
Sifa berjalan melewati setiap lorong kelas, langkahnya penuh tetapi hatinya serasa tak utuh. Sifa belum mengerti dengan perasaannya saat ini pada Vino, yang dia tau dia sangat membenci sikap Vino tetapi ntah bagaimana dengan orangnya.
Banyak pasang mata yang melihat Sifa dengan tatapan yang berbeda, hingga tak jarang ada yang menatapnya tidak suka bahkan seperti membenci khusunya para siswi rempong dan julid.
Hingga langkah Sifa terhenti dengan adanya Nita yang sudah berdiri di hadapannya.
"Cih lepas Hoodie yang loe pakai!" ucap Nita membuat Sifa sadar arti tatapan semua murid termasuk Nita saat ini. Gadis itu melupakan Hoodie yang ia pakai padahal sebelumnya sudah sempat mendapat teguran dari Aldi tapi ntah karena nyaman ia jadi melupakan hal ini.
"Apa urusannya sama loe? apa ini Hoodie loe?" tanya Sifa balik.
"Loe pikir gue bodoh? bahkan gue tau kalo itu milik Vino. Sekarang balikin Hoodie itu ke gue!"
"Apa hak loe?" Sifa benar-benar sudah jengah dengan sikap pacar dari suaminya ini.
"Vino pacar gue kalo loe lupa!" bentak Nita yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Terus loe pikir cuma dia yang punya?"
"Apa loe nggak tau kalo Hoodie ini limited edition dan hanya ada satu di Indonesia, jadi gue yakin ini milik Vino. Sekarang loe buka dan kasih ke gue!"
Ucapan Nita kembali menyadarkan Sifa jika memang benar apa yang dikatakannya jika ini hanya ada satu di Indonesia.
"Kalo ini memang milik Vino terus loe mau apa?" tanya Sifa balik.
"Dasar cewek murahan! gue udah bilang jangan pernah deketin cowok gue!" bentak Sifa.
"Bagaimana jika cowok loe yang deketin gue, hhm?"
"Brengsek loe bener-bener nantangin gue?" bentak Nita yang sudah ingin menyerang Nita tetapi secepat mungkin Rian dan Geri yang melintas menuju kelas langsung berlari menarik Nita yang sudah ingin menjambak rambut Sifa.
"Nita loe nggak usah nyari ribut ya pagi-pagi!" ucap Rian yang sudah mencekal tangan Nita.
"Tau, loe nggak usah bar-bar dech Nit! sewot Geri. Kedua teman Vino sekarang lebih membela dan menjaga Sifa setelah tau posisi Sifa dan hubungannya dengan Vino. Apa lagi ucapan mamah Vino yang berpesan untuk menjaga Sifa selama Vino sakit.
"Lepasin! kenapa kalian jadi belain cewek murahan itu!" bentak Nita yang kesal dengan kedua sahabat Vino.
"Karna loe yang awalnya bikin ulah!" sewot Rian.
"Gue nggak terima dia pake Hoodie milik Vino, dasar cewek murahan!" Ucapan Nita membuat Rian dan Geri melirik kearah Sifa, dan memang benar jika Sifa memakai Hoodie Vino.
__ADS_1
"Tapi cewek murahan ini yang justru nantinya bisa memenangkan hati cowok loe!" ucap Sifa yang semakin membuat Nita emosi.
Kemudian Sifa pergi dari sana karena bell sekolah segera berbunyi.
"Jangan kabur loe, gue belum selesai!" teriak Nita yang melihat Sifa semakin menjauh.
"Jangan bar-bar jadi cewek!" sindir Rian dan Geri kemudian pergi meninggalkan Nita yang masih kesal.
Sifa berjalan memasuki kelas, lagi-lagi dia mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya yang sudah gatal ingin meluapkan keingintahuannya setelah melihat Hoodie milik Vino yang melekat di tubuh Sifa.
"Sejak kapan Fa?" tanya Nisa memicingkan matanya.
"Ini jadinya berujung cinta Fa?" tanya Meri yang sudah berpindah tempat dengan menarik kursinya di samping kursi Sifa.
Sifa dengan santai membuka Hoodie milik Vino dan melipatnya dengan rapi.
"Beeehhhh wanginya khas banget lagi Nis!" celetuk Meri yang mencium wangi Hoodie milik Vino tersebut.
"Kalian masih pengan kepoin gue?" tanya Sifa santai saat guru sudah memasuki kelas.
Meri dan Nisa yang melihat guru tersebut langsung kembali ke posisi semula meninggalkan Sifa yang cekikikan melihat wajah kesal kedua sahabatnya.
"Loe nggak akan kita biarin gitu aja Fa!" sewot Nisa yang hanya di tanggapi santai oleh Sifa, bahkan seakan cuek yang membuat kedua sahabatnya ingin berteriak kesal.
" Bu guru mau memberikan kabar duka dari salah satu sahabat kalian yang mengalami kecelakaan tunggal kemarin malam, dia adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini dan pasti kalian semua mengenalinya, akibat kecelakaan itu hingga kini Vino Putra Baratajaya belum sadarkan diri. Dan saya mengajak kalian semua untuk bersama-sama mendoakan kesembuhan teman kalian yang masih berbaring lemah di rumah sakit," ucap Bu guru sebelum keluar dari kelas karena bell istirahat sudah berbunyi.
Semua murid di kelas Sifa langsung ramai membicarakan Vino, tak ketinggalan kedua sahabat Sifa pun sudah kembali ke mode keponya, mereka curiga hal ini ada kaitannya dengan Sifa karena melihat Hoodie yang Sifa gunakan.
"Fa!"
"Nggak disini kalo mau dengerin gue cerita!" ucap Sifa meninggalkan kelas dan berjalan menuju taman belakang yang langsung diikuti oleh kedua temannya.
Ketika berjalan menuju taman, Sifa bertemu dengan Rian dan Geri yang kebetulan ingin pergi menuju basecamp mereka.
"Sifa!" panggi Rian menghentikan langkah Sifa dan kedua temannya.
"Kenapa? oh iya thanks udah nolong gue dari amukan Nita tadi," ucap Sifa ramah.
"Iya sama-sama, gimana keadaannya Vino?" tanya Rian yang membuat kedua teman Sifa semakin penasaran.
__ADS_1
"Keadaannya masih sama, doain aja semoga cepat sadar!"
"Loe yang sabar ya Fa!" sahut Geri.
"Makasih ya, ya udah gue mau ke taman belakang dulu, kedua temen gue udah mangap-mangap tuh saking pengen taunya."
"Di basecamp aja Fa kalo mau jelasin ke mereka lebih aman, nanti gue sama Geri istirahat di roof top aja," saran Rian yang mengerti jika Sifa butuh tempat privasi dan tidak ingin jika ada yang menguping tanpa sepengetahuan mereka.
"Boleh?"
" Boleh lah Fa, lagian juga punya laki loe!" sahut Geri.
"Ya udah thanks ya, kalian ternyata orang baik!"
"Dia juga baik Fa kalo loe udah tau siapa dia sebenarnya." Ucapan Rian membuat Sifa tercengang dan memikirkan maksud dari perkataannya.
Hingga suara kedua temannya membuyarkan pikiran Sifa, Sifa melirik kearah Rian dan Geri yang sudah berjalan menjauh kemudian menoleh ke arah kedua sahabatnya.
"Ayo ikut gue," ajak Sifa.
Mereka mengikuti langkah Sifa menuju ruangan pribadi Vino, sampai disana nisa dan Meri di buat menganga melihat isi dari ruangan yang terlihat kumuh dari luar tapi tampak bersih, mewah dan nyaman di dalamnya.
"Loe udah pernah kesini Fa?" tanya Nisa yang kemudian menyusul Sifa yang sudah duduk di sofa.
Wajah Sifa berubah sendu saat memasuki ruangan ini, gadis itu kembali teringat dengan kata-kata Vino yang waktu itu membuatnya sakit hati.
"Fa!"
"Eh iya, kenapa?"
"Ini ruangan siapa? siapa yang dimaksud Rian dan Geri tadi?" tanya Meri dengan mode serius.
" Ini basecamp mereka, ruangan pribadi Vino,"
"Kalian?"
"Iya, sesuai pikiran kalian berdua gue dan Vino memang ada hubungan," jawab Sifa membuat Nisa dan Meri semakin di buat penasaran.
"Hubungan apa maksud loe? setau gue loe benci banget sama dia Fa dan gue pikir juga loe sukanya sama Aldi tapi kenapa malah sekarang memiliki hubungan sama Vino? tanya Nisa yang sudah gatal ingin segera mengetahui apa sebenarnya yang di tutupi oleh sahabatnya ini.
__ADS_1
"Karena Vino..." Sifa menghentikan ucapannya kemudian menarik nafas dalam untuk melanjutkannya kembali.
"Vino suami gue."