
Dua orang paruh baya tersebut berlari menuju ruangan UGD, kaki yang sempat melemas saat tau siapa yang mengalami kecelakaan yang berujung di meja operasi kini mereka seret sekuat tenaga hingga dokter yang menangani keluar dari ruang UGD tersebut.
" Bagaimana Dok keadaannya?"
"Pendarahan di kepalanya semakin hebat dan kondisi pasien saat ini kritis Bu Pak, saya menyarankan segera tanda tangani surat persetujuan operasi agar kami bisa melakukan tindakan berikutnya!"
" Lakukan yang terbaik Dok, kami mohon bantu selamatkan Dok!" ucap Papah yang sudah meneteskan air mata.
"Banyak-banyak berdoa Pak agar Operasi berjalan lancar dan pasien segera keluar dari masa kritisnya, kalau begitu saya pamit dulu untuk menyiapkan segala keperluan operasi pasien", ucap Dokter kemudian pergi menuju ruang operasi.
"Pah...." Mamah tampak rapuh memeluk Papah yang juga tak kalah kalut saat ini.
"Kita berdoa yang terbaik ya mah!" ucap papah mencoba untuk menguatkan.
Hingga operasi di mulai kedua paruh baya ini terus berpelukan saling menguatkan satu sama lain dengan serangkaian doa yang terus tak henti terucap dari mulut masing-masing.
Kini jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, sudah tiga puluh menit sejak lampu menyala menandakan operasi sedang berjalan. Air mata dari pelupuk mata sendu mereka mengiringi setiap doa yang teruntai.
" Sifa Pah!"
...***************...
Suara dering telepon mengusik mimpi pemiliknya, suasana ruangan yang sunyi seketika bising dengan Isak tangis seseorang yang sudah terduduk lemas setelah mendengarkan suara dari seberang.
Pertengkaran yang terjadi beberapa jam lalu kembali berputar di pikirannya hingga tubuhnya mencoba bangkit dan menyeret kaki yang beberapa menit lalu lemah untuk melangkah pergi.
Dengan sisa kekuatannya motor melaju membelah kesunyian malam di jalan beraspal yang masih basah. Hingga suara decit ban menghentikan laju motornya yang sudah berhenti di area parkir rumah sakit.
Langkah panjang dengan air mata yang sejak tadi tak kunjung reda menyusuri setiap lorong rumah sakit, matanya mengedarkan pandangan mencari letak ruang operasi.
__ADS_1
Hingga dia menangkap dua orang yang ia kenal sedang berpelukan di kursi tunggu.
"Mamah Papah!"
"Akhirnya kamu sampai nak?" ucap mamah yang sudah berdiri dan memeluknya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Operasinya masih berjalan sejak tadi, sudah hampir tiga jam kita menunggu tapi operasi belum juga selesai," ucap mamah dengan suara serak karena terus menangis sejak tadi.
"Kita duduk dulu nak, kita harus banyak bersabar dan berdoa," ucap sang Papah menenangkan.
Ketiga orang tersebut terus menggumamkan doa agar operasi berjalan lancar dan semua baik-baik saja. Hingga panggilan dari nenek yang sudah di perjalanan membuyarkan pikiran mereka, semua tampak panik setelah mendapat kabar kecelakaan tersebut.
Setelah empat jam berlalu akhirnya lampu tanda berjalannya operasi meredup, ada perasaan lega saat dokter keluar dari ruang operasi tersebut.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Papah yang sudah lebih dulu berdiri.
"Saat ini pasien sedang berada di ruang pasca operasi, nanti sekitar tiga puluh menit dia akan di pindahkan keruang rawat inap, dan keluarga bisa menjenguknya tetapi jangan sampai mengganggu pasien," jelas dokter dengan pandangan melirik kearah lain.
"Baik dok."
Rasa syukur menghinggapi perasaan ketiganya, walaupun masih ada rasa cemas karena masih menunggu keluar dari masa kritisnya.
Saat ini ketiganya sudah berada di depan ruang rawat inap, mereka saling memandang untuk masuk kedalam.
"Mamah dan Papah dulu saja yang masuk, nanti setelah itu gantian aku."
"Baiklah nak, kamu tunggu sini ya!" ucap sang mamah yang sudah tidak sabar ingin masuk kedalam.
__ADS_1
Di kesendiriannya, bayangan akan pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi sejak awal kembali bermunculan. Ada rasa penyesalan di hati karena keegoisan keduanya, hingga dia tidak menyangka akan berujung kecelakaan seperti ini.
Hati yang masih tak tenang, mata yang sedikit lelah akibat tangisan yang tak kunjung reda, membuat tubuh melemah, dia bersandar badan kursi dan memejamkan mata hingga terlelap.
Mamah dan Papah yang melihatnya merasa iba, tampak jelas raut wajah yang sembab dan lelah serta garis wajah penuh beban. Mamah membawa selimut dari dalam ruangan VIP yang telah disediakan untuk menyelimuti sehingga semakin membuatnya nyaman.
"Kasian mereka Pah, diusia pernikahan yang masih seumur jagung harus mengalami cobaan seperti ini, mamah tidak tega melihatnya Pah," ucap sang mamah yang sudah menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang Papah.
"Semoga mereka kuat ya Mah, Sifa gadis yang kuat begitupun Vino yang kita tau dia bukan anak yang lemah dan mudah menyerah, semoga dengan adanya kejadian ini bisa membuat keduanya lebih saling menyayangi lagi Mah," ucap sang Papah mencoba menenangkan istrinya.
"Mamah istirahat ya, biar Papah yang berjaga disini sekarang!"
"Tapi Papah nanti kan harus berangkat ke kantor, biar Mamah saja yang berjaga Pah!" ucap Mamah yang tidak tega karena suaminya yang masih harus mengurus semua pekerjaannya.
"Tidak apa Mah, nanti di kantor Papah bisa beristirahat jika pekerjaan sudah terhandle semua."
"Ya sudah kalo begitu Pah," ucap Mamah pasrah dan mulai memejamkan matanya di pelukan suaminya.
Suara roda meja dorong yang di bawa suster yang melewati membangunkannya dari alam mimpi, matanya melirik kekursi samping tampak Mamah dan Papah tertidur dengan saling berpelukan.
Setelah keluar dari toilet pengunjung yang berada di samping ruang perawat, kini langkahnya melewati sang Mamah dan Papah yang masih terlelap menuju ruang VIP di depannya.
Tangannya dengan ragu meraih handle pintu untuk membukanya, ada rasa ragu di hati yang membuat kakinya memelan dan jantungnya mulai berdebar. Hingga pandangannya masih tertunduk kebawah dan mencoba menguatkan hati menatap seseorang yang terbaring lemah dengan perban di kepala dan infus yang masih menancap.
deg
Air matanya runtuh kembali saat melihat wajah pucat dengan luka kecil di sekitar wajah dan lengan yang cukup membuatnya prihatin. Kakinya mencoba melangkah kembali untuk mendekati ranjang tersebut. Ada rasa sakit di sudut hatinya saat pandangannya semakin jelas melihat kondisi orang yang beberapa Minggu ini masuk kedalam kehidupannya. Orang yang mulai menyita pikirannya, orang yang mampu membuat emosinya tak terkendali dan orang yang membuatnya menangis. Mencoba meraih tangan yang lemah dan mengecupnya, hingga Isak tangisnya mengisi kekosongan diruangan tersebut.
Mamah yang ingin masuk keruangan tersebut mengurungkan niatnya, beliau ikut merasakan sesak saat melihat betapa terpukul dan sedihnya sampai Isak tangis itu begitu terdengar di telinga.
__ADS_1
"Biarkan mereka berdua Mah, lebih baik kita pulang dulu untuk membersihkan diri, setelah itu Papah antar Mamah lagi kesini."
"Iya Pah ayo kita pulang," ucap sang Mamah, kemudian mereka pergi meninggalkan kedua pasutri tersebut.