Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Mengikhlaskan


__ADS_3

Malam ini Sifa tertidur dalam dekapan Vino, setelah makan dan meminum teh hangat buatan mertua gadis itu meminta Vino untuk duduk disampingnya. Sifa bersandar di dada bidang suaminya, mencari kenyamanan untuk meluapkan sejenak duka. Hingga keduanya kini terlelap saling memberi kehangatan.


"Sudah lebih baik?" tanya Vino saat Sifa tengah duduk di depan meja rias seraya memoleskan make tipis di wajahnya.


"Hhhm iya..."


cup


Vino mencium pucuk kepala Sifa, dia bersyukur Sifa sudah jauh lebih terlihat tegar tak seperti kemarin. Dalam hati dia bangga dengan istrinya yang mampu cepat berdamai dengan keadaan walaupun dia tau ini tak mudah.


"Apa rencana hari ini sayang?"


"Hanya ingin berkeliling di rumah ini saja, aku sudah sangat lama tidak pulang kesini, kamu mau menemaniku?"


Vino tersenyum mendengar pertanyaan Sifa, tentu saja dia akan menemani istrinya kemanapun dia mau.


"Upahnya apa?" ledek Vino dan langsung di sambut dengan wajah cemberut dari Sifa.


"Perhitungan sekali!"


"Mungkin aja istriku mau memberikan sesuatu apa gitu, setelah seharian menemani atau mungkin mau kasih aku......."


"Apa?"


"Yang bikin segar dan mengembalikan stamina misalnya..."


"Apa?" tanya Sifa lagi, matanya memicing melihat arah pandang Vino yang tertuju pada bibirnya.


"Kamu pasti minta...." lanjut Sifa sambil menutupi bibirnya.


"Aku mau es kelapa, minum di pendopo sebelah sana sambil menikmati suasana sawah, pasti menyegarkan tubuh dan menyejukkan hati hingga membangkitkan stamina kembali setelah seharian kemarin terkuras habis," sahut Vino memotong ucapan Sifa.

__ADS_1


Sifa terperangah mendengar ucapan Vino, kemudian dengan senyum nakalnya Vino membisikkan sesuatu di telinga Sifa.


"Kamu pasti mikir yang enak-enak ya......" bisik Vino membuat wajah Sifa langsung memerah, benar saja Sifa pikirannya sudah kemana-mana.


"Kamu ngeselin ikh!" Sifa membuang muka kemudian beranjak dari sana dan menyibukkan diri dengan membereskan tempat tidur.


Melihat itu, Vino cukup senang akhirnya Sifa sudah kembali seperti sedia kala, tinggal membantu menyembuhkan kesedihan di hatinya yang masih betah singgah hingga mampu kembali benar-benar ceria.


"Sayang......" seru mamah saat melihat Sifa yang berjalan menuju meja makan bersama dengan Vino.


"Mah..." jawab Sifa tersenyum.


"Sini sayang ayo kita sarapan bareng yuk, tadi para pelayan sudah sibuk dari pagi menyiapkan makanan, katanya kesukaan nduk Sifa."


"Oh iya mah, mereka memang selalu begini setiap Sifa pulang menuruti perintah nenek sampai di jadikan kebiasaan," Sifa tersenyum tipis mengingat kali sang nenek, kemudian melirik kursi kosong yang biasa di pakai nenek Arum saat sarapan bersama.


Mamah yang mengerti segera mendekati dan menggeser kursi agar segera duduk untuk mengalihkan pemikirannya.


"Duduk sayang, nah....hari ini anak mamah tampak cantik sekali, rambutnya di kepang seperti ini pas dengan suasana di desa. Kamu tampak ayu nak!"


"Seperti gadis desa ya mah?" sahut Vino.


"Awas Vin nanti kalo ada pemuda desa yang kesengsem sama istri kamu, mana orang sini alim-alim, baik, nggak kalah tampan sama orang kota, sopan lagi!"


"Papah nich apa sich! aku kan ada terus di samping Sifa, nggak bakal biarin Sifa jalan sendirian. Lagian emangnya aku kurang tampan? kurang sopan? kurang baik?" ucap Vino kesal mendengar pujian dari sang papah yang justru seakan menyudutkan dirinya.


Mendengar itu papah tersenyum senang, dia berhasil membuat Vino kesal dan tau seberapa sayangnya dia pada Sifa.


"Dulu marah-marah ya mah, sekarang udah kayak bucin banget, lagian kamu ini suami apa bodyguard sampe Sifa kemana-mana nggak boleh sendiri!" papah tak hentinya meledek Vino hingga Vino malas mendengarkan lagi ocehan papahnya.


"Sayang sekarang kamu makan ya, nggak usah dengerin kata papah oke!" Sifa hanya tersenyum menanggapi ucapan Vino dan di sambut dengan tawa dari keluarga yang lain.

__ADS_1


Setelah sarapan Sifa mengajak Vino untuk berkeliling, Sifa berjalan dengan Vino yang setia mendampingi, sesekali ekor matanya basah setiap mengingat canda tawa yang tercipta antara dirinya dengan almarhum nenek. Langkah Sifa membawa dirinya hingga menuju pintu kayu dengan ukiran khas batik, pintu dengan warna coklat tua dengan dua bagian terlihat kental akan khas Jawa.


Tangan gadis itu terulur membuka pintu tersebut, mata keduanya langsung di sambut oleh bingkai foto yang besar dengan berisikan empat anggota yang ketiganya sudah tiada.


Sifa tersenyum getir melihat takdir hidup yang harus ia jalani. Langkahnya berhenti tepat di depan bingkai itu, mengamati satu persatu orang yang ia sayangi hingga tak sanggup menahan tangis.


"Ini waktu aku berumur lima belas tahun, terakhir kali aku kesini bersama mamah dan papah dan terakhir kali pula aku melihat mereka. Karena sepulang dari sini kita mengalami kecelakaan, yang membuat kedua orangtuaku tiada. Ini pertama kali aku merasa kehilangan yang sangat mendalam. Aku merasa tak adil akan kuasaNya, kenapa hanya aku yang selamat...."


"Nenek selalu menginginkan aku untuk tinggal bersamanya tetapi selalu aku tolak, hingga sekarang nenek pun sudah berpulang. Aku cukup menyesal kenapa tidak menuruti permintaan beliau." Sifa menarik nafas panjang berusaha mengurangi sesak di dadanya.


"Tapi ada satu yang membuat aku paham, kenapa nenek selalu mencemaskan aku selama ini hingga menjodohkan aku sama kamu, karena ada saatnya aku akan merasakan kehilangan kembali. Beliau tau aku nggak akan kuat menghadapinya sendiri, begitu sayangnya hingga benar-benar mempersiapkan semuanya. Memberikan aku keluarga kembali, tanpa ingin aku terus merasakan sedih."


Vino menggenggam tangan Sifa dengan kuat, hatinya begitu ngilu mendengar semua ucapan Sifa. Hingga tak kuat saat mata sendu itu kembali menetes kan cairan.


"Aku udah nggak punya siapa-siapa Vin, semua udah pergi ninggalin aku...." Vino memeluk erat tubuh Sifa yang bergetar dengan Isak tangis yang menyakitkan.


"Sssttt.....sayang dengerin aku, ada aku yang selalu mendampingi kamu, mengiringi setiap langkah kamu, menjadi tiang yang kokoh saat kamu butuh pegangan, menjadi tembok yang kuat saat kamu butuh sandaran dan menjadi penerang saat hati kamu butuh cahaya untuk melangkah ke depan. Ini semua yang nenek siapkan untuk kamu, agar kamu kuat menjalaninya dan nggak sendiri untuk merasakan kesedihan."


Vino merenggangkan pelukannya, melihat manik mata sendu yang basah, berusaha untuk tersenyum memberi kekuatan.


"Ikhlaskan ya, semua sudah berjalan sesuai kehendakNya. Allah menjodohkan kita untuk saling menguatkan, menyayangi dan mengasihi. Dia menggantikan yang hilang dengan yang datang, memberikan kesedihan lalu bahagia, kadang di bawah kadang di atas. Karena hidup tak melulu harus tertawa, butuh air mata agar bisa kembali tegar, butuh luka agar bisa semakin kuat dan butuh di injak agar bisa semakin tegak."


cup


"Tetap menjadi Sifa yang aku kenal, ceria, kuat, dan penuh kejutan!" ucap Vino dengan senyum yang membuat hati Sifa terenyuh.


"Makasih udah mendampingi aku dan menguatkan ku, aku akan berusaha ikhlas...."


"Iya sayang, semangat lagi ya untuk menjalani semuanya." Vino mengusap lembut pipi Sifa dengan sayang.


"Duduk sini yuk by pegel berdiri terus!" Sifa mengajak Vino untuk duduk di kursi kerja nenek, dengan Vino yang duduk di depan Sifa dengan terhalang meja.

__ADS_1


Mata Sifa tak sengaja melihat sebuah surat di atas tumpukan buku dengan sebuah kotak di atasnya. Sifa yang penasaran segera mengambil kotak tersebut dan membukanya, mata Sifa terbelalak melihat isi dari kotak tersebut, tangannya menutupi mulut yang sedikit menganga, dia tak menyangka nenek akan menyiapkan semua untuk nya.


"Sayang itu........."


__ADS_2