Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Go Home


__ADS_3

Pagi ini Alvin dan Nanda tengah bersiap membereskan beberapa barang-barang. Mereka akan melakukan perjalanan pulang ke tanah air. Sejak kejadian semalam, Alvin lebih banyak diam. Raut wajahnya masih gelap dan makin terasa dingin. Nanda juga memilih ikut diam. Sangat sungkan rasanya untuk berbicara dengan Alvin dalam kondisi seperti ini.


Para bodyguard membawa koper-koper Alvin dan Nanda dan dimasukkannya ke dalam bagasi mobil. Setelah menyelesaikan administrasi hotel, mereka semua bertolak menuju bandara. Sepanjang perjalanan Alvin juga masih diam. Nanda memilih untuk memejamkan mata selama perjalanan. Meski jarak tempuh ke bandara tidak terlalu jauh, situasi mobil yang hening tanpa adanya musik dan suara membuat suasana menjadi sunyi dan sepi. Rasa kantuk pun menjadi sasaran empuk mata. Seperti Nanda saat ini yang terasa jenuh dan mengantuk.


Alvin tersenyum mencela ketika matanya melihat ke arah Nanda yang sedang terpejam. Dihelanya nafas panjang dan lalu disenderkannya kembali punggungnya di sandaran jok mobil. Entah apa yang sedang dipikirkan Alvin. Yang jelas, hatinya masih saja dipenuhi rasa kesal dan amarah. Waktu sepuluh tahun lamanya ternyata masih belum bisa meredupkan api amarahnya. Andai pertikaian itu tidak pernah terjadi, mungkin saat ini dirinya dan Evan masih menjadi sahabat yang sangat solid.


Pesawat yang membawa Alvin dan rombongan sudah take off meninggalkan kota Paris yang indah yang terkenal dengan tempat romantisnya. Dua orang pramugari dengan senyumnya yang ramah sambil membawa kereta mini berisi makanan tengah membagikan beberapa makanan dan minuman kepada para penumpang. Setelah menerima jatah makanan, dengan santainya Nanda langsung melahap makanan itu sampai habis. Tadi pagi Nanda hanya sempat sarapan omlet dan buah saja. Jadi siang ini perutnya terasa lapar. Ditambah lagi perjalanan udara yang lumayan panjang dan menyita banyak waktu membuat perutnya harus terisi penuh. Nanda tidak mau menanggung resiko pusing atau mual selama di pesawat hanya gara-gara perut yang kosong.


Nanda mengarahkan pandangannya ke arah Alvin yang sedang memejamkan mata. Jam tangan Nanda sudah menunjukkan pukul dua siang. Dirinya sudah menghabiskan sepiring nasi beserta lauk dan dessert, sedangkan Alvin masih terdiam dalam duduk. Nanda mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan setelah semalaman ditambah tadi pagi mereka masih saling diam tanpa suara.


“Mas…” panggil Nanda pelan.


“Mas Alvin…” ucap Nanda dengan suara agak tinggi.


Alvin membuka matanya, menoleh ke arah sebentar. “Ada apa?" jawabnya dingin.


“Kamu ga makan? Nanti makanan kamu dingin jadi ga enak”


“Kalau kamu mau, makan aja”


“Aku sudah makan. Udah abis. Tuuhh…” Nanda menggidikkan dagunya ke arah piring kosong miliknya. Alvin masih tak bergeming dan kembali melipat kedua tangannya di dada.


“Makan dulu mas, nanti kamu bisa masuk angin kalau ga makan”


“Sejak kapan kamu jadi perhatian sama aku, hmm??”Nanda terperangah dengan pertanyaan Alvin. Niat baiknya malah menjadi bumerang untuknya.


“Aku cuma sekedar mengingatkan kamu aja mas. Kalau kamu ga mau makan ya sudah tidak apa-apa” Nanda kembali menyenderkan punggungnya di kursi pesawat. Diambilnya head phone yang tersedia di depan kursi miliknya dan mulai menyibukkan diri menonton film.


Alvin dengan sikap masa bodohnya hanya memandang sekilas perilaku Nanda yang impulsive. Masing-masing mulai sibuk dengan kesenangannya masing-masing.


Sebenarnya saat ini dalam benak Nanda masih ada hal yang mengganjal dan ingin sekali ia tanyakan kepada Alvin. Namun rasanya masih canggung. Beberapa kali Nanda menolehkan pandangannya ke arah Alvin yang terlihat sibuk membaca majalah otomotive.


“Ada apa? Ngapain liat-liat?” Tanya Alvin tanpa menatap kearah Nanda dan matanya masih terarah ke majalah. Seketika Nanda salah tingkah ketika Alvin sedari tadi ternyata menyadari sikapnya yang memperhatikannya berulang kali.


Nanda mengarahkan pandangannya ke Alvin dan langsung menampilkan senyum tiga jarinya untuk menutupi rasa canggungnya.

__ADS_1


“Emm… Sebenanrnya ada yang mau aku tanyain ke kamu mas. Tapi aku takut kamu ga suka”


“Kalau gitu ga usah ditanya”


“Tapi aku ingin tau”


“Soal apa?”


“Emm… Soal Evan” Alvin menutup majalah yang sedari tadi dipelototinnya dan beralih menatap Nanda dengan tatapan tajam mengancam.


“Jangan pernah sebut lagi nama itu di depanku. Mengerti!!”


“Kenapa?” Ucap Nanda masih penasaran. Dan Alvin semakin menajamkan tatapannya ke arah Nanda.


“Jangan sampai kamu aku turunkan dari pesawat saat ini juga. Mengerti kamu!!!” Mulut Nanda menganga. Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanyai tentang Evan kepada Alvin.


***


Alvin merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Perjalanan panjang kepulangannya dari Perancis kali ini lumayan menguras tenaganya. Alvin memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sangat berbeda dengan Nanda yang langsung memilih kamar mandi sebagai tempat pertama yang ingin ia masuki setelah sampai di rumah. Mandi di bawah kucuran air panas adalah tujuan utamanya. Mandi air panas benar-benar membuat otot badan menjadi rileks dan lebih fresh. Setelah puas bermain air hangat, Nanda bergegas mengenakan piyama favourite nya dan kemudian menyembunyikan tubuh lelahnya ke dalam selimut tebalnya dan melelapkan tubuhnya ke dalam mimpi indahnya.


Ketika ponsel terbuka, suara dering pesan masuk bertubi-tubi. Ada 400 pesan yang masuk. Nanda tercengang melihatnya. Nanda menarik nafas panjang mencoba rileks untuk memulai membaca satu persatu pesan yang masuk.


Nanda mulai membaca pesan dari ibu dan ayahnya. Isi pesan mereka sama, pesan cemas menanyakan keberadaannya. Kenapa ponsel dimatikan, kenapa tidak membalas pesan ibu, dan Nandapun mulai menjawabnya pesan ibu dan ayahnya dengan rinci.


Selesai membalas pesan Ibu dan Ayah, Nanda membalas pesan masuk dari teman-teman dekatnya. Dan ketika sampai pada pesan dari Kak Mega, Nanda mendengus menyesal penuh salah. Nada bicara Mega sangat marah.


"Nandaaaa.... Kemana aja Loe!!! Jam berapa ini?"


"Balas pesan gue Nandaaaa... 😠😠"


"Woooyy... Loe tuh hari ini jadwal siaran."


"Nandaaaa.... 😡😡😡😡"

__ADS_1


Nanda menarik nafas sambil mendengus sesal. Kala itu ia memang benar-benar lupa kalau hari itu adalah jadwalnya siaran. Honeymoon dadakan yang Oma Ana rencanakan membuatnya tak mampu berpikir jernih dan mengalir begitu saja mengikuti alur cerita yang sudah di buatkan untuknya.


Tttuuuuuttt....


Ponsel Mega berdering nyaring. Dilihatnya nama dari sang penelpon.


"Masih berani nelpon gue nih anak" gerutu Mega lirih.


[ Halo...] sapa Mega dingin


[ Halo Kak Mega... Maaf aku baru menghubungi kakak ]


[Masih idup Loe...]


[Kak Megaaaa.... Aku minta maaf...]


[ Minta maaf buat apa? ]


[ Kak Mega, aku tidak ada maksud sama sekali untuk mangkir dari tugasku siaran. Kemarin aku ada sedikit masalah ]


[ Oia? Masalah loe parah banget ya? Sampai-sampai berhari-hari hp loe ga aktif? ] sindir Mega


[ Maafin aku kak Mega.. Jangan marah ya... Aku janji aku akan ganti jam siaran aku yang kemarin. Besok aku siaran double ya...]


[Terserah]


[Ya udah besok aku datang pagi ya kak...]


[Hmm...]


[Terima kasih kak Mega sayang. Sampai jumpa besok, muach.. muach...]


Meski nada suara Mega terdengar ketus dan dingin, tapi Nanda percaya kalau Mega tidak marah yang sesungguhnya. Mega adalah teman sekaligus kakak yang baik dan bijak. Nanda bergegas membongkar isi kopernya dan memilih satu gaun cantik yang belum sempat ia kenakan saat di Paris. Gaun itu akan ia hadiahkan untuk Mega sebagai sogokan supaya Mega tidak kesal lagi dengan dirinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2