Cinta Berawal Luka

Cinta Berawal Luka
Terimakasih...


__ADS_3

Kedekatan Vino dan Sifa santer terdengar, apa lagi dengan datangnya kedua orang tua Vino sebagai pemilik yayasan di acara kelulusan. Semua dapat melihat jelas keakraban orang tua Vino dengan Sifa. Bahkan pada saat mereka datang, Sifa menyambut dengan senyum bahagia dan pelukan hangat sang mamah.


Desas desus calon mantu semakin tajam di telinga. Tetapi tak membuat Sifa dan Vino terganggu, mereka hanya biasa saja menanggapi cuap-cuap para murid-murid lain yang membuat berita semakin simpang siur.


Di tambah lagi sang mamah mertua yang mengambilkan surat hasil kelulusan, dan keluar dari ruangan dengan sangat bangga. Beliau segera memeluk dan mencium Sifa karena mendapatkan nilai yang memuaskan.


"Selamat ya nak, anak mamah pintar sekali, nilai kamu bagus sayang. Benar-benar sempurna..Vino pasti bangga memiliki kamu! udah cantik, pintar, sayang sama orang tua. Nenek dan kedua orang tua kamu pasti bangga nak di sana melihat anaknya begitu cerdas dan mandiri."


"Makasih mah, mamah terlalu berlebihan, bahkan Sifa menganggap ini semua hanya titipan mah."


Vino dan sang papah berjalan mendekati Sifa dan juga mamah, mereka tersenyum bahagia. Vino pun mendapatkan nilai yang bagus walaupun masih di bawah istrinya. Tapi membuat kedua orang tuanya tak menyangka.


"Nilai kamu bagus sayang, selamat ya kalian memang membanggakan. Mamah nggak nyangka Vino dapet nilai segini Fa, kamu apakan dia hingga mendapat nilai bagus seperti ini?"


"Iya papah pun tadi cukup terkejut melihatnya, papah sempat berpikir ini salah alamat. Eh pas papah lihat amplopnya lagi, benar ini nama anak papah," ucap papah membuat mamah dan Sifa tertawa, tetapi tidak dengan Vino, dia hanya mendengus melihat sikap papah yang sedikit meremehkan.


"Aku nggak apa-apain kok mah Pah, mas Vino belajar sendiri, mungkin karena keseriusannya dia bisa sampai seperti ini. Sifa juga bangga sama mas Vino."


Vino tersenyum dan tak menyangka dengan sebutan yang Sifa sematkan saat berbicara dengan kedua orang tuanya. Tetapi karena tidak ingin merusak suasana jadi dia tak ingin segera menanyakannya lagi. Hanya tersenyum simpul dan menundukkan kepala.


"Ya udah kita duduk di sana ya mah Pah, acara nya udah di mulai."


Mereka akhirnya duduk di kursi yang telah di sediakan. Kedua orang tua Vino duduk di dekat para guru, karena sebagai pemilik yayasan telah di sediakan kursinya sendiri. Sedangkan Vino kembali mendekati sahabat nya begitupun dengan sifa yang sudah berkumpul dengan Meri dan Nisa.


"Cantik banget ibu yang satu ini, ke salon mana Bu?" tanya Nisa yang memuji kecantikan Sifa, memang di hari kelulusan mereka wajib menggunakan kebaya dan merias diri.


" Ke salon tempat biasa langganan kita, loe lebay dech, paling loe juga kesana kan!"


"Hehehe iya, gue kesana pagi-pagi buta, takut ngantri."


" Sama, gue juga eh tau-taunya udah keduluan si Nisa!" sahut Meri.

__ADS_1


"Tapi gue seneng akhirnya kita bisa lulus sekolah sama-sama, inget kan kita MOS bareng-bareng, menderitanya udah kayak gembel bareng-bareng. Dan sekarang kita lulus pun bersama. Sahabat forever...." ucap Sifa senang.


"Ntar kalo bunting bareng-bareng ya..." celetuk Meri.


"Bunting sama siapa, nikah aja belum loe...awas aja loe udah celup-celup sama Geri!" sewot Nisa.


"Iya bener banget! nikah dulu baru bunting!" ya ap Sifa menimpali.


"Nah tuh, bener kata Sifa. Dia aja belum ada tanda-tanda, loe lagi mau bareng-bareng!"


"Ya kalo gitu hayuklah pulang dari sini kita minta Rian sama Geri buat bawa kita ke KUA."


"Ngebet banget loe Meri!" timpal Sifa.


Di keseruan mereka yang mungkin tak akan terulang lagi karena kedepannya mereka akan memiliki kesibukan masing-masing dalam meniti masa depan.


"Mohon perhatiannya kepada semua murid dan para wali murid yang telah hadir saat ini, saya selaku kepala sekolah ingin mengumumkan nilai terbaik dari anak didik kami, yang selama ini juga telah mengharumkan nama sekolah kita yang tercinta. Setiap tahun mengikuti olimpiade dan memenangkan hingga tingkat nasional."


"Kepada Bapak Doni Baratajaya saya persilahkan naik ke atas panggung...."


Sifa segera naik ke atas panggung di susul oleh sang papah yang akan menyerahkan piala kepada menantu kesayangannya.


Setelah penyerahan piala serta piagam dan penghargaan dari sekolah, Sifa dan pemilik yayasan serta beberapa guru melakukan sesi foto untuk kenang-kenangan.


"Silahkan untuk bapak Doni jika ada yang ingin di sampaikan kepada ananda Sifa." Bapak kepala sekolah mempersilahkan pemilik yayasan untuk memberi sambutan.


"Terimakasih atas kesempatan yang sudah di berikan kepada saya, sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada para guru yang selama ini sudah bekerja keras, para wali murid yang sudah datang dan para murid yang selama tiga tahun ini sudah berjuang, belajar hingga tamat. Dan saya sangat bangga kepada kalian semua, terutama pada Sifa yang selalu membawa nama baik sekolah di setiap olimpiade atau kompetisi yang di adakan dari pihak pendidikan."


Papah merangkul tubuh Sifa dan mengucapkan selamat hingga tak terasa air matanya menetes dan membuat haru sang Mamah yang melihat penuh senyum dari depan panggung.


Begitupun dengan Vino, dia sangat bangga dengan istrinya, yang pintar dalam segala hal.

__ADS_1


"Selamat bro, bini loe the best!"


"Makasih Rian...."


"Kapan launching ponakan gue?" tanya Geri.


"Tunggu aja kabar baiknya, lagi proses mudah-mudahan bentar lagi jadi."


"Widih ada yang udah unboxing nich....." seru Geri.


Vino tersenyum jika mengingat Sifa yang setiap malam selalu melenguh panjang di bawah kungkungannya. Sudah hampir satu bulan tiada libur mereka mereguk nikmatnya berumah tangga. Hingga membuat keduanya semakin rukun dan harmonis.


"Maaf ya saya jadi terharu, Sifa ini anak kebanggaan saya juga, yang kelak akan melahirkan cucu-cucu saya yang pastinya akan memiliki tingkat kecerdasan seperti ibunya."


Mendengar ucapan pemilik yayasan semua tampak ramai dan bertanya-tanya, siapa sebenarnya Sifa, dan ada hubungan apa sebenarnya dengan pemilik yayasan tersebut.


Murid-murid yang lain juga semakin ramai bertanya-tanya, apa sudah sampai ke jenjang serius hingga pemilik yayasan mengatakan seperti itu. Tetapi lagi-lagi tak di hiraukan oleh sang papah, dia membiarkan anak-anaknya yang menjelaskan sendiri. Jika memang menurut mereka waktunya sudah pas dan mereka siap mengklarifikasi.


"Sekian dari saya, sekali lagi selamat untuk nak Sifa, semoga kelak bisa meneruskan ke jenjang lebih tinggi lagi, dan kembali bisa meraih prestasi yang membanggakan untuk kita semua."


"Ya...kali ini untuk ananda Sifa mungkin ada yang ingin di ucapkan..."


"Iya terimakasih untuk semua para guru yang telah membimbing saya selama ini hingga bisa seperti saat ini, bisa meraih prestasi, kalian pahlawan buat saya. Dan terimakasih untuk Bapak Doni selaku pemilik yayasan, yang telah memberikan penghargaan yang sangat berkesan untuk saya."


"Semua yang saya dapat saat ini tak luput dari semangat yang saya tanamkan setiap mengingat almarhum kedua orang tua saya. Dan juga nenek saya yang belum lama berpulang. Beliau yang selalu menjadi penyemangat hingga saat ini."


"Tentunya tidak lupa dengan keluarga baru saya, mamah papah, ini untuk kalian!" ucap Sifa dengan pandangan menoleh ke arah mamah dan papah mertua yang saat ini masih berada di sampingnya.


"Dan satu lagi, penyemangat baru, pelengkap hidup aku, orang yang selalu ada untuk aku. InsyaAllah kelak akan menjadi calon ayah untuk anak-anak aku."


Semua semakin riuh dan tak sabar menunggu kata-kata selanjutnya yang akan Sifa ucapkan. Mereka sudah dalam titik kepo maksimal. Apa lagi dengan ex lambe turah, mereka sudah membuka telinga lebar-lebar.

__ADS_1


"Dia imam aku, Vino Putra Baratajaya......"


__ADS_2