Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Maaf


__ADS_3

Malam ini Sifa dan Vino masih terjaga dengan posisi yang sama, sejak tadi mata keduanya saling terkunci dengan mulut yang terdiam.


Jantung keduanya bahkan sibuk dengan debaran yang semakin membuat desiran darah di tubuh meningkat. Cinta itu nyata telah hadir di hati keduanya tetapi masih menjadi bayangan kala mulut tak kunjung terbuka.


"Sampai kapan masih diam disitu?" tanya Vino dengan wajah dingin dan sorot mata yang tajam.


Mendengar pertanyaan itu Sifa segera beranjak dari kursinya menuju sofa, "mungkin kehadiran gue emang nggak loe harapkan Vin," batin Sifa. Tetapi saat yang bersamaan tangan Vino menarik tangan Sifa sehingga membuat gadis itu jatuh tepat di pelukan Vino. Sifa yang sadar akan posisinya segera berusaha untuk bangun tetapi sebelah tangan Vino menahan pinggang Sifa agar gadis itu tidak bisa melepaskan diri.


"Apa kurang jelas yang gue bilang tadi, gue sedih ketika istri gue nggak merindukan gue, apa gue harus ngenalin ke loe siapa istri gue?" lirih Vino tepat di telinga Sifa yang membuat hatinya mampu merasakan getaran yang tak pernah ada sebelumnya.


Sifa mencoba mendongakkan wajahnya menatap Vino yang sejak tadi kedua matanya tidak beralih sedikitpun dari Sifa. Sifa menatap Vino, mencari kebohongan di sana yang ternyata tidak ia temukan hingga pukulan dari Sifa di dada Vino membuat pemuda itu meringis.


"Auwwhhh sakit Fa, kok loe mukul sich!"


"Kenalin gue istri Vino yang nyebelin!" sungut Sifa dengan bibir yang sudah mengerucut.


cup


"Biasa aja bibirnya!"


Sifa terdiam saat Vino dengan sengaja mengecup bibirnya, hingga kecupan yang bertubi-tubi dari Vino karena melihat wajah polos Sifa yang membuatnya gemas.


"Ikh kok loe nyium-nyium gue sich, lepas akh! menang banyak tau nggak loe!" sewot Sifa, padahal pipinya sudah memerah dan itu dapat Vino lihat dengan jelas.


"Mau kemana?"


"Lepas Vino, loe kebiasaan dech curi-curi kesempatan! gue masih kesel sama loe!" Sifa berusaha melepaskan pelukan Vino.


"Tinggal bilang cemburu aja susah banget sich loe!" ucap Vino kemudian melepas Sifa.


"Dasar nggak peka!" sengit Sifa kemudian beranjak menuju sofa dan merebahkan tubuhnya disana.


Sifa yang lelah tidak membutuhkan waktu lama langsung terlelap dalam mimpi, berbeda dengan Vino yang sedang berjuang untuk turun dari ranjang dan berusaha berjalan menuju sofa tempat Sifa tertidur.


Vino menyeret tiang infus dan berusaha berjalan menuju Sifa, tubuhnya yang kaku dan kepala yang masih sedikit sakit membuat Vino kerap kali meringis.


"Dekat banget padahal, tapi berasa lama banget nyampenya..sstttt....kuat loe Vin, jangan jadi cowok lemah!" gumam Vino.

__ADS_1


"Akh dikit lagi," selimut ditangannya terjatuh saat tidak sengaja tersangkut di kaki ranjang yang membuat Vino kesusahan untuk mengambilnya, Vino mencoba membungkukkan badan tetapi kepalanya berdenyut hebat.


" SSHHIIITT "


"Gue nggak suka lemah begini!"


"Aakkhh....." menahan sakit pemuda itu berhasil mengambil selimut yang terjatuh dan kembali melangkah menuju istrinya.


Sesampainya Vino di samping sofa tempat Sifa tidur, pemuda itu berusaha memakaikan selimut yang ia bawa.


Pergerakan Vino membuat Sifa kembali membuka mata dan terkejut dengan Vino yang sudah berada di hadapannya.


"Vin," panggil Sifa yang sempat menoleh ke ranjang Vino dan kembali melihat Vino yang masih tertunduk di hadapannya dengan tangan memegang ujung sofa.


Sifa berusaha bangun dan membantu Vino untuk duduk di sampingnya. Gadis itu melirik selimut yang menempel di tubuhnya lalu menatap Vino yang sejak tadi masih terdiam.


"Kenapa maksain banget kondisi loe kan masih lemah Vin, pasti sulit banget ya sampe sini?" Sifa melihat butiran keringat di kening Vino yang mulai turun membasahi pipi.


"Sini!" gadis itu mengambil tisu untuk mengelap keringat Vino, kemudian meraih gelas minum yang berisi air untuk Vino minum.


"Makasih!" ucap Vino yang membuat Sifa segera melirik, ucapan terimakasih yang baru pertama kali Sifa dengar.


" Ternyata loe bisa bilang makasih juga Vin," batin Sifa.


"Nggak usah ngatain gue! Kalo nggak suka bilang aja Fa!"


"Ikh apa sich, nggak ada ya jangan sewot begitu bapak nanti cepat tua!" celetuk Sifa dengan mata yang menyipit.


"Udah larut ayo gue bantu balik ke ranjang," ucap Sifa yang segera berdiri dan membantu Vino untuk kembali ke ranjangnya.


"Duduk sini dulu gue masih capek." Vino merubah posisi agar lebih nyaman. Di susul Sifa yang kembali duduk di sebelahnya, Vino melihat Hoodie nya yang tergeletak di samping tas Sifa.


"Loe pakai Hoodie gue?" tanya Vino kemudian pandangannya kembali ke gadis yang tertunduk takut.


"Iya Vin, maaf ya jangan marah nanti gue cuci Hoodie mahal loe itu!" ucap Sella dengan tatapan ketakutan. Vino tidak menjawab, pemuda itu terus menatap sifa dengan segala pikirannya.


"Pakai aja kalo loe nyaman, gue nggak keberatan!"

__ADS_1


"Tapi dengan gue pakai barang milik loe gue di maki sama Nita dan mendapat tatapan tajam dari para fans loe! untung ada Rian dan Geri yang bantuin gue lepas dari Nita," ucap Sifa dengan menundukkan kepala.


"Maaf," Vino menggenggam tangan Sifa " gue bakal putusin Nita,"


"Maksudnya?" tanya Sifa yang segera menoleh ke arah Vino.


"Gue mau jadi suami yang baik buat loe!" Vino mencium tangan Sifa dan kembali menatapnya.


"Masih ada kesempatan buat gue perbaiki semuanya?" tanya Vino yang membuat hati Sifa berdesir.


"Gimana hhmm?" lirih Vino yang menatap dalam Sifa dengan sekali anggukan dari Sifa membuat Vino melengkungkan bibirnya, pemuda itu menarik tubuh Sifa kedalam pelukannya.


"Makasih Fa!" Vino mengeratkan pelukannya dengan air mata Sifa yang sudah mengalir membasahi pundak Vino dan itu dapat Vino rasakan.


Vino merenggangkan pelukannya, dia menatap mata sendu Sifa dengan air mata yang membasahi, tangannya terulur mengusap air mata Sifa.


"Maafin sikap gue selama ini yang udah nyakitin loe dan makasih udah mau nerima gue jadi suami loe! please hilangin rasa benci loe sama gue!"


"Gue nggak pernah benci sama loe, gue cuma kesel aja kok, loe terlalu jahat buat gue!" ucap Sifa dengan muka polosnya menahan tangis yang membuat Vino gemas.


"Jadi udah maafin gue sekarang?"


"Hmm....tapi masih ada keselnya," ucap Sifa dengan muka yang di tekuk.


"Kesel kenapa lagi? ada yang salah sama gue?"


"Kesel kenapa harus nunggu kecelakaan dulu baru berubah baik sama gue? tau gitu dari kemarin gue jedotin aja pala loe biar cepet berubah."


pletak


"Auwwhhh sakit, kok loe kdrt sich baru gue maafin udah kasar lagi! sungut Sifa.


"Makanya kalo ngomong itu di saring dulu!" kemudian Vino merentangkan tangannya meminta Sifa untuk masuk kedalam pelukannya.


"Udah jam satu, ayo tidur besok loe masuk kan!" ucap Vino yang sudah memeluk Sifa.


"Nggak balik ke ranjang? gue bantuin yuk!" Sifa segera melepas pelukan Vino dan memposisikan dirinya agar lebih mudah membantu Vino untuk berdiri.

__ADS_1


"Mau tidur sama loe boleh?"


"Haaaahhh!"


__ADS_2