Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Sarapan Pagi


__ADS_3

Nanda mengerjapkan mata ketika alarm ponselnya berbunyi dan mengagetkannya. Dipaksanya tubuhnya untuk bangun. Dengan setengah nyawa yang terkumpul, Nanda berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini rencananya ia ingin segera pulang kembali ke rumahnya dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa bekerja di restoran fast food.


Langkah kakinya berhenti ketika matanya samar samar melihat sosok Alvin yang ternyata sudah bangun lebih pagi darinya dan sudah duduk di kursi samping ranjang sambil meyesapi secangkir kopi. Sejenak Nanda berdiri mematung memperhatikan Alvin yang terlihat dingin dengan cara duduknya. Nanda seketika mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi ketika mata Alvin bersirobok dengan matanya.


"Dasar perempuan aneh. Berani beraninya dia mengabaikanku" gerutunya dengan wajah asam dan kemudian melanjutkan kembali menikmati kopinya.


Tak perlu waktu lama bagi Nanda untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Setelah berganti dengan baju yang layak pandang, Nanda segera membereskan barang-barang miliknya ke dalam koper mini nya. Tangannya terhenti ketika melihat gaun pengantin indahnya yang kemarin malam ia kenakan. Nanda bingung mau diapakan gaun pengantin itu. Apakah gaun pengantin indah itu adalah miliknya atau bukan.


Nanda menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Diraihnya gaun pengantin indah itu, lalu dilipat dan di masukkan kembali ke dalam kopernya bersatu dengan baju baju miliknya yang lain. Nanda sudah rapi dan sudah bersiap untuk pergi dari kamar hotel mewah ini. Alvin terlihat masih tenang duduk di kursi yang sama sambil memainkan ponselnya.


"Mas Alvin, aku rasa aku sudah tidak ada urusan lagi disini. Tugasku sudah selesai. Aku pergi dulu..." Alvin tak bergeming dari duduknya. Sikapnya seakan mengabaikan perkataan yang baru saja Nanda ucapkan. Nanda menghela nafas menahan kesal dan membalikkan tubuhnya untuk segera meninggalkan Alvin.


"BERHENTI !!!" suara Alvin terdengar garang dan penuh ancaman. Langkah kaki Nanda seketika berhenti. Ditolehkannya pandangannya ke arah Alvin. Hati Nanda mendadak terasa menciut ketika tiba tiba Alvin bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati dirinya dengan tatapan garang tanpa senyuman sama sekali. Langkah kaki Alvin terlihat sangat elegant dengan stelan jas mewah berwarna dark blue yang membuat penampilannya semakin sempurna. Alvin berhenti persis di depan Nanda dan berdiri santai dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya sambil menatap lekat wajah Nanda yang mulai terlihat ketakutan.


"Enak sekali kamu mau main pergi begitu saja setelah apa yang sudah kamu lakukan kemarin malam kepadaku." perkataan Alvin membuat diri Nanda semakin bingung dan tak mengerti sama sekali dengan apa yang di maksud dari laki laki ini. Tatapan tajam mata Alvin membuat Nanda tak bisa lari dari posisinya saat ini.


"A-apa maksudmu? Bukankah semalam kita ga melakukan apa apa. Bukankah kita masing masing tidur ditempat yang berbeda?" ucap Nanda dengan sangat percaya diri. Alvin menyunggingkan senyuman sinis memandang remeh Nanda yang seolah berpura pura tidak mengerti akan maksudnya.

__ADS_1


"Kamu memang ga ngerti atau pura pura ga ngerti, hmm?" Nanda menggaruk bagian belakang kepalanya mulai salah tingkah karna merasa bingung akan maksud ucapan Alvin.


"Katakan saja apa maksud kamu. Aku memang ga mengerti dengan ucapanmu" ucap Nanda cepat.


Alvin sepertinya semakin gemas dan geram dengan sikap Nanda yang mulai mempermainkan dirinya.


"Dasar perempuan bodoh!" umpatnya kesal yang langsung mendapat reaksi kesal yang sama dari Nanda karna tak terima dibilang bodoh.


"Apa kamu bilang? Aku perempuan bodoh? Kamu pikir kamu ini laki laki pintar yang sempurna? Hah?"


"Tidak! Aku laki laki yang sangat bodoh. Lebih bodoh darimu karna aku sudah mau dinikahkan dengan wanita aneh seperti dirimu" Nanda mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya yang hampir meledak.


"Bagus. Aku senang mendengarnya. Bahkan kalau aku mau, aku bisa menceraikanmu hari ini juga"


"Baguslah. Ya sudah, kalau begitu cepat kamu urus perceraian kita. Semakin cepat semakin baik bukan?" Alvin tertawa kecil mengejek ucapan Nanda. Tawa kecilnya makin lama semakin kecang dan melebar. Nanda semakin heran dengan sikap yang ditunjukkan Alvin kepadanya.


"Ternyata nafsu berceraimu cukup besar ya... Tapi sayangnya, aku belum bisa melakukannya sekarang. Aku menikahimu bukan karna alasan cinta. Jadi jangan harap kamu akan lolos begitu saja sebelum aku mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan. Kau mengerti!!" ucapan penuh ancaman Alvin dengan wajah garangnya benar benar membuat bulu kuduk Nanda berdiri karna takut.

__ADS_1


"Terserah. Aku ga peduli. Aku pergi..." ucap Nanda tak mau ambil pusing dan segera membalikkan badan untuk segera pergi meninggalkan Alvin. Dengan cepat Alvin menarik lengan Nanda dan memaksanya untuk menatap mata Alvin yang sudah menatapnya dengan tajam.


"Harus kamu ingat nona Vernanda, kamu sudah berani menikahiku dan merubah statusmu menjadi istriku, Nyonya Alviano Haditama. Jadi mulai sekarang, hidupmu adalah milikku... Kamu sudah tidak bisa berbuat sesukamu di luar sana. Karna sekarang kamu membawa namaku...." suara Alvin menggeram dan semakin kencang mencengkram tangan Nanda seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda. Nanda hanya bisa terdiam dan menahan rasa sakit karna cengkraman tangan Alvin.


"Makan sarapanmu lalu pulang ke rumahku. Mengerti !!" perkataan Alvin sekaan tak terbantahkan. Bel kamar berbunyi. Alvin melepaskan cengkraman tangannya dan membukakan pintu kamar hotel. Tampak tiga orang petugas hotel membawakan troly berisi beberapa makanan yang sudah dipesan. Ternyata pagi pagi sekali Alvin sudah memesankan makanan untuk sarapan mereka berdua.


Setelah selesai menata makanan di atas meja panjang para petugas hotel berpamitan meninggalkan ruangan. Dengan santainya Alvin langsung mendudukkan diri di kursi makan dan langsung menikmati makanan yang sudah tersaji. Aktivitas makannya terhenti ketika dirinya sadar bahwa Nanda masih saja berdiri diposisinya yang tadi.


"Kamu masih mau berdiri disitu?" ucapnya disela sela makannya. "Aku ga akan pernah sudi menggendongmu kalau kamu sampai pingsan" sambungnya lagi sambil melanjutkan makannya.


Cacing perut Nanda seketika memberontak meminta jatah makanan karna dari semalam mereka tak diberikan jatah makanan dari tuannya. Saliva Nanda juga mulai memenuhi mulutnya ketika aroma harum dari butter dan bumbu rahasia koki restoran menyebar memenuhi ruangan. Nanda tak mau juga mengorbankan diri dari sikap egoisnya karna menahan lapar yang nantinya bisa mempermalukan dirinya sendiri jika seandainya dirinya pingsan karna kelaparan.


Akhirnya Nanda memutuskan untuk meletakkan tas kecilnya dan duduk berhadapan dengan Alvin ikut menikmati makan pagi. Mereka menikmati makan pagi tanpa suara. Sesekali Nanda mencuri pandang ke arah Alvin yang sedang makan dan secepat kilat mengalihkan kembali pandangannya ke arah lain sambil mendengus pelan. Sikap Dingin dan ucapan menyebalkan Alvin yang tadi ditunjukkan kepadanya dengan cepat bisa berubah membaik ketika berkaitan dengan urusan perut. Seakan Alvin tidak ingin mengambil resiko yang berkaitan dengan masalah perut yang akan merepotkannya nanti.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2