membuat peluhnya keluar dan berakhir dengan pele.pasan yang sungguh membuat Vino merasa bahagia lahir batin.
Berbeda dengan Sifa, pipinya sejak tadi masih memerah apa lagi jika mengingat milik Vino untuk pertama kalinya, yang dia bilang jinak ternyata begitu lincah menik.mati susu coklat miliknya.
"Bahagia punya istri pintar mah!" jawab Vino yang membuat Sifa semakin menundukkan kepalanya.
"Loh sifa kenapa kok mukanya merah gitu nak? Sifa sakit?"
"Oh nggak kok mah, Sifa baik-baik aja," jawab Sifa dengan senyum yang di paksakan dan melirik Vino yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum yang merekah.
"Ya udah mamah ambilin makanan buat kalian dulu ya," mamah yang mengerti seperti ada yang di tutupi oleh keduanya segera kebelakang. "Dasar anak muda, mudah-mudahan cepat ada kabar baik dari mereka."
Vino meraih tangan Sifa kemudian menciumnya.
"Makasih ya sayang!"
"Iya Vin," lirih Sifa kemudian kembali menundukkan wajahnya.
"Untuk tahap perkenalan kamu sangat memu.askan sayang," bisik Vino.
Sifa membuang muka setelah mendengar ucapan Vino, kegiatan tadi langsung teringat di dalam pikirannya. Hingga kedatangan mamah membuat Sifa menetralkan kembali perasaan yang sejak tadi mengganggunya.
Vino dan Sifa makan dalam diam, tidak ada perbincangan di antara keduanya, Sifa yang memang sedang di landa kerisihan yang mendalam semakin menikmati diamnya, hanya sendok dan garpu yang sejak tadi berdenting ria.
Menjelang sore keduanya pamit untuk pergi ke pemakaman dan sekalian kembali ke apartemen karena besok sudah harus kembali sekolah.
"Jagain Sifa ya Vin," ucap mamah dan di jawab anggukan kepala oleh Sifa "hati-hati nak!"
"Iya mah..." jawab keduanya.
Sifa masuk kedalam mobil Vino, setelah memasukkan barang-barang yang akan di bawa pulang Vino kemudian masuk dan melajukan mobilnya.
Selama perjalanan kembali hening hingga tangan Vino yang kemudian menggenggam tangan Sifa membuyarkan lamunan gadis tersebut.
"Masih kepikiran yang tadi?"
__ADS_1
"E ... engga kok Vin," jawab Sifa gugup mencoba untuk menatap wajah Vino.
"Kalo kamu nggak nyaman, aku nggak akan ulangi lagi," ucap Vino yang mencoba mengerti dan menyelami perubahan sikap Sifa
"Nggak apa-apa kok Vin, cuma belum terbiasa aja, jadi masih risih akunya," jawab Sifa kemudian membalas genggaman tangan Vino.
cup
Vino mencium jemari Sifa, kemudian mengusap lembut kepala istrinya.
"Makasih ya, kamu tau nggak perasaan aku sekarang?"
"Gimana Vin?" tanya Sifa lagi.
"Aku sangat bahagia...."jawab Vino dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Aku coba buat terbiasa menerima apapun dari kamu Vin, tapi pelan-pelan ya."
"Aku nggak akan maksa kamu, tapi kalo untuk yang tadi, boleh ya kalo aku sering minta," ucap Vino dengan alis yang ia naik turunkan.
"Ikh apa sich mesum dech kamu!"
"Mesum sama istri sendiri nggak apa-apa sayang....auwwhh.....kok nyubit sich, aku lagi nyetir loh sayang!"
"Assalamualaikum mah Pah.... maaf Sifa baru datang lagi, kali ini Sifa nggak datang sendiri mah Pah, Sifa datang dengan bersama suami Sifa, laki-laki baik yang pernah Sifa ceritakan ke mamah dan papah tempo hari." Sifa beralih menatap Vino dengan senyum manisnya.
"Pria baik ini yang akan menjadi pelindung Sifa Pah, semoga dengan hadirnya dia di hidup Sifa membuat papah dan mamah semakin tenang disana."
Vino berjongkok di samping Sifa dengan merangkul pundak istrinya, tatapan matanya beralih dari Sifa lalu ke dua batu nisan yang ada di hadapannya.
"Mah Pah, Vino nggak akan berjanji apa-apa sama mamah dan papah, tapi Vino akan terus berusaha untuk membahagiakan Sifa dan menjadikan Sifa satu-satunya di hidup Vino," Vino mengusap kepala Sifa lalu mengecup keningnya.
Setelah mendoakan kedua orang tua Sifa, mereka melangkah menuju makam Oki, dari jauh langkah Sifa sudah mulai melambat saat batu nisan dengan nama sahabatnya tampak jelas terlihat.
Vino yang mengerti kesedihan Sifa segera merangkul pundak Sifa dan mengusap lembut lengannya mencoba memberi kekuatan.
Sifa tak mampu menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya, air mata itu tumpah saat tangannya terulur mengusap batu nisan yang terpampang jelas di depannya.
"Kenapa nggak bilang apa-apa sama Ifa Ki....apa Ifa segitu nggak pentingnya buat kamu!"
"Tenang sayang..." bisik Vino.
"Ki hari ini gue kesini bawa istri gue, gadis kecil yang selalu nempel sama loe, sahabat kecil loe, cinta monyet sekaligus cinta pertama gue, Sifa." Vino tersenyum memandang Sifa dengan mengusap air matanya.
__ADS_1
"Dan sesuai janji gua juga, gua bakal lindungi dia, semoga loe tenang disana Ki."
Setelah dari pemakan Vino melajukan mobilnya menuju kedai miliknya, Sifa tampak senang karena sejak lama dia sangat ingin bisa masuk kesana.
"Malam kak Vino," sapa pelayan yang terlihat masih muda seumurannya dengan senyum yang menggoda.
"Hmmm....."
"Tumben kak baru datang biasanya kalo Minggu datangnya dari siang, aku udah nunggu kakak dari pagi loh,"
Mendengar ucapan pelayan centil itu membuat Sifa muak dengan sikapnya, gadis itu mendengus kesal dengan membuang muka. Melihat itu membuat Vino tersenyum tipis, dia senang dengan sikap Sifa yang menunjukan bahwa istrinya itu cemburu.
"Iya soalnya tadi habis nemenin istri aku dulu," ucap Vino yang membuat Sifa tercengang dan segera menoleh kearah Vino. Bukan hanya Sifa, pelayang centil itu pun yang memang menyukai Vino sejak lama tampak tak percaya.
"Ikh kak Vino mah bercandanya nggak lucu, masak iya istri, orang nikah aja belum," ucapnya dengan mencubit lengan Vino yang membuat mata Sifa semakin melotot.
"Mbak, bisa nggak tangannya di kondisikan, nggak usah pake sentuh-sentuh segala!" sahut Sifa yang mulai terpancing emosi.
"Kak, maaf ya jangan keganjenan sama bos saya, saya mah nggak heran sama pengunjung modelan kayak kakak begini, hampir setiap kak Vino datang pasti ada aja yang begini, jadi nggak usah ke pedean bakal di bela sama kak Vino, mungkin dianya aja yang lagi mau ngerjain saya."
Sifa di buat menganga dengan ucapan dari pelayan tersebut, rasanya iya ingin berteriak kalo dirinya memang istri dari bos ganteng loe itu!
"Ehemmm.... Maya, dia memang istri saya, jadi besok lagi jika dia kesini harap kamu dan yang lainnya bisa ramah dan langsung mempersilahkan untuk masuk ke ruangan saya mengerti!"
Pelayanan yang bernama Maya tersebut seperti tersengat listrik tegangan tinggi saat Vino menyatakan kebenaran dari ucapannya, begitupun karyawan lain yang sejak tadi melayani tetapi telinganya terpasang untuk menguping pembicaraan mereka.
"Me.. mengerti kak!" ucap maya lalu menundukkan kepalanya.
"Ayo sayang!" Vino mencium kening Sifa kemudian mengajaknya masuk ke dalam ruangannya.
Sifa yang sejak tadi kesal hanya membuang muka tanpa minat menatap Vino. Pengalaman pertama datang di kedai impiannya justru memberikan hal buruk untuknya.
"Sayang!"
"Hey......kenapa?" Vino sudah duduk di samping Sifa yang sejak tadi hanya diam dengan muka yang di tekuk.
"Istri aku cemburu ya?"
"Apa sich, siapa yang cemburu!" ketus Sifa.
"Terus kalo nggak cemburu namanya apa?"Vino mulai meraih tangan Sifa tetapi segera di tepis olehnya.
"Oke.... istri aku ngambek nich ceritanya, padahal kan aku nggak salah, ya kalo banyak yang deketin emang karena udah ganteng dari sananya, terus aku harus gimana?"
__ADS_1
Sifa menyorot tajam muka Vino, dia memang kesal karena ocehan Maya yang bilang jika suaminya sering di goda, rasanya ingin mengacak-acak wajah Vino agar tak menjadi incaran banyak orang.