
Malam ini Vino tampak gelisah, matanya tak juga terpejam padahal fisiknya merasa lelah. Sebetulnya belum begitu larut untuk istirahat, jam dinding pun masih berhenti di angka sembilan. Berbeda dengan gadis yang sedang berkutat dengan buku dan alat pensilnya, dia tampak serius mengerjakan tugas sekolah.
Vino memutuskan untuk keluar kamar dan duduk di sofa menghidupkan televisi, tubuhnya ia rebahkan di sofa panjang dengan tangan menggulir remote TV mencari program yang menarik.
Sifa yang beranjak ingin tidur memutuskan untuk mengambil minum ke dapur, matanya melihat televisi yang menyala dan kaki yang terjuntai ke lantai. Tanpa memperdulikan itu Sifa segera mengambil minum ke dapur.
"Aakkhh," teriakan Sifa membuat Vino yang bersantai segera beranjak menghampiri.
"Vinooooo," teriak Sifa segera loncat ke badan Vino, Vino yang terkejut dan tidak siap sempat limbung kebelakang beruntung ada meja makan di belakangnya membuat dia segera berpegangan.
Sifa mengalungkan tangannya pada pundak Vino dengan kaki bergelayut di pinggang dan wajah yang menelusup leher Vino. Sungguh posisi yang tidak aman bagi Vino.
"Loe kenapa?"
"Takut Vin," rengek Sifa dengan wajah yang sudah memucat.
"Takut apa nggak ada apa-apa Fa."
"Itu ada kecoa di situ Vin, gue takut," ucap Sifa mengeratkan tangan dan kakinya membuat Vino semakin sesak.
"Jangan kencang-kencang Fa, loe mau bunuh gue?" Sifa yang mendengar ocehan Vino segera merenggangkan kembali pelukannya. Tetapi tetap pada posisi yang sama.
Vino melihat sekitar mencari keberadaan kecoa yang Sifa katakan tadi, dia berjalan menuju kitchen set dengan tangan memeluk tubuh Sifa.
"Jangan kesana-sana Vino nanti terbang kecoaknya!"
"Terus gue mau matiin itu kecoak gimana Sifa kalo nggak di cari?"
"Nggak mau, takut Vino."
"Udah loe diem aja, gua cari dulu biar loe nggak takut lagi."
__ADS_1
Vino kembali melangkah ke kitchen set untuk memperhatikan setiap perabot, sekitar kompor, wastafel dan beralih ke bawah.
"Vino itu ada di dekat tempat sampah, aakkkhh!"
"Vino ayo kabur," rengek Sifa yang sudah hampir menangis.
Vino mengambil sapu yang tergantung di dinding dan memukul kecoak tersebut berulang-ulang kali tetapi dengan lincah berlari bahkan terbang ke sisi kompor.
Sifa yang sejak tadi sudah kembali mengeratkan pelukannya membuat Vino kesulitan untuk bergerak.
"Fa loe jangan tegang, gue susah geraknya."
"Terserah loe, gue takut Vino!"
Vino terus memburu binatang tersebut dan memukulnya lagi.
"Kena!" seru Vino.
"Loe tega banget sich Vin, itu kecoa sampe hancur Vino kasian." Mendengar ucapan Sifa membuat Vino tak habis pikir dengan gadis yang satu ini, tadi begitu ketakutan tetapi setelah melihat kecoa tersebut mati mengenaskan justru tampak begitu iba.
"Turun!"
"Haaahh?" Sifa melihat wajah Vino yang sudah memerah.
"Turun gue bilang!"
"Iya...iya, tapi nggak disini."
"Terus loe mau dimana Sifa?"
"Turunin gue di kamar Vino gue geli liat bangkai kecoa, nanti loe bersihin dulu sebelum tidur biar besok pagi udah bersih pas gue mau masak."
__ADS_1
"Nyusahin loe!" sewot Vino segera membawa Sifa menuju kamarnya dan menjatuhkan sifa di kasur tetapi karena Sifa yang masih memeluk erat pundak Vino dan kaki Vino yang tersandung kaki ranjang membuat Vino ikut terjatuh.
Saat ini posisi keduanya begitu dekat bahkan Sifa sudah memejamkan mata kala terkejut dan merasakan wajah vino yang berada hanya beberapa centi di depannya.
Setelah beberapa menit tidak ada pergerakan diantara keduanya hanya jantung yang berlari berkejaran antara Vino dan Sifa. Sifa memberanikan diri untuk membuka matanya, betapa pacuan jantungnya semakin kencang saat pandangan mata keduanya bertemu. Hingga ntah apa yang di rasakan pemuda itu, kini Vino telah mendaratkan bibirnya di bibir mungil Sifa yang masih tercetak jelas luka kecil yang mengering di sana. Vino yang hanya ingin mengecup setelah melihat luka itu, justru tergoda untuk melanjutkan aksinya, bibir Sifa yang manis bagai candu untuknya. Mata Sifa membola saat Vino kembali menggigit kecil bibirnya yang membuat Sifa kembali membuka mulutnya, dan itu menjadi akses untuk Vino mengeksplor dan mengeksekusi setiap inci kehangatan disana. Sifa yang sempat memberontak akhirnya luluh dengan pergerakan lembut yang Vino ciptakan, ketakutan akan kejadian tadi siang yang membuat hatinya sakit seketika hilang dan berganti dengan kehangatan yang Vino ciptakan.Sifa mulai menyambut setiap sentuhan lidah Vino dan itu membuat Vino semakin memperdalam dan meningkatkan frekuensi kerja Indra perasanya. Hingga nafas Sifa mulai tersengal yang membuat Vino melepas pagutannya, Vino menatap wajah ayu Sifa yang menghirup banyak-banyak oksigen hingga pemuda itu kembali mendaratkan bibirnya ketempat peraduannya berulang kali dengan kecupan singkat.
"Maaf yang tadi di sekolah."
"Hhmm?" Sifa seakan tak mampu berkata.
"Dan makasih untuk yang ini," ucap Vino membuat wajah Sifa memanas dan pipinya yang sudah memerah dengan muka polos yang masih linglung membuat Vino semakin gemas.
Sifa yang sadar jika wajahnya sudah memerah segera membuang muka dari tatapan Vino. Vino pun segera bangkit beranjak dari atas tubuh Sifa yang lama-lama membuatnya tidak aman. Ada yang meronta di bawah sana dan itu membuat Vino segera melangkahkan kaki keluar dari kamar Sifa untuk pergi ke kamar dan menuntaskannya. Karena sejatinya Vino pria normal yang akan bereaksi saat dirinya menyentuh wanita dan itu hanya dengan Sifa, karena dengan mantannya Vino tidak pernah merasakan sepanas ini.
Melihat Vino yang sudah pergi dari kamarnya Sifa segera bangkit dan berlari mengunci pintu, lututnya seakan lemas setelah mendapat serangan dari Vino tadi, jantungnya masih berpacu kencang hingga nafasnya pun naik turun.
"Gila, tadi itu apa?" gumam Sifa memegang pipi yang masih terasa panas.
"Akkhh!" Sifa segera berlari menuju ranjang dan masuk kedalam selimut tebal.
"Malu banget gue."
"Besok gimana ngadepin dia?"
"Vino loe menang banyak hari ini."
"First kiss gue udah loe ambil dan ini tadi loe lakuin berulang kali."
"Aaakkkkhhhhh bibir gue....." oceh Sifa dari dalam selimut hingga gadis itu tertidur nyenyak.
Sedangkan Vino nampak segar dengan rambut basahnya, rasa lelah di tubuhnya yang ia rasakan tadi seakan luntur tak berbekas. Ada rasa bahagia di hati yang terluka, ntah apa yang Vino inginkan kedepannya, saat ini perasaan sakit yang sejak lama ia simpan seakan tersiram dengan air yang menyejukkan. Pemuda yang sejak lama menyimpan hati pada gadis yang dulu sangat membencinya hingga luka bertahun-tahun yang mampu membuat hidupnya berantakan, malam ini seakan menghangat dan terlebur perlahan.
__ADS_1
"Rasa ini masih sama bahkan semakin menggila."