Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Tertidur


__ADS_3

Sepulangnya dari kedai, kini Sifa dan Vino lekas membersihkan diri dikamar masing-masing, cukup lelah bagi Sifa hari ini. Dia memutuskan untuk berendam dan melemaskan segala ototnya.


Lelah pikiran selama tiga hari ini berdampak pada otot pundak dan punggungnya hingga terasa berat. Aroma vanila mampu merilekskan pikiran. Mata Sifa terpejam hingga tak terasa dia tertidur di dalam bathtub.


Vino yang sudah selesai terlebih dahulu segera kekamar sebelah yang di tempati oleh Sifa. Pandangannya menyapu ke seluruh sisi kamar Sifa, tetapi tak juga menemukan gadis itu.


"Sayang..."


Langkah Vino semakin masuk hingga berhenti di depan kamar mandi. Beberapa kali tangannya mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil sifa tetapi tak juga ada jawaban dari istrinya.


Kemudian dia mencoba membuka pintu tersebut yang ternyata tak terkunci.


"Sayang..." Vino memanggil lagi saat pintu sudah ia buka sedikit tapi nihil, Sifa tak kunjung menjawab.


"Sa....."


"Ya Allah sayang! kamu kenapa tidur di sini!"


Vino segera berlari mendekati, melihat Sifa yang tertidur dengan pulasnya membuat dirinya tak tega, tetapi jika melihat posisi tidurnya saat ini ia harus segera membangunkan.


"Sayang..." Vino menepuk pelan pipi Sifa hingga membuat istrinya menggeliat.


Vino menelan salivanya saat matanya melihat tubuh polos Sifa yang membuat bagian intinya berkedut. Dia baru sadar jika Sella masih dalam keadaan polos di dalam air.


"By, kamu ngapain?"


"Kamu yang ngapain sayang? apa kurang nyaman tidur di kasur yang sudah aku sediakan hingga membuat kamu tidur di sini!"


"Ikh apa sich by, mana ada begitu kamu ini, aku ketiduran by!"


Vino memajukan wajahnya hingga membuat Sifa gugup, dia belum sadar dengan keadaannya saat ini.


cup


Vino mencium pundaknya yang polos membuat Sifa membolakan matanya. Sontak Sifa menundukkan kepalanya melihat keadaannya saat ini.


"Hubby keluar!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Keluar by!" rengek Sifa menutupi dadanya dengan kedua belah tangannya.


"Kenapa sich sayang pake di tutupi segala, aku bahkan sudah pernah merasakannya, kangen tau sayang, udah tiga hari kita nggak Bobo bareng."


"Iya tapi kamu keluar dulu by, masalah bobo nanti di pikir lagi ya, aku mau mandi dulu nanti bisa keriput kulit aku kalo kelamaan di dalam air."


Vino yang merasa kasian akhirnya keluar dari kamar mandi tetapi sebelumnya ia mencium bibir Sifa dengan tangan nakal yang meremas benda kenyal yang tadi sempat di tutupi oleh istrinya.


"Vino.…."


"Nanti lagi ya sayang, cepat mandi aku tunggu kamu di luar, oke!" ucap Vino dengan sebelah mata yang berkedip.


Sifa memegang bagian tubuhnya yang di remas olah Vino tadi tetapi seketika kepalanya menggeleng, kemudian segera melanjutkan mandinya.


Selesai mandi Sifa segera keluar dari kamar, langkahnya pelan membuka lemari kemudian masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk memakainya.


Vino yang sedang sibuk dengan email yang masuk tak menyadari jika Sifa sempat keluar dan kini kembali lagi masuk kamar mandi. Pemuda itu menyadarkan kepalanya di headboard, dengan kedua kaki berselonjor di atas ranjang.


Setelah selesai Vino melirik pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka, membuat dirinya kembali turun dari ranjang dan melangkah untuk masuk kembali ke sana takut-takut Sifa tidur lagi.


"Sayang....." mata Vino berbinar melihat Sifa yang begitu sexy, dengan lingerie pemberian mamahnya Sifa sangat menggoda.


"Ough....sayang kamu..."


Vino segera menarik tubuh Sifa yang kini wajahnya memerah menahan malu, dengan kelakuan dirinya sendiri. Kini keduanya saling mengunci pandang dengan mata Vino yang sesekali menyapu tubuh Sifa dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kamu mau menggoda ku sayang, hhmm?"


"Aku....aku hanya ingin membahagiakan suami ku." Sifa menunduk malu, dia memang sudah merencanakan ini jauh hari, dia akan memberikan hak Vino setelah ujian selesai.


Rencana awalnya memang setelah lulus sekolah, tapi mengingat Vino yang begitu sabar menanti bahkan sudah jarang meminta lebih, akhirnya Sifa tak tega. Dia pun selalu memikirkan keinginan para orang tua yang meminta momongan, biarkan saja masalah kuliahnya, dia bisa cuti setahun jika memang segera di beri momongan. Ini juga bentuk baktinya pada Vino sebagai seorang istri dan ungkapan rasa cintanya selama ini.


"Kamu sudah mengijinkan?" tanya Vino dengan senyum yang mengembang dan dijawab sebuah anggukan oleh Sifa.


Vino langsung menyambar manisnya benda kenyal yang membuat candu. Setelah beberapa bulan penantiannya, sabar itu membuahkan hasil, tanpa di minta Sifa menyodorkan diri dan itu sangat membuat Vino bahagia.

__ADS_1


Mereka saling menyesap, tangan kanan Vino meraih pipi Sifa dan tangan yang kiri mulai menyusup ke tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. Kini keduanya saling membelit dengan langkah maju Vino terus membuat Sifa mundur hingga tubuhnya jatuh ke ranjang.


Vino yang mendominasi saat ini, dia mengikuti nalurinya sebagai lelaki untuk melakukan malam panas dengan sifa. Tubuhnya menindih sedikit tubuh Sifa dengan tangan menopang di atas ranjang, kecupan itu tak henti hingga kini turun menyusuri leher jenjang bersih putih yang terpampang nyata menggoda.


Sifa mulai melenguh merasa kegelian dan suara indah itu membuat Vino semakin bersemangat, tangannya semakin liar membuka lingerie yang Sifa pakai. Vino membuang lingerie itu setelah menciumnya sejenak membuat gelora semakin bergejolak.


Kini tangannya sudah meraih dua benda kenyal yang sangat pas di tangan.


Sifa kembali merasakan sengatan di tubuhnya saat Vino mulai berperan sebagai bayi yang sangat kehausan dengan tangan yang satu memainkan sebelahnya.


"Eugh..." Sifa semakin menekan kepala Vino. Keduanya semakin merasakan panas, hingga suara indah Sifa semakin terdengar.


Dengan posisi yang masih sama tangan Vino mulai nakal turun kebawah mencari titik di mana Sifa semakin menggeliat.


"Oug hubby...."


"Panggil namaku sayang!"


"Vino aku mau pipis....."


"Keluarkan sayang!"


Vino tersenyum saat jarinya mampu membuat Sifa mengerang dan sampai di titik puncak pertama. Vino memang sengaja, dia yang baru pertama melakukan ini tidak juga terus polos dalam memperlakukan wanita. Banyak media yang bisa ia baca, apa lagi saat ini dia sudah memiliki istri.


Sifa memejamkan matanya dengan dada naik turun, Vino melihat Sifa semakin bergairah, miliknya rasanya sudah menginginkan sentuhan itu, bahkan lebih.


Vino membuang baju dan celananya, kini keduanya polos dengan posisi Vino yang sudah kembali menindih Sifa. Sangat terasa mini anaconda yang sudah keras siap untuk menerobos lembah.


Keduanya kembali menyatukan benda kenyal yang begitu manis, hasrat sudah semakin menggebu, mata Vino berkabut gairah apa lagi melihat Sifa yang terlihat sangat sexy dengan suara indah yang sejak tadi mendayu di telinga.


"Sayang apa kamu sudah siap?"


"Lakukan by," lirih Sifa dengan kedua kaki yang sudah terbuka lebar.


"Tapi aku tak ingin buru-buru sayang, aku ingin kamu benar-benar siap."


Vino turun kebawah membuka kelopak milik Sifa yang sudah basah, lidahnya mulai menyapu putik bunga yang menggoda. Hingga getaran kembali terasa saat Vino mulai menyesap begitu dalam.

__ADS_1


"Aaaakkhh.......Vino!"


__ADS_2