Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Olimpiade


__ADS_3

Pagi harinya sifa terjaga karena merasakan kebas di lengannya, gadis itu melirik kesamping mendapati Vino berbantal lengan dengan mulut yang masih menempel di dadanya bak bayi yang kehausan.


"Vin!" Sifa mengelus pipi Vino mencoba untuk membangunkan karena dia tidak dapat bergerak dengan posisi seperti ini, apa lagi tangan Vino yang memeluknya posesif.


"Sayang!"


Bukannya bangun Vino malah menyedot seperti benar-benar kehausan.


"Vin.....pedes banget loh, kamu nich dari semalam nggak berenti!" rengek Sifa.


Vino melepas mainan barunya dan menengadahkan kepalanya, melihat Sifa yang sudah merengek minta di bebaskan.


"Susunya enak, buat aku ketagihan!"


"Tau akh, pedes semua rasanya! aku nggak mau lagi!"


Sifa segera mengancing piyamanya saat Vino mulai beranjak duduk. Vino dengan muka bantal dan rambut acak-acakan semalaman begitu manja, bahkan terus merengek minta susu coklat yang akhirnya membuat Sifa menyerah.


"Udah gede masih ne**n!" celetuk Sifa yang kemudian bangkit dan berjalan ke kamar sebelah.


"Sayang sebelum berangkat sekolah mau lagi ya!" seru Vino yang membuat Sifa jengah.


"Manjanya laki gue, kalo sampe anak-anak di sekolah tau kalo si bad boy manjanya kayak begini bisa heboh tuh para fansnya!"


Sifa segera membersihkan diri, hari ini dia harus berangkat lebih awal karena harus ke sekolah dulu sebelum berangkat ke tempat olimpiade di laksanakan.


Vino yang sejak tadi sudah rapi tampak heran karena Sifa yang belum juga keluar dari kamar.


"Sayang!" Vino membuka kamar sebelah terlihat Sifa yang sibuk di depan meja rias dengan beberapa kancing baju yang ia buka.


"Sayang kamu mau ngasih aku sarapan? udah di buka gitu, mau susu coklat lagi boleh?" Vino dengan semangat mendekat.


Sifa menatap tajam Vino dengan sorot mata kekesalan yang membuat Vino ragu untuk menundukkan badannya.


"Liat ini, nggak tanggung-tanggung kamu kasih tanda segini banyaknya, aku hari ini harus masuk dan kamu bikin kerjaan aku pagi-pagi," oceh Sifa yang kesal dengan Vino.


"Maaf yang, sini aku bantuin kasih creamnya!"


"Nggak usah udah kelar!"


"Jangan marah donk sayang, orang kamu juga keenakan sampe desa_" belum selesai Vino berbicara bibirnya sudah di bekap oleh Sifa.


"Kamu nich pagi-pagi udah buat aku emosi! ayo berangkat jangan sampe buat aku telat!" Sifa segera keluar dari kamar di susul oleh Vino.


"Sayang! minum susu dulu, kan mau berangkat sekolah!"


"Apa sich Vin, udah dari semalem juga sampe perih rasanya!" sewot Sifa.

__ADS_1


"Ikh kamu ini, susu beneran sayang kalo itu mah khusus buat aku, sini dulu!" Vino menarik tangan Sifa menuju meja makan.


Sifa segera meminum susu yang telah di buatkan oleh Vino hingga habis, kemudian kembali meletakkan gelasnya di atas meja.


"Udah sayang?"


"Udah lah, udah abis tuh!" tunjuk Sifa ke gelas yang sudah kosong.


"Berarti udah masuk ke dalam tubuh kamu donk sayang, sekarang giliran aku!"


"Mau ngapain?" tanya Sifa menatap awas Vino.


"Susu coklat!" rengek Vino.


"Nggak ada! ayo berangkat!" Sifa segera meninggalkan Vino, kemudian keluar dari unit apartemennya.


Dijalan keduanya hanya diam dengan tangan Sifa yang sudah melingkar di pinggang Vino. Hingga sekolah dihebohkan dengan kedatangan mereka berdua, yang sejak kemarin menjadi tranding topik hingga memenuhi group di WhatsApp.


"Aku langsung keruang guru ya!"


"Nanti kalo udah selesai langsung balik sini lagi kan?" Vino merapikan rambut Sifa yang berantakan.


"Iya, doain ya aku bisa mengerjakan semuanya!"


"Iya, semangat ya nanti kalo udah balik langsung temuin aku di basecamp aja ya!"


Sifa segera berjalan menuju ruang guru dengan diiringi tatapan para murid yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, Vino yang tidak pernah seperhatian ini terhadap mantannya membuat mereka semakin heboh.


Sifa dan Aldi kini sudah berkumpul dengan pak Budi yang sedang memberi arahan berlangsungnya kompetisi tersebut. Sesekali Aldi melirik ke arah Sifa yang membuat gadis itu merasa risih.


Olimpiade berlangsung dengan cukup menegangkan karena perolehan nilai Sifa yang sangat tipis dengan lawan yang kini tinggal tersisa satu.


Hingga satu pertanyaan sebagai penentu siapa yang menjadi juara mulai di bacakan, Aldi dan Pak Budi yang memperhatikan di buat panas dingin.


Sifa terus berusaha bersikap tenang dan fokus dengan pertanyaan yang diberikan hingga tersisa lima detik lagi untuk mereka menjawab, tampak raut wajah Sifa yang berpikir keras dan sesekali memejamkan matanya berusaha keras untuk mengingat dan berpikir. Kondisi itu pun sama dengan yang lawan alami karena memang pertanyaan terakhir begitu sulit.


lima


empat


tiga


dua


teeeettttttttt


Di jam istirahat Vino dan kedua temannya menikmati makan siang di kantin. Sejak tadi nita ingin menemui tetapi selalu di cegah oleh Geri dan Rian hingga membuat Nita mundur teratur.

__ADS_1


"Sifa belum balik?"


"Harusnya udah, tapi ini belum ada!" Vino melihat ke arah teman Sifa yang memang hanya mereka berdua disana.


"Kira-kira menang nggak ya, gue dapet kabar Sifa sempat kesulitan ngerjainnya, malah nilai mereka beda tipis banget."


"Yang bener Ian?" sahut Geri.


"Beneran! gue juga liat status wa Pak Budi, yang posting foto Sifa lagi pucat banget mikir keras!"


"Kasian juga ya, bawa beban berat tuh, loe nggak ngasih vitamin apa Vin sebelum di berangkat?" celetuk Geri.


"Nggak perlu ngasih tau loe berdua juga kali!"


Melihat raut wajah Sifa di postingan Pak Budi membuat Vino jadi kepikiran, sejak tadi Vino diam di ruangannya tanpa niat mengikuti mata pelajaran olahraga.


Nita yang melihat ada celah karena kedua sahabat Vino yang sibuk bermain basket di lapangan, memutuskan untuk melipir ke ruangannya Vino.


Vino yang mengira Sifa yang masuk sangat bahagia dan segera menoleh.


"Say....... ngapain loe kesini?" raut wajah Vino seketika berubah dingin dengan senyuman yang luntur dari wajahnya.


"Loe tadi mau panggil gue sayang kan Vin?" dengan pedenya Nita bertanya seperti itu.


"Ngapain loe kesini?" tanya Vino lagi.


"Gue cuma mau kita balikan Vin! gue nggak terima kalo kita putus, pokoknya gue nggak mau!" Nita berjalan mendekati Vino yang sedang duduk di sofa.


Sifa dan Aldi kini sudah keluar dari ruang guru, keduanya masih terdiam sejak tadi pagi, hingga langkah Sifa berhenti saat Aldi menggenggam tangannya.


"Kenapa Al?"


"Jadi benar dia?"


"Maaf Al!" lirih Sifa yang masih mampu di dengar oleh Aldi.


"Kenapa?"


"Karena ........ Al aku belum bisa jelasin semuanya sama kamu," Sifa menatap wajah sendu Aldi, ada rasa bersalah di hatinya tetapi Sifa bisa apa jika memang mereka tidak ditakdirkan bersama.


"Aku ke sana dulu ya! suatu saat kamu akan tau alasannya." Sella segera beranjak dari sana untuk menemui Vino.


Setelah melihat Vino yang tidak ada bersama kedua sahabatnya di lapangan, Sifa memutuskan untuk langsung mendatangi ruangan Vino. Senyum yang tak luntur dari wajahnya mampu menghangatkan siapapun yang melihat. Hingga langkahnya terhenti di depan pintu yang tampak kumuh dari luar tetapi begitu berkesan di dalamnya. Dengan mantap tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Sifa segera membukanya.


ceklek


PPRAAAAANGG

__ADS_1


"Sayang......."


__ADS_2