
Nanda hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan kekesalan dan emosi dalam diri. Sesiangan tadi ia sudah puas tidur, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Alhasil, malam ini matanya masih terasa segar dan sulit untuk dipejamkan.
Nanda berjalan mundar mandir mengelilingi setiap sudut lantai atas. Tidak ada sesuatu yang menarik di sana. Hanya dinding dan lantai dingin yang terpasang kokoh. Dinding lantai dua juga masih benar-benar polos. Tidak ada lukisan atau foto yang terpasang di sana. Berbeda jauh dengan lantai bawah yang lengkap dengan perabotan dan beberapa lukisan dinding.
Lelah berjalan mondar mandir, akhirnya Nanda menyandarkan tubuhnya di dinding dekat kamar Alvin. Tempat yang sama seperti hari kemarin ketika dirinya duduk dan sampai tertidur di lantai.
Untuk menghilangkan rasa jenuh, Nanda membuang waktunya dengan bermain game dan menonton video di aplikasi youtube. Jam di ponsel masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun bagi Nanda, waktu seakan berjalan sangat lambat. Tangannya sudah lelah bermain game, tapi matanya tetap saja belum mau terpejam sama sekali seakan tidak ada rasa ngantuk di sana. Ingin sekali Nanda turun ke bawah untuk sekedar menonton tivi atau bermalas-malasan di sofa. Tapi lagi-lagi rasa sungkan dan takut kena omelan Oma, tetap membayangi.
"Adduuuuhhh... Bisa gila gue kalau begini terus. Mau ngapain lagi gue? Mana mata ga ngantuk sama sekali. Ya Tuhaaaannn.... Kenapa hidupku sesial ini?? Apa aku harus tidur di lantai lagi??" gerutu Nanda.
Nanda mengintip dari atas ke bawah. Lampu lantai bawah masih terang. Sepertinya masih ada orang yang berjaga di bawah. Keinginan untuk turun ke bawahpun akhirnya kandaslah sudah.
Lelah menunggu waktu berlalu, akhirnya jam pun bergeser ke kanan menuju angka tiga. Mata Nanda akhirnya menyerah juga. Posisi duduk yang awalnya menyender di dinding kini telah berubah ke lantai.
Di dalam kamar, tidak seperti biasanya malam ini Alvin terasa sangat haus dan harus terbangun dari tidur. Tenggorokannya terasa sangat kering. Rasa hausnya pun telah mengalahkan rasa ngantuknya. Dengan malas dan rasa terpaksa Alvin bangun dari ranjang dan keluar untuk mengambil air minum. Betapa terkejutnya Alvin ketika matanya melihat pemandangan yang sama seperti kemarin pagi tadi ketika dirinya hendak pergi kerja. Nanda tergeletak lagi tertidur di lantai. Alvin menghela nafas sesaat lalu berlalu pergi ke bawah untuk minum.
Sekembalinya dari minum, Alvin masih melihat Nanda masih pulas dalam mimpinya. Alvin menggelengkan kepalanya memandang miris kebodohan dari istri statusnya. Namun ketika tangannya membuka gagang pintu kamar, langkahnya pun terhenti. Ditolehkannya pandangannya ke arah Nanda. Rasa tak tegapun muncul. Alvin mendengus kasar dan berbalik menuju Nanda yang tertidur.
Lengan kekar Alvin mengangkat tubuh lemah Nanda yang masih terpejam, membawanya masuk dan direbahkannya di atas ranjangnya. Tubuh Nanda masih tak bergerak. Matanya masih terlelap dalam mimpinya. Kini giliran Alvin yang terjaga. Matanya sudah tidak bisa terpejam lagi. Alvin duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba matanya tergerak memperhatikan ke sebelah ketika tubuh Nanda merangsek masuk ke dalam selimut tebal yang telah membungkusnya dan menggeliat kecil sambil mengeluarkan desahan kecil yang menggoda. Suara desahan kecil Nanda membuat si adik kecil Alvin ikut terbangun dan membuat dirinya harus merubah posisi duduk karenanya. Alvin mengusap kasar wajahnya dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
***
Nanda merentangkan kedua tangannya, merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tubuhnya terasa nyaman sekali. Mata Nanda melirik ke kanan dan ke kiri memperhatikan kondisi dirinya yang kini masih terbalut dengan selimut tebal. Seketika Nanda bangun dan duduk sambil masih memperhatikan sekeliling ruangan. Hanya ada dirinya sendiri di kamar. Alvin sepertinya sudah pergi ke kantor. Nanda bangun dan merapihkan ranjang Alvin, mencuci muka dan bergegas turun ke bawah hendak untuk menyiapkan sarapan.
Sesampainya di bawah, sudah ada Oma Ana yang tengah menikmati sarapan paginya. Mata Nanda terperangah tak percaya ketika di atas meja makan sudah tersedia beragam makanan siap santap. Rupanya, Oma sudah mempersiapkan semuanya di rumah ini. Meski Oma Ana menginap di rumah Alvin sendiri, tapi ternyata Oma Ana juga telah memerintahkan karyawannya untuk bekerja mempersiapkan segalanya di rumah Alvin.
"Selamat pagi Oma..." sapa Nanda menahan malu karna kesiangan bangun.
"Selamat pagi... Ayo duduk, kita sarapan bersama" jawabnya sambil menyeruput teh hijua panasnya.
__ADS_1
"Oma, makanan sebanyak ini siapa yang memasak?"
"Yang jelas bukan aku orangnya" Nanda tertawa renyah diikuti Oma Ama yang juga ikut tertawa.
***
Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Anak buah Oma Ana telah bersiap di depan halaman rumah Alvin, bersiap-siap untuk mengantarkan Alvin dan Nanda ke bandara. Alvin dan Nanda juga sudah siap untuk pergi. Koper-koper mereka juga sudah di masukkan ke dalam mobil. Tak lama setelah selesai sarapan, Alvin dan Nanda berpamitan kepada Oma. Oma Ana tersenyum sambil menganggukkan kepala memberi restu kepada kedua cucu kesayangannya itu.
"Oma, kami pergi dulu. Oma jaga kesehatan ya.." ucap Nanda berpamitan.
"Semoga honey moon kalian menyenangkan. Pergilah bersenang-senang. Buatkan aku seorang cucu yang sehat dan lucu" Alvin membuang muka ke arah lain ketika telinganya mendengar perkataan dari sang Oma. Permintaan yang sangat tidak mungkin untuk dikabulkan. Nanda sendiri hanya tersenyum kikuk merespon permintaan Oma Ana.
Selesai berpamitan, Alvin dan Nanda memasuki mobil. Mobilpun melaju sedang meninggalkan halaman rumah Alvin. Seperginya Alvin dan Nanda, Oma Ana juga ikut bersiap untuk kembali ke rumah megahnya. Seperginya Alvin dan Nanda berhoney moon, Oma Ana sudah menyuruh assisten rumah tangganya untuk membereskan dan membersihkan rumah Alvin. Jadi sepulangnya mereka nanti, rumah mereka tetap dalam keadaan rapih dan bersih.
Sekitar satu jam mobil yang membawa Alvin dan Nanda sudah sampai di bandara. Anak buah Oma Ana dengan sigap dan penuh hormat membukakan pintu mobil dan menurunkan koper-koper majikan mudanya itu. Ada lima koper yang mereka turunkan. Cukup banyak. Sayangnya jumlah koper yang diturunkan luput dari pandangan Alvin dan Nanda. Mereka langsung digiring menuju tempat boarding dan check in ticket.
Anak buah Oma Ana sudah selesai membantu Alvin dan Nanda melakukan boarding dan check in ticket. Tiket pun sudah diserahkan kepada Alvin. Namun belum ada tanda-tanda anak buah Oma Ana yang hendak pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"Maaf tuan, kami tidak bisa kembali" ucap salah satu anak buah Oma Ana. Alvin membuka kacamata hitamnya dan lalu menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Apa maksudmu dengan tidak bisa kembali?" intonasi Alvin penuh penekanan dan syarat akan makna tidak suka.
"Maaf tuan, saya hanya menjalankan perintah dari nyonya besar untuk mengawal perjalanan honeymoon tuan dan nyonya muda sampai selesai" mendengar perkataan anak buah Oma Ana, kaki Nanda mendadak terasa lemas. Alvin hanya terdiam. Namun dibalik diamnya, masih tampak wajah Alvin yang syok karna terkejut.
"O my God... Mati gue. Koper yang gue bawa kan kosong. Mana mungkin gue ke luar negeri tanpa membawa baju ganti sama sekali. Kalau cuaca di sana dingin bagaimana? Ya Tuhaaaannn... Kenapa aku mesti sial lagi seperti iniiii??" gerutu Nanda dalam hati. Dirinya sungguh mengutuki akan kebodohan dirinya yang tidak memikirkan kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Salah satunya seperti ini. Ide gila yang dia buat sendiri malah menjadi momok menyedihkan bagi dirinya sendiri. Kini hanya penyesalan yang teramat sangat yang menggelayuti Nanda. Keringat dinginpun tiba-tiba langsung mengalir membasahi pelipis kepalanya.
Alvin menatap sekilas ke arah Nanda. Entah apa arti tatapan dari Alvin. Yang jelas wajah Nanda kini mulai terlihat pucat dan sedikit kurang fokus.
"Silahkan masuk tuan, nyonya... Ini tiket, visa dan paspor anda. Satu jam lagi pesawat kita akan take off" Alvin dan Nanda saling berpandangan. Posisi mereka saat ini bagaikan seekor ayam yang sudah dikepung banyak orang dan siap untuk menangkapnya jika berusaha mengelak untuk kabur. Nanda hanya bisa menghela nafas ketika matanya dengan jelas membaca negara tujuan mereka. Perancis. Yups, negara yang penuh akan tempat-tempat romantis khususnya bagi pasangan suami istri yang sedang berbulan madu.
__ADS_1
Akhirnya, Alvin dan Nanda hanya bisa menuruti arahan dari anak buah Omanya. Karena tidak mungkin bagi mereka kini untuk memberontak. Jika itu terjadi, pasti mereka akan menjadi pusat perhatian karna sudah membuat kegaduhan. Dan yang pasti anak buah Oma tidak akan membiarkan Alvin dan Nanda kabur dari rencana honey moon nya begitu saja.
Ga tanggung-tanggung, Oma Ana mengirimkan tiga orang bodyguard profesional dengan perawakan bagus yang dipilih dengan seleksi ketat yang khusus menjaga sekaligus mengawasi gerak-gerik Alvin selama melakukan perjalanan honeymoon.
"Oma benar-benar sudah keterlaluan !! Bisa-bisanya nyuruh orang buat ngawasin gue. Siaall" gerutu Alvin dalam hatinya. Tangannya mengepal kencang menahan rasa kesal yang terasa sudah mencapai ubun-ubun kepala.
Nanda menjalinkan jermarinya sambil menggigit bibir bawahnya. Pikirannya benar-benar kacau sampai-sampai sangat sulit baginya untuk bisa berpikir jernih mencari jalan keluar dari masalah ini.
"Apa gue pura-pura pingsan aja ya? Kalau gue pingsan kan perjalanan ini pasti gagal" tiba-tiba ide gila muncul lagi dari benak Nanda.
Suara operator bandara terdengar nyaring memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat akan siap berangkat. Dengan sikap sigap dan penuh hormat, para bodyguard berdiri dan mempersilahkan Alvin dan Nanda untuk berjalan menuju lorong pintu masuk pesawat.
Dengan santainya Alvin berdiri dan berjalan sesuai arahan bodyguard. Nanda setengah berlari menyeimbangkan langkah kaki Alvin yang sudah berjalan lebih cepat darinya. Nanda menarik lengan jaket Alvin sambil berbisik di telinganya.
"Mas Alvin... Kita beneran akan pergi ke Perancis?" suara bisikan Nanda syarat akan nada kecemasan yang luar biasa.
"He-em. Mau gimana lagi? Kamu ga liat di belakangmu?"
"Tapi mas... Aku ga bawa baju sama sekali" dengan tiba-tiba Alvin menghentikan langkahnya dan memandang tajam penuh geram ke arah Nanda. Hal ini membuat para bodyguard juga menghentikan langkahnya sejenak dan memperhatikan tingkah Alvin tanpa suara.
"Bukan urusan aku. Dasar bodoh" ucap Alvin lirih dan geram sambil merampatkan bibirnya. Alvinpun kemudian melanjutkan lagi langkahnya menuju badan pesawat yang sebentar lagi akan sampai. Namun lagi-lagi Nanda menarik lengan jaketnya dan membuat Alvin sedikit memperlambat langkahnya.
"Mas, aku pura-pura pingsan aja ya. Siapa tau dengan aku pingsan, perjalanan ini bisa batal" bukannya menjawab pertanyaan Nanda, Alvin malah sengaja melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang Nanda dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Bukankah ini yang kamu mau?? Kau bilang sendiri bukan kalau kita tidak boleh mengecewakan pemberian Oma? So? What do you think?" Nanda tak mampu membantah perkataan Alvin. Karna memang benar apa yang barusan diucapkannya. Tapi ini benar-benar diluar perkiraannya. Mana ada sih orang pergi-pergi tanpa membawa baju ganti sama sekali? Apalagi tujuan perginya ke luar negri. Sungguh perbuatan yang konyol.
.
.
__ADS_1
.