
Keluarga Hadinata adalah keluarga konglomerat yang memiliki aset berharga yang melimpah. Aset itu meliputi beberapa perusahaan yang berkembang pesat, aset rumah, tanah, hotel serta restoran. Namun sayangnya 60% saham perusahaan masih atas nama sang nenek. Oma Juliana, biasa dipanggil Oma Ana. Usianya 78 tahun.
Oma Ana hanya memiliki 1 anak laki-laki yang diberi nama Hadinata. Putra semata wayang calon pemegang tahta kekayaannya. Suami Oma Ana sudah lebih dahulu pergi ke surga. Dari anaknya yang bernama Hadinata, ia hanya memiliki 1 orang cucu laki-laki bernama Alviano Hadinata.
Alvin sendiri bukan tipe anak laki-laki yang ramah. Sifatnya dingin sedingin es kutub utara, sikapnya juga kaku dan keras. Perlakuan manja dan pengabulan segala permintaan dari orangtua dan orang-orang sekelilingnya membuat karakter Alvin menjadi karakter arogant dan kurang mandiri. Memang tak bisa dipungkiri bahwa sebagai cucu satu satunya dari keluarga konglomerat, sudah bisa dipastikan kalau Alvin diperlakukan layaknya raja kecil di dalam istana.
Sudah sangat lama Oma Ana menginginkan kehadiran seorang cicit di rumah besarnya. Rumah yang sangat besar namun lebih mirip seperti kuburan. Sepi dan sunyi. Hanya para assistant rumah yang meramaikan rumah itu. Anaknya, Hadinata terlalu sibuk dengan urusan kantor. Desiana, Istrinya pun juga sama sibuknya dengan urusan hotel dan restoran milik keluarga.
Oma Ana sudah sering meminta kepada anaknya Hadinata untuk segera menikahkan Alvin. Sayangnya hal itu tidak pernah diindahkan sama sekali oleh Alvin. Dan Hadinata sebagai orangtuanya pun tidak mampu untuk memaksa keras kepalanya Alvin untuk segera mengabulkan permintaan dari Oma nya itu.
Usia Alvin sendiri sudah hampir menginjak kepala tiga. Namun sampai sekarang, ia masih belum memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga. Sebenarnya Alvin sendiri sudah memiliki kekasih yang ia suka. Wanita yang sudah ia pacari selama empat tahun lamanya. Celine Oktorina, wanita yang Alvin suka. Teman kuliahnya selama di Amerika. Celine warga negara Indonesia keturunan sunda dan Turki. Wajahnya nyaris sempurna sebagai wanita. Sungguh karunia Tuhan yang sangat indah.
Sayangnya, Oma Ana kurang menyetujui hubungan Alvin dengan Celine. Menurut Oma Ana, Celine memiliki kepribadian yang lebih mendominasi. Selalu ingin diperhatikan, menang sendiri, dan yang lebih penting adalah Celine tidak bisa bersikap hormat kepada orangtua. Budaya orang Timur yang dimiliki Celine seolah sudah tertelan dengan budaya barat yang ia jalani selama ini.
Memang kalau ditelisik dari sisi derajat dan martabat keluarga, antara Alvin dan Celine bisa dibilang sejajar. Keluarga Celine termasuk dalam kategori keluarga kaya yang terpandang. Ditambah lagi profesi Celine yang menjadi model cukup terkenal di Amerika menambah statusnya semakin tinggi.
Sebenarnya Oma Ana sudah pernah mengalah untuk mencoba menerima Celine sebagai menantu di rumahnya. Asalkan setelah menikah, Celine harus mau tinggal di Indonesia bersama Alvin cucunya. Namun sangat disayangkan, hal itu ditolak mentah mentah oleh Celine. Celine kekeh ingin dirinya dan Alvin untuk tinggal di Amerika. Hal inilah yang membuat hubungan Alvin dan Celine selalu terhambat ke jenjang yang lebih serius.
*****
Malam ini Oma Ana dan keluarga menikmati santap malam bersama orang tercinta. Semua anggota lengkap hadir dalam suasana makan malam yang hikmat. Di tengah tengah makan malam, Oma Ana menghentikan kegiatan makannya yang sebelumnya sudah mengelap mulutnya dengan kain sutra khusus untuk makan.
(Berdehem)
"Maaf, Oma ingin mengganggu makan malam kalian sebentar." semua anggota keluarga yang hanya terdiri dari Hadinata, istri dan Alvin menolehkan kepalanya ke arah sang Oma nya yang terlihat serius.
"Umur Oma makin lama makin bertambah. Oma ga tau kapan akan mati. Namun sebelum Oma mati, Oma ingin melihat Alvin sudah harus menikah"
Alvin mendengus kesal merasa sangat bosan dengan permintaan monoton dari sang Oma kepadanya.
__ADS_1
"Oma kenapa sih, selalu saja yang diminta hal yang sama." sanggah Alvin tak terterima.
"Karna kamu tidak pernah mengabulkan permintaan Oma!!" suara tegas Oma Ana mulai meninggi saat suara cucunya dirasa mulai kurang sopan kepadanya.
"Ya sudah kalau begitu lusa aku akan menikah. Aku akan segera menghubungi Celine untuk segera datang ke sini"
"Tidak dengan Celine!!! Oma akan mencarikan kamu wanita yang lebih baik dari Celine. Dan kamu akan menikah dengan wanita itu!!"
Semua mata terbelalak dengan perkataan Oma Ana yang terdengar kurang masuk akal. Oma Ana akan mencari wanita untuk Alvin? Itu ga mungkin. Batin Laura, mama Alvin sangat memprotes keinginan ibu mertuanya itu.
"Oma, pernikahan itu bukan sebuah permainan game. Kalau berakhir bisa ulang lagi dari awal. Alvin ga mau!!! Aku hanya ingin menikah dengan Celine. Titik!!!" ucap Alvin geram dengan penuh penekanan. Emosinya mulai terpancing.
"Kalau kamu menolak, dengan sangat terpaksa saham perusahaan 60% yang masih atas nama Oma, akan Oma hibahkan semuanya ke panti sosial dan orang-orang yang membutuhkan. Termasuk aset hotel, restorant serta rumah yang Oma miliki." suara renta Oma Ana terdengar sangat menakutkan malam itu. Laura dan Hadinata pun saling bertukar pandang cemas.
"Mama... Apa tidak sebaiknya Mama kasih waktu lagi buat Alvin mempersiapkan pernikahannya sendiri. Mama juga ga mau kan kalau pernikahan Alvin dengan wanita yang Mama jodohkan ga berakhir bahagia?" ucap Hadinata dengan bijak.
Sepergian Oma Ana, Hadinata saling bertatapan dengan istri dan juga ke arah Alvin. Alvin merasa sangat tidak nyaman dengan suasana yang sangat menyudutkannya. Dengan kasarnya Alvin mendorong kursi makan dan pergi begitu saja. Alvin memilih memasuki kamarnya dan membanting pintu kamar dengan kencang sehingga menimbulkan suara gaduh yang lumayan keras.
Pak Hadi dan istri hanya bisa menhela nafas dan menggelengkan kepalanya dengan sikap arogannya Alvin. Sikap Alvin kadang memang sudah keterlaluan. Sikap amoral yang bisa dibilang kurang ajar. Namun ibarat nasi sudah menjadi bubur, sudah sangatlah sulit untuk merubah kelakuan Alvin menjadi ke arah yang lebih sopan.
Alvin meraih ponselnya dan langsung meghubungkannya dengan nomor ponsel Celine. Nada panjang teratur yang terdengar menandakan kalau saat ini nomornya sudah berhasil tersambung dengannya.
"Halo..." suara renyah dari sebrang telpon membuat Alvin tak sabar untuk segera mengutarakan maksud hatinya.
"Celine... Aku sudah tidak bisa memberi kamu waktu lagi. Kamu harus kembali ke Indonesia besok." suara Alvin bagaikan petir yang menggetarkan jiwa Celine.
"Hei, sayang... Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba memintaku kembali ke Indonesia?"
"Aku ingin kita segera menikah lusa. Oma sudah mulai ga waras ingin menjodohkan aku dengan wanita lain"
__ADS_1
"Whaaattttss??? Kamu serius?"
"Apakah suaraku terdengar sedang bercanda?"
"Lalu apakah setelah kita menikah kamu bersedia tinggal disini? Di Amerika?"
"Tidak. Kamu yang harus mengikutiku untuk tinggal disini, bersamaku."
"Sayang, pleasee.... Aku ga mungkin ninggalin pekerjaan aku disini. Ini mimpiku sayang..."
"Kamu bisa kembangkan karir kamu di sini. Sama saja kan?"
"Sayaang... Karir aku sedang bagus-bagusnya. Ga mungkin aku tinggalkan begitu saja. Lagipula, kalau aku disana aku harus memulai karirku dari nol. Sedangkan disini, aku sudah punya nama. Tolong kamu rayu lagi saja Oma kamu. Siapa tau Oma kamu mau ikutin kemauan kamu"
"Aku sudah lelah mengikuti kemauan kamu Celine. Sekarang terserah kamu saja. Aku ga peduli...!!"
Alvin mematikan sambungan telponnya dengan frustasi. Dibantingnya dengan kasar ponselnya ke lantai. Ponselpun hancur berserakan. Emosi Alvin sudah sampai ubun ubun kepalanya. Dikepalkannya tangannya dan dihantamnya cermin lemari bajunya. Darah segarpun mengalir dengan lancar dari sela-sela jarinya. Rasa sakit dari goresan kaca yang menyobek tangannya tak sebanding dengan rasa marah dan kesalnya yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya.
.
.
.
Hai Readers... Terima kasih ya sudah mau mampir ke sini...
Ikuti terus lanjutannya ya...
❤❤❤❤
__ADS_1