
PLAK
Sifa menampar vino dengan seluruh tenaganya sampai pipi Vino memerah, bukan hanya bibirnya yang terluka tapi hatinya pun begitu perih.
"sakit"
Setelah menampar Vino tubuh Sifa luruh kelantai, Vino meringis memegang pipinya ada rasa sesal yang tertutup oleh amarah di hati.
Tapi melihat Sifa yang sudah terduduk di lantai dengan air mata yang menetes membuat Vino segera mendekati, sesak saat melihat Sifa dengan keadaan berantakan seperti ini. Sifa tertunduk dengan Isak tangis yang tak kunjung reda membuat Vino meraih tubuh gadis itu dan membawa Sifa kedalam pelukannya.
Di pelukan Vino gadis itu semakin terisak, dia sadar Vino berhak atas dirinya tapi bukan begini caranya. Sifa seakan di lecehkan oleh suaminya sendiri.
"sorry" ucap Vino di telinga Sifa.
Kemudian dengan tenaga yang masih tersisa Sifa mendorong tubuh Vino hingga terjungkal kebelakang dan dia segera berlari keluar.
Rian dan Geri yang berada di luar terkejut dengan penampilan Sifa yang berantakan dan bibir yang terluka, Sifa sempat berhenti sebentar saat melihat kedua sahabat Vino. Kemudian berlari kembali kearah toilet, setelah Sifa tak terlihat lagi kemudian keduanya di kejutkan dengan Vino yang sama berantakannya dengan Sifa dengan baju seragam yang sudah keluar dan pipi yang masih memerah.
" loe kenapa Vin?" tanya Rian tetapi tidak dapat jawaban apa-apa dari Vino, pemuda itu segera beranjak menuju basecamp tempat mereka berkumpul. Sesampainya di sana Vino segera berlari menuju samsak dan meninju dengan membabi buta.
Rian dan Geri yang mengikuti hanya bisa memperhatikan Vino, Rian melihat ada yang janggal antara hubungan Sifa dan Vino. Vino yang tidak pernah semarah ini dengan perempuan tapi karena seorang Sifa mampu membuat emosinya meledak-ledak.
Sedangkan Sifa yang sudah di dalam toilet sedang menangis di depan cermin, melihat sungguh berantakannya dia dengan bibir yang bengkak dan terluka.
"salah gue apa Vin...loe tega sekasar ini sama gue,jahat loe Vin!" gumam Sifa.
Sifa segera mencuci muka dan merapikan penampilannya kembali, tidak mungkin dia akan terus berlama-lama di toilet sedangkan jam istirahat sudah dimulai. Dengan langkah gamang dan kepala yang menunduk Sifa berjalan menuju kelas, berusaha menghindar dari semua tatapan mata sekelilingnya. Aldi yang melihat Sifa dari ambang pintu kelasnya segera berlari mengejar Sifa.
"Fa...." panggilan yang sangat Sifa kenal membuatnya memejamkan mata dan menghentikan langkahnya tapi tak berselang lama, Sifa segera berjalan kembali menghindari orang tersebut.
"Sifa !" panggilan kedua beserta tepukan di bahunya membuat Sifa tak bisa menghindari.
"Fa .....kamu kenapa kok kayak nggak mau lihat aku gitu?"
"Fa...hey.." panggil Aldi lagi dengan menarik pundak Sifa agar menghadapnya dan Aldi mengernyitkan dahinya saat melihat Sifa yang semakin tertunduk.
"Fa...." panggilan itu tak mampu membuat Sifa mendongakkan kepala.
" kamu kenapa?"
"gue ke kelas dulu Al" ucapnya langsung berbalik dan melangkah menuju kelas, tapi tak semudah itu untuk sifa Aldi mengejar dan menarik tangan Sifa.
"Sifa kamu kenapa?"
"lepas Al......gue mau ke kelas!" bentak Sifa.
"jawab dulu kamu kenapa?"
Sifa kesal karena Aldi terus menghalangi jalannya yang membuat sebagian murid memperhatikan dirinya, karena itu Sifa segera menepis kasar tangan Aldi.
__ADS_1
"sorry Al"
Sifa berlari menuju kelas meninggalkan Aldi yang masih berdiri heran dengan perubahan sikap Sifa padanya. Sesampainya di kelas Sifa segera masuk dan duduk dengan menelusupkan kepalanya di atas meja.
Kedua sahabatnya yang ingin bersiap menuju kantin pun di buat terkejut dan bertanya ada apa dengan Sifa. Mereka bahkan mengira dengan tidak kembalinya Sifa tadi ke kelas itu di karenakan persiapan untuk olimpiade matematika beberapa Minggu lagi.
"Mer?" Nisa memanggil Meri tapi Meri hanya mengangkat kedua pundaknya.
" Fa....." panggilan dari Nisa tak membuat Sifa mau mengangkat kepalanya.
"Sifa....loe kenapa?" tanya Meri yang masih belum ada jawaban dari Sifa.
Sampai jam pelajaran kembali berlangsung dan bel pulang sekolahpun sudah berbunyi gadis itu masih tampak anteng dengan mode diamnya. Apa lagi muka yang sembab dan bibir dengan luka yang membengkak membuat kedua sahabatnya sangat penasaran.
"Fa.....loe kenapa?" tanya Nisa yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Sifa yang tiba-tiba berubah.
" gue nggak apa-apa"
"nggak ada jawaban lain?"
" gue nggak apa-apa Nis, gue mau balik" ucap Sifa kemudian di beranjak dari tempat duduknya.
"loe udah nggak menganggap kita lagi Fa" suara bariton dari Nisa membuat langkah Sifa terhenti.
Ada rasa bersalah di hati Sifa kepada kedua sahabatnya, tapi untuk saat ini Sifa belum siap berbagi cerita kepada mereka. Sifa belum siap ada yang tau tentang hubungannya dengan Vino.
"sorry, belum saatnya gue cerita, tapi kalian berdua nggak usah khawatir gue baik-baik aja" ucap Sifa tanpa menoleh dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tujuannya kali ini bukan apartemen Vino bukan juga rumah almarhum orang tuanya apa lagi kost yang ia tinggalkan beberapa hari ini.
" neng ini alamatnya bener?"
" iya pak, sesuai yang di aplikasi aja pak" seru Sifa yang duduk di belakang Abang ojek onlinetersebut.
Sama halnya dengan vino, pemuda itu pun segera beranjak meninggalkan sekolah tanpa menghiraukan panggilan kedua sahabatnya.
" berat banget kayaknya......"ucap Geri memandang punggung Vino yang semakin menjauh.
" gue juga belum paham" ucap Rian pada Geri, tetapi di dalam hati Rian dia harus menyelidiki hubungan antara Sifa dan Vino.
Vino melajukan mobilnya secepat mungkin menuju apartemen miliknya, setelah memarkirkan mobil dia segera berlari menuju unit apartemen miliknya. Sesampainya di sana Vino tak melihat ada jejak Sifa yang sudah pulang, bahkan Vino nekat membuka kamar Sifa tapi nihil, tak ada keberadaan Sifa disana, bahkan kamarnya masih terlihat rapi.
Dengan langkah gontai Vino segera keluar dari apartemen menuju mobilnya, yang ada di pikiran pemuda itu saat ini adalah istrinya, bayangan Sifa yang berantakan akibat ulahnya bahkan terluka membua Vino tidak tenang.
Tujuan pertama adalah rumah almarhum mertuanya, Vino segera berlari masuk ke rumah saat sudah memarkirkan mobilnya.
"loh kamu siapa?" Bi Tum yang sedang menyapu dibuat terkejut dengan kedatangan Vino yang menyelonong masuk.
" saya Vino suaminya Sifa"
__ADS_1
" oh suaminya non Sifa, tapi non Sifa nya belum pulang den...."
" belum pulang?"
" iya den, memang dari kemarin non Sifa tidak pulang kesini kata nyonya non Sifa tinggal di apartemen sama Aden?"
" oh iya..... ya udah Bi saya permisi dulu ya" pamit Vino segera pergi.
Didalam mobil Vino memukul setir berulang kali, hatinya kacau bahkan gelisah. Kemudian Vino kembali menancap gas, tujuan berikutnya adalah kost Sifa tetapi setelah sampai sana Vino tidak menemukan keberadaan Sifa.
"AKH" teriak Vino memukul setir mobilnya.
"berhasil loe Vin sekarang" gumam Vino mengacak rambutnya.
Vino kembali melajukan mobilnya, kini dia sudah tidak tau harus mencari Sifa kemana, bahkan menelpon mamahnya juga sudah dia lakukan dan lagi-lagi tidak ditemukan keberadaan Sifa.
klik
BRAK
" woooyyy kaget gue!" sewot Rian yang terkejut dengan kedatangan Vino yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya dengan kasar.
Rian yang baru selesai mandi lantas meninggalkan Vino yang terkulai di ranjangnya menuju lemari pakaian.
Setelah rapi Rian menghampiri Vino dan duduk di tepi ranjang.
"loe kenapa? kusut banget dari tadi?"
"ada minum nggak?"
"banyak di kulkas"
" bukan itu"
" nggak usah macem-macem, cerita dulu loe ada apa?"
Vino segera bangkit dan keluar kamar mengambil rokok di laci ruang tamu, Rian yang mengerti jika Vino membutuhkan waktu untuk sendiri membuatnya memutuskan diam dikamar sampai Vino benar-benar sudah bisa di ajak bicara.
Tiga jam sudah Rian memberi waktu untuk Vino, kemudian dia beranjak keluar kamar menuju ruang tamu, lantai yang penuh dengan puntung rokok serta debu rokok yang sudah berserakan dimana-mana membuat Rian memijat pelipisnya.
"bikin kerjaan gue loe Vin" gumamnya kemudian menghampiri Vino yang akan kembali menyalakan rokoknya.
"stop Vin" ucap Rian merampas rokok di tangan Vino dan beberapa bungkus rokok lagi yang berada di meja sofa. Rian membawa semua rokok itu ke dapur dan menyimpannya kedalam laci.
"loe kenapa sebenarnya? ada hubungan apa loe sama Sifa?" tanya Rian yang sudah menghampiri Vino lagi.
"Sifa Ian"
"Sifa?" Rian mulai memicingkan matanya mantap Vino.
__ADS_1
"Dia gadis yang gue cari selama ini"
"What?"