
SHIIITT
Setelah Vino selesai mandi dan merapikan penampilannya, dia segera keluar kamar untuk menemui Sifa dan mengajaknya berangkat bersama. Tetapi setelah dia mencari sifa hingga ke parkiran apartemen, Vino tidak menemukan Sifa apa lagi jelas di sana motor istrinya pun tidak ada.
Vino berlari masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya menuju sekolah. Yang ada di dalam pikirannya hari ini hanya ada Sifa, Sifa dan Sifa. Dia merasa harus benar-benar meminta maaf pada Sifa.
Sifa berjalan menuju kelas dengan santai walaupun tatapan tajam beberapa murid masih tertuju padanya karena keramaian yang terjadi di group WhatsApp sekolah masih belum reda.
Nisa dan Meri yang melihat Sifa berjalan sendiri menuju kelas segera berlari menghampiri.
"Bareng Fa!" seru Meri kemudian Sifa mensejajarkan langkah dengan kedua sahabatnya.
"Udah pulang Fa?" tanya Nisa dan di jawab anggukan oleh Sifa.
"Terus bener?" sambung Meri dan di jawab anggukan juga oleh Sifa.
"Terus?" tanya Nisa lagi dan di jawab Sifa dengan mengangkat kedua bahunya.
Kelakuan Sifa membuat kedua sahabatnya gemas, hingga rasanya mereka ingin mengacak-acak rambut Sifa.
"Kenapa?" tanya Sifa polos saat kedua sahabatnya mengangkat kedua tangan mereka ke arahnya.
"Loe yang kenapa?"
"Iya, sariawan?" sahut Meri.
"Nggak usah bahas begitu di jalan, disini tuh jangankan orang, tembok aja bisa julid." Ucapan Sifa kemudian di jawab anggukan oleh kedua temannya.
Di jam istirahat Sifa hanya diam di kelas, dia menolak ajakan kedua temannya yang sudah bersusah payah membujuknya agar mau ikut ke kantin. Padahal jelas sejak kemarin Sifa belum makan, tak ada rasa lapar sedikitpun di tubuh Sifa, dia hanya ingin ada ruang untuknya sendiri dan berfikir.
Vino yang sejak tadi mencari Sifa di kantin merasa heran saat hanya ada dua gadis di meja yang biasa di tempati oleh istrinya. Sehingga dia memutuskan untuk mencari Sifa di kelasnya, Vino berlari menuju kelas Sifa. Banyak mata yang mengarah padanya tetapi tidak membuat Vino lantas berhenti dan menegur mereka, pemuda itu tidak peduli dengan sekitar yang ia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya memperbaiki hubungan dengan istrinya.
Vino diam saat melihat Sifa yang meringkuk di kursinya dengan wajah yang ia sembunyikan di atas meja berbantal lengan. Hatinya tersentil ketika melihat tubuh istrinya yang hanya diam menyendiri di sana.
"Sayang...."
Sifa mengangkat wajahnya setelah mendengar suara dari orang yang sangat dia kenal. Vino berdiri di samping meja Sifa dengan tangan yang mengusap lembut kepala istrinya.
"Ikut aku yuk!" lirih Vino kemudian meraih lengan Sifa untuk membawanya keluar dari kelas.
"Aku mau disini Vin," tolak Sifa dan menarik lengannya yang ada dalam genggaman Vino, tetapi Vino tidak melepaskan lengannya begitu saja, bahkan Sifa yang sedikit meronta membuat Vino semakin merasa bersalah.
"Ikut sebentar aja, setelah ini aku bebaskan kamu, aku nggak akan meminta apapun sama kamu! please....."
Akhirnya Vino berhasil membawa Sifa ke ruangannya, disana sudah ada Rian serta Geri yang sedang menikmati makan siang.
__ADS_1
"Jelasin sama bini gue!" seru Vino yang membuat kedua sahabatnya tersedak.
Uhuuuk uhuuuk uhuuuk uhuuuk
Mereka meraih minum yang telah tersedia. Setelah menghabiskan minumannya, Rian dan Geri menatap tajam Vino yang justru dibalas dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Oke oke gue jelasin!" ucap Rian.
Kemudian Vino menarik kursi untuk Sifa duduk dan dia ikut duduk di samping istrinya dengan tidak melepaskan jemari Sifa.
"Loe nggak mau ngomong Ger?"
"Loe aja Ian gue mau ngabisin mie gue keburu bengkak," jawab Geri kemudian melanjutkan kembali makannya.
Rian menatap Sifa, ada rasa iba di hatinya melihat wajah Sifa yang tak secerah biasanya.
"Fa, loe nggak perlu dengerin berita yang ada di luaran sana, emang bener kemarin ada Nita di sana, tapi Vino, gue dan Geri nggak kepikiran kalo singa betina itu bakal datang. Dan gue pikir kemarin malam loe ikut sama Vino kesana, tapi karena begitu sayangnya Vino sama loe makanya dia nggak mau ngajak loe ketempat itu." Sifa melirik Vino dan di sambut dengan senyuman hangat.
"Vino itu nggak bisa ngontrol minumnya, dia juga nggak kuat minum banyak dan sok-sokan minum banyak, akhirnya jadi kesempatan buat Nita nyekokin dia sampe teler dan nggak sadarkan diri dan loe tau, laki loe hampir di perko.sa sama si Nita, beruntung gue sama Geri buru-buru dateng kali nggak udah bisa dipastiin, beritanya lebih rame dari ini Fa, makanya dia kemarin nggak pulang, karena kita juga nggak mau loe bakal liat muka kusutnya dia kalo lagi teler," jelas Rian.
Sifa menundukkan kepalanya, dia begitu geram dengan kelakuan Nita dan dia mulai paham sekarang kenapa Vino benar-benar berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, karena memang dia tidak salah.
Vino menarik Sifa kepelukannya, tangis sifa kembali pecah saat merasakan pelukan hangat itu kembali.
"Maafin aku, jangan marah lagi please....aku bisa gila kalo kamu kayak gini terus sayang!" lirih Vino.
Vino merenggangkan pelukannya, tangannya terulur menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Ssstt.... udah jangan nangis ya, kamu udah maafin aku kan sekarang?" tanya Vino dan dijawab sebuah anggukan oleh Sifa yang membuat senyum Vino terbit dengan cerahnya.
"Makasih sayang, aku nggak ngelakuin hal yang terlintas di pikiran kamu, percaya sama aku, hanya ada kamu di hati aku!"
"Maafin aku juga yang udah termakan dengan kabar di luaran sana, bahkan aku dengan bodohnya nggak percaya sama kamu," lirih Sifa yang kemudian kembali memeluk erat tubuh Vino.
"Nggak apa-apa sayang, aku ngerti posisi kamu, aku paham kamu cemburu kan?"
Sifa melepas pelukan Vino "siapa yang cemburu, aku marah bukan cemburu!" rengek Sifa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Iya sayang, mmm.......emang nich istri aku paling gengsi kalo di suruh jujur masalah hati!" Vino mencubit hidung Sifa yang membuat gadis itu mengerang kesakitan.
"Mmmmm......sakit ikh kamu mah kdrt!"
"Ugh sayang, maaf ya....mana yang sakit, hmmm?
cup
__ADS_1
Vino mengecup hidung Sifa dan itu membuat Sifa membuang muka saat merasakan hawa panas di pipinya. Vino yang melihat pipi Sifa memerah membuatnya tambah gemas dan bertubi-tubi menciumi wajah Sifa.
"Vino stop ikh kamu......udah Vin!" rengek Sifa.
"Biarin aja, abis kamu gemesin banget!"
"Vino, aku geli......"
Setelah acara perdamaian antara pasutri muda tadi, kini mereka sudah kembali lagi ke kelasnya masing-masing untuk melanjutkan pelajaran.
"Fa, kok gue balik kelas tadi loe nggak ada, kemana?" tanya Nisa di sela-sela kegiatannya mencatat pelajaran yang di berikan guru.
"Di geret Vino ke ruangannya!"
"Udah baikan?" tanya Nisa lagi.
"Udah..."
"Cepet...."
"Dosa lama-lama marahan!" celetuk Sifa.
"Apaan loe, giliran udah baikan loe bilang dosa, giliran masih marah loe bilang butuh waktu dan ruang!"
"Ngoceh mulu loe, ketauan guru aja gue ogah ya sampe kena hukum juga!"
"Mengalihkan pembicaraan loe!" ketus Nisa kemudian mengambil pulpen yang ada di tangan Sifa.
"Iseng dech!" kesal Sifa.
"Cerita dulu!"
"Males gue, loe kalo mau cerita lebih rincinya tanya sama Rian aja sana lah," ucap Sifa kemudian mengambil pulpen satunya di dalam tas.
"Kok Rian?"
"Ya karena yang tau kronologinya dia sama Geri, laki gue kan mabok kemarin sampe teler," jawab Sifa dan itu membuat Nisa menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Teler?" tanya Nisa lagi.
"Hhmmm....."
"Berarti si Nita yang buat Vino mabok? aauuww........."
"Ngobrol terus kamu ya... mau saya jemur di lapangan? bukannya nulis malah asik gangguin Sifa!" ucap Bu guru dengan tangannya yang menjewer telinga Nisa.
__ADS_1
"Aduh Bu, ampun Bu..."