Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Pengakuan


__ADS_3

Hari ini Nanda sengaja pulang lebih awal. Acara ulang tahun anak customernya hari ini cukup menyita tenaga. Acara pesta yang mewah dan meriah dengan sederetan acara yang mengisi sungguh mewarnai pesta ulang tahun menjadi terasa sangat ceria dan menyenangkan.


Setelah mandi badan rasanya lebih segar dan rileks. Nanda merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya yang lelah membuatnya malas untuk mengenakan pakaian. Ia tak peduli kalau saat ini tubuhnya masih terbungkus handuk kimono dengan lilitan handuk kecil di kepala. Nanda mencoba untuk rileks sejenak dengan memejamkan mata sebentar. Ingin sekali rasanya bisa tidur walau hanya beberapa menit. Toh Alvin juga belum pulang. Masih ada waktu untuknya tidur sebentar sebelum nanti menyiapkan makan malam untuk suami statusnya itu.


Ketika mata mulai terpejam, seketika pula bayangan kejadian tadi di depan toilet muncul kembali di pelupuk mata Nanda. Kejadian menjijikan yang harus ia lihat. Bayangan Alvin yang sangat rakus ******* bibir seorang wanita dan tangan nakalnya yang ikut serta menjelajahi tubuh indah si wanita itu masih terlihat jelas di matanya.


"Aaarrggghhhh... Dasar Alvin mesum. Laki-laki murahan. Ga tau diri. Menjijikan!!!" Nanda menangkupkan bantal di atas mukanya agar bayangan itu hilang dari ingatannya. Tapi meskipun begitu, ingatan itu tak bisa hilang. Bahkan masih sangat terlihat jelas.


"Eh tapi tunggu, kenapa gue mesti marah? Kalau cewek itu emang pacarnya Alvin, bukankah itu hak nya dia? Lagipula gue ini kan cuma istri statusnya Alvin. Gue sama Alvin juga hanya akan bertahan selama dua tahun doang. Oh, ya Tuhaaaannn.... Tapi aku bener-bener keseeeellll..... Gue benci elo Alviiiinnn... Gue benciiii...." berkali kali Nanda menggerutu pada dirinya sendiri. Marah-marah ga jelas karna merasa kesal dan sebal dengan kejadian yang terjadi hari ini. Puas melampiaskan amarahnya, Nandapun tertidur dengan pulas di ranjangnya.


***


Cukup lama Nanda tertidur. Sampai-sampai dirinya melewatkan waktunya untuk menyiapkan makan malam untuk Alvin. Alvin sendiri sudah pulang satu jam yang lalu. Suasana rumah yang sepi terasa sedikit aneh baginya. Biasanya, ketika dirinya pulang, Nanda sudah terlihat sibuk di dapur menyiapkan hidangan makan malam. Namun kali ini berbeda. Belum ada makanan apapun yang tersaji di meja makan.


Dengan langkah ragu, Alvin berjalan menuju kamar Nanda. Diketuknya pintu kamar Nanda. Tidak ada jawaban dari dalam kamar Nanda. Diketuknya kembali pintu kamar Nanda dengan suara ketukan yang agak keras. Namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Nanda. Perlahan Alvin membuka pintu kamar Nanda untuk mengecek keberadaan Nanda. Alvin menghela nafas panjang ketika matanya menangkap sosok wanita manis yang masih terbungkus handuk kimono tertidur pulas di atas ranjang. Ditutupnya kembali pintu kamar Nanda dan dibiarkannya Nanda tidur dalam posisinya.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Perut Alvin sudah mulai terasa lapar. Karna tak mau mengganggu Nanda yang sudah tidur dan enggan untuk memasak, akhirnya Alvin memilih untuk memesan masakan melalui jasa online. Beberapa menu makanan sudah ia pesan di restoran favorite nya. Tinggal tunggu si kurir restoran datang mengantarkan makanan.


Di sisi lain, mata Nanda terperjap dan langsung terperanjat kaget dengan jarum jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Nanda langsung bergegas bangun berganti pakaian dan lalu segera keluar kamar untuk memasak makan malam.


Betapa terkejutnya Nanda ketika keluar kamar sudah mendapatkan suasana rumah yang terang dan Alvin yang sudah duduk santai di kursi meja makan sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Mas Alvin... Kamu sudah pulang? Maaf aku ketiduran, jadi sepertinya makan malam hari ini sedikit terlambat" Nanda segera melangkahkan kakinya menuju dapur tanpa melihat lagi ke arah Alvin.


"Tidak usah masak" suara Alvin terdengar datar namun cukup jelas dan mampu seketika menghentikan gerakan Nanda yang tengah sibuk memilah milah bahan makanan yang ada di kulkas.


"Aku sudah memesan makanan secara online. Sebentar lagi sampai"


"Hmm... Baiklah" Nanda menganggukkan kepala tanda mengerti. Cukup lega mendengarnya. Setidaknya malam ini Nanda tidak perlu capek menyiapkan makan malam.


"Tentang kejadian yang tadi.... " secara tiba-tiba Alvin memulai pembicaraan. Dan nampaknya Alvin memang sengaja tidak melanjutkan perkataannya. Entah karna malu atau sungkan Alvin terlihat enggan untuk melanjutkan perkataannya.


"Kejadian yang tadi? Yang mana?" Nanda sengaja berpura-pura tidak tahu akan maksud Alvin. Karna Nanda sudah bisa membaca maksud ucapan Alvin tentang ciuman panas dirinya dengan seorang perempuan di depan toilet. Nanda hanya ingin melihat sikap jujur Alvin untuk menjelaskan perlakuan asusilanya tadi siang.


"Namanya Celine. Dia pacarku. Aku dan dia sudah lima tahun berpacaran. Sebenarnya aku sudah sering memintanya untuk segera menikah denganku. Tapi dia selalu menolak dengan alasan masih ingin mengejar karir. Sampai akhirnya Oma menjodohkanku menikah denganmu. Jadi tentang yang kamu lihat tadi siang, aku harap kamu mengerti posisimu" mulut Nanda sedikit ternganga ketika kalimat terakhir Alvin yang terlontar cukup menusuk di telinga. Di kalimatnya yang terakhir tersirat dengan jelas peringatan tegas akan status dan posisi Nanda. Kalimat pengingat bahwa Nanda hanyalah istri status bagi Alvin, tidak lebih. Jadi tidak perlu membawa perasaan apalagi memasukkannya ke dalam hati.


Suara bel rumah berdentang nyaring. Nanda mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


"Sepertinya itu kurir pengantar makanan" ucap Alvin dengan mata yang ikut mengarah ke pintu.


"Biar aku yang buka" Nanda bergegas membuka pintu. Dan benar, tamu yang datang adalah kurir pengantar makanan.


"Selamat malam ibu. Ini pesanan makanannya. Semua lengkap sesuai dengan isi orderan" ucap sang kurir dengan sikap sopan.

__ADS_1


"Ini sudah dibayar atau belum ya mas?"


"Oh sudah ibu. Kalau begitu saya permisi"


Nanda membawa masuk kantong makanan yang berukuran cukup besar. Sepertinya Alvin memesan menu makanannya cukup banyak.


"Kamu sengaja memesan makanan segini banyaknya Mas?" Nanda membuka isi kantong dan mengeluarkan satu demi satu bungkusan yang dikemas apik dan rapih.


"Aku ga tau selera kamu. Jadi aku sengaja pesan beberapa menu. Makanlah..." Nanda hanya mengangguk pelan dan mencoba menikmati makanannya.


Menu makanan restoran favorite Alvin memang patut diacungi sepuluh jempol Masakannya benar-benar lezat. Rasa dan tingkat kematangan setiap bahan makanan semuanya pas. Lidah Nanda malam itu sungguh dimanjakan dengan menu special. Saking fokusnya menikmati makanan, Nanda lebih memilih diam seperti biasa ketika makan dengan Alvin dan bersyukur kepada Tuhan akan nikmat makan malam yang luar biasa.


Alvin sesekali mencuri pandang ke arah Nanda yang terlihat fokus dengan makanannya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya ke arah lain atau melihatnya untuk sekedar berbasa basi.


Nanda mempercepat gerakan makannya. Ia ingin segera kembali ke kamar untuk mengistirahatkan lagi tubuhnya. Entah kenapa sejak melihat kejadian tadi siang, rasanya sangat malas untuk berlama-lama bersama Alvin.


"Aku sudah selesai. Terima kasih untuk makan malamnya. Aku ke kamar dulu ya..." Nanda beranjak dari kursi, membereskan tempat makannya untuk dibuang di tempat sampah dan berlalu meninggalkan Alvin yang masih belum selesai dengan makanannya.


Alvin hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Nanda. Rasanya benar-benar canggung. Perkataan Nanda saat berpamitan terdengar dingin dan terkesan menjaga jarak dengan dirinya. Walaupun selama ini Alvin memang selalu dingin dan cuek kepada Nanda, untuk menerima perlakuan balik yang serupa memanglah tidak nyaman.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2