
"Enggak... Aku ga mau... Aku ga mau punya anak dari dia..." Celine tertegun ketika mulut Alvin mengoceh tanpa sadar dalam tidur. Mata Alvin masih terpejam. Namun mulut Alvin melontarkan kata-kata yang cukup jelas terdengar oleh telinga. Alvin terlihat gelisah.
Hari sudah pagi beranjak siang. Celine sudah selesai mandi. Tangannya yang sedang menyisir rambut panjangnya seketika terhenti ketika telinganya mendengar Alvin yang mengigau. Celine mencerna kalimat yang terlontar dari bibir Alvin. Kalimat yang terdengar sangat aneh.
"Anak? Anak apa? Maksudnya apa ini? Apakah Alvin dipaksa untuk menghadirkan seorang anak? Bersama wanita itu? Tidak boleh... Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Kalau keluarga Alvin menginginkan seorang anak, harus akulah ibu dari anak itu. Bukan wanita lain" Celine melamun berbicara pada dirinya sendiri. Dan dengan seketika ide jahat melesat cepat menghampiri isi benaknya.
***
Nanda menguap dan meregangkan kedua tangannya menyambut pagi yang mulai menyapa. Segeralah Nanda turun dari ranjang untuk mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Hanya sekitaran lima belas menit, Nanda sudah menyelesaikan aktivitas mandinya. Diraihnya tas ranselnya yang biasa ia bawa ketika pergi kerja dan Nanda segera menuju meja makan untuk sarapan.
Suasana rumah terasa sangat sepi dan hening.
"Hhhmmm... Dia beneran ga pulang malam ini. Dasar laki-laki angkuh. Baguslah kalau dia ga ada. Setidaknya gue ga perlu capek-capek nyiapin sarapan" gerutu kecil Nanda seraya tangannya menyambar bungkusan roti tawar dan mengoleskan selai di atasnya. Baru kali ini Nanda bisa menikmati sarapan paginya dengan santai. Tidak seperti biasanya saat ada Alvin. Tidak ada rasa santai. Kalau ga terburu-buru, pasti tegang dan kaku.
Masa bodoh dengan Alvin !
Setelah mengunci pintu, Nanda bergegas pergi dengan berjalan kaki seperti biasa ke depan pintu gerbang utama perumahan. Perumahan elite ini sungguh menerapkan peraturan yang sangat ketat. Ojek online atau taksi online tidak boleh memasuki area perumahan. Karena mereka tidak memiliki kartu anggota sebagai warga perumahan tersebut. Jadi ojek online atau taksi on line hanya bisa menunggu di depan gapura besar perumahan saja. Lain cerita kalau ojek atau taksi online memasuki area perumahan bersama dengan anggota perumahan. Sifatnya mengantar. Itu masih diperbolehkan. Karena ada yang bertanggung jawab atas si ojek atau taksi online tersebut. Karena hal itulah, makanya setiap pagi Nanda selalu berjalan kaki terlebih dahulu sampai depan gapura besar perumahan baru bisa menaiki ojek atau taksi online yang sudah ia pesan.
Dddrrrtt.... Dddrrttt....
Ponsel Nanda bergetar. Terlihat nama "Ibu Calling" pada layar ponselnya.
Siang itu kebetulan tidak begitu ramai. Jadi Nanda masih bisa menyelinap keluar untuk menerima panggilan telpon itu.
[Halo, Bu...]
[Halo Nanda... Maaf ibu sudah mengganggu waktu kerja kamu]
[Tidak apa-apa Ibu. Ada apa bu? Apakah ada hal yang penting?]
[Tidak. Ibu hanya kangen saja. Kamu apa kabar nak? Alvin apa kabar?]
[Nanda baik bu. Mas Alvin juga baik. Ibu dan Ayah apa kabar? Apakah dada ibu masih terasa sakit?]
[Ayah dan ibu disini baik-baik saja. Sejak kamu menikah, Kamu sudah lama tidak pernah berkunjung ke rumah ibu. Kapan kamu ada waktu untuk mengunjungi kami? Ibu kangen sekali denganmu, nak]
[Maafkan Nanda bu... Akhir-akhir ini, Nanda memang sangat sibuk. Nanti akan Nanda luangkan waktu untuk lebih sering mengunjungi ibu dan ayah ya]
[Hmm... Ajak Alvin juga ya]
[Soal itu... Nanda tidak bisa berjanji kepada ibu. Soalnya mas Alvin sangat sibuk sekali
Nanda agak sungkan untuk mengajaknya]
[Iya, ibu mengerti]
[Ibu, telponnya sudah dulu ya... Nanda harus kembali kerja lagi. Kalau sampai ketauan boss Nanda, nanti Nanda akan dihukum sama dia]
[Hmm... Baiklah. Jaga dirimu baik-baik ya Nak. Jangan lupa makan]
[Iya ibu]
__ADS_1
Sambungan telpon terputus. Nanda segera memasukkan ponselnya ke saku celananya kembali. Ketika ia membalikkan badan untuk kembali ke posisi kerjanya, seseorang sudah menunggu dengan wajah garang sambil bersedekap tangan di depan dada.
Yups, ada bu Silvi. Nanda ketauan melanggar peraturan. Nanda sudah melanggar peraturan dimana selama jam kerja, semua karyawan dilarang untuk menelpon atau menerima telpon. Nanda ternganga kaget. Tubuhnya mendadak kaku seperti patung.
"Aduuhhh... Ketauan Bu Silvi. Mateng deh gue" batinnya sambil menggigit kecil bibir bawahnya.
"Sudah tau apa kesalahan kamu?" ucap bu Silvi dingin dengan tangan masih bersedekap di dada.
"Ma-maaf bu. Tadi ibu saya telpon"
"Memangnya ibumu tidak tau kalau jam segini anaknya sedang bekerja?"
"Ta-tadi ibu saya menelpon saya karna ada sesuatu hal yang sangat penting. Jadi mohon maaf atas ketidak disiplinan saya yang sudah melanggar peraturan sudah berani menerima telpon"
"Hal penting apa sampai ibumu menghubungimu di jam kerja seperti ini, hah?"
"Ah... Emm... I-itu... " Nanda memacu keras otaknya untuk mencari alasan yang masuk akal sebagai jawaban atas pertanyaan bu Silvi.
"Itu apa Nanda?"
"Ibu saya bertanya tentang dosis obat yang harus diminum untuk hari ini. Saya lupa semalam tidak menjelaskannya kepada beliau" Nanda terpaksa berbohong. Dan kebohongan yang dibuatnya berhasil membuat wajah bu Silvi mencair.
"Ok. Kali ini kamu saya maafkan. Tapi tidak untuk yang berikutnya. Ketauan, kamu saya hukum"
"Baik bu. Terima kasih" setelah memberi hormatnya kepada manager killer nya, Nanda langsung bergegas kembali ke posisinya dan melanjutkan kerjaannya.
***
Sejak Nanda menikahi Alvin, rasa benci yang teramat sangat sudah menjalar kuat di jiwa Celine. Celine pun mulai menyusun berbagai rencana supaya Nanda menderita karna sudah berani menerima perjodohan konyol ini. Laki-laki yang seharusnya jadi miliknya kini lepas begitu saja ke tangan wanita kelas biasa yang jauh dari kata bangga.
Mobil Alvin sudah terparkir diparkiran restorant. Alvin merasa sedikit aneh dengan keinginan Celine yang secara tiba-tiba ingin makan di restorant cepat saji. Alvin kenal betul siapa Celine. Celine adalah wanita pemilih makanan. Dan untuk makanan cepat saji, Celine paling menghindarinya. Selain tidak sehat, makanan cepat saji adalah salah satu makanan penyebab tubuh menjadi gendut.
"Celine, kamu serius mau makan di sini?"
"Iya sayang... Aku tiba-tiba kepengen banget makan makanan seperti ini. Sudah lama banget aku ga makan makanan cepat saji. Lagipula sesekali kita makan makanan ga sehat ga apa-apa juga kan? Ayo turun" Celine dengan semangat membuka seatbelt nya dan turun dari mobil yang juga diikuti oleh Alvin.
Senyum Celine mengembang karna Alvin sudah dengan suka rela masuk ke dalam rencananya. Bayangan wajah terkejut Alvin ketika melihat Nanda bekerja pasti akan terlihat menyenangkan baginya. Alvin pasti akan merasa sangat malu dan bahkan menyesal telah memperistri wanita seperti itu.
Celine lebih dulu memasuki restorant. Sedangkan Alvin berjalan santai membuntutinya dari belakang.
"Selamat siang... Silahkan, mau pesan apa?" Celine tersenyum sinis ke arah Nanda yang menyapanya dengan ramah. Nanda tidak terlalu mengenal Celine. Pertemuan singkat dengannya ketika di depan toilet samar-samar teringat. Apalagi saat ini Celine menggunakan kacamata hitam, membuat wajahnya tidak begitu dikenali.
Celine sengaja memesan makanan dan minuman cukup banyak. Tujuannya agar Nanda akan membantunya mengantarkan ke meja miliknya.
Nanda terdiam terpaku ketika matanya bersirobok dengan mata Alvin. Demikian juga dengan Alvin yang tak kalah terkejutnya. Alvin tertawa mencela menertawakan kebodohannya yang sudah mau menuruti kemauan Celine. Ia baru menyadari akal busuk Celine yang sengaja mengajaknya ke restorant cepat saji ini. Celine pasti sengaja ingin mempermalukan dirinya karna bertemu dengan Nanda dan mengetahui pekerjaan Nanda yang selama ini tidak ingin ia ketahui.
"Saya mau, kamu sendiri yang antar pesanan ini ke meja saya" Nanda baru menyadari kalau wanita yang saat ini ada di depannya adalah kekasih Alvin, Celine. Nanda akhirnya hanya mampu menahan rasa kesal hanya dengan mengepalkan jari-jarinya dengan kuat.
Celine memilih meja yang berada di bagian sudut. Sambil menanti pesanan datang, Celine melempar senyuman manis kepada Alvin. Namun Alvin membalasnya dengan tatapan geram dan kesal.
"Apa maksud kamu ajak aku makan di tempat ini? Apa kamu sudah tau dan sengaja membawa aku ke tempat kerjanya Nanda?"
__ADS_1
"Kamu memang laki-laki yang sangat cerdas sayang. Tidak salah aku menjadikanmu kekasihku"
"Aku mau pulang" Celine menarik lengan Alvin. Menahannya untuk bersabar beberapa menit sampai rencananya berhasil ia lakukan.
"Sayaaanggg... Kita baru saja sampai. Lagipula aku juga sudah sangat lapar. Pleaseeee... Biarkan aku makan sedikit ya. Abis itu aku janji, kita akan segera meninggalkan tempat ini" Alvin menghembuskan nafas kasar, tidak tahan dengan situasi canggung yang menyebalkan seperti ini dan kembali duduk masih dengan wajah kakunya.
Kurang lebih lima menit lamanya pesanan pun datang. Dengan hati-hati Nanda membawa senampan penuh makanan dan minuman pesanan Celine. Celine sudah memperhatikan gerakan Nanda yang sedikit kepayahan membawa makanan. Ide jahat yang sudah tersusun rapih di benaknya tak lama lagi akan segera Celine realisasikan.
Bbruuukk.... Bbbyyuuuurrr...
Ketika Nanda sudah hampir sampai di meja Celine dan akan meletakkan nampannya di atas meja, Celine dengan cepatnya bangun dan menabrakkan dirinya dengan keras ke tangan Nanda yang membuat Nanda kehilangan keseimbangan dan nampan pun bergoyang yang akhirnya semua makanan terjatuh ke lantai dan air soda tumpah membasahi sebagian gaunnya.
Nanda terperangah, syok dan tertegun atas perlakuan Celine. Nanda menatap tajam ke arah Celine yang memasang wajah penuh kepuasan karna sudah berhasil mengerjai dirinya. Celine hanya menyeringai dengan senyuman mencela di sudut bibirnya. Alvin sendiri hanya bisa terdiam mematung tanpa suara.
"Kamu sengaja melakukan ini kan?"
"Heeiii.... Apa kamu tidak sadar dengan yang kamu ucapkan? Kamu sudah menjatuhkan pesananku dan kamu malah berbalik menyalahkan aku?"
"Kamu yang sengaja menabrak tanganku dan membuat nampanku terjatuh. Maksud kamu apa?"
"Celine... Ayo kita pulang...." Alvin mulai resah dengan perdebatan kedua perempuan di depannya.
"Sayaaangg... Kamu ga lihat, gaunku basah dan kotor gara-gara perempuan bodoh ini? Harusnya perempuan ini bertanggung jawab atas kebodohannya"
"Apa kamu bilang? Perempuan bodoh?"
"Iyaa... Bahkan sangat sangat bodoh" Nanda merapatkan gigi-giginya menahan emosi yang mulai memuncak. Kalau kejadian ini terjadi di luar restorant, Nanda pasti sudah mencakar habis muka wanita di depannya ini. Sayangnya, Celine adalah customer nya. Jadi Nanda tidak punya kewenangan untuk melukainya.
Perdebatan yang terjadi antara Celine dan Nanda menjadi pusat perhatian semua mata yang ada di restorant itu. Bahkan ada yang secara diam-diam merekamnya. Kericuhan mereka juga membuat ibu Silviana sang manager killer harus turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
"Selamat siang, mohon maaf perkenalkan saya Silviana manager restorant ini. Ini ada apa ya?" Celine mengalihkan pandangannya ke arah Silvi dan menegakkan tubuhnya sebagai tanda permintaan keadilan.
"Jadi anda manager nya? Berarti anda juga harus bertanggung jawab atas kebodohan yang sudah staf anda lakukan kepada saya"
"Mohon maaf, kesalahan apa yang sudah staf saya lakukan?"
"Staf anda sudah membuat gaun saya basah dan kotor. Saya mau anda memecat staf anda yang ga becus kerja ini"
"Saya meminta maaf atas ketidak nyamanannya. Saya akan mengecek cctv terlebih dahulu. Kalau memang nanti staf saya terbukti bersalah, saya akan langsung memberikan sanksi yang tegas"
"CCTV? Apakah anda tidak bisa melihat dengan jelas kondisi gaun saya saat ini. Warna merah soda yang menempel di gaun saya tidak mudah untuk dibersihkan. Dan asal anda tau, harga gaun saya jauh lebih mahal ketimbang gaji anda. Kalau saya lanjutkan proses ini ke jalur hukum, bukan saya saja yang akan dirugikan, mungkin anda juga akan mengalami hal yang sama, karna saya yakin anda pasti juga akan ikut di pecat oleh management restorant karna sudah melindungi staf anda yang bersalah"
"Celine cukup. Ini hanya masalah sepele. Tidak perlu dibesar-besarkan"
"Mungkin bagimu ini sepele sayang. Tapi ini gaun kesayangan aku. Gaun ini limited edition yang aku dapatkan dengan susah payah. Dan sekarang menjadi kotor gara-gara perempuan bodoh ini. Aku ga bisa terima" rengekan manja Celine kepada membuat Nanda benar-benar merasa muak. Namun apalah daya, ia hanya staf bawahan yang tidak punya kuasa untuk melawan.
"Saya mau perempuan ini anda pecat saat ini juga. Kalau anda tidak bisa melakukannya, jangan salahkan saya kalau saya akan memviralkan masalah ini ke media. Mungkin besok pagi akan ada banyak wartawan yang datang ke sini untuk mewawancari anda" dengan sikap angkuh, Celine meraih tasnya dan bersiap-siap untuk pergi. Ia tidak memperdulikan perasaan Nanda yang hancur karna sikapnya.
.
.
__ADS_1
.