
Saat ini Nisa dan Meri masih syok dengan kenyataan yang ada, mereka masih tidak percaya jika Sifa sudah menikah, ditambah lagi yang menjadi suaminya adalah pemuda tampan anak dari pemilik yayasan yang sangat digandrungi oleh kaum hawa.
" Loe nggak lagi ngeprank kita kan Sell?" tanya Nisa dengan wajah serius.
"Buat apa gue ngeprank kalian, emang muka gue keliatan lagi berbohong?"
"Sejak kapan Fa?" tanya Meri.
"Udah ada dua mingguan," jawab Sifa menerawang jauh mengingat pernikahan mereka.
"Kenapa loe nggak ngundang kita?" tanya Nisa yang gemas dengan Sifa.
"Memang hanya saudara dan rekan bisnis papah, itu juga nggak semua, lagian gue belum siap buat jujur ke kalian waktu itu!"
" Tapi loe udah mulai cinta sama Vino Fa?" tanya Meri lagi.
"Gue belum tau, gue rasa sich belum, tapi gue mana ngerti gue aja belum pernah pacaran, gue ngerasain sedih bangat pas tau Vino kecelakaan tapi gue rasa itu karena rasa bersalah gue sama dia. Dan untuk cinta mungkin masih terlalu jauh."
" Tapi gue rasa sebentar lagi loe jatuh cinta sama dia, gue bisa liat dari mata loe Fa cuma loe nya mungkin yang belum bisa buka hati atau belum mau menyadari itu".
"nggak secepat itu juga kali Nis, sedangkan gue awalnya yang sebel banget sama dia masak secepat itu jatuh cinta sama dia sich," ucap Sifa mencoba untung menyangkalnya.
"Tapi loe udah serumah lebih dari dua Minggu Fa, mustahil aja kalo emang nggak ada rasa apapun sama dia, gue harap nantinya loe bisa jujur sama hati loe sendiri! Nisa dan Meri sangat berharap Sifa mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya, apa lagi mereka tau Sifa hanya memiliki seorang nenek dan itupun jauh di desa, sungguh sangat berat melewati hari-hari sendiri.
"Gue minta tolong banget sama kalian berdua, hal ini jangan sampai bocor ke orang lain, gue nggak mau kedepannya menjadi masalah buat gue dan juga vino, apalagi kita masih sekolah." pesan Sifa kepada kedua orang sahabatnya.
"Udah loe nggak usah khawatir, kita bakal jaga rahasia ini sampai kalian go publik!" ucap Nisa dan di setujui oleh Meri.
"Tapi kalo gue jadi loe, udah jatuh cinta dari kapan tau Fa!" celetuk Meri.
" Ya itu loe Meri, loe tau sendiri gue sama Vino udah kayak apa, keselnya gue kayak apa sama dia."
"Tapi giliran dia udah begini hati gue sedih banget" lirih Sifa yang masih mampu di dengar oleh kedua sahabatnya.
"Sabar, loe mampu lewatin ini, kita berdua doain semoga laki loe cepet sadar ya! minimal bisa ngajak berantem loe lagi lah!" ucap Meri yang sudah memeluk Sifa dan Nisa.
"Thanks ya buat kalian, gue sayang banget sama kalian berdua," ucap Sifa tulus.
__ADS_1
"Sama Abang Vino gimana?" ledek Meri.
"Sama Vino otw dech," jawab Sifa yang membuat kedua temannya tertawa.
Sepulang sekolah tujuan Sifa tidak seperti hari-hari biasanya, gadis itu langsung menuju rumah sakit guna melihat perkembangan Vino. Seharian ini mamah benar-benar tidak memberi kabar tentang Vino sama sekali membuat Sifa khawatir. Gadis itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah sakit.
Sesampainya Sifa dirumah sakit, Dia segera memarkirkan motornya kemudian berlari menuju ruangan Vino.
tok tok tok
"Assalamualaikum," ucap Sifa memberi salam kepada mamah yang sedang duduk di samping ranjang Vino memperhatikan putranya.
"Wa'allaikumsalam, sudah pulang nak?"
" Iya mah," jawab Sifa mencium tangan mamahnya kemudian melirik Vino dan meraih tangan Vino lalu menciumnya.
"Bagaimana dengan Vino mah?" tanya Sifa dengan pandangan terus menatap Vino.
"Belum ada perkembangan nak, maaf ya mamah nggak ngabarin kamu tadi seharian, mamah cuma nggak mau kamu kepikiran dan membuat fokus kamu dengan pelajaran terganggu."
Menjelang malam hari hanya ada Sifa dan Vino di ruangan tersebut, Sifa meminta mamah dan papah untuk pulang karena Sifa tau mereka pasti sangat lelah, kini Sifa sedang belajar di samping ranjang Vino. Mengulang kembali pelajaran dan menghafal segala rumus matematika.
Hingga suara ketukan pintu menyita atensinya, Sifa menoleh kearah pintu yang terbuka, gadis itu di buat terkejut dengan kedatangan orang yang tidak ingin Sifa temui.
"Vino....." seru Nita kemudian berlari keranjang Vino dan di susul oleh kedua sahabat Vino.
Sella memundurkan langkahnya dia melihat Nita yang menangis di atas dada Vino. Dalam posisi ini Sifa merasa serba salah, dia istri tapi Nita kekasih suaminya.
Rian menatap iba pada Sifa, dia yang didatangi oleh Nita tidak mampu mencegah keinginan Nita untuk datang berkunjung kerumah sakit.
"Sorry Fa, gue nggak bisa mencegahnya!" lirih Rian.
" Nggak apa Ian, gue ngerti kok!" ucap Sifa yang mencoba untuk tetap tersenyum.
Kemudian Sifa memilih untuk keluar dari ruangan, ada rasa sesak di dadanya saat melihat Nita menangis sedih memeluk Vino. Sifa membuang nafas kasar, kemudian memilih duduk di kursi taman. Melihat keberadaan Sifa yang sedang sendiri, dokter yang menangani operasi Vino menghampiri.
"Permisi!"
__ADS_1
"Eh dok, ada apa ya dok, apa ada perkembangan dengan Vino Dok?" tanya Sifa yang kemudian berdiri saat Dokter sudah ada di sampingnya.
"Duduk dulu aja!" ucap Dokter mengajak Sifa duduk "saya kesini bukan untuk membahas keadaan saudara Vino, tetapi saya kesini karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sama kamu."
"Ada apa ya dok?" tanya Sifa yang memperhatikan pria paruh baya yang berada di hadapannya saat ini.
"Sebelumnya kenalkan dulu saya Dokter Arman Papah dari Oki, Choky Hermawan."
Mendengar nama itu membuat Sifa tercengang, pikirannya kembali ke delapan tahun yang lalu saat dia dan Oki sahabat dekatnya bermain dan belajar bersama hingga Oki memperkenalkan temannya yang bernama Putra. Tiga tahun selalu bersama, bermain dan belajar bersama tetapi Sifa begitu sedih ketika sosok Putra hadir di tengah-tengah mereka.
Sifa menganggap Putra lah yang membuat hubungannya dengan Oki renggang bahkan Sifa begitu membenci Putra saat Oki yang sudah jarang menemuinya bahkan tiba-tiba menghilang.
Pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi antara Sifa dan Putra setiap kali Sifa ingin menemui Oki tetapi selalu di halangi oleh Putra hingga Sifa berfikir Putra bukan anak yang baik.
"Sifa benci sama Putra, Putra anak nakal! Putra jahat! Putra nggak kayak Oki, kembalikan Oki sama Sifa, Sifa nggak mau punya temen jahat kayak Putra!"
"Nak!" panggilan dari Dokter Arman membuyarkan lamunan Sifa.
"Eh iya Dok, lalu Oki kemana Dok kenapa Oki nggak pernah lagi nemuin Sifa?" tanya Sifa dengan tatapan sendu.
"Oki sudah tiada nak, Oki meninggal karena sakit yang ia derita."
deg
"Maksud Dokter Oki meninggal?"
"Iya nak Sifa, Oki meninggal sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, dia berpesan pada semua termasuk sahabatnya agar tidak ada yang memberitahukan penyakitnya dan apapun yang terjadi pada kamu nak" jawab Dokter Arman yang membuat tangis Sifa pecah.
"Sahabatnya siapa om? bukannya cuma Sifa sahabatnya Oki?" tanya Sifa dengan air mata yang sudah membasahi wajah ayunya.
"Sahabatnya yang bernama Putra, dia sahabat Oki dari umur enam tahun sebelum Oki mengenal kamu nak," jawab Dokter Arman dengan menepuk pundak Sifa untuk menguatkan.
"Saat om melihat kamu kemarin, om merasa harus memberi tahukan ini sama kamu karena bagaimanapun kamu harus tau tentang Oki, dulu Om sempat mencari keberadaan kamu nak tetapi ketika Om datang berkunjung kerumah kamu, kamu sudah pindah dan Om kehilangan jejak kamu nak," ucap Dokter Arman mencoba menjelaskan.
"Tetapi om sudah lega sekarang, apa lagi ketika Om tau ternyata Putra dan kamu memiliki hubungan."
"Putra?"
__ADS_1