
Niat hati ingin bersenang-senang dan berfoto-foto ria mengelilingi kedai coffie yang lagi Viral lanjut post di sosial media malah berujung terdampar di ruang kerja dengan hati tak senang.
Vino yang sejak tadi sibuk mengecek kerjaannya membuat Sifa bertambah jenuh. Berawal tidak mood gegara pelayan centil berujung merasa di abaikan, akhirnya Sifa memutuskan untuk keluar dari ruangan memilih mencari tempat yang membuatnya sedikit tenang.
Sifa memilih untuk duduk di pinggir kolam ikan yang memang di buat untuk menarik perhatian customer karena keindahan taman sekelilingnya dan ikan yang warna-warni. Hingga tanpa sadar ada pemuda yang mendekati, yang kebetulan sejak tadi memperhatikan dari mejanya sambil menikmati coffie.
Sifa terkejut saat ada pemuda duduk di sampingnya tanpa permisi, dia merasa heran siapa gerangan orang ini. Jika di lihat-lihat seperti seumuran dengannya, merasa di lirik pemuda itu melempar senyum pada Sifa.
"Ricko.." ucapnya dengan mengulurkan tangan tanda perkenalan.
Sifa memandang tangan pemuda itu terulur menunggu sambutan darinya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Jika di lihat dari sudut kadar ketampanannya bisa di katakan sebelas dua belas dengan Vino. Sifa yang merasa tidak enak akhirnya menyambut uluran tangan tersebut.
"Sifa,"
"Nama yang cantik secantik orangnya," ucap Ricko memuji.
"Gombal banget sich nich cowok!" batin Sifa.
"Kenapa sendirian?" tanyanya lagi sambil terus mengamati Sifa yang sejak tadi menjatuhkan pandangannya pada kolam ikan yang ada di hadapannya.
"Lagi nyari keindahan aja," jawab Sifa singkat.
"Pantes disini jadi makin indah, ternyata karena ada aura kamu yang membuat tempat ini jauh lebih indah."
Sifa hanya menanggapi dengan tersenyum miring dan tidak ada niat untuk menimpali.
"Kelas berapa?" tanya Ricko lagi, ada rasa penasaran di hatinya terhadap gadis cantik di depannya ini.
"XII!"
"Sekolah dimana?" tanya Ricko lagi.
"SMA Baratajaya."
"Wow SMA favorit donk, aku dulu pernah mau masuk situ tapi karena sudah penuh kuotanya jadi nggak bisa, tau gitu kan kita bisa ketemu dari dulu.Udah punya pacar?"
"Sayang!"
Mendengar suara bariton dari belakang membuat keduanya segera menoleh, Vino dengan wajah tampannya segera mendekati dan mencium pipi Sifa.
__ADS_1
"Aku cariin dari tadi ternyata kamu disini, ayo kita makan dulu!"
"Pacar kamu Fa?" tanya Ricko yang sejak tadi mengamati interaksi keduanya.
"Kenalin gue Vino, pacarnya Sifa sekaligus putra tunggal dari pemilik SMA Baratajaya," ucap Vino mengulurkan tangannya ke hadapan Ricko. Melihat wajah Vino yang mulai berbeda membuat Sifa ketar ketir, ada perasaan takut jika Vino akan salah paham.
"Oh...sorry, gue Ricko," jawab Ricko seraya menyambut tangan Vino, "gue pikir cewek secantik Sifa belum punya pacar, ya walaupun gue nggak yakin, tapi karena dia sendirian disini itu yang buat gue mendekatinya, lain kali jagain cewek loe jangan di biarin loe lepas sendiri kalo nggak mau di mangsa pejantan lain," sambung Ricko kemudian menepuk pundak Vino dan pergi dari sana.
Ucapan Ricko tadi sempat mengundang emosi untuk Vino, tetapi saat dia menatap Sifa dengan wajah sendu, hatinya tak tega ingin marah, mungkin salahnya juga yang udah buat Sifa bete atau malah kesal karena sikap serta ucapan Maya tadi.
"Ngapain ke taman sendiri, hhmm?" Vino memeluk Sifa saat keduanya sudah berada di dalam ruangan kerja Vino.
"Aku bete sama kamu!" ucap Sifa dengan wajah cemberut.
"Itu ngomongnya pake nada nggak? udah kayak lagu....."
"Ikh apaan sich...." ucap Sifa memberenggut.
Sifa melepas pelukan Vino dan berjalan menuju sofa. Gadis itu mengambil tas lalu beranjak menuju pintu, saat tangan sudah meraih handle pintunya langkah Sifa kembali terhenti, dia membalikkan tubuhnya melihat Vino yang sedang bersidekap dada dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku pulang!" setelah pamit Sifa kemudian membalikkan lagi tubuhnya, tetapi lagi-lagi dia diam dan melirik ke arah Vino yang masih dengan posisi yang sama.
"Kenapa nggak di tahan? kenapa diem aja sich Vin? kamu mau biarin aku pulang sendiri? kok kamu jahat banget sich? kamu nggak sayang sama aku!"
Vino menggelengkan kepala akan sikap Sifa yang selalu saja di luar dugaan, istrinya merengek minta di tahan agar tidak membiarkannya pulang sendiri.
"Kamu tuh, ya Tuhan sayang ......aku dari tadi baik-baikin kamu, tapi kamunya ngambek terus malah mau pulang sendiri, sekarang malah ngambek gini, udah ya jangan nangis ayo makan dulu yuk!"
"Aku tuh mau kamu lebih usaha lagi ngerayunya Vin, malah diemin aku!"
Vino yang gemas justru menciumi pipi Sifa berkali-kali sambil tertawa mendengar ucapan Sifa yang menggelitik telingnya.
"Udah ayo sayang, sini yuk kita makan dulu ya, abis itu pulang, maaf ya kalo aku nggak peka."
Vino membawa Sifa kembali duduk, mereka menikmati makan malam bersama dengan di selingi canda dan tawa.
"Sayang, tadi itu siapa yang sama kamu di taman?" tanya Vino di sela-sela makannya.
"Aku juga nggak kenal," jawab Sifa dengan mulut yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Kok bisa sedekat itu?"
"Kamunya aja yang liatnya begitu, nyatanya kan nggak seperti itu...."
"Lain kali jangan dekat-dekat dengan orang yang nggak kamu kenal," titah Vino membuat alis Sifa terangkat.
"Kamu di deketin ciwik-ciwik keganjenan itu aja diem aja, kenapa aku nggak boleh?" tanya Sifa balik.
"Jadi kamu suka di deketin cowok-cowok macam tadi?"
Sifa menatap Vino tajam, kemudian mendekat hingga tak berjarak, "aku nggak suka tapi kalo itu buat suami aku panas, akan aku lakukan!"
"Berani nakal aku kurung kamu sampai nggak bisa jalan!" tegas Vino lalu mencubit hidung Sifa dengan gemas.
"Emang kamu doang yang bisa buat aku cemburu? aku juga bisa! ini resiko punya istri cantik..." Sifa menekan kata istri cantik sesuai dengan kata-kata Vino sebelumya yang bilang suami ganteng.
"Kamu mau balas aku?"
"Hmm...." Sifa mengangkat kedua bahunya.
Setelah menyelesaikan makannya Sifa dan Vino kemudian memutuskan untuk segera pulang, karena besok sudah harus sekolah dan banyak yang harus di persiapkan.
Vino menggenggam tangan Sifa saat keluar dari ruangannya membuat semua karyawan yang berada disana memperhatikan keduanya.
"Saya pulang, besok kalo istri saya kesini kalian langsung aja persilahkan untuk keruangan saya ya!"
"Baik kak!" jawab beberapa karyawan disana.
"Jadi bener kak Vino udah nikah?" bisik para karyawan setelah melihat Vino meninggalkan kedai.
"Parah sich, udah yang cowok ganteng, yang cewek nya juga cantiknya nggak ketulungan itu kalo punya anak, mukanya kayak gimana ya?"
"Ya kayak emak bapaknya lah, masak kayak loe!" celetuk karyawan cowok yang memang nggak di saring dulu kalo bicara.
"Eh si Maya patah hati donk ya, secara demen banget sama si doi," ucap karyawan wanita yang memang tidak menyukai maya karena sikapnya yang otoriter dan selalu mengaku kalo dia adalah pacarnya Vino.
"Ehemm...balik kalian! ngerumpi aja kerjaannya!" seru Maya yang ingin berjalan ke pantry. Semua karyawan yang bergibah ria pun memutuskan untuk segera membubarkan diri dan kembali bekerja.
Sesampainya keduanya di parkiran apartemen, mereka kembali melangkah menuju lift untuk masuk ke kamar mereka tetapi ketika keluar dari lift Sifa dan Vino dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa yang membuat keduanya saling melirik dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1