Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Mahasiswi Baru


__ADS_3

Mata Alvin seketika terkesima akan penampilan Nanda yang baru keluar dari kamar mandi. Kemeja abu gelap panjang miliknya terlihat sangat sexy di tubuh Nanda. Kemeja miliknya ketika dipakai Nanda seakan menjadi dress tanggung di atas lutut. Mata Alvin terpana dengan keindahan kaki Nanda yang jenjang dan putih mulus. Nanda sengaja membiarkan rambutnya yang panjang terurai begitu saja.


Alvin membuang tatapannya cepat-cepat ketika matanya bersirobok dengan mata Nanda yang jernih.


"Aku pinjam bantal dan selimut mu ya mas. Aku akan tidur di sofa. Selamat malam" ucap Nanda sambil menggelonyor pergi ke arah sofa panjang sambil membawa sebuah bantal dan selimut tebal.


Alvin tak menjawab. Ia mengarahkan tatapannya mengikuti langkah Nanda yang memunggunginya menuju sofa panjangnya.


"Semakin hari Nanda terlihat semakin cantik" ucap Alvin dalam hati. Tanpa disadarinya, hatinya membisikkan kalimat pujian istri statusnya. "Aaarrgghhh... Ga... Ga.. Ini salah. Mau cantik atau jelek, ga ada hubungannya sama sekali dengan gue" ucapnya lagi sambil mengacak kasar rambutnya.


Nanda membungkus tubuhnya dengan selimut tebal yang ia pinjam dari Alvin dan memilih bergegas memejamkankan matanya menyambut mimpinya. Tubuhnya yang lelah dengan mudah membuat matanya terlelap yang menimbulkan suara dengkuran halus dari mulutnya.


***


Pagi ini seperti biasa semua anggota keluarga Oma Ana sudah bangun. Mereka sudah bersiap dengan penampilan rapih di meja makan, bersiap untuk sarapan pagi. Para asisten rumah tangga sudah menyiapkan beberapa menu untuk para majikan besarnya itu.


Dan seperti biasa tidak ada keseruan di sana. Suasana makan pagi dihiasi dengan keheningan. Hanya suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring yang kadang terdengar ditengah-tengah makan pagi mereka.


"Aku sudah selesai makan. Mah, aku berangkat kantor dulu ya..." ucap Hadinata sambil mengelap mulutnya dengan tissue. Oma Ana hanya mengangguk pelan.


"Saya juga sudah selesai makan. Saya ijin ke kantor juga ya Mah" ucap Desiana menyusul suaminya. Oma Ana pun hanya bisa mengangguk pelan.


Oma Ana tidak merasa heran atau sakit hati lagi. Karena ini sudah sangat terbiasa dilakukan oleh anak dan menantunya yang sering meninggalkan dirinya sendiri di meja makan.


Tak selang lama, Alvin juga menyudahi makan paginya dan berpamitan dengan Omanya untuk pergi ke kantor.


"Oma, aku harus pergi ke kantor. Kami pamit pulang sekarang ya"


"Apakah kau mau ikut berpamitan juga Nanda?" pertanyaan Oma seketika membuat Nanda salah tingkah.


"I-iya Oma. Saya juga harus masuk kerja hari ini"


"Bukankah kamu sudah tidak bekerja lagi di restoran fastfood?"

__ADS_1


"Iya Oma, benar. Saya memang sudah tidak bekerja lagi di restoran fast food. Tapi saya masih terikat kerja di sebuah radio. Dan hari ini saya ada jadwal siaran" Nanda terpaksa berbohong, karna sebenarnya hari ini Nanda ingin ke kampus untuk mendaftakan dirinya sebagai mahasiswi kedokteran.


Oma Ana nampak sedikit kecewa. Raut wajahnya terlihat sedih. Dihelanya nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


"Ya sudah kalau begitu. Kalian... Pergilah"


Nanda menatap Oma Ana dengan tatapan pilu. Sedih rasanya harus meninggalkan orangtua sebaik Oma Ana. Sebenarnya Nanda juga tidak keberatan kalau harus menemani Oma Ana melakukan kegiatan bersama. Namun di sisi lain, Nanda juga ingin meraih cita-citanya yang selama ini tertunda. Nanda ingin menunjukkan kepada Oma Ana kalau dirinya memiliki nilai lebih sebagai wanita dan tentunya membuat kedua orang tuanya bahagia dan bangga memiliki anak seperti dirinya.


***


Alvin mengantarkan Nanda hanya sampai depan halaman rumah. Tanpa berbasa basi, Alvin kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Nanda pun juga tidak mengambil pusing sikap Alvin yang demikian.


Nanda bergegas masuk rumah menuju kamar mengambil berkas-berkas dan dokumen yang akan dijadikan syarat mendaftar mahasiswa baru. Dimasukkan nya ke dalam tas dan segera bergegas kembali keluar rumah menuju kampus yang dimaksud.


Kurang lebih satu jam jarak tempuh rumah ke kampus, akhirnya Nanda sampai juga ke ruang rektoran kampus untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswi. Surat rekomendasi beasiswa yang diberikan Evan juga telah Nanda serahkan ke petugas administrasi kampus. Jantung Nanda berdetak tak beraturan. Rasa deg-degan, senang bercampur was-was berbaur menjadi satu.


Nanda keluar ruangan rektorat dengan wajah berseri. Senyumnya tersungging di wajah manisnya. Betapa senang dan bahagianya hati Nanda ketika di dalam tadi petugas administrasi mengucapkan kata selamat kepadanya. Kini Nanda telah resmi menjadi mahasiswi universitas xxx.


Dddrrrtt.... Ddrrrrttt....


Evan Calling...


Nanda menyunggingkan senyum ceria ketika matanya melihat nama familiar yang muncul di layar ponselnya.


[Haloo Kak Evan...] sapa Nanda


[Hai Nanda... Kamu dimana?]


[Aku di kampus. ini aku baru selesai daftar Kak]


[Ciiieee... Sekarang jadi anak kampus ya...] goda Evan. Entah kenapa wajah Nanda memerah malu ketika Evan menggodanya.


[Kak Evan, terima kasih banyak ya... Berkat Kakak, aku bisa merasakan indahnya jadi mahasiswi]

__ADS_1


[Itu rejeki dari Tuhan Nanda. Ingaaaatt, jangan pernah kamu sia-siakan kesempatan yang datang di hidupmu. Kamu harus giat belajar supaya kamu bisa menyelesaikan studimu tepat waktu]


[ Siap Boss !! ] ucap Nanda kegirangan.


[Nanti kamu aku pinjami buku-buku pendukung ya. Kebetulan aku masih menyimpan buku-bukuku selama aku kuliah kedokteran dulu ]


[ Beneran Kaaakk?? Wwaaahhh.... Terima kasiiiihhh... Aku mau ya Kak]


[Ok. Nanti aku bawakan ya]


[ Sekali lagi, terima kasih ya Kak Evan...]


Evan menutup sambungan telponnya dan tersenyum dari balik telpon. Baru kali ini dirinya merasa sangat senang karna sebuah kebaikan yang sepele. Rasa senang yang berbeda dari biasanya. Rasa senang yang kini dirasakan mirip seperti seorang laki-laki yang cintanya diterima oleh wanita pujaannya. Ada rasa puas yang tersirat di sana.



***


Evan menepati janjinya untuk meminjamkan buku-buku miliknya kepada Nanda. Nanda benar-benar merasa sangat senang sekali. Nanda seperti memiliki kakak baru yang sangat perhatian dengan dirinya.


Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang dibenak Nanda. Kali ini Nanda tidak boleh gagal. Ia harus berhasil. Ia harus buktikan kepada Evan kalau ia mampu mengemban tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya. Nanda juga tidak ingin membuat kecewa Evan yang sudah sangat baik memperjuangkan masa depannya.


Waktu berjalan cepat. Tidak kerasa sudah satu minggu Nanda menjalani statusnya sebagai seorang mahasiswi. Pola hidupnya berubah drastis. Kini waktu Nanda terasa lebih berarti. Tidak ada waktu yang luang terbuang percuma. Di sela-sela kesibukannya kuliah dan siaran, Nanda juga menyempatkan diri mengunjungi kedua orangtuanya. Sesampainya di rumah, seperti biasa Nanda menyiapkan makan malam dan makan pagi untuk suami statusnya, Alvin. Selesai menyelesaikan tugas rumah Nanda langsung kembali ke kamar menenggalkan dirinya ke dalam buku-buku kedokteran milik Evan. Semua buku-buku itu perlahan dilahapnya. Bahkan saking cinta dan semangatnya dengan buku Nanda sering membawa buku-buku itu sebagai teman tidurnya. Nanda membaca buku sampai ketiduran.


Pola hidup Nanda telah berubah. Nanda bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan. Selesai memasak, Nanda langsung makan dan bergegas pergi ke kampus. Jarak dari rumah ke kampus yang agak jauh mengharuskan Nanda untuk berangkat lebih awal. Ini juga membuat jadwal tidur dan bangunnya berubah lebih cepat dari biasa.


Alvin meremas kertas kecil berisi catatan yang Nanda tulis. Sudah beberapa hari ini Alvin mendapati selembar kertas yang ditinggalkan Nanda untuknya di atas meja makan. Awalnya Alvin masa bodoh dan tidak curiga dengan perubahan sikap Nanda. Namun lama-lama Alvin mulai curiga. Ada apa dengan istri status nya itu. Kenapa hampir setiap hari istrinya seperti itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2