
Vino yang melihat kejadian di kantin antara Nita dan Sifa merasa geram, dia sudah tidak sabar untuk mengakhiri hubungannya dengan Nita, walaupun dia tidak ada perasaan tetapi Vino berpikir perempuan butuh kepastian walaupun menyakitkan. Vino tidak ingin semua berlarut-larut dan semakin menyulitkan Sifa. Apalagi melihat wajah kuyu Sifa tadi akibat guyuran air dari Nita membuat Vino ingin berlari dan memeluknya.
Rasa Vino semakin nyata, cinta untuk Sifa masih tetap utama bertahta, berawal dari cinta monyet dan berujung rasa yang hebat hingga kini Sifa mampu menjungkirbalikkan dunia Vino Putra Baratajaya.
Vino melirik jam di dinding, menantikan waktu pulang sekolah yang tak kunjung usai. Mamah tengah mengurus segala administrasi dan obat-obatan yang harus Vino bawa pulang. Niatnya mereka pulang setelah Sifa sampai ke rumah sakit, Vino memutuskan untuk kembali ke apartemen walaupun bujukan mamah yang menginginkan dirinya pulang ke rumah. Tapi pemuda itu berniat menjelaskan semua dengan Sifa dan memulai kembali hubungan mereka dengan baik yang pastinya membutuhkan tempat dan waktu pribadi.
Sepulang sekolah Sifa segera keluar dari kelas bersama dengan kedua sahabatnya, mereka berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka.
"Fa, apa loe lupa sama pesan Aldi tadi?" ucap Nisa mengingatkan Sifa, dan benar saja Sifa lupa akan itu lalu menghentikan langkahnya.
"Gue lupa, gimana donk gue harus jelasin apa? nggak mungkin kan gue jujur sama dia, terus kalo bilang pacaran juga tambah nggak mungkin secara Nita masih jadi pacar Vino, terus gue harus gimana?" Sifa mulai panik, gadis itu bingung mencari alasan yang tepat pada Aldi.
"Duuuhhhhh rumit bener hidup loe Fa, di balik keberuntungan di nikahin pria tampan seantero SMA ada ketos yang masih menunggu kepastian!" ledek Meri yang mendapat pukulan dari sifa dilengannya.
"Sakit ikh.....udah bang Aldi buat gue aja dah!" celetuk Meri.
"Emang Aldi mau sama loe!" ucap Nisa dengan lidah yang ia julurkan meledek Meri.
"Ntar gue minta ajari Sifa!"
"Ikh kalian nich malah jadi bahas apa kali, bantuin gue donk! liat noh si Aldi udah berdiri di dekat mobilnya!" ucap Sifa membuat kedua sahabatnya menengok ke arah parkiran.
"Apa loe menghindari Aldi dulu aja ya Fa? otak gue lagi buntu nich nggak ada solusi di kala dompet gue lagi tiris, biasa bokap belum tranfer!"
"Cih, loe mah duit aja otak loe, pusing gue punya sahabat yang satu kadang loadingnya lama yang satu kalo ATM tiris jadi bego....ya Allah apa salah Dan dosaku," ucap Sifa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Yang penting kan setia kita Fa, ya udah kalo gitu ayo hadapin si Aldi bareng-bareng aja!" Nisa menggandeng tangan Sifa dan Meri bersamaan.
Aldi yang melihat kedatangan Sifa segera memasukkan kembali ponselnya ke saku celana dan tersenyum ke arah Sifa.
"Fa, gue udah nunggu loe dari tadi!"
"Eh iya Al, mau langsung pulang aja? kebetulan gue juga lagi ada perlu!" ucap Sifa yang membuat Aldi berpikir.
"Nggak bisa bicara berdua dulu?" tanya Aldi menatap dalam Sifa. Sifa tak tega pada Aldi, walau bagaimanapun Aldi sudah Sifa anggap sebagai sahabatnya, orang yang selalu ada untuk Sifa.
"Ya udah dech sebentar ya Al!"
__ADS_1
"Iya ," kemudian Aldi menarik tangan Sifa dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Mer terus kita ngapain?"
"Lah iya, katanya barengan tapi yang di ajak Sifa doank, terus kita?" tanya Meri balik.
"Loe ngapa jadi balik nanya ke gue?" kesal Nisa.
"Eh Nis itu Rian sama Geri dateng lagi, ntar kalo liat Sifa sama Aldi terus di aduin ke Vino gimana?"
"Iya juga ya, tapi gimana itu Sifa udah ada di dalem mobil, ayo masuk mobil gue aja biar nggak mencurigakan!"
Sifa dan Aldi masih terdiam di dalam mobil, Sifa masih tidak tau harus menjelaskan apa. Hingga getaran ponsel Sifa yang ia genggam terasa sampai terdengar di telinga keduanya, Sifa melirik ke arah ponselnya, nama Vino tersemat di sana. Dengan ragu Sifa mengangkat panggilan tersebut kerena dia takut itu penting.
"Halo"
"Loe dimana Fa kok belum sampai?"
"Oh gue masih di sekolah, bentar lagi balik ada urusan sebentar!"
"Lumayan, ya udah gue tutup dulu ya telponnya!"
Tanpa menunggu jawaban dari Vino, Sifa segera menutup panggilan tersebut, kemudian melirik Aldi yang masih terdiam dengan pandangan mata ke depan.
"Ada hubungan apa sama dia Fa?" akhirnya pertanyaan Aldi memecah keheningan keduanya.
"Sama siapa Al?" Sifa berpura-pura tidak tau.
"Kamu tau tanpa aku harus jawab!"
"Belum ada hubungan apa-apa," ucap Sifa berbohong, gadis itu belum siap untuk berbicara jujur karena hubungannya dengan Vino yang juga baru mulai membaik dan Vino masih memiliki hubungan dengan Nita.
"Sedekat itu sampai dia seperhatian itu sama kamu Fa!" Aldi menoleh ke arah Sifa, wajahnya sendu dengan mata memerah menahan kecewa, pemuda itu sudah mulai mencurigai adanya hubungan Sifa dengan Vino, apa lagi tadi dia sempat melirik siapa yang menelepon Sifa.
"Maaf Al, aku belum bisa jelasin apa-apa sama kamu, aku mohon kamu ngerti!"
"Aku sayang sama kamu Fa, aku nunggu kamu lama, tapi apa adil jika dia yang kamu terima?"
__ADS_1
deg
"Al...."
"Fa, please kasih kesempatan buat aku," lirih Aldi memotong ucapan Sifa.
"Aku udah pernah bilang kan sama kamu, aku nggak mau buat kamu kecewa Al, karena itu aku nggak mau kita pacaran."
"Justru dengan kamu kayak gini buat aku kecewa Fa." Aldi mulai menggenggam tangan Sifa, matanya terus menatap dua buah mata indah Sifa yang mulai menggenang air mata.
"Tapi jika aku memaksakan hubungan ini nantinya akan membuat kamu semakin kecawa. Dan asal kamu tau aku nggak bisa berhubungan dengan pria manapun Al!"
"Tetaplah jadi sahabat aku atau aku akan menganggap kamu seperti kakakku sendiri, itu lebih baik untuk kita, maafin aku yang udah ngecewain kamu, aku mohon kamu ngerti Al," ucap Sifa dengan air mata yang sudah menetes, Sifa sayang dengan Aldi, tetapi rasa sayang untuk Aldi ternyata hanya sebatas sayang sebagai sahabat .
Aldi mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Sifa, dia mencoba tersenyum di hadapan gadis yang sangat ia cintai. Aldi tidak ingin karena semua ini membuat hubungannya dengan Sifa akan menjauh, dia berusaha kembali tenang dan menuruti apa yang Sifa inginkan.
"Aku tau ada yang kamu tutupi dari aku, maaf kalo aku buat kamu nggak nyaman Fa, kita akan tetap jadi sahabat, tapi jika ada laki-laki yang mencintai kamu tetapi berujung akan menyakiti, jangan salahkan aku jika aku memaksakan hubungan kita," ucap Aldi kemudian mengusap rambut Sifa.
"Makasih ya Al, kamu terbaik." Sifa mengacungkan kedua ibu jarinya dan berusaha untuk tersenyum.
"Jangan sungkan cerita sama aku apapun itu, aku akan ada terus untuk kamu!"
Setelah berbicara serius dengan Aldi yang berujung baik walaupun Sifa tau menyakiti hati pemuda itu, tetapi Sifa sudah sedikit lega karena Aldi begitu baik mau mengerti.
Sesampainya di rumah sakit Sifa segera melangkah menuju ruangan Vino, gadis cantik dengan senyum manis berjalan melewati setiap lorong rumah sakit sampai langkahnya terhenti ketika melihat pemuda yang ia kenal sedang berbicara akrab dengan Dokter Arman.
Sifa kembali melangkah mendekati keduanya, hingga suara mereka kian terdengar di telinga Sifa.
"Kalo gitu om balik tugas dulu ya Putra, jaga diri kamu baik-baik, kapan-kapan ajak Sifa main kerumah om dan salam buat Sifa.
"Baik om, om juga jaga kesehatannya biar awet muda agar kelak bisa liat anak saya dan Sifa!"
"Kamu bisa aja Putra, ya udah hati-hati pulangnya ya!" dokter Arman segera pergi menuju ruangannya menyisakan Sifa yang sejak tadi berdiri di balik punggung dokter Arman.Vino terkejut melihat Sifa yang sudah berurai air mata.
"Putra!"
"Sifa!"
__ADS_1