Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Kembali Bekerja


__ADS_3

Nanda sudah menuntaskan makan siangnya. Dengan cepat, ia membereskan tempat makannya dan bersiap kembali ke tempat kerjanya. Vira rekan kerja yang cukup dekat dengannya merasa prihatin dengan kondisi Nanda. Vira sudah tau akan penyakit yang diderita orangtua Nanda. Awalnya Nanda tidak pernah bercerita tentang penyakit ibunya. Karna Vira sudah beberapa kali pernah main ke rumah Nanda dan melihat sendiri kondisi ibunya, akhirnya Nanda mau juga berbagi cerita tentang penyakit yang diderita ibunya. Dari cerita tentang penyakit ibunya, sampai biaya pengobatan dan akhirnya tanpa Nanda sadari ia menceritakan adanya hutang besar dari ayahnya yang harus ia tanggung juga. Tak heran kalau Nanda harus bekerja keras demi membantu melunasi hutang ayahnya. Bahkan Nanda harus bekerja di tempat ke dua yakni di sebuah radio swasta sebagai penyiar demi.mendapatkan uang tambahan.


"Nda, loe keliatan kurus. Loe kayaknya butuh istirahat ekstra deh" Nanda hanya tersenyum simpul dengan ucapan Vira.


"Masa sih? Bagus dong kalau gue kurusan" jawab Nanda sambil nyengir memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapih.


"Kalau kurusnya padat berisi sih masih keliatan bagus. Lah ini kurus kosong kerempeng begini, apanya yang bagus. Coba deh loe sekali kali makan makanan yang bergizi. Jangan nasi telor, tempe sama sayur mulu. Sekali kali makan daging kek... Ayam atau bebek kek... Biar badan loe keliatan sedikit semok" Nanda hanya terkekeh dengan perkataan Vira yang terlalu lebay memberikan perhatian kepadanya.


"Kan loe tau Vir, bagaimana kondisi ekonomi keluarga gue. Jadi gue harus ngirit"


"Iya sih gue tau. Tapi gue ga tega liat badan loe yang makin lama makin kerempeng kayak kerupuk kulit. Btw, loe masih kerja di radio xxx?"


"Hmm... Masih. Walau cuma part time, tapi fee nya lumayanlah... Itung-itung sekalian ngasah bakat ngomong gue hehehehe..."


"Trus, nyokap loe apa kabar? Sudah membaik atau masih sama kondisinya?"


"Sudah cukup membaik. Selama pengobatannya rutin, kondisi nyokap tetap stabil dan lebih kuat"


"Oh, syukurlah... Oia Nda, ntar selesai kerja kita nyobain resto Jepang all you can eat yang baru buka sebelah ujung sana yuk. Kata si Tina yang udah pernah nyobain masakannya enak. Dan masih ada promo menariknya. Gue yang traktir deh, gimana?" ucap Vira dengan sangat semangat.


"Kayaknya gue ga bisa deh Vir. Kan gue harus jalanin hukuman dari bu Silvi, jam kerja gue nambah dua jam. Emangnya loe mau nungguin gue selesai kerja?"


"Hmm... Dua jam? Lama juga ya..." Vira memayunkan bibirnya merasa kesal dengan keadaan yang ada.


"Ya udah, gimana kalau besok aja?" tambahnya lagi.


"Emm... Okay. Tapi tawaran traktirnya masih berlaku kan Vir?"


"Tenaaaaangg... Semua bisa diatur"


"Makasih ya Vir, elo emang temen gue yang baik bangeeetttt" Nanda memeluk erat tubuh Vira dengan gemas. Saking eratnya pelukan Nanda mebuat Vira tidak nyaman dan memekik untuk dilepas.


"Iya ya... Buruan lepasin gue... Gue ga bisa napas nih..." dengan cepat Nanda melepaskan pelukannya sambil tersenyum lebar. Namun tak lama, Nanda memeluk kembali tubuh Vira. Namun pelukannya kali ini tidak menyiksa temannya itu.


"Udah yuk balik kerja. Ntar si ibu suri keburu keluar tanduknya kalau kita kelamaan istirahatnya" ucap Vira yang langsung diangguki oleh Nanda.


Nanda dan Vira kembali menjalani aktivitasnya sampai jam kerja selesai. Namun hari ini mereka terpaksa tidak bisa pulang bareng karna jam kerja mereka yang berbeda. Nanda mengangguk sambil melambaikan tangan ketika Vira berpamitan untuk pulang.


"Ok, dua jam lagi. Dua jam ga lama Nanda. Semangaaatt..." ucap Nanda menyemangati dirinya.


Memang benar, waktu dua jam jika dihabiskan untuk bekerja tidaklah terasa lama. Apalagi kondisi resto yang semakin malam semakin ramai membuat Nanda tidak merasa lelah dan tetap senang melayani setiap pembeli yang datang.

__ADS_1


****


Nanda bergegas keluar dari resto menuju halte bus. Setelah sampai di dekat kawasan perumahan elit Oma Ana, Nanda memutuskan untuk menggunakan jasa ojek pangkalan untuk menuju rumah itu. Rasa lelah dan pegal karna bekerja seharian membuat kakinya tak mampu jika harus berjalan seperti tadi pagi.


Tepat pukul sembilan malam, Nanda telah sampai di depan rumah megah Oma Ana. Nanda sudah melewatkan jam makan malam keluarga itu. Pagar rumah yang sangat tinggi terasa sangat sulit untuk di masuki. Nanda harus bersabar menunggu security yang bertugas membukakan pintu untuknya.


Awalnya security yang berjaga tidak memperbolehkan Nanda untuk masuk. Mungkin ini karna aecurity aplusan yang jaga malam itu belum mengenali wajah Nanda dan memahami statusnya di rumah itu. Nanda memaklumi hal itu. Karna para penjaga yang bertugas di rumah Oma Ana cukup banyak dan orangnya juga berganti-ganti.


Raut wajah security terlihat curiga dan tidak percaya saat Nanda mengatakan bahwa ia adalah istri dari Alviano Hadinata, cucu satu satunya Oma Ana. Hal itu tentulah sangat wajar, mengingat kondisi Nanda yang datang tanpa mengendarai mobil dan ditambah lagi pakaian Nanda yang sudah terlihat lusuh membuat security rumah yang berjaga semakin tidak mempercayai dirinya. Mana mungkin istri dari konglomerat sekelas Alviano Hadinata terlihat lusuh dan kumuh? Pasti itulah yang ada dibenak security itu.


Beruntung saat itu ada pak Toni sopir pribadi Oma Ana yang sedang duduk di pos security. Nanda selamat karna pak Toni mengiyakan akan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Nanda. Nanda menarik nafas lega.


"Terima kasih pak Toni. Saya masuk dulu ya..."


"Sama-sama nyonya. Silahkan" jawabnya dengan sangat sopan.


Nanda melanjutkan melangkahkan kakinya memasuki rumah Oma Ana yang sangat megah. Security yang berjaga malam itu sepertinya telah menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ya sudahlah, biar itu menjadi tugasnya pak Toni yang menjelaskan tentang dirinya kepada para security yang berjaga malam ini.


***


Dengan perlahan, Nanda membuka pintu utama rumah Oma Ana. Pintunya tidak dikunci. Dengan langkah ragu dan hati-hati, Nanda menutup kembali pintu besar itu dan berjalan perlahan menuju ke lantai dua ke kamar Alvin.


"Se-selamat malam pak Markus. Maaf saya tadi tidak melihat bapak. Jadi saya..."


"Tidak apa-apa nyonya. Apakah anda membutuhkan sesuatu? Saya akan segera menyiapkannya untuk anda"


"Ah, tidak usah pak Markus terima kasih. Saya mau langsung ke kamar saja ya"


"Nyonya, Apa anda sudah makan malam? Jika belum, saya akan menyiapkannya untuk anda"


"Ti-tidak usah. Saya sudah makan. Terima kasih ya pak Markus. Saya ijin ke atas dulu ya pak"


"Silahkan nyonya."


Nanda bergegas menuju ke lantai dua. Selama perjalanan menuju anak tangga, mata Nanda tidak melihat adanya tanda tanda kehidupan pemilik rumah di rumah ini. Ruang makan terlihat kosong. Ruang tamu yang besar juga kosong. Yang terlihat hanya beberapa ART yang masih sibuk bekerja membersihkan rumah.


Rumah ini memang sangat besar, tapi benar benar terasa sangat sepi dan dingin. Tidak ada kehangatan sebuah keluarga sama sekali. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Nanda mengetuk pelan pintu kamar Alvin. Nanda tidak ingin membuat kegaduhan seperti kemarin. Apalagi ini sudah malam. Pasti akan sangat mengganggu semua penghuni rumah ini. Terutama Oma Ana.


Tidak ada jawaban atas ketukan pintu Nanda. Nanda mencoba untuk menekan gagang pintu kamar Alvin. Dan...

__ADS_1


Klik...


Ternyata pintu kamar Alvin tidak dikunci. Sepertinya Alvin memang sengaja untuk tak mengunci pintu kamarnya agar Nanda bisa dengan mudah masuk.


Dengan sangat hati-hati, Nanda membuka pintu dan menutupnya kembali dengan suara yang pelan. Langkah kakinya melambat sedikit mengendap-endap sambil menelusuri sekeliling isi kamar mencari sosok Alvin di sana.


Ranjang Alvin sudah terpasang sprei dan bed cover baru. Alvin tak nampak di sana. Nanda menarik nafas lega karna tidak ada sosok Alvin yang menyebalkan. Setidaknya malam ini ia tidak perlu berdebat mulut dengannya.


"Darimana saja kamu?" langkah Nanda terhenti seketika saat suara khas yang familiar di telinganya terdengar sangat jelas menegurnya.


Nanda menolehkan pandangannya ke arah suara Alvin yang ternyata sedang duduk menikmati segelas anggur di sudut jendela kamarnya yang berada menjorok ke sudut. Alvin sudah memakai piyama kimono sutra berwarna hitam dengan motif garis-garis samar. Sepertinya Alvin sudah bersiap untuk pergi tidur.


"Ma-mas Alvin. Ka-kamu belum tidur?" ucap Nanda balik bertanya.


"Jawab pertanyaanku!"


"Ma-maaf aku pulang terlambat. Hari ini aku masuk kerja. Cutiku sudah habis, jadi aku harus masuk hari ini"


"Memangnya kamu kerja dimana jam segini baru pulang? Apa kamu sengaja lembur biar dapet uang tambahan?" ucap Alvin selalu dengan senyum sinis dan mencela.


Tubuh Nanda sudah sangat terasa lelah dan lengket. Ia enggan jika harus meladeni pertanyaan Alvin yang nantinya akan menyulut emosinya. Yang ia butuhkan sekarang adalah mandi dan segera tidur.


"Iya" jawab Nanda cepat.


"Sungguh menyedihkan" ucap Alvin lagi sambil meneguk gelas anggurnya.


"Badanku lengket. Aku mau mandi" Nanda segera mengambil pakaian bersih dari kopernya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Nanda memang tidak berani mengeluarkan isi kopernya untuk dipindahkan ke lemari. Karna Alvin tidak menyuruh atau mengijinkan dirinya memindahkan isi kopernya ke dalam lemari.


Kurang lebih dua puluh menit lamanya, Nanda sudah selesai mandi dan keluar sudah lengkap dengan piyama tidurnya. Rambutnya yang basah ia tutup dengan handuk. Mata Nanda sudah menunjukkan cahaya lima watt yang sebentar lagi akan redup. Tubuhnya yang lelah juga ingin untuk segera direbahkan.


"Aku akan tidur di sofa. Terima kasih sudah tidak mengunci pintu kamar. Mataku sudah mengantuk. Aku tidur dulu ya mas... Selamat malam..." Nanda tak memperdulikan reaksi apa yang akan Alvin berikan untuknya. Matanya sudah terasa sangat berat. Meski harus tidur di sofa, namun sofa ini terasa nyaman dan mampu membuai Nanda ke dalam mimpi indahnya. Tubuhnya juga terasa lega ketika seluruh tubuhnya bisa direnggangkan untuk diistirahatkan.


Alvin hanya mendengus kesal ketika telinganya mendengar dengkuran halus dari arah sofa tempat dimana Nanda tidur.


"Huft, dasar perempuan aneh. Cepat sekali dia tidur..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2