
Kini semua orang tampak tercengang akan pengakuan dari Sifa, apa lagi saat melihat Sifa turun dengan di sambut oleh Vino yang secara terang-terangan memeluknya dan mencium kening Sifa.
"Jadi mereka udah menikah?"
"Kok bisa mereka menikah?"
"Bukannya musuh ya...."
"Ini ceritanya gimana sich, musuh berujung nikah gitu?"
"Gila kalo gini mah patah hati gede-gedean namanya."
"Hari perpisahan plus hari patah hati ini jadinya!"
Dan masih banyak lagi suara sumbang yang masuk ke telinga mereka, keduanya sekarang tak peduli dengan ucapan semua yang ada. Toh hari ini hari perpisahan, seandainya bertemu lagi pun mereka sudah tenang karena tak ada lagi yang di khawatirkan.
Ketiga pasangan muda mudi kini merayakan hari kelulusan dengan menginap di vila keluarga Vino. Dengan acara bakar-bakar yang mereka adakan nanti malam hanya untuk menghangatkan suasana puncak dan untuk keseruan saja.
Acara intinya ada pada keesokan harinya, mereka akan berjalan-jalan di sepanjang perkebunan teh dan menikmati suasana sejuknya yang dapat merefresh otak setelah sekian purnama harus bergelut dengan pelajaran.
Tak perlu yang mahal, mereka hanya ingin suasana yang asri dan sejuk, agar bisa menikmati nyamannya hidup. Sambil berselfi ria sebagai kenangan masa kebersamaan yang sudah pasti kedepannya tak akan sama.
"Kita berangkat naik apa Vin?" tanya Rian.
"Bawa mobil dua aja, atau satu juga nggak apa-apa yang penting cukup."
"Ya udah pake mobil gue juga nggak apa-apa, satu aja biar seru. Nggak jauh ini, masih terjangkau seandainya gue nyetir sendiri juga!"
"Okelah bagus kalo gitu, gue bisa ayang-ayangan di belakang sama bebebh Meri."
"Loe samping gue! biarin nanti cewek gue sama cewek loe di belakang. Enak aja loe, enak-enakan sendiri. Terus loe nggak inget gue!"
"Kan loe sama Nisa, gue juga nggak bakal ganggu kalian," sahut Geri dengan hati yang sudah kehilangan semangat.
"Kasian cewek gue, udah biarin cewek-cewek pada istirahat di belakang, biar malemnya mereka nggak ngantuk pas acara bakar-bakar."
"Udah-udah, bener kata si Rian, loe kalo mau pacaran nanti kalo udah sampe sana. Tapi di larang satu kamar ya, gue nggak mau pulang dari sana loe buntingin anak orang! bini gue aja belum ada tanda-tanda masak udah mau ngeduluin!"
Saat ini mereka sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa, serta kesiapan mobil yang akan dipergunakan. Sementara itu para cewek-cewek sedang sibuk menyiapkan baju yang akan mereka bawa, apa lagi Sifa yang harus menyiapkan baju suaminya juga.
"Udah siap belum Fa?" tanya Nisa.
"Udah dikit lagi, kalian udah siap? nggak ada yang ketinggalan kan?"
"Lagian udah dari semalem juga prepare nya, ini cuma ngecek aja takut-takut ada yang ketinggalan. Tapi nanti seandainya ada yang kurang bisa beli kaos-kaos aja di sana."sahut Meri.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu langsung turun aja, laki gue udah wa nich, mereka juga udah siap berangkat."
"Ya udah let's go!" sahut Meri dan Nisa.
Kini mereka sudah dalam perjalanan dan benar saja para cewek-cewek langsung terlelap begitu saja. Kini tinggal para cowok yang masih terjaga, terlebih Vino yang menjadikan pahanya sebagai bantal agar Sifa nyaman untuk beristirahat.
Sepanjang jalan Sifa selalu meminta untuk di usap perutnya, dia sedikit kurang nyaman karena jalan yang berkelok-kelok. Perutnya seakan ke kocok hingga sedikit mual.
"Pake minyak angin mau?"
"Hhmmm...." jawab Sifa masih dengan mata terpejam.
Vino mengambil minyak angin dari dalam tas Sifa, kemudian diusapkannya pada perut Sifa dengan lembut.
"Bagaimana, udah mendingan belum?"
"Udah by, tapi usap-usap aja dari luar by. Aku tidur lagi ya by, lelah banget semalam kurang tidur."
"Ya udah tidur lagi aja, biar nanti malem kita bisa honeymoon di sana!"
"Ikh kamu mah, nggak ada liburnya, kan disana sekalian liburan. Kenapa aku juga nggak boleh libur?"
"Udah menjadi kebutuhan yang berujung kewajiban sayang! jika tidak di keluarkan akan tersiksa dan memusingkan!"
"Ehem.....masalah ranjang harap jangan di bahas disini ya, maaf kami belum cukup umur untuk mendengarkan diskusi kalian!" selak Geri yang membuat Rian cekikikan.
"Berisik loe pada, belum ngerasain udah pernah masuk tapi di suruh libur dulu, berat woy!"
"Widih bapak yang satu ini sudah suhu ya, bisa kita les privat nich!" sahut Geri.
"Kalian ini ngomongin apa sich, by jangan mulai kenapa, nanti aku suruh libur beneran baru tau rasa, sekalian aku tidur sama Nisa dan Meri aja."
"Eh....jangan dong sayang, kamu ini nggak kasian aku? nggak ada ya tidur pisah-pisah segala. Kamu tidur sama aku!"
"Makanya jangan buat orang berfikiran kemana-mana! mereka kan belum halal nanti kalo di praktekin gimana?"
"Iya sayang, ya udah kamu tidur aja ya, aku usap-usap lagi perutnya sini," ucap Vino lembut, sedangkan kedua temannya menahan tawa. Mereka benar-benar tak menyangka Vino bisa sejinak itu pada Sifa.
Sesampainya di sana, Nisa dan Meri segera masuk kamar, begitupun dengan Geri dan Rian yang mendapatkan satu kamar juga. Mereka membereskan dulu tas serta barang bawaan mereka kemudian kembali berkumpul di halaman belakang untuk menyiapkan acara untuk makan malam nanti. Karena hari juga sudah sore.
Sedangkan Sifa saat ini di kunci di kamar oleh Vino. Mereka berdua menikmati mandi berdua di dalam bathtub dengan menikmati setiap sentuhan antara kedua kulit yang menyatu.
Awalnya sifa menolak, tapi jika sang jantan sudah mengeluarkan tanduknya lalu bisa apa. Mandi panjang dengan berujung pelepasan yang membuat segar dan mengembalikan mood booster.
"Ayo By, aku nggak enak loh kalo lama-lama di kamar begini, nanti mereka pasti berpikirnya kita iya-iya," ucap Sifa yang tengah menyisir rambutnya.
__ADS_1
"Ya kan emang abis iya-iya sayang, biarin aja lagian mereka pasti paham. Nanti malam nambah ya, aku tadi belum puas. Takut kamu kedinginan jadi buru-buru."
"Kamu mah emang maunya nambah terus by!"
"Tapi kamu suka kan, buktinya kammbbbb"
Belum sempat Vino menyelesaikan ucapannya Sifa segera menutup mulut Vino, dia malu jika Vino terus berucap tentang suara-suara nakalnya saat sedang bermain bersama.
"Jangan gitu by, aku malu!"
"Iya sayang maaf ya, tapi aku suka...janji nanti malem lagi ya?"
Sifa tak menjawab, dia segera melesat menuju teman-temannya yang sedang sibuk di halaman belakang. Sifa segera mengambil jagung dan memoleskan dengan mentega dan saos cabai untuk segera di bakar.
"Widih turun-turun udah keramas, ampun bos dapet berapa ronde?" ledek Geri.
"Emang beda aura kalo udah tau enak mah, berseri-seri. Iya nggak?" sahut Rian.
"Makanya cepet halalin biar tau rasanya!"
"Halal nya gampang, modalnya yang susah. Yang penting mah tau-tau udah balap loe aja, anak loe satu, kalo gue tau-tau udah dua aja." ucap Geri yang sama persis absurd nya dengan Meri sang pacar.
"Terserah dech...."
Malam itu mereka benar-benar menikmati malam kebersamaan sebelum semua sibuk dengan kesibukan masing-masing, karena ada cita-cita yang mereka impikan dan harus mereka usahakan.
Selama dua hari mereka menikmati libur dan sesekali berduaan dengan pasangan masing-masing. Kini mereka sudah harus pulang dan esok kembali ke dunia yang penuh perjuangan.
Sifa dan Vino langsung meluncur ke apartemen untuk segera beristirahat, mengingat tubuh Sifa yang akhir-akhir ini terasa sering lelah.
"Istirahat sayang, besok jadwal sangat padat. Aku nggak mau kamu sakit." Vino mengusap lembut punggung Sifa agar istrinya segera terlelap dan dia akan menyiapkan semua dokumen yang akan di bawa besok ke kampus.
Setelah di terima di kampus ternama, hari-hari ia lalui mulai dari berangkat hingga pulang kuliah pun bersama. Vino yang memiliki tanggungjawab yang besar setelah seminggu yang lalu mengetahui jika sang istri berbadan dua, kini begitu protect dan posesif.
Beruntung mereka masih bisa bersama dengan para sahabatnya yang juga di terima di kampus yang sama, jadi jika Vino sibuk dia akan menitipkan Sifa pada sahabatnya.
"Makin sexy istri aku," ucap Vino dengan mata berbinar.
"Makin sexy apa makin gendut? kamu nich kalo mau ngatain, nggak usah pake basa basi by!"
"Beneran sayang," vino berjongkok di hadapan perut Sifa, "Anak papah, jagoan papah, sehat terus ya. Hari ini ikut papah dan mamah kuliah, jangan rewel ya nak, kasian mamah...."
cup
"Iya papah!" jawab Sifa dengan suara seperti anak kecil.
__ADS_1