
Sejak tadi Vino mencari Sifa di semua tempat, dari mulai apartemen, kediaman almarhum orang tua sifa, rumah orangtuanya, pemakaman, serta kedua sahabat dari Sifa tetapi tidak juga ia temukan sosok istrinya disana. Hingga Mamah sejak tadi menghubunginya untuk menanyakan lagi keberadaan Sifa yang membuat beliau ikut khawatir.
Vino dengan seragamnya yang sudah berantakan dan penampilannya yang sudah acak-acakan kini terdampar di apartemen Rian dengan puntung rokok yang sudah memenuhi asbak dan beberapa botol minuman yang sudah tergeletak.
"Udah Vin!" Rian merampas botol minum yang sudah kembali Vino buka.
"Gue harus nyari Sifa kemana lagi Ian!" lirih Vino yang tampak frustasi.
"Sorry tadi gue dan Geri kecolongan ngurus si Nita, sekarang gue udah nyuruh orang buat nyari Sifa, mudah-mudahan ada petunjuk dari mereka," ucap Rian yang sejak tadi memperhatikan.
"Vin, mending loe bersih-bersih dulu, siapa tau nanti ada kabar dan kita langsung kesana, loe nggak mau kan kalo Sifa liat tampilan loe ancur-ancuran begini, bisa tambah ilfil dia nanti!" sahut Geri kemudian membantu Vino berdiri dan mendorongnya masuk kamar mandi.
Vino menangis di bawah guyuran shower, dia selalu lemah jika berhubungan dengan Sifa. Rasanya ia ingin mencekik Nita saat ini, karena wanita itu yang membuat dia hampir gila mencari keberadaan Sifa yang sejak tadi hingga malam hari belum juga ketemu.
"Ambil aja baju gue di lemari Vin!" ucap Rian yang melihat Vino keluar dari kamar mandi.
"Udah ada kabar?"
"Belum, tapi gue curiga sama Aldi, soalnya dari tadi di sekolah pada nyariin dia tapi dia nggak ada!" ucapan Rian membuat Vino kembali emosi.
"Loe udah mastiin dimana Aldi?"
"Gue udah coba nyuruh Geri kerumahnya tadi, tapi barusan Geri bilang nggak ada Aldi dirumah, bahkan dari pulang sekolah tuh anak juga belum balik!"
SSHHIIIT
"Pasti Aldi yang udah bawa Sifa!"
Vino keluar dari kamar Rian dengan tampilan yang sudah rapi, mereka kini duduk kembali di ruang tamu yang sudah dibersihkan oleh Rian.
"Udah jangan ngerokok lagi, capek gue bersihinnya!" ucap Rian saat melihat Vino kembali mengambil rokok yang masih tersisa.
"Pusing gue, satu aja sini!"
__ADS_1
"Nggak ada!" ketus Rian lalu membuang rokok tersebut ketempat sampah.
"Kecut mulut gue! pemanisnya belum juga ketemu," celetuk Vino.
"Ta* loe! mentang-mentang udah punya bini!"
Keduanya kembali adu mulut hingga dering suara ponsel Vino menyita perhatian keduanya . "Nomor baru!"
"Angkat Vin siapa tau penting!"
"Halo...."
"(.........)"
"Gue kesana sekarang!"
Vino beranjak mengambil kunci mobil Rian serta jaket nya kemudian segera keluar dari apartemen Rian.
"Eh loe mau kemana Vin?" seru Rian yang heran dengan gerakan Vino yang begitu cepat melesat keluar.
Hatinya kelu, jantungnya bertalu dan tubuhnya kaku saat mendengar keberadaan pujaan hatinya berada saat ini membuat dia semakin meninggikan lagi laju mobilnya.
Aldi sejak tadi hanya diam mengusap lembut rambut Sifa, angin yang begitu dingin membuat gadis itu semakin meringkuk di pangkuan Aldi. Pemuda itu terus menatap wajah cantik Sifa yang di sinari rembulan.
"Fa, aku bakal berusaha buat ikhlas kalo kamu bahagia sama dia! dan aku akan tetap menunggu kamu siap bicara jujur sama aku!"
Aldi membiarkan mereka tetap berada disana karena dia tidak ingin menambah masalah jika harus membawa Sifa pulang atau membawanya kerumah dia sendiri. Hingga panggilan dari orang yang ia tunggu tiba.
"Sifa!"
Vino sudah berdiri di samping Sifa dan melihat orang yang ia cintai tertidur pulas dipangkuan pria lain. Aldi yang paham segera meminta Vino untuk menggendong Sifa menuju mobil.
"Turunin dulu ego loe! sekarang bukan waktunya yang tepat buat loe marah sama gue!"
__ADS_1
Vino mendengus kesal melihat Aldi yang secara terang-terangan mengusap pucuk kepala Sifa saat dia akan mengangkatnya.
"Jangan sentuh bini gue!"
"Bahkan kalo gue mau udah gue grep*-grep* bini loe dari tadi," celetuk Aldi menutupi hatinya yang sakit saat mendengar pengakuan Vino atas Sifa.
"Berani macem-macem loe berurusan sama gue!"
Vino segera berjalan membawa Sifa menuju mobilnya, Sifa yang lelah otak dan tubuhnyapun tak sadar akan apa yang terjadi. Aldi menyusul dan berdiri di samping Vino yang sudah menutup pintu mobilnya.
"Gue harap loe bisa bertanggung jawab atas masalah yang loe buat! jagain dia, gue coba ikhlasin karena kalian sudah ada ikatan, tapi kalo gue tau Sifa menangis lagi karena loe nyakitin hatinya, gue nggak segan-segan ngancurin rumah tangga kalian!"
deg
Vino segera menoleh menatap tajam Aldi yang juga sudah menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah ia perlihatkan di sekolah. Aldi dengan mata yang memerah menatap dalam Vino yang mampu menghunus jantung lawannya.
"Jadi loe udah tau?" tanya Vino yang masih terkejut.
"Gue tau tanpa Sifa sadar!"
"Jadi biarin dia sendiri yang ngomong jujur sama gue! tanpa loe bongkar kalo gue udah tau semuanya."
"Gue harap loe lupain cinta loe setelah loe tau hubungan gue sama dia!"
"Gue nggak akan jauhin Sifa selama loe masih nyakitin dia dan gue akan rebut dia kalo loe nggak bisa bahagian dia!"
"Gue pastiin Sifa akan bahagia sama gue!" ucap Vino kemudian melangkah menuju pintu mobil pengemudi dengan sengaja menyenggol tubuh Aldi hingga membuat Aldi mundur beberapa langkah.
Aldi menatap nanar mobil yang di tumapangi oleh Vino yang sudah membawa Sifa pulang, tadi memang Aldi yang menghubungi Vino untuk segera datang membawa Sifa, karena dia pikir tidak pantas jika wanita beristri harus pulang dengan pria lain. Aldi mengalahkan egonya untuk kebaikan Sifa.
Vino segera membawa Sifa masuk kedalam kamarnya, dia membuka sepatu yang Sifa kenakan dan menarik selimut hingga batas dada. Vino terus memperhatikan Sifa yang masih tenang dengan tidurnya. Sesekali mengecup dalam kening dan bibir Sifa.
"Maafin aku, maaf buat kamu kecewa! tetapi bukan aku yang menginginkan, dia yang tiba-tiba datang dan mencium aku," Vino mengusap lembut kepala Sifa. "Tolong percaya sama aku, aku nggak mau kehilangan kamu sayang! kamu hampir membuat aku gila saat aku nggak bisa nemuin keberadaan kamu!"
__ADS_1
Vino merebahkan tubuhnya di samping Sifa dan memeluknya hingga terlelap dengan hati yang tenang karena Sifa yang sudah kembali pulang, tanpa dia sadari air mata Sifa menetes, Sifa mendengar semuanya tetapi enggan untuk membuka mata, Sifa masih harus menata hatinya dan memilih untuk diam tanpa ingin berucap dan membiarkan Vino tertidur dengan mendekapnya.