Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
jangan nangis mah


__ADS_3

Mentari pagi di ufuk timur sudah mulai menunjukkan cahayanya, gadis cantik dengan tubuh mungil padat berisi itu masih bergulung di bawah selimutnya. Sifa memanfaatkan waktu libur untuk beristirahat dengan baik, memulihkan tenaga yang sudah terkuras selama seminggu penuh digunakan untuk sekolah dan bekerja.


Permasalahan bersama neneknya semalam dia hempaskan begitu saja, menurutnya waktu istirahat ya untuk istirahat.


Tapi tidak dengan nenek, saat ini nenek Arum sedang bersiap untuk pergi ke butik membelikan cucunya dress yang akan di pakai acara nanti malam.


"Bi, saya mau pergi dulu, nanti kalau Sifa mencari bilang saja saya pergi ke butik" pesan dari nenek untuk Sifa.


"Baik nyonya"


Kemudian nenek berangkat ke butik dengan di antar oleh supir pribadinya, sebenarnya bukan hanya ingin mengurus dress yang akan di pakai nanti malam, nenek juga berniat pergi ke MUA dan event organizer untuk mengurus acara pernikahan cucunya nanti.


Dan itu tidak sendiri nenek Arum mengurus semua bersama dengan nenek Ningrum, mereka sungguh bersemangat dengan perjodohan ini padahal mereka tau masing-masing cucunya menolak keras rencana mereka.


Setelah semua kebutuhan dan keperluan acara mereka sudah terpenuhi, keduanya memutuskan untuk pulang.


Sesampainya nenek Arum dirumah, beliau mengedarkan pandangannya mencari sosok cucunya yang sejak pagi tadi belum nampak terlihat.


"Bi..…." Seru nenek memanggil Bi Tum.


"Iya nyonya" sahut Bi Tum menghampiri nenek.


"Sifa mana Bi?" Tanya nenek kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Non Sifa sejak pagi tadi belum keluar kamar nyonya" ucapan Bi Tum membuat nenek khawatir.


"Berarti Sifa belum makan sejak tadi pagi Bi?" Tanya nenek lagi.


"Iya nyonya, non Sifa memang begitu nyonya jika di hari libur non Sifa akan keluar kamar menjelang sore". Ucapan Bi Tum membuat nenek sedikit lega, beliau segera beranjak dari sofa untuk menemui Sifa dengan paperbag di tangannya.


Suara ketukan pintu dari luar kamar sedikit membuat pergerakan gundukan tebal di atas ranjang itu, panggilan dan ketukan pintu yang terus menerus menyeru menggelitik telinga gadis yang sedang larut dalam mimpi.


Sifa dengan muka bantalnya keluar dari selimut dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan angka 3.20.


"Baru jam segini" batin Sifa.


Tapi suara ketukan pintu dan suara nenek yang terus memanggil namanya membuat Sifa yang memejamkan matanya kembali meloncat dari ranjang.


"Haaahhhhhh udah sore.....ya Allah gue ngapa kebluk amat sich" gumam Sifa.


"Sifa!!" Seru nenek lagi.


"Iya nek sebentar...." Sifa segera berlari menuju pintu untuk membukanya.


"Anak gadis jam segini baru bangun!" Ucap nenek sambil menjewer kuping Sifa hingga membuat Sifa meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aaauuuwww nek sakit nek"


"Cepat mandi! Nenek tunggu di meja makan dan ini kamu pakai buat acara nanti malam" ucap nenek menyodorkan paperbag yang ada di tangannya pada Sifa.


"Ini apa nek?"


"Apa kamu lupa malam ini ada acara pertemuan keluarga dengan keluarga nenek Ningrum?" Ucap nenek Arum yang membuat Sifa mencebikkan bibirnya.


"Sudah nenek mau turun dulu"


Setelah nenek pergi Sifa kembali menutup pintu kamar dan masuk dengan wajah cemberut, obrolan dengan neneknya semalam kembali terngiang di ingatannya. Paperbag yang tadi Sifa terima kemudian Sifa lempar begitu saja di atas ranjang lalu dia berjalan masuk menuju kamar mandi.


Sifa yang sudah segar tengah menyantap makan sore dengan di temani nenek disampingnya, nenek terus memperhatikan cucu kesayangannya, cucu yang sebentar lagi menyandang status istri, ada kelegaan di hati nenek mengingat akan ada yang melindungi Sifa, tapi terselip rasa sedih yang tak mampu di ungkapkan di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Nenek harap kamu mengerti maksud nenek dengan rencana perjodohan ini, dan kamu ikhlas menjalani agar kedepannya kamu selalu di beri keberkahan" ucap nenek dengan mata yang berkaca-kaca, Sifa yang melihat air mata nenek yang sudah menggenang di pelupuk mata keriputnya membuat hatinya tak tega terus berdebat pada beliau.


"Sifa usahakan nek" jawaban yang membuat nenek menyunggingkan senyum.


"Kamu cucu kesayangan nenek, jika nenek sudah tiada terus tak ada lagi keluarga yang kamu punya, dengan kamu menikah kamu akan memiliki keluarga baru nak"


"Nenek ini bicara apa, nenek akan selalu sehat dan terus ada untuk Sifa" sewot Sifa yang tidak terima dengan apa yang nenek ucapkan.


Baginya nenek adalah segalanya, walaupun dia tidak tinggal dekat dengan nenek tapi nenek keluarga satu-satunya yang dia punya dan yang paling sifa sayang saat ini. Nenek yang selalu memberi kasih sayang yang tulus padanya seperti kedua orangtuanya.


"Nenek nggak boleh bicara aneh-aneh, nenek nggak akan kemana-mana, Sifa akan menyetujui rencana ini" ingatan kehilangan orang tuanya mulai kembali, dan saat ini hanya nenek yang dia punya.


" Sifa sayang nenek" ucap Sifa yang langsung memeluk nenek.


*******


Di kamar dengan nuansa abu seorang pemuda sedang memainkan game di ponselnya, ketukan pintu dari luar tak membuatnya berpaling dari layar ponsel tersebut.


"Vino....." Seru mamah yang memasuki kamar anak semata wayangnya yang tidak terkunci, kemudian mendekati dan duduk di sofa samping Vino.


"Nggak makan?" Tanya mamah yang tidak mendapat jawaban sama sekali dari anaknya.


" Mamah liat kamu seharian ini belum makan sama sekali nak, masih ngambek sama mamah?" Pertanyaan mamah membuat Vino mendongakkan kepalanya menatap sang mamah.


"Mamah minta maaf kalau mamah belum bisa menjadi mamah yang baik untuk kamu, mamah belum bisa buat anak mamah ini menjadi anak yang bisa di banggakan keluarga, kegagalan kamu adalah kegagalan mamah nak, jika Vino belum jadi anak baik berarti mamah juga yang salah, mamah minta maaf ya"


"Mah.......nggak gitu, mamah adalah ibu yang baik buat Vino, Vino nakal bukan karena mamah" dibalik keras nya Vino, dia tidak pernah tega dengan mamahnya.


"Jangan ribut lagi sama papah dan nenek ya nak, Vino anak kesayangan mamah, sekeras apa Vino dan senakal apapun kamu Mamah sayang sama Vino, berusaha perbaiki lagi sikap kamu yang keras kemarin ya nak, mereka juga sayang sama kamu"


"Hhmmm"

__ADS_1


"Vino sayang sama mamah?"


"Kenapa tanya itu sich mah?"


"Kalau mamah minta sesuatu sama Vino, Vino mau mewujudkan buat mamah nak?" Tanya mamah dengan penuh harap.


"Mamah mau minta apa dari Vino?"


"Mamah mau kamu turuti permintaan nenek, semua yang kami lakukan untuk kebaikan kamu sayang" ucap mamah yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vino.


"Permintaan konyol itu?" Tanya Vino yang kembali marah karena perjodohan yang neneknya rencanakan.


"Iya nak, jika Vino sayang sama mamah Vino akan lakuin itu untuk mamah"


Vino yang kesal kemudian keluar menuju balkon meninggalkan mamahnya yang masih terduduk di sofa. Melihat itu mamah segera menghampiri anaknya.


"Vino nggak sayang sama mamah?"


"Harus banget Vino nunjukkin sayang Vino sama mamah dengan menerima perjodohan itu mah!" Tanya Vino menghadap ke mamah yang sudah menitikkan air mata.


Satu kelemahan Vino, melihat sang mamah menangis itu akan menggoyahkan hati Vino, dan Vino membenci air mata itu.


SSHHIIIT


Vino langsung menarik tubuh mamah dan memeluknya erat mencium kening mamah berulang kali.


"Jangan nangis mah, Vino nggak suka.....ok Vino akan turuti permintaan kalian asal mamah jangan sedih lagi" ucap Vino yang masih memeluk mamahnya, mendengar itu membuat mamah semakin menangis.


Anak nakalnya selalu mengedepankan perasaannya, dan itu yang selalu ia syukuri memiliki Vino, Vino begitu menyayangi dirinya.


"Surga untukmu nak" batin mamah.


Malam harinya Sifa yang sudah berbalut dress navy dengan panjang selutut dan lengan sebahu bermodel sabrina yang memamerkan leher jenjangnya tampak terlihat anggun. Ditambah lagi dengan rambut yang sengaja Sifa beri pemanis jepit di sebagian rambutnya yang ia kuncir sedikit kebelakang, dengan sisa rambut tebalnya ia biarkan tergerai indah, tak lupa polesan make up tipis sudah menghiasi wajah cantik dan imutnya.


"Sudah siap?" Tanya nenek yang melihat kaki Sifa yang berbalut high heels menuruni tangga.


"Sudah nek"


"Cantik nya cucu nenek, calon suami mu pasti suka nak"


"Sudah ayo nek, nanti telat loh" ucap Sifa mengalihkan ucapan nenek. Mereka berangkat menuju restoran yang sudah di rencanakan sebelumnya.


Sesampainya di sana nenek segera mengajak Sifa untuk masuk kedalam dan menuju ruangan VIP yang sudah dipersiapkan untuk acara tersebut. Langkah Sifa tampak ragu, tapi hatinya berusaha untuk menguatkan raganya agar terus melangkah, keputusan yang besar telah ia ambil, tidak mungkin ia akan mundur setelah rencana ini sudah di depan mata.


Nenek dan Sifa memasuki ruangan tersebut sesuai arahan pelayan.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


__ADS_2