
Gadis cantik dengan mata sembabnya saat ini tengah duduk terdiam dengan pandangan kosong ke depan, kabar tentang suaminya yang masih koma membuatnya semakin menyesali perbuatannya. Gadis itu menyesal karena tidak menuruti perkataan Vino dan lebih memilih untuk tetap pergi meninggalkan apartemen.
Mata yang masih basah meninggalkan jejak ke piluan yang mendalam, penyesalan serasa sudah tak ada guna, sosok yang beberapa Minggu ini masuk ke dalam hidupnya dan mengusik hatinya kini hanya diam lemah dengan alat medis yang menempel di tubuhnya.
Sifa menatap kembali wajah Vino, tangannya terulur menggenggam tangan Vino dan menjatuhkan kepalanya di lengan pemuda itu, sudah hampir sore Sifa menjaga Vino dan menangisinya disana yang membuat dirinya melemah.
ceklek
Mamah yang sejak tadi mengurus keperluan dan sekolah Vino menjadikannya baru sempat kembali ke rumah sakit, wanita paruh baya itu berjalan menuju lemari tempat penyimpanan barang dan meletakkan beberapa makanan di meja sofa untuk Sifa makan. Mamah menatap iba kedua anaknya, beliau menangkap wajah sendu menantunya yang begitu lelah, hati beliau menghangat saat melihat tangan kedua anaknya saling menggenggam erat.
Mamah membelai rambut Sifa dengan sayang yang cukup mampu mengusik gadis itu, Sifa membuka matanya dan memandang mamah yang menyambutnya dengan senyum hangat.
"Mamah!"
"Iya nak, maaf mamah ganggu tidur kamu ya?" tanya mamah dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.
" Nggak apa-apa mah, maaf Sifa malah ketiduran tadi," ucap Sifa yang merasa tidak enak.
"Mamah ngerti kamu capek sayang! bagaimana perkembangan Vino nak?" tanya mamah yang sudah beralih mendekati Vino.
"Vino masih koma mah," ucap Sifa menundukkan kepalanya.
Mamah yang mendengar kabar itu sempat syok, beliau menatap wajah pucat putranya dengan tatapan sendu. Sungguh hancur hati seorang ibu melihat anaknya dalam kondisi seperti ini, tetapi saat beliau melirik menantunya yang masih tertunduk sedih membuat beliau sadar jika mereka harus saling menguatkan.
Mamah berjalan kembali mendekati Sifa dan memeluk gadis itu, mendapat pelukan mamah mertuanya membuat tangis Sifa kembali pecah.
"Maafin Sifa mah, ini semua karna Sifa!" ucap Sifa disela-sela Isak tangisnya.
"Sudah nak, jangan kamu menyalahkan diri kamu sendiri, semua sudah takdir sekarang kita hanya mampu berdoa agar Vino cepat sadar. Sekarang kamu makan dulu ya nak!" ucap mamah merenggangkan pelukannya.
" Sifa nggak lapar mah!"
__ADS_1
"Jangan gitu sayang, jangan sampai kamu ikut sakit nantinya," bujuk mamah dengan tangan yang sudah menarik Sifa untuk duduk di sofa.
Akhirnya Sifa memaksakan diri untuk makan setelah mamah membujuknya hingga berusaha untuk menyuapinya.
Sekitar pukul delapan malam Sifa yang sedang meringkuk di atas sofa di kejutkan dengan kedatangan kedua sahabat Vino yang datang menjenguk. Sifa dengan wajah polosnya bingung harus bersikap bagaimana karena dia pikir belum ada yang tau hubungan mereka.
"Malam Tante, om!"
"Kalian, ayo masuk sini nak!" ucap mamah yang sedang duduk bersama papah dan Sifa di sofa.
"Makasih Tante," kemudian keduanya menyalami kedua orangtua Vino dan melirik kearah Sifa, mungkin untuk Rian dia sudah mengetahui status mereka tapi untuk Geri dia sempat mengernyitkan dahinya saat melihat keberadaan Sifa, apa lagi melihat penampilan Sifa yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Kita liat Vino dulu Tante, om!" Kemudian keduanya mendekati ranjang Vino, raut wajah mereka tampak sedih setelah melihat keadaan sahabatnya.
"Cepat sembuh bro!" ucap Geri yang hampir saja menitikkan air mata.
"Cepat sembuh Vin, gue tunggu loe buka jati diri loe bro!" bisik Rian di telinga Vino.
" Masih koma Ian, Vino belum sadarkan diri tapi tadi dokter bilang masa kritisnya sudah dia lewati dengan baik, tinggal menunggu dia mau membuka mata," ucap mamah mencoba tetap senyum.
"Rian turut prihatin Tante," ucap Rian sendu.
"Semoga Vino lekas sadar Om, Tante," lanjut Geri.
" Oh iya, Tante mau tanya pada kalian," ucap Mamah kemudian melirik ke arah sang Papah.
" Tanya apa Tante?" tanya Rian yang mulai penasaran.
"Apakah Vino masih seperti dulu nak?" tanya Mamah kemudian melirik Sifa yang terus meringkuk dengan tangan memeluk lutut dan wajah yang sendunya.
"Sudah beberapa Minggu ini ketika malam Vino jarang berkumpul dengan kita Tante," ucap Rian jujur.
__ADS_1
"Apa dia masih dengan kebiasaannya Rian?" tanya papah yang mulai ingin tau.
"Beberapa Minggu ini Vino juga sudah tidak pernah minum om, terakhir dia menghabiskan rokok hampir tiga bungkus di apartemen saya dan setelah itu sudah tidak pernah melakukan kebiasaannya lagi Tante." Geri dan kedua orangtua Vino menyimak apa yang di katakan oleh Rian.
"Kenapa bisa menghabiskan rokok sebanyak itu ian?" tanya mamah khawatir.
Mendapat pertanyaan itu membuat Rian bimbang ingin menjawabnya, pemuda itu sempat melirik kearah Sifa yang masih dengan posisi yang sama. Kemudian menatap kedua orangtua Vino yang menunggu jawaban darinya, Rian menarik nafas panjang sebelum akhirnya mencoba untuk jujur.
"Saat Vino frustasi mencari keberadaan Sifa yang tidak ada di apartemennya dan di rumah serta di tempat Sahabatnya Tante,"
deg
Sifa yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Rian, Rian yang mengerti melanjutkan kembali ucapannya.
"Dia khawatir sama loe saat loe ada masalah sama dia dan loe nggak ada ketika dia pulang ke apartemen, dia nyari loe ke rumah almarhum orang tua loe Fa, bahkan dia nyari loe ke tempat kost, Vino nggak Dateng ketempat sahabat loe karena dia tau kalo loe nggak pulang sama mereka. Dia datang ke apartemen gue dengan wajah frustasi dan berujung menghabiskan banyak rokok di sana," jelas Rian yang di simak oleh Sifa dan yang lainnya.
" Sifa ke pemakaman orang tua Sifa Mah Pah!" lirih Sifa saat kedua mertuanya mengarahkan pandangannya ke dia.
Sifa sudah duduk bersandar sofa dengan melirik wajah Vino yang masih nyenyak di alam bawah sadarnya.
"Disaat Sifa ada masalah, Sifa selalu pulang ketempat peristirahatan terakhir mamah dan papah, saat itu memang ada sedikit masalah pada hubungan kami," ucap Sifa kemudian menundukkan kepalanya lagi, dapat mereka lihat justru yang paling merasa sedih dan terpuruk dalam masalah ini adalah Sifa.
Gadis itu sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Vino, ntah rasa apa lagi selain itu, tapi Sifa sangat-sangat merasa sedih. Bahkan dia sempat mengingat saat kehilangan kedua orangtuanya yang bermula dari kecelakaan kendaraan juga dan itu bagai Dejavu baginya. Sejahatnya Vino dan hubungan mereka yang tidak baik, bagi Sifa Vino tetap suaminya, walaupun dia belum tau kedepannya akan bagaimana hubungan mereka.
"Maafin sikap Vino yang belum bisa bersikap baik sama kamu ya nak," ucap mamah yang sebenarnya tau jika Vino masih bersikap dingin pada Sifa, bahkan orang tuanya juga tau jika Vino masih memiliki hubungan dengan gadis lain. Karena diam-diam mamah sering menanyakan itu pada Rian. Tetapi mamah sempat terkejut juga mendengar cerita Rian tadi, beliau sempat berpikir jika sebenarnya anaknya sudah menyukai Sifa.
"Papah harap setelah kejadian ini hubungan kalian akan membaik," ucap Papah yang di aminkan oleh Mamah dan Sifa.
Geri yang sudah tidak tahan dengan keinginan tahuan atas hubungan Sifa dan Vino akhirnya membuka suara.
"Sebenarnya ada hubungan apa antara Sifa dan Vino om?" tanya Geri yang membuat Sifa langsung menoleh, Sifa bingung harus bagaimana, gadis itu melirik Rian yang tampak biasa tidak seperti Geri dengan wajah penasaran.
__ADS_1
"Sifa adalah menantu om!"