
"Tuan muda Alvin, anda sudah di tunggu Nyonya besar di ruang kerjanya" langkah Alvin terhenti ketika salah seorang assistant rumah tangga langsung menyapa dirinya memberitahukan perihal yang diperintahkan oleh boss besarnya.
"Hmm" jawab Alvin cepat sambil menganggukkan kepala tanda mengerti. Alvin segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja omanya.
Tuk... Tuk...
Dengan sopan Alvin mengetuk pintu ruang kerja omanya dengan suara ketukan yang tidak terlalu keras.
"Masuk" suara tegas Oma Ana terdengar lantang. Alvin membuka pintu besar yang kini ada di hadapannya dan memasuki ruangan yang cukup besar milik Oma nya tersebut. Terlihat Oma nya sedang duduk menghadap jendela memandang ke arah luar. Di tangannya tergenggam tongkat kayu yang masih dengan setia menemaninya di segala aktivitasnya.
"Ada apa Oma memanggilku di jam kerja seperti ini?" ucapnya yang sudah berdiri di depan Omanya yang sedang asik duduk sambil menikmati pemandangan luar.
Oma Ana menolehkan pandangannya ke arah Alvin dan sedikit mendongakkan kepala menatap dirinya.
"Duduklah..." titahnya datar. Alvin menurut dan duduk di sofa menghadap arah duduk Oma nya. Oma Ana menghela nafas sambil membenarkan posisi duduknya. Ditatapnya sejenak wajah cucunya yang tampan namun terasa dingin dan angkuh. Cucu satu satu nya yang ia miliki dan sangat ia sayangi.
"Aku sudah menentukan hari dan tanggal pernikahanmu dengan Nanda." Alvin sedikit terkejut dengan perkataan Oma nya yang terdengar datar namun cukup menusuk telinga. Alvin masih terdiam dan memilih untuk mendengarkan perkataan Oma nya sampai selesai. Alvin sengaja memasang wajah tenang tanpa ekspresi untuk menutupi rasa terkejutnya.
"Minggu pertama bulan depan adalah hari dimana pernikahanmu akan diselenggarakan. Kau tidak perlu repot repot mengurus pernikahanmu. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kau cukup menyiapkan diri dan hatimu saja" Oma Ana menarik nafas sejenak untuk menyeimbangkan suaranya.
"Pernikahanmu nanti hanya akan dihadiri oleh keluarga, kerabat dekat dan beberapa relasi perusahaan saja. Jadi kau dan Nanda tidak akan terlalu kerepotan melayani tamu yang datang" sambungnya lagi.
__ADS_1
Alvin mencoba rileks. Meski berkali kali ia menarik nafas panjang, tubuhnya yang menegang tak bisa membohongi dirinya untuk tetap bisa tenang. Ternyata apa yang pernah diucapkan dan di rencanakan Oma nya bukan sekedar gertakan semata. Oma nya benar benar serius dengan perkataannya.
"Haruskah pernikahanku diselenggarakan secepat itu? Aku baru saja mengenal Nanda. Dan aku belum sepenuhnya mengenal dia. Kenapa Oma seakan sudah sangat yakin kalau dia adalah wanita yang tepat buatku?" tubuh Alvin menegang. Nada bicaranya terdengar dengan tegas menolak perjodohan sepihak dari Oma nya.
"Jika seandainya kau bisa melembutkan sedikit ego mu dengan tidak menurunkan Nanda di pinggir jalan, mungkin aku masih bisa bermurah hati untuk memberikan kau waktu untuk lebih mengenal Nanda. Kau sudah melanggar perintahku. Dan kau juga tak punya hati membiarkan seorang wanita harus berjalan sendirian di tengah jalanan yang sepi" Alvin mengepalkan tangannya menahan geram. Ia tak menyangka ternyata Oma nya membayar orang untuk memata matai dirinya.
"Soal Nanda, Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyelidiki secara detail siapa dia. Dia gadis yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga pekerja keras. Nanda hanya seorang gadis yang kurang beruntung, dia harus dilahirkan dari keluarga miskin dan memiliki orangtua yang sakit sakitan. Tapi jika dibandingkan dengan pacarmu 'Celine' bagiku Nanda masih lebih baik" raut wajah Oma Ana benar benar sangat serius. Tatapan matanya tajam dan cara berbicaranya yang elegan membuat Alvin tak mampu membantahnya.
Alvin mendengus kesal dengan sikap dominan Oma nya. Sebagai seorang laki laki, ia merasa sangat lemah karna tak mampu mencari sendiri wanita yang nantinya akan menjadi pasangan hidupnya. Jika ini tidak ada kaitannya dengan harta keluarga yang harus ia selamatkan, sudah pasti dirinya akan menolak mentah mentah pernikahan ini.
"Kalau begitu, terserah Oma saja. Silahkan Oma atur apa saja yang kau inginkan. Tapi satu hal yang harus Oma ketahui, bahwa pernikahan yang di dasari tanpa rasa cinta, jangan harap akan bisa berakhir bahagia" ucap Alvin dingin dan tegas. Oma Ana mendongakkan kepalanya merespon geram ucapan cucunya yang terdengar angkuh dan sangat arogant.
"Pernikahan yang di dasari dengan cinta sekalipun juga tidak menutup kemungkinan dari kehancuran. Bahkan kebanyakan dari mereka bisa melakukannya tanpa rasa belas kasihan. Disini kau lah yang memegang kendali, mau di buat seperti apa rumah tanggamu nanti. Jika kau bisa menurunkan sedikit ego mu yang terlalu angkuh itu, aku yakin siapapun wanita yang akan menjadi pasanganmu, ia tetap bisa membuat rumah tanggamu terasa bahagia" bantahan sekaligus petuah dari orang yang dituakan dengan suara paraunya yang terdengar gemetar telah mendominasi sekaligus menegaskan ditolaknya bantahan dari sebuah pembelaan. Alvin merasa tak perlu berpanjang lebar berdebat dengan Oma nya. Toh dia pasti tetap akan kalah. Argument nya semua di tolak. Jadi yang bisa ia lakukan hanya melakukan apa yang sudah ditetapkan Oma nya terhadapnya.
Hari pernikahan yang sudah ditentukan telah tiba. Segala persiapan telah selesai dikerjakan. Dekorasi dan tata rias untuk pengantin semua sudah sesuai dengan rencana.
Nanda dan Alvin dirias di kamar yang berbeda. Keduanya terlihat dingin tanpa ekspresi. Nanda sendiri tak pernah membayangkan kalau dirinya akan menjalani pernikahan dingin seperti ini. Pernikahan yang di dasari tanpa rasa cinta sedikitpun. Jangankan cinta, untuk mengenal sosok suaminya pun tidak bisa ia lakukan. Bayangan akan pernikahan yang indah dengan laki laki yang ia cintai kini telah pupus dan kandas.
__ADS_1
Prosesi pernikahan berjalan dengan hikmat. Dengan canggung dan kikuk Alvin mencium bibir Nanda. Ciuman kaku dan dingin yang dilakukannya dalam pernikahannya itu hanya sekedar ciuman sekilas sebagai tanda formalitas berlangsungnya sebuah pernikahan. Namun meski begitu, ciuman itu tetap terlihat romantis oleh para tamu undangan.
Mungkin bagi Alvin, itu bukan ciuman pertama yang baru ia lakukan. Namun bagi Nanda, itu adalah ciuman pertama baginya. Selama ini ia tak pernah menjalin hubungan serius dengan laki laki manapun. Dirinya terlalu fokus bekerja mencari uang untuk pengobatan ibunya. Sehingga Nanda tak pernah merasakan bagaimana rasanya sebuah ciuman dari laki laki.
Tepukan tangan para saksi dan undangan terdengar riuh memenuhi ruangan menyambut pasangan baru pengantin yang baru saja resmi menjadi suami istri. Semua orang terlihat bahagia dan ceria. Sayangnya keceriaan itu tidak nampak pada wajah orangtua Alvin yang terlihat sangat datar bahkan nyaris tanpa ekspresi bahagia sedikitpun. Pasalnya Nanda bukanlah menantu yang mereka idam-idamkan. Meski Oma Ana menunjukkan raut wajah sumringah tetap saja tak lantas membuat mereka harus ikut menunjukkan wajah yang sama.
Sesi pemotretan pun juga terasa tegang ketika mereka harus berfoto dengan berbagai pose mesra dan romantis. Juru foto yang mengarahkan berbagai gaya dalam berfoto mulai merasa gemas karna sikap Alvin yang sulit untuk bisa tersenyum. Jikapun berhasil tersenyum, senyumnya terlihat terpaksa dan kurang natural. Gaya foto keduanya juga terkesan kaku dan canggung.
Nanda memandang wajah Alvin sedikit canggung. Entah kenapa tiba-tiba matanya menatapnya begitu lekat. Sesi pemotretan ini sungguh menyiksa dirinya. Ia sendiri juga seakan belum percaya dengan pernikahan ini. Seketika Nanda segera memalingkan wajahnya ketika Alvin menolehkan pandangan kepadanya. Senyuman sinis Alvin terulas di bibirnya.
#########
Acara resepsi pernikahan telah di mulai. Kedua pengantin baru berjalan perlahan dari pintu utama menuju ke panggung pelaminan.Sebagai tuntutan dari sebuah scenario, Nanda melingkarkan tangannya di lengan kekar Alvin layaknya pasangan pengantin yang saling mencintai dan sangat bahagia dengan pernikahannya. Semua mata memandang tajam kepadanya. Pasangan pengantin yang sempurna dimana sang pria berbadan tegap dengan paras sangat tampan dan elegant di dampingi mempelai wanita yang sangat cantik dan sempurna dengan gaun indah dan riasan mewah yang sempurna.
Para tamu mulai sibuk menyalami dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin baru. Selama akad nikah sampai resepsi, sikap Alvin benar benar sangat dingin. Jangankan membantu menggandeng tangan Nanda atau membantunya berjalan dengan gaun panjangnya yang cukup ribet, mengajaknya berbicarapun tidak sama sekali. Alvin dan Nanda bagaikan sepasang boneka yang di paksa berpura pura menjadi pengantin untuk menyenangkan sebagian orang.
Perlakuan dingin yang dipertunjukkan oleh kedua mertuanya juga menambah lengkapnya rasa kehampaan dari pernikahan ini. Nanda menatap sedih ke arah kedua orangtuanya. Mereka sepertinya juga terlihat tertekan dengan pernikahan ini. Karna setelah ini, orang orang pasti akan mencari cari tau tentang kebenaran tentang seluk beluk dan latar belakang orangtuanya. Sungguh beban yang sangat berat.
.
.
__ADS_1
.