
Keesokkan harinya setelah sarapan bersama dengan keluarga, Sifa mengajak Vino untuk ke ladang milik nenek, kebetulan hari ini ada panen sayuran di sana. Dan beberapa hektar lainnya juga menunggu giliran panen padi.
Sifa mempercayai masalah ladang dan semua usaha yang nenek miliki pada suami dari Mbok Darmi yang sudah lama bekerja di sana, mbok Darmi sendiri adalah pelayan di rumah nenek, jadi Sifa sekalian menitipkan rumah agar di rawat selama dia pulang ke Jakarta.
"Non mau ke ladang?" tanya mbok Darmi yang kebetulan sedang membersihkan bekas piring dan meja makan.
"Iya mbok, Sifa mau lihat ladang nenek sebelum pulang ke Jakarta, udah lama juga Sifa nggak ke ladang. Katanya hari ini panen ya mbok?"
"Iya non, panen cabe, kentang, wortel, terus juga ada tomat dan timun. Non kalo mau bawa buat oleh-oleh ke Jakarta juga nggak apa-apa. Bawa yang banyak non, buat masakin den Vino."
Sifa tertawa mendengar ucapan mbok Darmi "Nanti aku bawa dikit aja mbok, kalo banyak-banyak nanti nggak muat mobilnya, kapan-kapan kalo main kesini lagi kita masak hasil panen ya mbok!"
"Siap non, mbok tunggu kepulangan non Sifa lagi kesini ya non, siapa tau nanti kolam di belakang ikannya panen juga non, kita bisa bakar-bakar ikan," ucap mbok Darmi dengan antusias.
"Kolam di belakang? aku malah belum liat mbok, emang baru ya kayaknya dulu belum ada kolam di belakang," Sifa mengkerutkan dahinya.
"Nyonya yang minta di buatkan non, katanya nanti kalo anak-anak non Sifa sudah besar pasti suka bermain di dekat kolam ikan. Dan hasilnya pun bisa di nikmati."
Sifa tak menyangka ternyata banyak sekali yang nenek pikirkan untuk masa depannya, sedangkan dia tak pernah sampai berfikir jauh tentang kehidupannya ke depan.
"Nyonya juga pernah bilang mau buat kolam renang di samping rumah non, makanya kan sekarang yang samping rumah itu lebih tertutup dan sedang dalam penggalian, itu juga nyonya persiapkan untuk cicit-cicitnya nanti non, biar betah kalo main kesini."
"Emangnya kalo seumuran Sifa gini udah bisa buat hamil mbok?" tanya Sifa polos.
"Loh nggak bisa piye to non, kan non Sifa punya suami, lagian juga dulu nich jaman simbok muda se non Sifa gini malah udah momong anak non, den Vino juga sepertinya orang yang baik dan bertanggung jawab, mudah-mudahan jadi suami siaga," jawab mbok Darmi.
Sifa memikirkan ucapan mbok Darmi, apa dia siap di umurnya segini untuk hamil dan memiliki anak. Sedangkan semua sudah mengharapkan, Sifa menarik nafas dalam dia harus banyak belajar dan menyiapkan mental.
"Sayang.."
__ADS_1
cup
"Kok melamun?" tanya Vino yang tadi melihat ekspresi Sifa seperti terkejut saat mendapatkan ciuman di keningnya.
"Eh nggak kok by, lagi ngobrol sama mbok Darmi, ya kan mbok?"
"Iya den Vino, aduh non Sifa punya suami guantenge koyok ngene, simbok kalo punya suami kayak den Vino udah tiap tahun hamil kali non!" celetuk mbok Darmi.
"Mbok Darmi nich ada-ada aja," ucap Sifa dengan pipi yang memerah setelah mendengarkan ucapan mbok Darmi.
"Iya loh non Sifa, nggak perlu bingung lagi udah siap apa belum buat punya anak, apa lagi den gantengnya gagah perkasa begini, udah pasti dijamin kuat. Semburannya juga mantep sekali meluncur langsung top cer ya mas?"
Vino tersenyum mendengar ucapan mbok Darmi berbeda dengan Sifa yang sejak tadi sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Udah mbok jangan di godain lagi Sifa nya, kasian udah kayak kepiting gitu mukanya!"
Sifa memukul lengan dada Vino yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Udah ayo ke ladang keburu siang!" Sifa segera beranjak dan keluar lebih dulu meninggalkan vino dan mbok Darmi yang tertawa kecil sejak tadi.
Sesampainya di ladang Sifa dan Vino di suguhkan pemandangan yang membuat otak segar. Banyak sayuran segar yang sudah di petik dan mulai memenuhi keranjang. Sifa dan Vino langsung turun dan ikut membantu hingga tak terasa hari sudah siang.
"Istirahat dulu non, makan dulu ayo! ajak den Vino nya juga!" seru mbok Darmi yang sudah datang dengan menggendong bakul nasi serta rantang dan teko di tangannya persis sama dengan bayangan Vino saat Sifa yang akan melakukan itu.
"By...."
"Eh iya sayang, ada apa?"
"Ayo naik kita ke gubuk! mbok Darmi udah bawain kita makan." Sifa menggenggam tangan Vino mengajaknya segera naik dan berkumpul dengan yang lain.
__ADS_1
"Ayo den makan dulu, rajin banget den Vino dari tadi bapak ajak ke atas belum mau juga," ucap suami mbok Darmi.
"Iya pak abis nanggung, lagian seru pak di Jakarta nggak ada yang begini," jawab Vino yang mengundang gelak tawa yang lain.
"Kalo gitu di kampung aja den sama non Sifa juga, biar hati tenang pikiran tentram."
"Iya pak, nanti kami pasti akan melanjutkan hidup di sini, tapi kalo sekarang masih harus sekolah dan bekerja dulu pak." Vino berbicara dengan ramah, jauh dari Vino yang pertama kali Sifa kenal. Sifa tersenyum mengingat itu, sungguh dia tak menyangka jika cowok yang begitu menyebalkan sekarang sudah menjadi suaminya dan sebentar lagi mungkin akan menjadi ayah dari anak-anaknya.
"Makan by.." Sifa memberikan sepiring nasi beserta lauk dan sayur yang di bawa oleh mbok Darmi.
"Kamu nggak makan?"
"Kalo berdua gimana?" tanya Sifa dan sudah pasti Vino menyetujuinya dengan senang hati.
"Makan di sana aja sayang, kamu bawa minumnya ya aku tunggu di sana!" Vino segera pergi menuju gubuk kecil, dia lebih memilih untuk berdua saja dengan Sifa agar bisa menikmati momen yang ada. Karena sangat jarang mereka bisa seperti itu di luar tanpa takut ada yang melihat.
Vino tersenyum melihat Sifa yang sedang jalan mendekat dengan membawa dua gelas teh hangat. Sifa terlihat semakin cantik di mata Vino, tak pernah bosan dia memandang, semakin hari semakin cinta.
"Ini teh hangatnya," Sifa meletakkan teh hangat di atas tikar. Kemudian menerima suapan demi suapan dari tangan Vino, suasana yang pas membuat keduanya semakin akrab.
Senyuman di wajah Vino terus menghiasi, dia bahagia bisa berdua dengan Sifa seperti sekarang ini, karena nanti malam mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Kembali beraktivitas dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.
"Udah kenyang sayang?"
"Udah...."
"Bagaimana kabar hati hari ini?" tanya Vino yang terus memperhatikan Sifa.
"Sudah lebih baik," jawab Sifa dengan tersenyum membuat Vino begitu lega. Kemudian mereka melanjutkan obrolannya dengan sediki canda dan tawa.
__ADS_1
"Enaknya yang bisa honeymoon di pinggir sawah....." mendengar suara yang tidak asing membuat keduanya menoleh.
"Kalian...."