
Wajah cemberut Sifa yang sejak pagi sudah ia tunjukkan membuat Vino gemas dan terus mendaratkan ciuman di pipi istrinya walaupun sesekali Sifa menghindar.
"Diem ikh, kesel aku sama kamu!" ucap Sifa saat mereka sudah ada di perjalanan menuju sekolah.
"Kenapa sich yang?" tanya Vino pura-pura tidak tau.
"Aku tuh udah kayak macan tutul tau nggak, kamu nich nggak kira-kira!"
"Maaf sayang, abis kamu bikin aku semakin panas, suara kamu indah banget sayang!" ucap Vino dengan senyum nakal.
"Apa sich kamu tuh," Sifa membuang muka menutupi semburat merah di wajahnya.
Vino benar-benar membuat hidup Sifa berwarna, perlahan tapi pasti Sifa sudah mulai mencintainya tanpa harus Vino bersusah payah, memang pesona Vino tak tertandingi.
"Ntar malem nggak usah minta susu coklat, pabrik aku tutup!"
"Di tutup gimana? aku kan yang punya gemboknya," ucap Vino tak mau kalah.
"Libur dulu apa Vin, kamu tuh nggak ada capeknya, aku aja pegel semua badannya, tangan aku juga butuh libur untuk mengocok mini anaconda kamu yang bangun tiap malam dan pagi, bilangin sich Vin sama dia jangan bangun terus nggak capek apa dia bangun dengan posisi tegak berdiri begitu, kuat banget lagi tegangannya," keluh Sifa.
"Nggak bisa donk sayang, selama pabrik utama masih terkunci rapat, tangan dan mulut kamu masih harus aktif bergerak!" Vino menaik turunkan alisnya.
"Terserah dech, sesuka hati kamu aja!" akhirnya Sifa menyerah untuk berdebat dengan Vino karena untuk masalah ranjang yang setiap pagi berantakan Vino juaranya.
"Aku bakal kasih hadiah sama kamu untuk setiap jerih payah dan usaha kamu dalam menidurkan jagoanku."
"Hadiah apa?" tanya Sifa penasaran.
"Ada dech, tunggu aja nanti malam!"
"Ikh nggak bisa sekarang apa?" tanya Sifa lagi.
"Nggak bisa donk sayang, ini kan di jalan nanti kalo ada yang curiga gimana terus mengundang polisi yang datang, kan nggak lucu kalo mamah sama papah datang ke Polsek buat bebasin kita karena hal yang ekstrim begitu," jawab Vino dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Iya juga sih, kita memang nggak boleh berhenti sembarangan juga ya, apa lagi kalo sampe lama bisa di tilang kan by?"
"Hmmm.... pinter istri aku," Vino mengusap kepala Sifa dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya padahal dalam hati Vino ngakak melihat kepolosan Sifa.
"Tapi aku penasaran Vin!"
Vino melirik jam tangannya kemudian melihat sifa sekilas, " bener mau sekarang?"
"Iya, penasaran aja, bagus nggak hadiahnya?" tanya Sifa lagi.
"Ugh bukan main sayang, bikin kamu ketagihan pokoknya," Vino menutupi bibirnya dengan sebelah tangan.
"Jangan sepolos ini kalo sama orang lain ya sayang?"
"Ya nggak donk by, apa nya yang polos sich? apa kamu lupa aku ini pintar loh by....kamu mau meremehkan aku ya?" Sifa dengan bibir cemberutnya siap berhadapan kembali dengan Vino, melihat hal itu justru membuat Vino semakin tertawa.
Sesampainya di sekolah Sifa terus saja penasaran dengan hadiah yang ingin Vino berikan hingga membuat Vino kewalahan menghadapinya, bisa saja dia melancarkan aksinya tetapi bell sekolah sudah ingin berbunyi.
"Nanti aja di apartemen sayang, kamu sabar dulu oke, mau di mana pun hadiah ini nggak akan mengecewakan kamu apa lagi kalo kamu sabar, kita bukanya di apartemen itu lebih spesial dan aku lebih bisa kasih yang wow nantinya." Vino berusaha untuk memberi pengertian hingga Sifa mau bersabar.
Apa lagi jika kalian berharap seperti cerita di novel yang akan menjadi akur antara kedua sahabat Sifa dengan sahabat Vino yang akhirnya mereka jadian. Nyatanya Vino dan Sifa justru belum pernah makan bersama dalam satu meja ketika di sekolah.
Mereka menjaga batasan untuk ke baikan mereka sendiri, jika ingin bertemu lebih baik di ruangan Vino dari pada harus berduaan di tempat lain, ini peraturan Sifa yang buat, dia tidak ingin kedekatannya dengan Vino dimanfaatkan oleh orang lain.
"Sayang.."
"Iya, kenapa Vin?" tanya Sifa tanpa menoleh ke arah Vino karena pandangannya sekarang tengah fokus pada jalanan yang begitu padat.
"Mau beli apa dulu nggak sebelum sampe apartemen?"
Sifa nampak berpikir tetapi sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada?"
__ADS_1
"Masih komplit di kulkas, nanti aku tinggal masak...." jawaban yang membuat Vino segera menoleh ke arah Sifa.
"Emang aku nyuruh kamu masak? aku nawarin kamu mau beli apa sayang bukan bahan makanan, mungkin pengen beli make up, baju atau sepatu gitu? aku lihat kamu nggak gunain uang yang aku kasih, bahkan isi ATM aku masih utuh, kenapa? itu nafkah dari aku buat kamu loh sayang!"
"Aku masih ada semua, barang-barang aku juga masih bagus, alangkah baiknya uang itu aku tabung buat masa depan kita, kita juga kan masih kuliah nantinya belum lagi kalo aku hamil dan punya anak nanti, jadi kita gunain buat yang bermanfaat aja ya?"
"Segitu pintarnya istri aku, istri idaman banget sich, emang udah siap punya anak?" ledek Vino.
"Sebenarnya belum, tapi aku sadar akan status aku, bisa aja kan nanti aku hamil karna di perko.sa suami aku, makanya berjaga aja dulu!"
"Mana ada di perko.sa suami? itu hak dan kewajiban namanya sayang!"
"Iya....tinggal sebentar lagi kita ujian hubby, mudah-mudahan bisa kuat iman sampe kelar ujian ya!" Sifa berucap dengan wajah penuh harap.
"Iya mudah-mudahan nggak khilaf ya, tapi kalo nyicil dulu mah harus sayang!"
"Dasar mesum! capek aku tuh," Sifa memegang kedua pipinya dan membayangkan dengan kegiatan yang sudah beberapa kali mereka lakukan hampir setiap hari.
"Nanti aku buat kamu nggak berasa capeknya oke!" Vino menaik turunkan alisnya.
Sifa membuang wajahnya yang memerah, Vino memang paling bisa membuat hati Sifa jumpalitan melonjak malu sampai kegirangan.
Sesampainya di apartemen Sifa segera masuk ke dalam kamarnya sendiri, tubuhnya begitu lengket dan butuh berendam untuk menyegarkan kembali.
"Eh sayang!"
BRAK
Belum sempat Vino mencegahnya, Sifa sudah keburu menutup pintu kamarnya , tak tanggung-tanggung gadis itu menguncinya dari dalam karena dia tau isengnya otak suami mesumnya itu.
"Sayang!"
"Sayang!"
__ADS_1
"Bener-bener ya punya bini susah banget di ajak enak-enaknya," dengan langkah gontai Vino melangkah menuju kamarnya sendiri.
"Mah Pah Nek.....aku sangat-sangat berterimakasih pada kalian, karena kalian hidupku bahagia bersama gadis cantik yang sejak dulu aku inginkan," ucap Vino sebelum matanya terlelap di ranjang empuk miliknya.