Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Sayang


__ADS_3

Bell berakhirnya pelajaran yang mengusik telinga membuat gadis cantik dengan seabrek kesibukannya hari ini segera kembali menuju kelas untuk mengambil tas dan segala perlengkapannya. Pak Budi yang bersiap ingin pulang menyempatkan diri untuk menghampiri Sifa yang sedang berjalan melewati ruang guru.


"Sifa!"


"Iya ada apa Pak?" Sifa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Pak Budi.


"Sudah siap untuk besok?"


"Sudah pak, besok tinggal perang!" ucap Sifa dengan senyum merekah.


"Bagus! jangan tidur larut ya agar besok fresh mengerjakan soal-soalnya!"


"Beres Pak! ya udah saya pulang dulu ya Pak! salam buat Ibu Budi," ucap Sella yang membuat Pak Budi menggelengkan kepalanya.


"Kamu ngeledek Sifa?"


"Iya kan ada Pak Budi berarti dirumah ada Ibu Budi!"


"Sayangnya saya masih jomblo Sifa!" Jawaban Pak Budi membuat Sifa meringis.


"Ya udah besok kita cari Ibu Budi ya pak, di sana pasti banyak guru cantik yang masih jomblo," ucap Sifa menenangkan Pak Budi.


"Oke dech, besok kita cari sama-sama ya, siapa tau beruntung. Ya udah kamu cepat pulang!"


"Siap pak!"


Sifa memasuki kelas yang sudah agak sepi, tinggal beberapa murid yang masih membereskan buku dan kedua sahabatnya yang sejak tadi menunggu kedatangannya.


"Loe ngedekem aja seharian di perpus Fa?"


"Iya Nis, loe tau sendirilah ...."


"Muka loe dah kayak buku Fa..... kotak!" celetuk Meri.


"Loe kata gue Spongebob!"


"Eh tadi Aldi kan bawain loe makan Fa, tapi loe nya nggak ada, kasian dech dia nyariin loe muter-muter! loe tadi kemana sich ngilang?" tanya Nisa dan di anggukki Meri.


"Kalian kan udah pada tau, gue udah ada pawangnya sekarang! gue makan sama dia di basecamp nya."


"Pantesan di cariin nggak ada, taunya dia mojok! kayaknya udah mulai tercium aroma-aroma cinta nich!" ledek Nisa.


"Iya setuju banget, makin patah hati donk si Aldi," sahut Meri.


"Udah akh, ayo pulang!" ajak Sifa sebelum kedua sahabatnya semakin gencar meledek.


Ketiga gadis itu berjalan menuju parkiran, sesekali mata Sifa mengedarkan pandangannya mencari Vino. Hingga Sifa menangkap sosok Vino yang sedang berjalan berdua dengan Nita, tepatnya Nita yang mengejar Vino menuju motornya.

__ADS_1


"Vin, gue nggak mau putus!" rengek Nita.


"Gue udah nggak mau sama loe lagi, harusnya loe paham lah dan nggak usah maksa!"


Perseteruan keduanya menjadi tontonan murid yang kebetulan masih di sana, Sifa dan kedua sahabatnya yang sejak tadi sudah melihatnya berusaha untuk tidak memperdulikan.


Sampai mata Nita melihat Sifa yang ingin menaiki motornya kemudian dia berlari menghampiri.


PLAK


Sifa yang tidak siap dengan serangan Nita, tubuhnya sempat terhuyung kebelakang karena tamparan Nita yang begitu kuat, beruntung ada Aldi yang segera menahan tubuh Sifa.


Kedua sahabatnya pun tidak tau jika Nita akan menyerang, begitu pun dengan Vino yang di buat menganga melihat Nita yang berlari untuk menampar Sifa.


Sifa merasakan panas dan perih di pipinya hingga membekas tangan Nita yang memerah. Dia berusaha untuk menahan rasa sakit itu kemudian melepas cekalan tangan Aldi yang ada di pundaknya.


"Kamu mau kemana Fa?" tanya Aldi tetapi tidak ada jawaban dari Sifa, gadis itu menatap nyalang Nita yang masih berdiri dengan nafas memburu.


"Puas loe nampar gue?" Sifa berusaha tenang dengan penampilan yang berantakan dan sudut bibir terluka.


Melihat penampilan Sifa membuat Vino tidak tega, pemuda itu segera menghampiri tetapi di tahan oleh Rian.


"Gara-gara loe Vino mutusin gue! dasar cewek brengsek!" bentak Nita yang ingin kembali menyerang Sifa tetapi dengan gesit Sifa menahan tangan Nita yang akan kembali menamparnya.


"Loe bilang gue cewek brengsek dan loe cewek baik-baik gitu?" Sifa masih mencekal tangan Nita dengan gerakan lambat memutarnya hingga Nita merasakan kesakitan.


"Gue kasih tau loe, cewek baik-baik nggak akan ngejar-ngejar cowok apa lagi mengemis cintanya, cewek baik-baik nggak akan merendahkan martabatnya, cewek baik-baik akan menjaga lisannya agar tidak saling menyakiti dan cewek baik-baik nggak akan kasar kayak loe yang bisanya main tangan!" Sifa segera menghempaskan tangan Nita sekencang mungkin hingga tubuhnya mundur kebelakang.


Kemudian Sifa melangkah maju mendekati Nita, "dan gue cewek yang loe anggap BRENGSEK!"


PLAK


Semua yang disana tercengang melihat Sifa yang berbalik menampar Nita.


"Gimana rasanya, hhmm?"


"Itu baru fisik, belum hati yang sakit!" Sifa melirik Vino yang sejak tadi memperhatikannya "Sayang kok diem aja sich, ayo pulang!" ucap Sifa manja yang membuat semua semakin menganga termasuk Aldi dan kedua sahabatnya yang belum pernah melihat Sifa semanja ini.


Tak beda dengan Vino, pemuda itu juga di buat terkejut dengan panggilan sayang dan sikap manja Sifa yang membuat jantungnya mulai berlompatan. Vino segera menyalakan motornya dan berhenti di depan Sifa.


"Ayo sayang naik!" Vino meraih tangan Sifa untuk segera naik ke atas motornya. Dengan senyuman manis Sifa segera menaiki motor Vino.


"Ini cewek BRENGSEK yang udah memenangkan hati MANTAN loe!" ucap Sifa sebelum Vino melajukan motonya kemudian memeluk pinggang Vino yang membuat semua histeris.


Aldi yang sejak tadi berdiri di sana masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ada rasa sakit di hatinya tetapi mengingat janjinya dengan Sifa membuat dia berusaha untuk tetap tenang dan segera masuk ke dalam mobil.


"Gue nggak akan biarin loe merebut Vino dari gue! akkkhhhh!" geram Nita yang mendapat tatapan iba dari beberapa murid.

__ADS_1


"Ngapain kalian lihat-lihat! bubar semuanya!" teriak Nita yang semakin marah dan malu kerena Sifa yang berani-beraninya mempermalukan dirinya di depan umum.


Sifa semakin mengeratkan pelukannya saat pipinya terasa begitu perih, Vino yang merasa Sifa tidak baik-baik saja segera mempercepat laju motornya, hingga sesampainya di parkiran apartemen Vino membalikkan tubuhnya melihat kearah Sifa yang sudah pucat dengan luka yang sudah mengering.


Vino turun dari motor dan dengan sekali hentakkan mampu mengangkat Sifa kedalam gendongnya.


"Aku bisa jalan sendiri Vin, kaki aku kan nggak sakit!"


Vino tidak menggubris ucapan Sifa, dirinya segera menaiki lift menuju unit apartemen nya. Sesampainya di dalam Vino segera membawa Sifa kedalam kamarnya dan merebahkan tubuh gadis itu di sana. Dengan langkah cepat Vino mengambil baskom yang ia isi dengan es batu dan meraih handuk kecil untuk membungkusnya.


"Sayang aku kompres dulu ya pipinya!" ucap Vino lembut kemudian mengompres pipi Sifa.


"Auwwhhh sssssshhhh sakit Vin!" rengek Sifa membuat Vino tidak tega.


"Sabar ya, aku pelan-pelan kok biar nggak bengkak pipinya, maafin aku ya karena aku kamu terluka begini!" ucap Vino tulus.


"Mantan kamu bar-bar!" celetuk Sifa dengan wajah di tekuk.


"Tapi istri Vino jagoan!" ledek Vino.


"Kalo nggak jago, nggak kuat jadi istri kamu yang harus ngadepin banyak fans dan mantan kamu yang lebay!" cibir Sifa.


"Tapi aku salut sama kamu, kamu berani ngakuin aku tadi"


deg


Sifa kemudian mengingat-ingat semua kejadian yang ada di parkiran tadi dan teringat akan sikap manjanya dengan Vino. Raut wajah yang tadinya memucat kini sudah bersemu merah menahan malu. Sifa menarik selimut untuk menutupi wajahnya dan itu membuat Vino menjadi gemas.


"Kok di tutupin, nanti aku nggak bisa lihat wajah gemas istri aku lagi donk," ledek Vino menahan tawanya melihat kelakuan Sifa yang membungkus seluruh badannya.


"Mana tadi yang manja, coba aku mau denger lagi panggilan sayangnya!"


"Vino sana aku malu!" rengek Sifa di balik selimut.


"Tadi banyak orang aja nggak malu, masak giliran sama aku malu, ayo keluar!"


"Nggak mau," Sifa sebisa mungkin menolak.


"Keluar sayang!"


"Nggak mau!"


"Ya udah aku pergi aja dech..." Vino beranjak dari tempat duduknya.


"Ikh mau kemana?" tanya Sifa yang segera keluar dari selimutnya dengan wajah cemberut.


"Balikin ini!"

__ADS_1


"Vino!"


__ADS_2