Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Hadiah


__ADS_3

Setelah berkutat dengan laptop dan ponsel yang membuatnya anteng tanpa merusuhi Sifa yang sejak tadi sibuk di dapur, ia segera membereskan semua barang-barangnya dan keluar kamar. Niat hati ingin meminta istrinya untuk keluar dari kamarnya tetapi ternyata orang yang ia cari sudah ada di depan mata.


Dengan t-shirt putih yang melekat di tubuh dan celana short pantnya membuat Vino dengan semangat mendekati tanpa aba-aba lagi. Tangannya ia lingkarkan pada pinggul Sifa dengan wajahnya yang dijatuhkan pada pundak gadis itu.


"Hubby.....ikh bikin kaget aja!"


"Sibuk banget sich sayang! hhmm?" lirih Vino seraya mengendus aroma tubuh Sifa yang membuatnya candu.


"Aku lagi masak daging rendang, kata mamah kamu kan suka banget daging rendang kan?" Sifa sedang mengaduk masakannya takut-takut nanti kekeringan.


"Apa aja kalo masakan istri aku pasti aku suka!"


"Ya udah kalo gitu kamu tunggu aku di meja makan, ini udah matang jadi aku mau sajikan dulu sebentar ya!"


"Mmmmmm.....udah pw sayang!" rengek Vino.


"Mulai deh," ini hal yang selalu membuat Sifa kesal tapi gemas, manjanya Vino mengalahkan dirinya.


"Sayang!" rengek Vino lagi. Sifa segera melepas kedua tangan Vino kemudian membalikkan tubuhnya dan berkacak pinggang. Tatapan tajam dari mata Sifa membuat Vino hanya diam dengan tangan sebelah yang menggaruk tengkuknya.


"Ayo duduk!"


Langkah Vino mundur teratur, dia cukup ngeri jika Sifa sudah mode galak begini, takut-takut nanti istrinya mengamuk dan pabrik susu di tutup.


Garpu dan sendok mulai berdendang di atas piring, jangan di tanya bagaimana ekspresi Vino saat ini, dia begitu lahap memakan masakan Sifa yang sangat pas di lidah.


"Masakan kamu enak banget sayang!"


"Makasih by, kalo gitu nambah lagi makannya ya!" Sifa segera menyendokkan kembali nasi untuk Vino, tapi secepat mungkin di cegah olehnya.


"Udah sayang cukup ya, aku kenyang banget!" ucap Vino lembut.


Setelah makan malam kini keduanya sudah kembali duduk dikamar dalam satu ranjang. Sifa sibuk dengan buku pelajarannya sedangkan Vino sibuk kembali mengecek email yang sudah dikirim oleh orang kepercayaannya.


Sifa yang mulai lelah kemudian meletakkan kembali buku pelajarannya ke dalam tas, Vino yang sejak tadi mulai memperhatikan mencoba meraih pinggang Sifa hingga duduk di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Udah ngantuk, hmmm?"


"Iya mulai ngantuk sedikit by, eh tapi katanya mau kasih aku hadiah, apa?" tanya Sifa dengan mengusap lembut rahang Vino.


"Yakin mau aku kasih hadiah?" tanyanya lagi.


"Kamu mah ikhlas nggak sich, kok malah jadi kayak nggak minat gitu!" Sifa mulai cemberut dan itu membuat Vino dengan gemas menyambar benda kenyal yang menggoda.


"Egh......biasa dech main nyosor aja!" ucap Sifa padahal dalam hati ia suka, hanya saja dia malu mengakuinya.


"Tapi kamu menikmati kan?" tanya Vino dengan nada menggoda membuat semburat merah itu kembali keluar.


Vino segera mengangkat tubuh Sifa dan merebahkannya di atas ranjang, matanya tertuju pada manik mata Sifa dengan menekan sedikit bagian dada Sifa yang membuat kabut gairah di mata Vino begitu terlihat.


"Aku akan memberikan hadiah yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya dan bilang aku jika kamu menginginkan lebih sayang," lirih Vino dengan suara tertahan.


Sifa semakin gugup saat mendengar suara dari Vino yang begitu sexy di telinga. Tubuhnya meremang kala hembusan nafas Vino menyapu wajahnya hingga mendarat di leher putih Sifa.


Sifa menggigit bibir bawahnya, dia mulai tergoda akan kenikmatan dunia. Dengan mata terpejam suara indahnya mulai menggema. Semakin dalam perlakuan Vino, semakin kencang desa.han yang Sifa keluarkan.


Fokus akan kegiatan panas mereka membuat keduanya tak menyadari jika kini mereka sudah sama-sama polos. Tangan Vino begitu aktif menyusuri lembah yang belum pernah terjamah, "ugh...." satu de,Sahan panas begitu membuat Vino semakin tertantang bahkan tangan kini mulai bergerak nakal memberikan hadiah yang Sifa inginkan sejak tadi.


"Gimana sayang?" tanya Vino dengan suara serak menahan hasrat.


"Egh rasanya......oh by, kamu apain aku Vin?" Sifa sampai tak mampu berucap.


"Nikmatin, ini hadiah yang aku ingin kasih buat kamu sayang!"


Melihat Sifa yang begitu menikmati membuat Vino penasaran akan bentuk lembah milik istrinya, Vino pun turun dan begitu terkesimanya dia saat melihat begitu permai dan indahnya lembah yang berwarna ke merahan.


Tergoda akan keindahannya Vino mulai mencoba untuk mencicipi, lidahnya menyapu bagian yang begitu lembut membuat Sifa semakin tak mampu menahan tubuhnya yang terus bergerak geli merasakan sensasi yang tak pernah ada. Tetapi saat tersadar akan aksi Vino, kedua kaki Sifa tiba-tiba menutup malu dan itu membuat Vino mendongakkan kepalanya mencari tau.


"Malu Vin!" lirih Sifa saat melihat tatapan Vino penuh selidik.


"Nggak perlu malu sayang, ini sangat indah dan aku suka, buka lagi ya ...aku akan memberi hadiah yang membuat kamu tak akan lupa!"

__ADS_1


Vino kembali melancarkan aksinya hingga tubuh Sifa bergetar tak terarah, tangan gadis itu mencengkeram kuat sprei yang semula rapi, sampai pada titik dimana gadis itu menyemburkan cairan yang membasahi wajah Vino.


Nafas Sifa naik turun, mukanya memerah, bahkan dia masih tidak paham gelombang apa yang tadi datang. Vino mengusap peluh yang membasahi kening Sifa bahkan mini anacondanya masih berdiri tegak.


"Giliran aku ya sayang!"


Vino segera menahan tubuh Sifa untuk duduk di hadapannya dan meminta tangan serta mulut Sifa untuk bekerja.


"Mmmhhhh terus sayang," Sifa yang sudah semakin pintar membuat Vino semakin gencar mengajarinya sesuai tutorial film blue yang dia lihat.


"Sebentar sayang..."


"Aaaakkkkkkkhhhhhh ......." ntah apa yang Vino lakukan nyatanya Sifa pun ikut bergetar merasakan pelepasan.


Tubuh Vino ambruk di samping Sifa dengan dada keduanya bergerak naik turun tiada tara.


"Makasih sayang..." Vino mengecup pipi yang sejak tadi bersemu merah kemudian tangan Sifa menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya sampai wajahnya pun bersembunyi di sana.


Vino tertawa melihat aksi istrinya, tangan Vino dengan jail menarik selimut yang Sifa gunakan, tetapi dengan kekuatan penuh Sifa terus menahannya.


"Hubby ikh lepas!" rengek Sifa.


"Kenapa sich sayang, kalo gini gimana aku mau nyium kamu, lihat wajah kamu, belai rambut kamu. Gimana sayang?"


"Nggak usah by, besok lagi aku ngantuk!" celetuk Sifa di balik selimut.


"Ngantuk apa malu?"


"Hubby jangan iseng dech....aku beneran mau tidur by, rasanya kayak ada yang kabur gitu dari dalam tubuh aku!"


"Yang mana emang yang kabur sayang?" tanya Vino dengan menahan tawa yang ingin meledak saat mendengar ucapan Sifa tadi.


"Di situ, aku malu Vin sama kamu pasti basah kan kasurnya, aku ngompol ya...." ucap Sifa dengan muka polosnya keluar dari dalam selimut yang membuat Vino semakin gemas, hingga ucapan polos istrinya membuat Vino tak mampu menahan tawa.


Berkali-kali Vino menghujani pipi Sifa dengan ciuman yang membuat Sifa semakin ingin melenyapkan dirinya ntah kemana.

__ADS_1


__ADS_2