
Sejak tadi Sifa dan Meri sibuk memperhatikan mulut Nisa yang terus komat-kamit bagai dukun yang sedang baca mantra. Nisa kesal karena jeweran gurunya tadi membuat Nisa malu dan kupingnya memerah sebelah.
"Loe nggak capek?" tanya Meri yang mulai jengah dengan Nisa.
"Butuh minum?" sambung Sifa mengeluarkan botol minumnya pada Nisa, kemudian segera di sambar oleh Nisa dan meminumnya hingga habis tak bersisa.
"Makanya jangan ngoceh mulu, haus kan loe!" ketus Meri.
Ngobrolnya kan berdua kenapa gue doang coba yang di hukum?"
"Bu guru juga tau kalo loe yang mulai....."
Sifa dan Meri segera beranjak keluar kelas lalu segera di ikuti oleh Nisa.
Mereka bertiga segera menuju parkiran untuk bergegas pulang karena cuaca cukup mendung.
"Loe balik bareng gue aja Fa, mendung banget nich ntar loe keujanan sakit lagi," ucap Nisa sambil melihat langit yang sudah berangsur menghitam.
"Nanti gue menjelma jadi Valentino Rossa biar cepet nyampe apartemen!"
"Yang ada ntar loe malah nyanyi bukannya pulang!" celetuk Meri.
"Itu Rossa penyanyi bege!" Nisa menoyor kepala Meri.
"Aduh....sakit tau," keluh Meri.
Sifa hanya menggelengkan kepala saat melihat kelakuan kedua sahabatnya, kemudian langkahnya terhenti saat Aldi yang menghalangi jalannya dengan memberikan sesuatu yang ia yakini adalah jas hujan.
"Pakai! loe nggak bisa kena hujan dan karena gue tau diri siapa loe sekarang, jadi gue lebih baik kasih loe ini dari pada harus adu jotos sama laki loe karena maksa loe buat pulang sama gue!"
Sifa melihat ada ketulusan di mata Aldi yang membuat Sifa tak tega jika menolak, tetapi saat tangannya terulur ingin mengambil jas hujan tersebut seketika ada tangan yang menarik jemarinya.
"Sifa nggak butuh itu, dia bisa pulang sama gue!" ucap Vino dengan nada dingin.
"Vin......"
"Sayang, kamu ada aku, jadi nggak perlu ini oke!"
"Tapi Vin....."
"Ssssttttt..." Vino mengarahkan satu jarinya di bibir Sifa kemudian mengecup bibir itu di depan Aldi dan kedua sahabat Sifa.
"Mata gue Mer!"
"Sama, mata gue juga Nis, aduh tapi enak kayaknya.....auw sakit!"
"Otak loe yang sakit!" ucap Nisa setelah memukul tangan Meri.
__ADS_1
Aldi di buat geram dengan itu, dia memalingkan wajahnya yang sudah merah menahan amarah.
"Baru segini aja loe udah nggak mau liat, gimana gue sama Sifa yang liat loe asyik banget me.***** bibir Marta?" lirih Vino yang membuat Sifa dan Aldi melebarkan matanya.
Pandangan Aldi langsung mengarah ke Sifa seperti mencari kebenaran dari ucapan Vino. Tetapi cukup membuat Vino kesal dan menarik pinggul Sifa agar lebih dekat dengannya.
"Iya Al...."
Aldi mengusap kasar wajahnya, pantas saja tempo hari Vino dan Sifa memandangnya beda saat dia datang berdua dengan Marta dan kata-kata Vino yang sampai sekarang membuatnya berpikir keras dengan apa yang sebenarnya Vino ketahui tentangnya.
"Enak ya, sampe panas banget, bini gue aja sampe minta loh!"
Sifa mendelik dengan bibir menganga dengan kata-kata yang Vino ucapkan.
"Jangan kaget gitu sayang! bahkan kita bisa seperti yang mereka lakukan di dalam sana!"
"Vino!"
Aldi menggelengkan kepala mendengar ucapan Vino, kemudian kembali melirik Sifa dengan tatapan bersalah.
"Nggak usah nyari simpati bini gue!" ketus Vino.
Sifa yang mengerti situasinya sudah tidak memungkinkan segera menarik lengan Vino dan membawanya segera masuk mobil.
"Mereka pada ngomongin apa sich Nis?"
"Tuh si Aldi juga kenapa mukanya jadi merah gitu? cemburu kali ya liat Sifa di cium sama Vino!" ucap Meri lagi.
"Udah akh ayo balik, lanjutin dirumah lagi mikirnya, keburu hujan!"
Sepanjang perjalanan tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, keduanya hanya diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Ada rasa kesal di hati Sifa karena sikap Vino yang ia anggap bar-bar.
Tetapi bagi Vino ia berhak mempertegas hubungan mereka dan sesekali mengingatkan agar Aldi tidak terus memberikan perhatian dengan istrinya.
Sampai di dalam apartemen pun mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Hingga malam tiba, Sifa yang sejak kemarin jadwal makannya sangat buruk membuat perutnya kini begitu sakit.
"Auw......ssstttt aduh kayaknya asam lambung naik nich," gumam Sifa kemudian berjalan menuju laci untuk mencari obat yang selalu ia sediakan karena dirinya yang memang memiliki riwayat penyakit lambung.
"Kamu minum apa?"
Suara Vino yang tiba-tiba terdengar membuat Sifa terkejut hingga obat yang ia pegang terjatuh kelantai.
Vino mengambil obat yang terjatuh tepat di kakinya dan meraih botol obat di atas laci. Setelah membaca obat tersebut Vino melirik Sifa yang hanya diam menahan perih di perutnya.
Vino segera keluar dari kamar setelah meletakkan kembali obat milik Sifa di atas laci, Sifa yang sudah sangat kesakitan tidak menghiraukan apa yang akan Vino lakukan, yang terpenting sekarang dia segera menelan obat tersebut kemudian memesan makan agar perutnya segera terisi.
Setelah meminum obat Sifa segera berbaring di atas ranjang dan meraih ponselnya, belum sempat dia memesan makanan, Vino sudah masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi nasi sayur serta ikan untuk ia makan.
__ADS_1
"Ayo bangun, ini aku udah beliin makanan, aku suapin ya!"
"Kamu beli?"
"Hhmm.....ayo buka mulutnya sayang!" Sifa menerima setiap suapan dari Vino, sesekali Vino ikut makan karena Sifa yang terus memaksa.
"Kenyang by," rengek Sifa karena Vino yang terus menyuapi dirinya.
"Sekali lagi sayang!"
"Nggak mau!" Sifa menutup mulutnya dengan bantal membuat Vino menyerah.
"Ya udah, aku bawa keluar piring kotornya dulu ya, ini buahnya di makan biar nggak enek sayang," Vino memberikan potongan buah apel pada Sifa.
Vino kembali ke kamar yang Sifa tempati dan memintanya untuk tidur bersamanya di kamar utama tetapi di tolak oleh sifa.
"Kenapa sich yang?"
"Bobo sini aja yang penting kan berdua sama aku," jawab Sifa.
"Tapi maunya di sana," ucap Vino kekeh.
"Aku lagi males pindah Vin, dah pw banget....."
"Vino!" seru Sifa, dengan sekali hentakan Vino mengangkat tubuh Sifa kemudian membawanya pindah ke kamar utama.
Vino tersenyum penuh kemenangan setelah membawa Sifa pindah ke kamarnya, kemudian dengan gerakan cepat masuk ke selimut yang sama.
"Ikh gercep banget dech kalo urusan tidur," sindir Sifa yang sudah tau jalan pikiran Vino.
"Tuh istri aku pinter, wajib sayang dan nggak boleh nolak oke!"
"Lagian gimana cara nolaknya kalo udah sampe sini?" tanya Sifa dengan bibir mengerucut.
Vino tertawa setelah berhasil membuat istrinya kesal. Dengan gerakan cepat bahkan Vino sudah membuka baju Sifa dan memeluk erat tubuhnya dengan bibir yang sudah menempel di dada istrinya.
"Eugh........" suara yang di rindukan oleh Vino mulai terdengar di telinga semakin membuat dirinya bersemangat.
Hisapan yang semakin kuat dengan nafas memburu membuat Sifa merasakan udara hangat menyapu dadanya. Dengan sensasi wangi mint yang keluar dari mulut Vino membuatnya semakin nyaman.
"Hubby...."
"Hhmmm...." Vino mendongakkan kepalanya, berhenti sebentar untuk mendengarkan kelanjutan dari ucapan istrinya.
"Jangan melebihi batas by....." lirih Sifa menahan rasa yang bergejolak.
"Aku nggak janji sayang....." ucap Vino dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
"Akkkkhhhh......."