
Aldi nampak gusar di dalam kelas, dia menanti kedatangan guru untuk melihat keadaan Sifa. Hatinya tak tenang apa lagi setelah melihat yang membawa Sifa ke UKS adalah Vino, orang yang akhir-akhir ini di gadang-gadang menjalin permusuhan dengan Sifa.
Rasa khawatir dan cemburu membara di hati Aldi, guru yang di tunggu tidak tampak memasuki kelasnya sejak tadi, membuat Aldi beranjak dan lekas mencari tau ke ruang guru. Guru piket hari itu berkata Bu Dewi tidak hadir karna anaknya yang mendadak masuk rumah sakit, dan beliau hanya menitipkan tugas.
Aldi segera mengetik pesan untuk dia kirim kepada wakil ketua kelas, untuk memberitahu kepada teman-temannya yang lain akan ketidakhadiran Bu Dewi dan tugas yang harus di kerjakan. Setelah mengirim pesan Aldi segera berlari menuju UKS, tapi ketika dia membuka pintu Aldi langsung berhadapan dengan mata elang dari Vino.
Rasa kekesalan di hati Aldi pada Vino tergambar dari sorot mata yang terlihat tajam.
"Sayang ayo......"
Suara itu memutuskan kontak mata keduanya, Aldi segera menghampiri Sifa. Dia sedih melihat wajah Sifa yang memucat dengan mata yang seperti panda, tangannya mulai membelai pipi Sifa dengan lembut.
" Kamu kenapa? Kenapa sampai pingsan begini...." ucap Aldi kemudian mengecup kening Sifa. Dan itu terlihat jelas dengan Vino yang saat itu menoleh sekilas sebelum melangkahkan kakinya, tapi ketika melihat itu kaki Vino seakan terhenti seketika, kemarahan dan rasa benci pada Sifa semakin menjadi, tangannya sudah terkepal kuat. Kemudian dia melangkah pergi dari sana dengan menarik tangan Nita.
Aldi menunggu Sifa yang masih terlelap, tangan Sifa yang terus di genggamnya seakan Aldi mencoba memberi kekuatan pada Sifa agar cepat sadar dan membuka matanya.
"Eeuuugghhhh" lenguhan Sifa membuat Aldi yang sedang memainkan ponselnya segera melihat kearah Sifa. Sifa mulai membuka matanya, ada kelegaan di hati Aldi melihat Sifa sudah sadar.
"Sifa.." panggil Aldi yang berada di samping Sifa. Gadis itu berusaha untuk bangkit dari tidurnya dan dengan cekatan Aldi segara membantu Sifa.
"Gimana keadaan kamu, masih ada yang sakit?"
"Nggak ada Al cuma masih sedikit lemes aja" ucap Sifa lirih.
" Ini minum dulu" ucap Aldi menyodorkan gelas yang berisi teh panas yang sudah menghangat buatan Aldi tadi.
Sifa melihat kesekitar, " UKS " batin Sifa.
"Siapa yang bawa aku kesini Al?" tanya Sifa menatap Aldi yang terlihat berbeda setelah Sifa bertanya siapa yang menolongnya.
" Vino yang bawa kamu kesini"
" Vino?" tanya Sifa yang masih tak percaya.
" Iya, pas aku berlari menghampiri kamu Vino yang lebih dulu menolong kamu, aku khawatir sama kamu Fa. Apa yang buat kamu sampai pingsan gini, mata kamu juga bengkak loh Fa"
" Nggak ada apa-apa kok Al, cuma kurang tidur aja" ucap Sifa mencoba memberi alasan palsu karena tidak mungkin dirinya jujur pada Aldi.
__ADS_1
"Al, aku mau ke kelas" pinta Sifa yang ingin beranjak untuk turun.
"Fa, kamu memang sudah kuat?" tanya Aldi memastikan keadaan Sifa.
"Aku udah nggak apa-apa Al, kamu tenang aja"
Akhirnya Sifa turun dari ranjang, kemudian merapikan seragamnya yang berantakan dan bersiap kembali kekelas untuk mengikuti pelajaran. Tapi seketika langkahnya terhenti, Sifa menoleh ke arah Aldi yang berada di sampingnya.
"Al, tadi aku mimpi kayak ada yang nyium aku tapi berasa banget, apa kamu udah lama nunggu aku di sini Al? Apa mungkin kamu liat siapa yang mencium kening aku?"
"Haaahh......" Aldi di buat kaku mendapat pertanyaan dari Sifa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia yang menciumnya, sudah pasti Sifa akan marah besar dengannya.
"Al..." seru Sifa membuyarkan lamunan Aldi.
"I...iya Fa?" ucapnya terbata.
"Kamu liat ada orang yang nyium aku apa nggak? Apa emang cuma mimpi?"
" Mungkin kamu mimpi kali Fa, dari tadi aku disini nggak ada orang lain lagi" ucap Aldi berbohong.
" Oh....atau jangan-jangan kamu yang nyium aku?" tanya Sifa memicingkan matanya menyelidiki Aldi.
"Hhhmmm ya udah" Sifa kembali melangkahkan kakinya lagi, ada rasa ragu akan ucapan Aldi tapi Sifa berusaha untuk bersikap biasa.
"Al kamu langsung ke kelas aja, aku bisa sendiri kok"
" Yang bener kamu, nanti kalau pingsan lagi gimana?"
" Doanya jelek banget, ya janganlah...ya udah aku duluan ya" ucap Sifa yang melangkah lurus saat di pertigaan koridor dan Aldi memutuskan untuk berbelok menuju kelasnya.
Sifa terus melangkah pelan menuju kelas, kondisi badannya sudah lumayan membaik setelah pingsan dan tertidur tadi. Ayunan langkah Sifa terhenti kala di sudut lorong dekat gudang ada sepasang sejoli yang sedang memadu kasih.
" Nggak tau tempat, bikin kotor mata gue aja ciuman kok di sekolah" gumam Sifa yang kemudian berlalu dari sana tapi suara desa**n si cewek membuat Sifa kembali menoleh dan begitu terkejutnya Sifa jika pelakunya adalah Vino dan Nita.
"Keterlaluan"
Vino sadar akan Sifa yang melihat pertunjukkan antara dia dan Nita, dan vino juga berhasil membuat Nita melenguh karna gigitannya yang membuat Sifa benar-benar menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Vino segera melepas ciumannya kemudian dengan sengaja menghapus bekas saliva yang masih tertinggal di bibir Nita.
"Kamu nakal Vino" rengek Nita yang masih terdengar di kuping Sifa saat Sifa sudah berbalik dan ingin melangkahkan kakinya.
"Menjijikan" gumam Sifa langsung mempercepat langkahnya.
Vino yang melihat Sifa menjauh kemudian melangkah meninggalkan Nita begitu saja.
" Sayang kamu mau kemana?"
"Bukan urusan loe.."
"Ayo kita kekelas Vin" rengek Nita yang sudah berhasil menggandeng lengan Vino.
"Gue mau ke toilet, mau ikut loe? Balik Sono kekelas....." Ucap Vino kemudian melenggang meninggalkan Nita yang masih kebingungan dengan sikap Vino.
"Tadi dia yang narik gue tiba-tiba terus nyerang gue, kenapa sekarang main pergi gitu aja, kasar banget lagi" gumam Nita yang masih menatap punggung Vino yang semakin menjauh.
Sepanjang perjalanan Sifa merutuki nasibnya yang harus menikah dengan Vino, melihat Vino dan Nita tadi membuat Sifa semakin tidak yakin akan rumah tangganya nanti.
" Gue nggak ada rasa sama dia, tapi gue nggak mau munafik jika karna sering bertemu membuat kelak rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya, tapi gimana kalau kelakuan dia yang seperti itu, bisa mati berdiri gue kalau tiap hari nyaksiin begituan. Kenapa sich harus dia ya Allah........perasaan cowok tuh banyak loh" keluh Sifa.
Sifa yang sudah memasuki kelas segera mengikuti pelajaran tanpa menjawab segala pertanyaan yang terlontar dari kedua sahabatnya, Sifa berusaha untuk fokus agar mampu melupakan kerumitan yang terjadi dalam hidupnya. Sampai jam istirahat berbunyi kedua sahabat Sifa mencubit kedua pipi sifa.
"Aaauuuuwwww sssstttttt sakit kalian nich apa-apaan sich" ucap Sifa dengan mengusap kedua pipinya.
" Loe yang apa-apaan dari tadi gue tanyain nggak dijawab" oceh Meri yang kesal.
"Tau loe fa, sampe pegel mulut gue manggil-manggilin loe dari tadi mending kalau bisa teriak sekalian, ini gue harus bisik-bisik manggilnya" sewot Nisa.
"Lagian kalian nich ngapain sich bukan fokus belajar malah ngoceh mulu kayak beo" ucap Sifa yang membuat keduanya mendelik.
"Apa kata loe beo? Masih mending gue beo di sayang-sayang sama juragannya, la loe dah kayak panda untung badan loe kecil, kalo bulet dah gue gelundungin loe" sewot Meri yang geregetan dengan Sifa.
"Ikh kok loe body shaming nggak boleh Meri" ucap Sifa polos yang malah ditanggapi oleh Nisa yang sejak tadi juga gemas dengan Sifa.
"Elo yang mulai sifaaaaaaaa" seru Nisa.
__ADS_1
"Udah ayo akh....berdebat mulu laper gue lagian nggak pada haus apa kalian ngoceh mulu" ucap Sifa berlari meninggalkan Nisa dan Meri.
" SIFAAAAAAAA"