
Malam ini Nanda sengaja menyibukkan diri dengan setumpuk buku-buku lengkap dengan segunung tugas kampusnya. Nanda ingin fokus dengan kuliahnya. Dirinya sudah bertekad untuk bisa menyelesaikan kuliah kedokterannya tepat waktu. Apapun yang terjadi, ia harus bisa berhasil melewati tahapan demi tahapan studinya.
Diliriknya ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ponselnya bergetar.
"Ibu Calling..."
Sebuah senyuman tipis tersungging di bibir tipisnya. Tanpa pikir panjang, di raihnya ponsel itu dan ditekannya tombol hijau.
[Halo Ibu...]
[Sayang... Kamu sedang apa? Apakah ibu mengganggumu Nak?]
[Tidak ibu, Nanda tidak sedang sibuk kok. Hanya sedang membereskan kamar saja. Ibu.. Ada apa?] Nanda sengaja berbohong agar ibunya tidak khawatir.
[Tidak ada apa-apa. Ibu hanya kangen saja denganmu. Kamu kapan berkunjung lagi ke rumah ibu? Kamu sudah lumayan lama tidak datang mengunjungi ibu dan ayah]
[Maafin Nanda ya Bu. Nanda belum sempat mengunjungi ibu. Nanti kalau Nanda ada waktu, Nanda pasti pulang ke rumah mengunjungi ibu. Oia, ibu dan ayah bagaimana kabarnya?]
[Kami berdua baik. Ibu dan ayah juga sehat. Ibu merasa sangat baik sekarang. Ibu sudah bisa berbelanja ke supermarket tanpa rasa lelah yang berlebihan]
[Syukurlah kalau ibu sudah lebih baik. Nanda sangat senang mendengarnya]
[Sayang, kalau kamu belum bisa mengunjungi ibu, bagaimana kalau ibu dan ayah saja yang datang ke rumahmu? Bagaimana? Boleh ya? Ibu sangat ingin melihat tempat tinggalmu Nanda]
[Ibu... Maaf. Nanda tidak bisa memutuskan boleh atau tidaknya. Soalnya ini rumah mas Alvin. Nanda harus ijin dulu dengan dia]
[Ibu ini kan ibu mertuanya, masa iya dia tidak mengijinkan ibu dan ayah datang berkunjung?]
[Bukan begitu Bu. Nanda cuma merasa tidak enak saja kalau tidak ijin dulu. Nanti Nanda kasih kabar lagi ya Bu]
[Ya sudahlah kalau begitu. Malam ini apakah kamu sudah makan?]
[Sudah. Nanda sudah makan]
[Kamu jaga kesehatan ya Nak. Jangan bikin ibu dan ayahmu khawatir di sini]
[Iya ibu... Ibu dan ayah juga ya, jaga kesehatan dengan baik. Ibu dan ayah harus selalu bahagia. Tidak boleh terlambat makan, ok?]
[Hahaha... Iya..iya ibu mengerti. Ya sudah, kamu lanjutkan pekerjaanmu. Ingat jangan tidur malam-malam]
[Ibu juga ya... Jaga kesehatan ibu ya. Salam buat ayah]
__ADS_1
Sambungan telpon terputus. Nanda menghela nafas panjang. Merasa lega dengan kondisi kedua orang tuanya yang baik-baik saja. Nanda pun kembali melanjutkan menenggelamkan diri kedalam tugas kuliah dan buku-buku tebalnya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Mata Nanda sudah mulai lelah. Sudah berkali-kali mulutnya menguap sebagai tanda kalau dirinya mulai lelah dan mengantuk. Sebagian tugas kuliah sudah selesai dikerjakan. Masih ada tugas kuliah yang belum bisa ia selesaikan karna belum menemukan bahan jawaban yang pas. Lagipula waktu pengumpulannya juga masih dua hari lagi. Masih bisa dikerjakan besok.
Nanda merapihkan buku-bukunya menatanya rapih di atas meja belajarnya. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Nanda bergegas meraih selimut tebalnya dan bersembunyi di dalamnya.
Mata Nanda terbuka kembali ketika telinganya mendengar dengan jelas suara bel rumah terdengar nyaring. Nanda berpikir keras akan siapakah sosok yang berada di balik pintu yang sedang menekan bel. Apakah mungkin Evan yang datang? Untuk apa dia datang? Lagipula ini kan sudah malam. Apa dia sudah gila mencari keributan di tengah malam di rumah orang?
Dengan rasa was-was dan kewaspadaan yang tinggi, akhirnya Nanda memberanikan diri keluar kamar untuk membuka pintu ruang tamu. Dan tanpa ia duga, ternyata Alvin juga ikut turun ke bawah berniat untuk membukakan pintu. Nanda dan Alvin sama-sama menunjukkan raut wajah penasaran dan tidak tau akan siapa tamu tak diundang yang malam-malam datang ke rumah mereka.
"Kamu pesan makanan Mas?" tanya Nanda memastikan.
"Tidak?" jawab Alvin dengan penuh keyakinan.
Bel rumah pun berdering kembali. Dengan sigap Nanda mengintip dari kamera kecil yang terpasang di daun pintu. Betapa terkejutnya ia ketika matanya melihat sosok kedua mertuanya yang sudah berdiri di depan pintu rumah mereka.
"Mas... Orangtuamu yang datang" ucap Nanda sambil menunjuk ke arah pintu.
"Apaaa??" Alvin juga tampak syok tak percaya dengan kalimat yang Nanda ucapkan.
"Bagaimana ini???" tanya Nanda panik.
"Ya sudah, buka!!"
"Ma..Mama mertua? Pa..Papa..." Nanda terbata-bata menyapa kedua mertuanya. Lidahnya terasa kelu menyambut kedatangannya yang secara tiba-tiba.
"Boleh kami masuk?" ucap Desiana dengan wajah dinginnya.
"I-iya... Silahkan..." Desiana dan suaminya memasukinya rumah Alvin. Mata Desiana jelalatan memandangi seluruh sisi rumah Alvin. Sambil mengangguk-angguk, Desiana dengan langkah angkuhnya berjalan memasuki ruang tamu Alvin yang cukup besar.
"Mama... Papa?? Tumben sekali kalian datang? Kenapa datangnya malam-malam seperti ini? Apa ada hal yang penting?" sapa Alvin dengan sederet pertanyaan.
"Maaf kalau kami datang terlalu tiba-tiba. Kalian tidak keberatan kami datang kan?" jawab Desiana dengan santai.
"Ma-mama, papa silahkan duduk dulu. Mau minum apa? Nanda buatkan" Desiana tersenyum tipis menyambut tawaran dari anak menantunya. Nanda sangat senang melihat ibu mertuanya tersenyum kepadanya. Lain halnya dengan Alvin yang sudah sangat paham akan karakter ibunya. Senyum yang ibunya tampilkan hanyalah sebuah senyuman palsu yang terlalu dipaksakan.
"Tidak usah. Kami sudah makan dan minum" ucap Desiana menolak. Tetap dengan gaya elegantnya Desiana dan suami duduk di sofa ruang tengah diikuti oleh Nanda dan Alvin yang juga ikut menemani duduk di sofa yang sama.
"Cepat katakan maksud mama dan papa malam-malam datang ke sini" ucap Alvin dengan nada tidak suka.
"Alviiinn...!! Apakah seperti ini cara kamu menyambut kehadiran mama dan papa?Apakah kamu tidak suka mama dan papa berkunjung ke rumahmu? Lagipula, kalian sudah empat bulan menikah. Bukankah sudah seharusnya kami berkunjung ke rumahmu melihat-lihat kondisi rumahmu?" Alvin menghela nafas berat menyikapi perkataan dari sang mama.
__ADS_1
"Cepat katakan saja, ada keperluan apa mama malam-malam datang ke sini. Aku sangat memahami mama. Pasti mama punya maksud tertentu" Desiana tertawa kecil menyikapi perkataan Alvin.
"Hmm... Baiklah. Kamu memang anak mama yang sesungguhnya. Sangat mengerti akan keinginan mama" Desiana berusaha tetap tenang dan santai.
"Kami ingin menginap di rumahmu malam ini, bolehkan??" Mulut Alvin sedikit ternganga ketika dengan gamblangnya papanya mengutarakan maksud dari kedatangan nya. Sungguh terasa agak aneh dan janggal dengan maksud kedua orangtuanya itu.
"Apaaa... Menginap?" ucap Alvin membeo.
"He-em... Bolehkan sekali-kali kami ikut bergabung di dalam rumahmu? Hanya satu malam saja, kebetulan kami sedang ada waktu" ucap Desiana penuh harap. Alvin masih terdiam mematung di posisinya.
"Oia Nanda... Ini mama bawakan kamu minuman kesehatan. Minuman ini sangat baik untuk dikonsumsi. Kandungan dari minuman ini bukan sembarang kandungan. Minuman kesehatan ini bisa menjaga daya tahan tubuh dengan baik. Ayo kamu minum. Rasanya lumayan enak. Mama juga minum. Sehari cukup minum satu botol saja. Ini mama bawain 10 botol. Biar mama masukkan dulu ke kulkas ya..." Dengan cepat Nanda menahan mama mertuanya agar tidak perlu repot-repot memasukkan botol minuman yang dia bawa ke dalam kulkas.
"Tidak usah ma. Biar Nanda saja nanti yang memasukkan"
"Baiklah kalau begitu" Desiana kembali duduk di sofa"
"Ini... Cobalah..." desak Desiana seraya menyodorkan sebotol minuman kepada Nanda. Dengan setengah ragu-ragu Nanda menerima pemberian mama mertua statusnya.
"Terima kasih ma"
"Ayo diminum..." desaknya lagi.
"I-iya... Nanti akan Nanda minum"
"Minum sekarang saja. Mama mau lihat apakah kamu suka atau tidak dengan rasanya" Nanda menatap Desiana dengan tatapan curiga. Ibu mertua yang selama ini memandangnya dengan sebelah mata, secara tiba-tiba datang dan memberikan perhatian yang luar biasa.
"Ayo diminum.... Kenapa diam saja?!" Nanda menatap perlahan ke arah Alvin. Tatapan keraguan yang meminta pendapat dari Alvin apakah sebaiknya ia mengikuti perintah mama mertuanya atau tidak. Namun Alvin pun juga hanya diam tanpa merespon tatapan galau istri statusnya itu.
"Sudahlah Ma, tidak perlu memaksa. Mungkin Nanda belum ingin mencicipi minuman yang mama bawa sekarang" ucap Hadinata menengahi.
"Padahal mama sudah berusaha memberikan perhatian kepada menantu mama. Tapi balasannya malah seperti ini" perkataan sinis Desiana sontak membuat Nanda merasa sangat tidak enak hati dan memutuskan untuk meminum minuman itu agar bisa menyenangkan hati mama mertua statusnya itu.
"Nanda cobain ya Ma" dengan cepat Nanda membuka tutup botol dan langsung meminumnya. Awalnya Nanda hanya meneguknya sedikit. Namun karna rasanya yang mirip seperti minuman yogurt asam dan manis, lidah Nanda seakan meminta lagi. Dan dengan tanpa rasa curiga sedikitpun, Nanda meminumnya sampai habis.
"Enak Ma. Terima kasih ya... Nanda akan rutin meminumnya nanti" senyum kepuasan terlukis di wajah Desiana. Botol kosong ditangan Nanda membuatnya semakin yakin bahwa rencana busuknya akan terealisasi sebentar lagi.
"Nah, begitu dong... Kalau dikasih rejeki jangan ditolak, pamali. Bener kan pap?" Hadinata hanya mengangguk canggung. Alvin menatap tajam menelisik sikap aneh yang ditampilkan kedua orangtuanya. Alvin mencium aroma kejanggalan disini. Kedatangan kedua orangtuanya yang secara tiba-tiba sudah pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Nanda tidak berkata. Hanya anggukan kecil dan senyuman sopan yang ia tunjukkan kepada kedua mertuanya.
.
__ADS_1
.
.