Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Oma Ana Ingkar Janji?


__ADS_3

Hari ini Celine menerima kembali laporan dari orang bayarannya yang ditugaskan untuk menyelidiki kehidupan serta masa lalu Nanda. Dengan teliti, Celine membaca sejarah hidup Nanda, istri statusnya Alvin. Dilihatnya kembali lembaran foto-foto Nanda. Foto-foto Nanda ketika ia keluar rumah di pagi hari untuk berangkat bekerja, foto dirinya ketika di tempat kerja sampai foto-foto Nanda bersama kedua orangtuanya. Senyum kepuasan tersungging di bibir Celine. Ia merasa tidak salah memilih orang bayaran. Karna Celine mendapatkan informasi tentang Nanda secara detail.


"Heh, sungguh wanita yang menyedihkan" kalimat mencela terlontar begitu saja dari mulut Celine. Ada sebuah rasa kepuasan tersendiri ketika melihat kesengsaraan hidup yang dialami Nanda. Disisi lain juga terlintas rasa benci yang mulai tumbuh karna rasa posesif akan sebuah rasa cinta yang berlebih. Celine mulai takut kalau Alvin suatu hari mulai tertarik oleh pesona Nanda. Wajah Nanda juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Ia termasuk perempuan cantik yang memiliki tulang pipi yang indah. Hidungnya yang mancung dengan bibir nya yang tipis membuat wajah Nanda terlihat manis dari sisi manapun.


Semakin dipandang, wajah Nanda yang sedang tersenyum semakin menusuk hati Celine. Diremasnya kuat-kuat foto Nanda dan kemudian di sobeknya menjadi potongan kecil yang tak beraturan.


"Aaaaarrrrggghhhh....." Celine berteriak sambil membuang kepingan kertas foto Nanda begitu saja ke lantai.


"Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus ada perempuan ini...?? Celiiiinneeee... Elo emang bodoh. Kenapa dulu ga loe terima aja tawaran nikah dari Alvin. Aaaarrrrrggghhhh..... Bodoh... Bodoh... Bodoh...." Celine membantingkan tubuhnya ke atas sofa. Dipijitnya perlahan pelipis kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


***


Suasana tegang tengah meliputi kantor Alvin. Para karyawan juga terlihat sibuk mempersiapkan meeting penting bersama dewan direksi. Peserta meeting dan para direksi sudah terlihat memasuki ruang meeting yang besar. Dengan langkah penuh wibawa, Alvin berjalan di dampingi Dino sekretaris pribadinya menuju ruang meeting. Setelah mengangguk kecil tanda hormat kepada para direksi, Alvin duduk di kursinya. Wajahnya yang dingin dan serius tetap tidak berubah dan selalu menjadi ciri khas akan dirinya.


Seorang wanita tua dengan tongkat di tangan sebagai penyangga tubuhnya yang renta berjalan perlahan didampingi oleh beberapa orang-orang kepercayaannya memasuki ruang meeting utama perusahaan. Seluruh peserta meeting berdiri dan memberikan penghormatan ketika Oma Ana telah masuk ke dalam ruangan. Oma Ana mengambil posisi duduk paling tengah dan di ujung meja panjang.


"Silahkan dimulai" ucap Oma Ana kepada Akmal assistant pribadinya di kantor.


"Baik Nyonya" jawabnya dengan sangat sopan.


Meeting pun dimulai. Oma Ana dengan wajah tenangnya mendengarkan moderator menjelaskan maksud dari meeting besar hari ini. Kalimat demi kalimat telah terlontar dari sang moderator. Semua peserta meeting mengikuti meeting pagi itu dengan hikmat. Wajah Alvin menegang ketika moderator berbicara sampai pada pembahasan tentang pengalihan saham Oma Ana yang akan segera dialihkan atas namanya.


"Baik, sesuai keputusan yang sudah ditetapkan oleh Komisaris Utama, Nyonya Juliana, dan sudah mendapatkan persetujuan dari para direksi, bahwa saham perusahaan akan dialihkan kepada Tuan Alviano sebesar 25% dari total 60% kepemilikan saham Nyonya Juliana. Jadi total saham yang dimiliki oleh tuan Alviano Hadinata sebesar 40%. Dan tuan Alviano resmi menduduki jabatan sebagai Direktur Executive" semua peserta meeting bertepuk tangan sebagai ucapan selamat kepada Alvin. Hadinata sang Ayah juga tersenyum senang dengan keputusan yang baru saja di dengar. Yah, walaupun Mamanya ingkar akan ucapannya tentang pemberian semua saham kepada Alvin jika Alvin mau menikah, namun setidaknya saham mamanya sudah berpindah kepada anak kesayangannya itu. Dan hak suara mama nya akan perusahaan tidak sekuat dahulu ketika masih memegang saham perusahaan tertinggi.

__ADS_1


Meski ada sedikit guratan kekecewaan dari wajah Alvin tentang keputusan Oma nya yang tidak sesuai dengan perjanjian, sebagai cucu yang baik, Alvin tidak ingin mempermalukan Oma nya di forum di hadapan orang banyak. Dengan sikap bijaksana, Alvin menerima keputusan yang baru saja ditetapkan untuk dirinya. Alvin berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan ke depan menandatangani surat-surat kepemilikan saham barunya. Suara riuh tepukan tangan peserta meeting memenuhi ruangan besar itu. Senyum Oma Ana mengembang ketika dirinya berfoto manis bersama anak dan cucu semata wayangnya itu.


"Terima kasih ya Oma" kalimat syukur terlontar dari mulut Alvin ketika menjabat tangan tua Oma nya.


"Hmmm...." sebuah anggukan kecil dan senyuman tulus terlukis di wajah sang Oma.


"Setelah ini kita makan bersama ya Ma. Bagaimana? Alvin kamu juga ikut ya" Hadinata menyerukan ajakan makan siang sebagai perayaan kecil.


"Hmm... Baiklah..." jawab Oma Ana cepat, menyetujui ajakan Hadinata. Alvinpun juga ikut mengangguk menyetujui usulan dari ayahnya.


Rapat direksi akhirnya selesai. Oma Ana beserta Hadinata dan Alvin menuju ke ruang private kantor untuk menikmati santap siang. Menu special dari koki ternama sudah disiapkan di sana. Ruangan private ini hanya bisa digunakan oleh keluarga Oma Ana atau orang-orang pilihan saja yang diijinkan untuk menggunakannya. Mereka bertiga menikmati makan siang mereka dengan tenang. Seperti kebiasaan yang selalu mereka jalankan ketika waktu makan, tidak ada yang boleh berbicara. Berbicara boleh dilakukan ketika kegiatan makan hampir atau sudah selesai.


Alvin meletakkan alat makannya dan lalu meneguk segelas air mineral sampai tandas. Dengan gayanya yang elegant, Alvin mengelap bibirnya yang basah dengan tissue yang tersedia di atas meja. Oma Ana melihat sepintas isi dalam piring Alvin yang belum habis. Sepertinya Alvin kurang berselera siang ini.


"Aku sudah kenyang" jawab Alvin cepat sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Jawaban Alvin membuat Oma Ana seketika menghentikan kegiatan makannya dan menyudahinya dengan meneguk air teh hijau hangat kesukaannya.


"Apa Kau kecewa dengan hasil rapat direksi?" Hadinata yang masih mengunyah makanan seketika juga menghentikan kegiatan makannya. Tatapannya tajam menatap sekaligus menyimak ucapan sang mamanya.


Alvin menghela nafas pendek menahan kesal dan tetap berusaha bersikap tenang untuk menutupi kekecewaannya.


"Iya, aku kecewa. Oma sudah ingkar dengan janji yang pernah Oma ucapakan sendiri kepadaku. Aku sudah menuruti kemauan Oma untuk menikah dengan wanita pilihan Oma. Dan Oma berjanji akan mengalihkan seluruh saham yang Oma miliki kepadaku. Tapi kenyataannya? Oma hanya mengalihkan 25 persen saja. Apakah menurut Oma itu adil?"


"Sebelumnya aku minta maaf kalau aku sudah melanggar ucapanku sendiri. Itu aku lakukan karna aku melihat sikapmu yang tidak baik terhadap istrimu. Aku khawatir jika aku memberikan seluruh saham yang aku miliki kepadamu, kau akan menyia-nyiakan istrimu begitu saja"

__ADS_1


"Dari awal Oma hanya memintaku untuk menikah saja bukan? Tidak untuk mencintai istri yang Oma pilihkan untukku. Jadi masalah bagaimana aku memperlakukan istriku, aku rasa itu bukan urusan Oma" suara ketus Alvin membuat Oma Ana harus menarik nafas dalam menahan sedih dan kecewa atas sikap Alvin yang terlihat sangat anggkuh.


"Apakah kau tau Alvin, apa arti sesungguhnya dari pernikahan? Apakah kau masih berpikir kalau wanita pilihanmu itu adalah wanita yang tepat untukmu?"


"Maksud Oma apa berkata seperti itu?" Wajah Alvin mendadak menggelap dengan tatapan tajam saat Omanya secara tidak langsung meragukan Celine wanita yang sudah lima tahun dipacarinya itu.


"Suatu hari nanti kau akan mengetahuinya sendiri. Dan kau akan berterima kasih kepadaku karna telah memilihkan Nanda wanita yang lebih terhormat untuk aku jadikan istrimu dan menantu di dalam keluargaku" Oma Ana mengambil tongkat kesayangannya bersiap untuk beranjak dari duduk.


"Aku akan memberikan sisa saham yang aku miliki sepenuhnya untukmu ketika anakmu dan Nanda terlahir di dunia ini dengan selamat. Aku berjanji, dan aku tidak akan mengingkarinya" ucap Oma Ana serius penuh penekanan lalu bergegas beranjak dari kursi dan berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan perasaan Alvin yang menggelap dipenuhi amarah yang hampir meledak.


Wajah Alvin semakin menggelap. Kepalan tangannya mengeras dan mendarat keras diatas meja yang berhasil membuat orang-orang yang berada di ruangan itu terperjap kaget. Emosinya terasa sudah di ujung kepala. Ingin sekali rasanya ia melampiaskan amarahnya kepada siapapun yang bisa ia jangkau. Hadinata sangat mengerti akan perasaan yang dirasakan anaknya saat ini. Ditepuknya pelan pundak Alvin sebagai rasa penghibur dan penguatan.


"Tahan emosimu. Papa yakin, ini tidak seburuk yang kamu khawatirkan. Papa akan berusaha membujuk Oma mu agar merevisi keputusan bodohnya"


"Aku benar-benar merasa seperti keledai bodoh yang harus membawa beban tanpa tujuan yang jelas. Sial... Kalau aku tau akan seperti ini kejadiannya, dari awal aku akan menolak tegas keputusan Oma untuk menikahkan aku dengan Nanda. Oma benar-benar sudah mempermainkan aku"


"Tenang Alvin. Untuk menghadapi keras kepalanya Oma mu, kita harus menghadapinya dengan kepala dingin. Jangan gegabah. Oma kamu bukan orang bodoh yang bisa kita manipulasi begitu saja. Banyak orang-orang kepercayaannya yang masih setia dengannya" Alvin tak menjawab. Hanya tatapan geram penuh kekecewaan yang menyelimuti jiwanya saat ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2