
Sedari tadi Sifa hanya melamun di meja belajarnya, mata menatap buku tapi pikiran tidak menentu. Masih belum percaya dengan apa yang ia lihat tadi, sebenarnya memang pemain handal apa karena hanya untuk pelarian.
Setelah melihat kedua orang yang sedang bertukar Saliva hingga menghilang masuk ke kamar, Vino menarik tangan Sifa lembut agar segera masuk, pemuda itu paham betul apa yang ada di otak istrinya.
Vino melangkah ke kamar sebelah tempat Sifa belajar, dia membuka pintu yang tidak tertutup rapat dengan tanpa suara. Langkah kaki yang begitu pelan membuat Sifa semakin tidak sadar jika Vino sudah duduk di sampingnya.
"Masih kepikiran yang tadi?"
"Eh......kamu ngagetin aku aja!" Sifa segera memfokuskan dirinya membaca buku.
"Jangan kaget begitu, kamu yang sejak tadi melamun. Kenapa sich, hhmm?"
"Nggak apa-apa ko Vin!"
"Memangnya ada hati yang terluka setelah melihat itu?" tanya Vino lagi dengan menarik tangan Sifa lembut agar menatap wajahnya.
"Nggak ada kayak gitu!"
"Mungkin sempat ada rasa, tapi tak sampai karena keburu aku miliki," ucap Vino dengan nada lembut.
"Bukan begitu, aku nggak pernah simpan rasa dengan yang lain!" tegas Sifa.
"Berarti saat ini mulai ada rasa sama aku?"
"Sejak ijab kabul berlangsung, hati aku sudah ada yang memiliki dan hidup ku sudah aku pasrahkan pada pemilik hati, tinggal sekarang belajar menjadi istri yang baik, agar bisa bersama terus dan bertemu kembali di surga yang di nanti," lirih Sifa.
cup
Vino mengecup bibir Sifa, hatinya tersentuh mendengar ungkapan hati dari istri tercinta. Dalam hati mengaminkan kata yang terlontar dari bibir mungil pacar halalnya hingga mata mulai mengembun haru.
"Terus apa yang kamu pikirkan dari tadi, hhmm?" tangan Vino mengusap lembut pipi Sifa.
"Aku nggak nyangka aja, aku pikir dia baik," jujur Sifa.
"Apa yang kamu lihat jangan terus kamu tarik kesimpulan, mungkin kelakuannya terlihat buruk, tapi kamu kenal dia lama kan?Kamu lebih tau hatinya seperti apa! Lihat aku, kelakuanku juga buruk, tapi aku punya cinta yang hanya ada satu di hati aku, terbungkus rapat sampai tiada yang menyangka, padahal terlihat seperti playboy sekolah tapi siapa yang tau jika ada ratu di hatinya yang telah singgah."
Sifa tersenyum mendengar ucapan dari Vino, dia tidak menyangka jika Vino, si preman sekolah, yang di cap sebagai bad boy dengan banyak di kelilingi gadis, ternyata sekarang bisa berkata bijak.
__ADS_1
"Sejak kapan suami aku bijak seperti ini?"
"Semenjak jadi suami dari Sifa Amalia Atmaja, si gadis cantik yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata," Vino mencolek hidung Sifa.
"Jangan terlalu memuji, nanti di saat jauh dari ekspektasi kamu akan kecewa."
"Nah begini nih, gimana otak aku nggak berpikir keras coba, aku harus ngimbangin istri aku, biar nggak mengecewakan nantinya!"
"Bisa aja Abang kalo ngomong," ledek Sifa.
"Bobo yuk!" ajak Vino kemudian berdiri menarik tangan Sifa menuju kamarnya, sebelum masuk kamar Vino memberikan segelas susu untuk Sifa yang kemudian Sifa minum sampai tak bersisa.
"Cakep, abis ini gantian aku oke!"
deg
Pantesan baik banget laki gue buatin susu ya kan.... ternyata ujungnya minta balasan.
"Ayo sayang!" Sifa di giring oleh Vino menuju kamarnya, merebahkan Sifa ke peraduan dengan tangan yang ia kunci ke atas, Vino mencium bibir ranum Sifa dengan lembut.
Sifa yang sudah mulai terbiasa dengan serangan Vino kini mampu mengimbangi setiap permainan yang Vino lakukan, mereka saling menyesap, membelit, hingga tak jarang Vino mengigit-gigit kecil yang menambah sensasi pergulatan lidah di dalam sana.
Tangan Vino yang sejak awal tidak bisa diam mulai memainkan perannya, tangan nakalnya mulai bergerilya meraih dua gunung yang sedang mengembang dengan menekan lembut yang membuat suara halus dari mulut sifa terkesan menggoda di telinga Vino kembali terdengar, memberikan semangat yang membara hingga semakin liar berjelajah.
Nafas keduanya sudah tak biasa, bahkan tubuh Sifa mulai meliuk tak tertahan dengan sentuhan yang Vino berikan, kini suaminya menjelma menjadi pria dewasa yang memiliki birahi yang sudah memuncak, menggagahi sang istri tanpa ampun tetapi masih cukup lembut.
Benda pusaka milik Vino pun sudah mulai mengeras sejak tangan dan lidahnya mulai turun menyusuri perbukitan yang permai. Jejak merah mulai bertebaran menambah indahnya makhluk ciptaan Tuhan yang sejak tadi sedang mengerang dan melenguh dengan wajah ke atas.
"Sayang....."
"Jangan tahan sayang, keluarkan suara indah itu, aku suka....." uvap Vino di tengah-tengah penyusurannya yang sudah mulai menikmati choco chips coklat kemerahan yang membuatnya tak tahan melahap hingga tak bercelah.
"Vin......," Sifa mengerang ketika dengan lihainya lidah Vino memberi sensasi yang membuat gelora birahinya terbang.
Tangan Vino mulai menuruni perbukitan menuju pusara luas membuat si empunya seketika bergetar, Vino seakan tidak peduli dengan reaksi keterkejutan Sifa, sedangkan gadis itu menahan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kini tubuh atas mereka bahkan sudah sama-sama polos, terlihat tubuh kekar Vino yang selama ini terbungkus seragam sekolah terpampang nyata membuat Sifa mendelik menelan salivanya dengan kasar. Perut kotak-kotak dengan tubuh bersih dan dada yang bidang tetapi mulai di tumbuhi otot-otot yang sedang dalam proses pertumbuhan memberi kesan se.xy bagi siapapun yang melihatnya, tetapi sayangnya hanya boleh sang istri yang melihat, bahkan author aja nggak di kasih ijin lihat badan Abang Vino🤤🤤🤤.
__ADS_1
Tubuh Vino yang setengah menindih sifa mulai bergerak gelisah, saat cacing kasur yang telah menjelma menjadi anaconda mini terus meronta meminta untuk di bebaskan. Vino merendahkan tubuh bagian bawah dan mulai bergerak pelan menggesek dan menekan-nekan bagian inti Sifa yang masih terbungkus rapat dengan kain segitiga, sementara roknya sudah menyibak saat dengan sengaja Vino membuka lebar kedua kaki istrinya.
Lenguhan dan erangan memenuhi kamar apartemen, memberikan kehangatan pada suhu ruangan yang masih dingin. Sprei yang tertata rapi pun kini sudah acak-acakan karena gerakan yang liar dari keduanya.
"Jangan melebihi batas sayang!" Sifa menahan tangan Vino saat tangan pemuda itu sudah mulai merogoh lembah surgawi yang sudah cukup siap di olah.
"Tapi kamu udah basah sayang," lirih Vino dengan kabut gairah di wajahnya yang membuat Sifa tercengang melihatnya, pasalnya hal itu membuat Vino semakin tampan dan se,xy bagi Sifa.
"Aku takut Vin, " lirih Sifa tetapi Vino mengerti dan tidak ingin memaksa.
"Kalo gitu bantu aku ya, dia sudah sangat mengeras dan ingin keluar dari sarangnya," ucap Vino dengan tatapan memohon.
"Iya, aku bantu," lirih Sifa, dia tau Vino sudah begitu nasfu dan butuh sentuhan darinya.
Vino seperti mendapat angin segar saat Sifa menyetujuinya.
Kini dengan gerakan cepat Vino mengeluarkan mini anaconda yang sudah meraung mengeluarkan air di ujung bibirnya. Sifa yang melihat itu di buat merinding bergetar, tangannya sudah akan terulur tetapi dengan gerakan kilat Vino mampu merubah posisi hingga Sifa terkejut mendapati serangan di mulut yang mampu membungkamnya hingga matanya melebar.
"Ayo sayang bantu aku!"
"Mmmppppppttttt...."
Vino tak menggubris suara-suara sumbang dari Sifa, justru dengan lincah dia bergerak hingga peluh samakin membanjiri dan eranganpun mulai mengikuti.
"Oh......nikmat sayang!" Vino mulai meracau tak tertahan hingga Sifa semakin tertantang, otaknya berpikir bagaimana caranya melumpuhkan Vino.
"Lebih cepat sayang, aku mau sampai, akh........"
"Sayang.....aku keluar!" Sifa mendelik saat Vino mengeluarkan semua bisa mini anacondanya yang kini sudah kembali menjadi cacing jumbo yang manis.
Vino melihat wajah Sifa yang di tekuk dengan mulut bercampur cairan yang masih membanjiri.
"Sayang maaf ya, aku tadi nggak tahan, bentar aku ambil tisu dulu ya....."Vino segera turun dari ranjang dan meraih tisu yang berada di meja riasnya dengan kondisi polos yang membuat wajah Sifa semakin memerah.
Dengan telaten Vino membersihkan cairan miliknya dengan tisu basah. Sifa memalingkan wajahnya karena malu dengan Vino, setelah bersih Vino mengecup bibir sifa berkali-kali.
"Makasih ya sayang, aku pasti bobonya nyenyak banget," Ucap Vino penuh semangat.
__ADS_1
Vino yang mengerti Sifa malu, segera meraih selimut dan menutupi aset-aset berharga milik istrinya lalu memeluknya dengan sayang hingga keduanya masuk ke alam mimpi bersama.