Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
The Bodyguard


__ADS_3

Mata Nanda terperjap ketika sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya telah menusuk kelopak matanya yang membuat tidurnya harus terbangun. Mata Nanda menyusuri ke sudut kamar mencari sebuah benda yang tergantung di dinding yang hampir setiap hari ia lihat. Yups, jam dinding. Nanda cukup terkejut menerima kenyataan bahwa ternyata dirinya kesiangan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Tidak biasanya dia kesiangan seperti ini. Sepertinya rasa kesal dan amarah semalam dirinya kepada suami statusnya telah menguras air mata nya yang membuat tubuhnya lelah.


Nanda memaksa tubuhnya untuk bangun walaupun hanya sekedar mencuci wajahnya saja. Sebelum masuk ke toilet, Nanda menyibakkan gordeng kamar. Hari ini sepertinya banyak kejutan yang ia temui. Mulut Nanda ternganga hampir tak percaya ketika matanya melihat banyak laki-laki berpakaian safari hitam-hitam telah berdiri rapih mengelilingi halaman rumah Alvin. Ada apa ini???


Nanda bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap ingin pergi ke kampus. Kesedihan yang ia alami tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Toh percuma saja diratapi seperti bagaimanapun, tidak akan bisa membuat dirinya kembali utuh seperti sedia kala. Yang ada hanyalah jeratan kepiluan tak berujung yang semakin menjadi duri tajam di dalam daging yang menyiksa diri dan melenyapkan impian. Tekad awal yang sudah kokoh untuk menggapai impian menjadi seorang dokter, tidak boleh runtuh hanya karna perlakuan hina suami statusnya atas dirinya. Impian itu tidak boleh lenyap. Apapun yang terjadi, Nanda harus berhasil menjadi dokter. Ini demi ibu yang harus sehat dan rasa bangga tak ternilai yang akan ia persembahkan khusus kepada kedua orangtuanya.


***


Di dalam rumah suasana terasa hening dan sepi. Sepertinya Alvin sudah berangkat kerja. Nanda mulai menggerutu mengutuki dirinya yang kesiangan bangun. Andai dirinya tidak menangis semalaman yang membuat dirinya harus tidur malam, mungkin saat ini dirinya tidak ada kesiangan dan bisa mengetahui hal baru yang terjadi di rumah ini.


Langkah kaki Nanda terhenti sejenak ketika pemandangan tak biasa telah muncul di halaman rumah. Sekitar sepuluh laki-laki berbadan besar dan tangguh telah berdiri sigap dalam posisinya masing-masing bersiap menjaga keamanan rumah. Pertanyaan demi pertanyaan masih memenuhi benak Nanda yang masih terlihat bingung. Nanda belum mengerti dengan pasti kenapa Alvin membayar sebegitu banyak orang untuk sekedar menjaga rumah. Apakah sebegitu perlunya membayar banyak orang hanya untuk menjaga satu rumah yang hanya dihuni dua orang saja?


"Berhenti Nyonya" langkah Nanda terhenti ketika seorang bodyguard Alvin mencegah niatnya untuk pergi meninggalkan rumah.


"Ada apa ini? Kalian siapa?" ucap Nanda dengan tatapan penuh tanya.


"Kami karyawan baru pak Alvin yang ditugaskan untuk menjaga Nyonya dan rumah ini.


"Tapi saya tidak perlu pengawal" sambung Nanda seraya melangkah lagi. Namun lagi-lagi langkahnya tertahan oleh dua orang laki-laki berbadan besar.


"Maaf Nyonya. Tuan Alvin berpesan untuk melarang Nyonya keluar dari rumah"


"Saya tidak kenal dengan anda. Urusan anda itu sama Mas Alvin bukan dengan saya. Tolong minggir" gertakan Nanda sama sekali tidak membuat bodyguard Alvin menjadi gentar. Sekali lagi Nanda mencoba menerobos pagar tinggi dari tubuh manusia kekar yang kini sudah menghadangnya. Sayangnya tetap saja gagal.


"Tolong kerjasamanya Nyonya" Nanda menatap geram laki-laki yang sama menyebalkannya dengan suami statusnya.


"Sebaiknya Nyonya kembali masuk ke dalam. Silahkan Nyonya"


"Saya ini mau ke kampus. Saya sudah terlambat. Jadi tolong jangan buat waktu saya semakin terbuang!!" suara Nanda meninggi. Emosinya mulai terpancing dengan suasana tak mengenakkan seperti ini. Lebih baik Alvin tidak perduli dengan kehidupannya ketimbang peduli tapi dengan cara over posesif seperti ini.

__ADS_1


"Maaf Nyonya. Kami hanya menjalankan perintah. Tolong Nyonya bisa bekerjasama dengan kami"


"Saya tegaskan sekali lagi! Urusan kalian itu dengan mas Alvin. Bukan dengan saya. Mengerti!!!" Nanda memaksa lagi untuk menerobos keluar barisan para bodyguard yang sudah berjejer rapih.


"Kunci pintu pagar!!!" teriak salah satu bodyguard.


Para bodyguard tidak berani bermain kasar terhadap Nanda. Karna pesan Alvin adalah menjaga majikan perempuannya dengan baik tanpa adanya permainan fisik yang akan melukai istri status nya. Jadi mereka hanya bermain taktik dan kecepatan untuk menghalangi keinginan dari istri majikan baru mereka, Tn. Alvin.


Nanda mendengus kesal. Dipelototinnya satu persatu bodyguard Alvin dengan tatapan geram dan kesal.


"Buka kuncinya atau saya akan menaiki pagar ini?" gertak Nanda.


" Silahkan saja kalau nyonya ingin mencoba menaiki pagar ini. Namun menurut saya, lebih baik Nyonya kembali masuk ke dalam rumah. Karna kalau nyonya memaksakan menaiki pagar ini, saya khawatir Nyonya bisa terluka" Nanda tak menggubris sedikit pun larangan dari sang bodyguard. Keputusannya tetap bulat untuk menaiki pagar membuktikan bahwa dirinya tidak bisa dikekang oleh siapapun termasuk oleh suami statusnya sekalipun.


Nanda melangkahkan kakinya menuju pagar besi tinggi yang membentang memagari rumah Alvin.


"Aaawww...." Nanda refleks berteriak ketika sebuah aliran tajam dan panas terasa menusuk di telapak tangan nya.


"Sebaiknya Nyonya kembali masuk ke dalam rumah. Silahkan Nyonya" ucap di bodyguard lagi. Kali ini Nanda memilih untuk mengalah. Percuma saja melawan kalau hasilnya tetap sama.


Nanda melangkahkan kakinya untuk kembali ke dalam rumah. Alvin benar-benar sudah membuat dirinya semakin benci. Bukannya menebus kesalahan dengan berbuat baik, tapi malah membuat dirinya seperti seorang tahanan kota yang selalu dijaga.


Nanda melempar tasnya begitu saja di atas ranjang. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Percuma saja melawan sederetan laki-laki di luar sana. Toh dirinya tetap saja tidak akan bisa menang melawannya.


Ddrrrrttt.... Ddrrrtt....


Terdengar suara getaran ponsel diiringi alunan musik dari dalam tas. Dengan cepat Nanda meraih tasnya dan melihat siapakah gerangan pagi-pagi sudah menghubungi dirinya.


Mega Calling...

__ADS_1


"Aduh, Kak Mega telpon" ucap Nanda seraya menepuk dahinya.


[ Halo Kak Mega...] sapa Nanda


[ Nanda! Loe ini sebenarnya masih mau kerja di sini ga sih? ]


[ Masih Kak ]


[ Kalau masih, tolong dong kerja yang profesional. Jangan caranya kerja ilang-ilangan terus... Di telpon hp ga aktif, menyebalkan...]


[ Maafin aku Kak Mega ]


[ Denger ya Nda, loe gue kasih 1 kesempatan lagi. Kalau loe absen kerja tanpa alasan yang jelas, sorry Nda gue terpaksa mencoret nama loe dari daftar karyawan kita ]


[ Baik kak Mega. Sekali lagi aku minta maaf ya ]


[ Hari ini, jam lima sore jadwal loe on air. Don't be late! ]


Sambungan telpon terputus. Nanda berpikir keras mencari cara bagaimana dirinya untuk bisa keluar dari penjagaan ketat yang dibuat oleh Alvin.


Nanda sibuk mondar-mandir mengelilingi ruang kamarnya, namun masih saja belum bisa menemukan cara jitu untuk bisa keluar dari rumah ini.


"Apa gue telpon mas Alvin aja ya. Siapa tau kalau gue minta ijin sama dia, gue bisa diijinin buat pergi siaran. Mas Alviiiinnnn.... Loe emang manusia paling menyebalkan sealam dunia. Aaaarrrrggghhhh....." ucap Nanda menggerutu.


Sepagian ini yang bisa Nanda lakukan hanya uring-uringan ga jelas menunggu Alvin pulang. Rencana untuk menelpon Alvin pun hanya sebatas rencana. Rasanya masih segan untuk menghubungi suami statusnya itu. Takut Alvin jadi besar kepala karna merasa dibutuhkan.


Namun sepertinya Dewi Fortuna masih memihak pada diri Nanda. Mobil Alvin tampak memasuki pelataran parkiran rumah. Para bodyguard yang disewa Alvin dengan serentak menyambut seraya memberikan hormat yang sopan. Nanda yang mendengar suara mobil Alvin, bergegas keluar kamar menyambut suami statusnya dengan maksud untuk segera menyampaikan maksud tujuannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2